Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 29

Memuat...

afah Agama To yang selalu menekankan bahwa "yang kosong itu berisi", bahkan yang kosong itulah intinya karena segala hal baru dapat berarti kalau ada bagiannya yang kosong.

Lo-cu, nabi Agama To, membuka kesadaran manusia untuk menghargai yang kosong atau bahkan "yang tidak ada" dengan mengatakan bahwa sebuah roda baru dapat dipergunakan karena ada bagian kosong di antara jerujinya.

Sebuah cawan baru dapat berguna karena ada bagian kosong di dalamnya, dan sebuah rumah baru dapat berguna karena ada bagian yang kosong di dalamnya dan lubang-lubang di pintu dan jendelanya.

Inilah inti dari ilmu silat yang kini dimainkan Dewa Rambut Putih, nampak lembut namun sesungguhnya amat kuat!.

Karena maklum bahwa lawannya ini tidak kalah berbahaya dibandingkan Dewa Pedang, Cu Sui In tidak mau membuang banyak tenaga.

Ia sudah mulai merasa lelah karena tadi ketika melawan Dewa Pedang ia sudah mengerahkan banyak tenaga sin-kang.

"Ssssshhhhh ........!!" terdengar ia mendesis dan gerakan pedangnya kini berubah menjadi seperti gerakan ular cobra.

Pek-mau-sian Thio Ki sudah siap siaga dan begitu pedang lawan menusuk seperti gerakan ular mematuk, dia pun cepat menangkis dengan sulingnya sambil mengerahkan sin-kang.

"Cringgg .......!!" Pek-mau-sian terkejut karena tenaga yang terkandung dalam ilmu pedang ular itu bukan main hebatnya, mempunyai tenaga seperti membelit dan menempel sehingga ketika dia menarik sulingnya lepas, dia terhuyung.

Namun, cepat kipasnya mengebut ke depan sehingga dia mampu menghalangi penyerangan susulan karena bagaimana pun juga, Cu Sui In tidak berani memandang ringan gerakan kipas itu.

Dewa Rambut Putih maklum bahwa ilmu pedang ular itu mengandung tenaga sin-kang yang dahsyat sekali, maka diapun segera mengerahkan tenaga sin-kang yang biasa dia pergunakan untuk ilmu sihirnya.

Dalam adu kepandaian ini, dia tidak mau mempergunakan sihir karena selain belum tentu seorang sakti seperti Dewi Ular Cantik itu dapat terpengaruh sihir, juga dia tidak mau berlaku curang dengan menggunakan sihir.

Bukankah mereka sedang mengadu ilmu silat?

Dia hanya membela diri, sama sekali tidak haus akan kemenangan, maka dia merasa malu kalau harus mempergunakan sihir.

Akan tetapi, dia mengerahkan tenaga sin-kang Pek-in (Awan Putih) dari kedua telapak tangan, juga ubun-ubun kepalanya, mulai mengepulkan uap putih!

Melihat ini, Cu Sui In mendesis-desis semakin keras dan gerakannya cepat sekali, pedangnya bagaikan seekor ular cobra, mematuk-matuk dan mengirim serangan bertubi-tubi!

"Siancai ....!" Dewa Rambut Putih berseru kagum dan dia harus cepat memutar suling dan mengibaskan kipasnya untuk melindungi dirinya.

Wanita cantik itu memang berbahaya sekali.

Bukan saja pedangnya yang berbahaya, juga kuku-kuku jari tangan kiri ikut menyambar-nyambar dan dia maklum bahwa kuku yang kini berubah menghitam itu mengandung racun yang berbahaya, yaitu racun ular cobra hitam.

Sekali saja kulit tergores kuku sampai terobek dan berdarah, racunnya akan memasuki tubuh lewat jalan darah dan akibatnya sama saja dengan kalau orang digigit ular cobra hitam!

Karena memang tingkat kepandaian Dewa Rambut Putih sama tingginya dengan tingkat Dewa Pedang, maka kembali terjadi pertandingan yang amat seru dan hebat.

Bahkan bagi Cu Sui In, lawannya yang kedua ini lebih tangguh.

