sepuluh tahun.
Ayahnya dibunuh penjahat yang mencuri pusaka isiana, ibunya tak lama kemudian meninggal pula karena duka dan jatuh sakit.
Para paman dan bibinya hanyalah orang-orang yang berambisi untuk mengambil bagian dari haria warisan orang tuanya.
Sejak kecil ia menderita dan kecewa.
Dan kini, setelah selama sepuluh tahun ia hidup bersama tiga orang gurunya, menyayangi mereka seperti orang tua sendiri, dua di antara tiga orang gurunya kembali dibunuh orang!
Dan kalau ia menderita sakit hati dan mendendam, hal itu tidaklah benar!
Terjadi perang dalam batinnya yang membuat ia ragu dan bingung.
Tiba-tiba Dewa Arak tertawa.
"Ha..ha..ha..ha, sudah cukup kita bicara seperti pendeta-pendeta tua perenung!
Kalian harus membuat persiapan.
Kita kubur jenazah Kiam-sian dan Pek-mau-sian di lembah ini, kemudian kalian ikut dengan aku pergi meninggalkan Pek-in-kok." "Meninggalkan Pek-in-kok?
Kita akan pergi ke mana suhu?" tanya Sin Wan yang merasa heran.
"Kita pergi ke tempat lain yang tidak diketahui orang, agar Dewi Ular Cantik tidak akan dapat menemukan kita." "Tapi, suhu!" Kui Siang berkata dengan penasaran sekali.
"Kenapa kita harus melarikan diri dari iblis betina itu?
Memang kita tidak perlu mendendam kepadanya, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa kita takut kepadanya sehingga kita harus lari dan menyembunyikan diri!" Sekali ini, Sin Wan juga berpihak sumoinya.
Walaupun dia tidak berkata sesuatu, namun pandang matanya terhadap Dewa Arak juga menuntut penjelasan.
"Heh..heh, kaukira aku takut menghadapi Dewi Ular Cantik?
Sama sekali tidak takut, juga aku tidak suka melihat kalian takut kepadanya atau kepada siapapun juga.
Rasa takut kita harus kita tujukan hanya kepada Tuhan saja, takut kalau sampai kita terseret nafsu melakukan hal yang tidak benar dan tidak berkenan kepada Tuhan!
Tidak, aku mengajak kalian pergi dari sini agar kalian dapat melatih ilmu kami secara tekun dan tenang tanpa ada gangguan selama satu tahun.
Setelah kalian menguasai Sam-sian Sin ciang (Tangan Sakti Tiga Dewa), baru hatiku tenteram dan kalian boleh turun gunung." "Sam-sian Sin-ciang ?" tanya Kui Siang.
"Belurn pernah teecu mendengarnya dari suhu bertiga." "Itulah hasil ketekunanku selama beberapa tahun ini.
Sayang Kiam sian dan Pek-mau-sian terlalu malas untuk mempelajari dan melatih ilmu itu.
Andaikata mereka mengusainya, bagaimana mungkin Dewi Ular Cantik mampu mengalahkan mereka!" Dewa Arak dan dua orang muridnya lalu mengubur dua jenazah itu di Lembah Awan Putih, kemudian menyembahyangi dua makam itu dengan hormat walaupun sederhana.
Setelah tiga hari mereka mengubur jenazah itu.
Pada hari ke empat mereka meninggalkan Pek-in-kok, menuju ke sebuah tempat yang hanya diketahui oleh Dewa Arak sendiri.
Di situ dia menggembleng dua orang muridnya, mengajarkan ilmu baru yang selama bertahun-tahun disusunnya dari inti sari ilmu Tiga Dewa.
Dalam Sam-sian Sin-ciang ini termasuk unsur-unsur dari llmunya sendiri seperti Ciu-sian Pek-ciang (Tangan Putih Dewa Arak), Thian-te Sin-kang (Tenaga Sakti Langit Bumi) dan Hui-nio Poan-soan (Langkah Berputaran Burung Terbang) dan dari ilmu silat Kiam-sian dia mengambil inti sari dari Jit-kong Kiam-sut (Ilmu Pedang Cahaya Matahari) dan ilmu menotok jalan darah Kiam-ci (Jari Pedang).