Hal ini karena tadi Dewa Pedang tidak memegang pedang, hanya mempergunakan ranting pohon sebagai senjata, sebaliknya Dewa Rambut Putih memegang sepasang senjatanya sendiri yang pernah membantunya membuat nama besar selama puluhan tahun.

Karena tidak mungkin membela diri hanya dengan mengelak atau menangkis saja kalau berhadapan dengan lawan yang tingkat kepandaiannya tidak berselisih jauh dengan tingkatnya sendiri, maka Dewa Rambut Putih juga menggunakan cara membela diri yang paling baik, yaitu dengan cara balas menyerang.

Bagi Tiga Dewa, kalau tidak terpaksa, mereka tidak akan mau menyerang orang, apa lagi membunuh atau melukai.

Kini, berhadapan dengan Dewi Ular Cantik, terpaksa dia melawan dengan pengerahan seluruh kepandaian dan tenaganya, balas menyerang dengan dahsyat.

Kalau saja dia tidak memiliki tenaga sakti Awan Putih, tentu Pek-mau-sian Thio Ki tidak akan mampu bertahan sampai puluhan jurus.

SUI IN yang memang sudah lelah, kini dipaksa untuk menguras tenaganya.

Wanita ini semakin lelah, leher dan dahinya basah oleh keringat, napasnya agak memburu walaupun permainan pedangnya tidak berkurang ganasnya dan gerakan tubuhnya tidak berkurang gesitnya.

Dibandingkan lawannya, seorang pertapa yang usianya sudah enampuluh dua tahun lebih, ia menang dalam beberapa hal.

Pertama, ia lebih muda, ke dua ia lebih terlatih dan ke tiga ia lebih bersemangat dan nekat!

Ketika untuk ke sekian kalinya pedang bertemu suling dengan amat kuatnya, membuat keduanya terdorong dan melangkah ke belakang, Sui In mengubah gerakan serangannya.

Ia tidak lagi menyerang dengan gerakan yang lincah seperti tadi, rnelainkan ia menyerang dengan gerakan yang lambat dan berat.

Hal ini bukan berarti bahwa ia telah kehabisan tenaga atau napas.

Sama sekali tidak!

Hanya, kalau tadi ia mengandalkan kecepatan untuk mencoba mengatasi lawan, kini ia mencurahkan seluruh daya serangnya dengan andalan tenaga sin-kang dari Ilmu Pedang Ular Hitam.

Pedangnya menyambar dengan gerakan lambat dan berat sekali, namun mengandung angin yang menyambar dengan dahsyat!

Dewa Rambut Putih maklum akan perubahan siasat lawan.

Diapun tidak berani lengah dan sambaran pedang itu, walaupun datangnya lambat, dia elakkan dengan loncatan jauh ke samping dan diapun membalas dengan serangan yang sama sifatnya, lambat dan berat.

Sulingnya menotok ke arah pergelangan tangan yang kehitaman itu, didahului oleh sambaran kipasnya ke arah muka.

Gerakannya mengandung sinkang yang kuat pula.

Sui In juga mengelak dan mereka serang menyerang dengan gerakan lambat sehingga bagi orang yang tidak paham limu silat tinggi, tentu akan menganggap bahwa keduanya hanya main-main dan tidak berkelahi sungguh-sungguh.

Akan tetapi Dewa Arak dan Lili maklum bahwa kini perkelahian itu telah tiba pada keadaan yang gawat dan mati-matian.

Ketika dalam pertemuan antara pedang dan suling yang mengandung tenaga sinkang sepenuhnya membuat Dewi Ular Cantik terhuyung ke belakang, Dewa Rambut Putih mendapatkan kesempatan untuk balas mendesak lawan.

Dia tahu betapa berbahayanya wanita ini dan dia harus mampu mengalahkannya kalau ingin dia dan Dewa Arak, mungkin juga dua orang murid mereka, selamat.

Melihat lawan terhuyung dalam posisi yang tidak menguntungkan, Pek-mau-sian lalu menerjang dengan suling dan kipasnya.