Dari Pek-mau-sian dia mengambil inti sari Pek-in Hoat-sut (Sihir Awan Putih) dan Sin-siauw Kun-hoat (Silat Suling Sakti).
Dari semua ilmu ini, yang diambil inti sarinya, dia menciptakan Sam-sian Sin-ciang dan ilmu inilah yang dia ajarkan kepada Sin Wan dan Kui Siang.
Kalau yang mempelajari ilmu Sam-sian Sin-ciang ini orang lain, betapapun pandainya dia, tentu akan makan waktu bertahun-tahun saking sulitnya.
Akan tetapi karena dua orang muda itu sudah mengenal semua ilmu yang digabungkan menjadi ilmu silat sakti itu, tentu saja lebih mudah bagi mereka dan dalam waktu setahun, setelah berlatih dengan tekun, mereka dapat menguasai ilmu itu sebaiknya.
Harus diakui oleh sejarah bahwa semenjak kekuasaan penjajah Mongol dienyahkan oleh pasukan rakyat yang dipimpin oleh pemuda petani Cu Goan Ciang yang kemudian mendirikan Dinasti Beng dan menjadi Kaisar Thai-cu, Cina dapat dipersatukan kembali.
Di bawah pimpinan Jenderal Shu Ta, tangan kanan Kaisar Thai-cu, sisa-sisa pasukan Mongol yang masih berada di wilayah Cina, dapat dipukul mundur sampai mereka kembali ke tempat asal mereka, di utara, yaitu daerah Mongol.
Setelah tiba di daerah mereka sendiri, barulah orang"orang Mongol dapat mempertahankan diri.
Daerah yang keras dan sukar itu menyulitkan pasukan yang dipimpin Jenderat Shu Ta sehingga dia hanya mampu membersihkan daerah kekuasaannya dari orang-orang Mongol, namun tidak mampu menumpas Bangsa Mongol di daerah mereka sendiri.
Kaisar Thai-cu, walaupun berasal dari keluarga petani, namun setelah menjadi kaisar, ternyata memiliki kemampuan memimpin yang mengagumkan.
Hal ini karena dia amat pandai mempergunakan tenaga orang-orang yang ahli dalam bidang masing-masing, menghargai para cerdik pandai sehingga dengan bantuan orang-orang yang ahli, dia mampu mengendalikan pemerinlahan dengan baik.
Yang membuat kedudukan kaisar ini kuat adalah karena dia merupakan orang yang telah mampu dan berhasil menghancurkan kekuasaan penjajah Mongol sehingga mengembalikan harga diri dan kedaulatan bangsa.
Jasa ini saja sudah membuat dia dikagumi dan dihormati seluruh rakyat, tidak perduli dari golongan maupun suku bangsa apa saja, karena bukankah dia yang telah membebaskan rakyat semua suku dan golongan itu dari penindasan penjajah Mongol?
Juga Kaisar Thai-cu yang dahulunya bernama Cu Goan Ciang ini memanfaatkan akar dari pohon pemerintahannya, yaitu balatentara dan rakyat jelata.
Dia merangkul keduanya.
Dia menghargai jasa balatentaranya, menjamin kehidupan keluarga mereka, menambah daya kekuatan mereka dengan menggembleng semua perajurit dengan ilmu-ilmu perang, tidak pelit membagi-bagi hadiah, pandai menghargai jasa setiap orang perajurit.
Juga kaisar ini merangkul rakyat, memperhatikan kehidupan rakyat jelata, menyuburkan perdagangan dengan membuka pintu selebarnya.
Dia membangkitkan semangat membangun dalam segala bidang karena semangat rakyat harus disalurkan dan penyaluran yang paling sehat dan menguntungkan bangsa hanyalah semangat membangun!
Di samping itu, Kaisar Thai-cu juga menggunakan tangan besi untuk menertibkan keamanan, menjaga ketenteraman kehidupan rakyat dan menumpas semua golongan yang sifatnya hanya menjadi perusak dan penghalang pembangunan.