Kedua senjata ampuh ini menyambar dari atas, kipasnya rnenotok pergelangan tangan yang memegang pedang sedangkan suling di tangan kanannya menotok ke arah pundak untuk merobohkan lawan tanpa melukainya.

Akan tetapi pada saat itu, tubuh Dewi Ular Cantik yang terhuyung itu tiba-tiba tegak kembali dan ketika ia menggerakkan kepalanya, rambut yang hitam panjang itu bagaikan seekor ular telah menyambar ke arah suling, menangkis dan terus melibatnya, dan pedangnya bergerak menyambar arah kipas.

Pedangnya merobek kipas dan terjepit di antara gagang kipas!

Kedua senjata Dewa Rambut Putih tidak dapat digerakkan lagi dan pada saat itu, Dewi Ular Cantik yang tadi membuat gerakan terhuyung hanya sebagai siasat saja, menggerakkan tangan kirinya yang membentuk cakar dan kuku-kuku jari tangannya menyambar ke arah tenggorokan Pek-mau-sian Thio Ki!

Tentu saja Dewa Rambut Putih terkejut sekali.

Untuk menangkis tidak mungkin karena kedua senjatanya telah melekat pada rambut dan pedang, dan untuk mengelak, jaraknya sudah terlampau dekat.

Serangan itu amat ganas dan licik, sama sekali tidak disangkanya, maka satu-satunya jalan baginya hanyalah menarik tubuh atas ke belakang dan untuk menyelamatkan diri, dia mengangkat kaki menendang.

"Crokkk ....!

Desssss ........" Cengkeraman tangan kiri dengan kuku hitam itu memasuki dada Pek-mau-sian, pada detik yang sama dengan tendangan kaki Dewa Rambut Putih itu yang mengenai lambung Dewi Ular Cantik.

Tubuh Pek-mau-sian Thio Ki terjengkang pada saat tubuh Bi-coa Sian-li Cu Sui In terlempar ke belakang sampai dua meter jauhnya.

Dewa Arak lari menghampiri rekannya yang roboh terjengkang, sedangkan Lili meloncat menghampiri sucinya yang tidak roboh, akan tetapi ketika tubuhnya turun, ia terhuyung dan muntahkan darah segar!

Dewa Arak sekali pandang saja tahu bahwa rekannya, Dewa Rambut Putih, telah tewas seketika.

Dadanya menjadi hitam oleh pengaruh racun dari kuku tangan kiri lawan dan rekannya itu tewas tanpa menderita, lebih beruntung dibandingkan Dewa Pedang yang tewas setelah tadi menderita beberapa lamanya.

Dua rekannya telah tewas.

Dewa Arak menarik napas panjang dan sambil meneguk araknya dia memandang ke arah wanita cantik itu.

Wanita cantik itu mengibaskan tangan Lili yang hendak menolongnya, dan kini telah berdiri tegak walaupun wajah yang cantik itu kini pucat sekali.

Ia hendak bicara kepada Dewa Arak, akan tetapi yang keluar dari mulutnya hanya darah lagi, maka iapun segera duduk bersila, mengatur pernapasan untuk mengumpulkan hawa murni dan mengobati luka di bagian dalam tubuhnya yang terguncang akibat tendangan Dewa Rambut Putih tadi.

Tendangan itu mengandung hawa atau tenaga sakti Awan Putih, maka dapat mengguncang isi perut wanita itu.

"Suci, biar aku yang menghadapi tua bangka yang seorang lagi itu." kata Lili yang sudah siap untuk menyerang Dewa Arak yang masih enak-enak minum arak dari gucinya.

Wanita yang duduk bersila itu membuka matanya, memandang kepada sumoinya.

Sejenak ia tidak bicara karena sedang mengatur pernapasan, setelah agak reda, iapun berkata lirih.

"Sumoi, sudah kukatakan jangan kau ikut campur.

Ini adalah urusan pribadiku.

Sekarang aku tidak mungkin dapat menantang Dewa Arak, biarlah hari ini kubiarkan dia hidup.

Lain hari akan kucari dia!

Kecuali kalau dia hendak menuntut balas atas kematian dua orang rekannya!" Mendengar ini, Dewa Arak tertawa bergelak.

"Ha

Post a Comment