Pada masa itu, gangguan yang terbesar bagi kerajaan baru Beng-tiauw adalah rongrongan orang-orang Mongol yang tentu saja masih merasa penasaran dan ingin menegakkan kembali kekuasaan mereka yang hancur.
Mereka melakukan gangguan di sepanjang perbatasan barat dan utara.
Di samping gangguan dari orang-orang Mongol ini, yang tidak segan-segan mempergunakan segala daya untuk bersekutu dan membujuk pejabat-pejabat daerah untuk memberontak, juga pemerintah menghadapi rongrongan dari para bajak laut yang merajalela di lautan timur.
Mereka ini kebanyakan adalah orang-orang Jepang yang terkenal sebagai bajak laut yang tangguh.
Karena sukar untuk membasmi bajak laut ini yang mempunyai daerah pelarian yang luas di lautan apabila dikejar, Kaisar Thai-cu bersama para penasihatnya memperlihatkan perhatian yang serius terhadap keadaan rakyat di pantai-pantai yang menjadi sasaran para bajak laut.
Para penduduk pantai itu ditampung dan dlpindahkan ke daerah pedalaman sehingga menyulitkan para bajak laut untuk mengganggu mereka.
Demikianlah, di bawah pimpinan Kaisar Thai-cu yang bijaksana, tentu saja sebagian besar rakyat mendukungnya dan Kerajaan Beng (Terang) menjadi benar-benar gemilang.
Tensu saja, tidak ada yang sempurna di dunia yang dwimuka ini.
Demikian pula dengan keberhasilan yang dicapai Kaisar Thal-cu.
Ada saja Golongan yang merasa tidak puas.
Mereka ini sebagian besar adalah mereka yang di waktu pemerintahan penjajah berhasil menduduki pangkat yang tinggi dan kehidupan yang mewah dan mulia.
Setelah Kerajaan Goan-tiauw, yaitu kerajaan penjajah Mongol runtuh, runtuh pula kedudukan mereka, bahkan banyak di antara mereka yang menjadi korban perang, sebagal pihak yang membela kerajaan penjajah yang kalah.
Ada pula golongan yang tidak puas kerena merasa tidak mendapatkan bagian dari hasil kemenangan pemerintah Beng-tiauw.
Ada pula golongan hitam dan kaum sesat yang merasa tersudut karena pemerintah menggunakan tangan besi menentang kejahatan dan memberi hukuman berat kepada para pengacau.
Adapula pejabat daerah yang merasa bahwa jasanya lebih besar dari pada kedudukan yang mereka peroleh sehingga mereka ini condong untuk merasa tidak puas dan mudah dihasut golongan yang tidak suka kepada pemerintah baru.
Golongan-golongan itulah, orang-orang yang lebih mementingkan diri sendiri dari pada kepentingan negara dan bangsa, yang mudah dibujuk oleh orang-orang Mongol untuk meagadakan persekutuan!
Akan tetapi, golongan rakyat yang menentang pemerintahan ini diimbangi dengan golongan para pendekar yang mendukung pemerintah!
Maka bermunculanlah perkumpulan-perkumpulan yang saling bertentangan, yaitu perkumpulan golongan sesat atau para penjahat yang dipergunakan oleh para pembesar yang berniat memberontak, dan golongan para pendekar yang membantu pemerintah untuk menjaga ketertiban dan keamanan.
Tentu saja golongan para pendekar ini mendapatkan dukungan rakyat jelata yang tidak ingin melihat kehidupan mereka dirusak kembali oleh para pengacau.
Juga mereka baru saja terbebas dari perang yang amat mengerikan dan menjatuhkan banyak korban, dan mereka tidak ingin timbul perang baru yang hanya akan menyengsarakan rakyat jelata belaka.
Pada suatu pagi, dua orang wanita cantik mendayung perahu mereka yang kecil mungil ke darat sungai Kuning di sebelah utara kota besar Lok-yang.
Mereka, menarik.
perahu ke darat.
memanggil seorang diantara para nelayan yang berada di pantai.
"Paman, maukah engkau menyimpan perahu ini untuk kami?
Boleh paman pakai unt