Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 28

Memuat...

dingkan tingkat seorang di antara Sam Sian.

Akan tetapi sekarang keadaannya sudah berubah sama sekali.

Kalau Sui In selama sepuluh tahun menggembleng diri dan tekun berlatih, sebaliknya Tiga Dewa jarang berlatih kecuali hanya kalau mengajar dua orang murid mereka.

Sekarang, tingkat kepandaian Sui In sudah sejajar dengan kepandaian Kiam-sian (Dewa Pedang) atau Pek-mau-sian (Dewa Rambut Putih).

Hanya Ciu-sian Si Dewa Arak yang diam-diam telah merangkai sebuah ilmu yang dia ambil dari inti sari kepandaian mereka bertiga.

Biarpun nampaknya ugal-ugalan dan suka main-main, namun sesungguhnya Dewa Arak memiliki kecerdikan luar biasa.

Selama sepuluh tahun ini otaknya bekerja dan dia minta kepada dua orang rekannya untuk membuat dasar dari ilmu masing-masing, kemudian dia menggabung inti sari ilmu mereka bertiga, dijadikan sebuah ilmu yang setiap hari masih terus disempurnakannya.

Dua orang rekannya yang tidak serajin Dewa Arak, mengetahui akan hal itu akan tetapi tidak ada niat untuk ikut mempelajarinya.

Merekapun tahu bahwa Dewa Arak sengaja menciptakan ilmu yang diambil dari inti sari ilmu mereka bertiga digabung menjadi satu, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dua orang murid mereka, yaitu Sin Wan dan Kui Siang.

Setelah berhasil menciptakan ilmu ini, diam-diam Dewa Arak memutuskannya menjadi sebuah kitab dan tahun demi tahun, dia menyempurnakan ilmu itu dan sampai saat itu belum mengajarkannya kepada Sin Wan maupun Kui Siang.

Hal ini adalah karena untuk dapat mempelajari dan melatih ilmu itu, harus memiliki dasar yang amat kuat, dan tenaga sin-kang yang cukup.

Kalau tidak, ilmu yang aneh ini bahkan dapat menimbulkan bahaya besar, dapat mengakibatkan luka dalam yang parah kepada yang melatihnya.

Akan tetapi, dengan sendirinya tingkat kepandaian Dewa Arak meningkat dengan dikuasainya ilmu baru itu.

Pertandingan antara Dewa Pedang dan Dewi Ular Cantik berjalan dengan semakin seru.

Dewa Rambut Putih dan Dewa Arak diam-diam menyayangkan bahwa rekan mereka telah memberikan Pedang Tumpul kepada Sin Wan dan Pedang Sinar Matahari kepada Kui Siang.

Kalau saja rekan mereka itu memegang satu di antara dua buah senjata pusaka itu, tentu akan lain keadaannya.

Akan tetapi, Dewa Pedang hanya bersenjatakan sebatang ranting pohon.

Kalau menghadapi lawan lain, mungkin sebatang ranting itu sudah cukup ampuh karena tangan Dewa Pedang yang mengandung tenaga sin-kang kuat itu dapat membuat ranting itu menjadi senjata yang cukup tangguh.

Akan tetapi yang dihadapinya kini adalah Dewi Ular Cantik yang ternyata memiliki kepandaian yang demikian tingginya.

Setelah lewat tigapuluh jurus, mulailah Dewa Pedang terdesak hebat oleh lawannya.

Dua kali ujung ranting yang dipergunakan sebagai pedang itu terbabat putus ujungnya oleh pedang di tangan Bi-coa Sian-li Cu Sui In yang makin lama semakin ganas mendesak lawannya itu.

Tiba-tiba Cu Sui In mengeluarkan suara mendesis seperti desis seekor ular cobra dan ia telah mengubah gerakan pedangnya dan mulai memainkan ilmu pedang baru yang amat dahsyat, yaitu Hek-coa Kiam-sut!

Dan begitu ia memainkan ilmu pedang ini, Dewa Pedang terkejut karena dia mengenal ilmu pedang orang amat aneh dan amat berbahaya!

Pedang lawan itu gerakannya seperti seekor ular cobra yang menyerang lawan.

Dia berusaha untuk membentuk parisai dengan sinar ranting yang diputarnya cepat, namun tetap saja pedang lawan dapat menerobos masuk dan biarpun dia sudah melempar tubuh ke belakang, tetap saja pundak kirinya tertusuk ujung pedang lawan.

Kiam-sian Louw Sun tidak mengeluh, akan tetapi dia terhuyung ke depan dan saat itu, Dewi Ular Cantik sudah menerjang lagi ke depan, pedangnya berkelebat menyilaukan mata dan terpaksa Dewa Pedang meloncat jauh ke atas untuk menghindarkan diri dari ilmu pedang yang seperti gerakan ular itu!

Untuk melindungi diri dari ilmu pedang yang seperti ular itu, satu-satunya cara terbaik adalah berloncatan ke atas seperti seekor burung rajawali kalau menghadapi ular.

Akan tetapi, Dewi Ular Cantik sudah dapat menduga taktik ini dan iapun ikut meloncat ke atas.

Mereka mengadu pedang dan ranting di udara ketika berlompatan.

Keduanya turun lagi dan kembali ujung pedang Cu Sui In telah dapat mencium pangkal lengan kanan Dewa Pedang sehingga bajunya terobek dan kulitnya terluka berdarah.

Keduanya kini sudah sampai ke puncak pertandingan, saling mengerahkan tenaga sekuatnya dan mereka lalu meloncat lagi seperti terbang, saling terjang di udara.

Namun, tiba-tiba dari gagang pedang Cu Sui In meluncur jarum-jarum hitam.

Serangan jarum-jarum ini merupakan rangkaian serangan pedangnya yang ganas.

Dewa Pedang sudah mencoba untuk memutar ranting melindungi dirinya, akan tetapi biarpun dia berhasil memukul runtuh semua jarum beracun, dia tidak mampu menghindarkan tusukan pedang lawan yang mengenai lambungnya.

Kembali mereka berdua melompat turun dalam jarak yang cukup jauh.

Dewa Pedang dapat turun dengan berdiri tegak, akan tetapi perlahan-lahan darah mengalir keluar dari celah-celah jari tangan ketika tangan kirinya mendekap lambung yang terluka.

"Hyaaaattt .......!" Dia menggerakkan tangan kanan sambil membalik ke arah Dewi Ular Cantik.

Ranting di tangannya itu meluncur seperti anak panah ke arah lawan.

Cu Sui In terkejut, tidak menyangka bahwa lawan yang sudah terluka parah itu masih mampu menyerangnya sehebat itu.

Ia menggerakkan pedang menangkis dan ranting itu meluncur cepat ke arah pohon dan menancap ke batang pohon seperti anak panah yang dilepas dari dekat!

Akan tetapi itu merupakan serangan balasan terakhir dari Kiam-sian Louw Sun karena dia sudah terkulai roboh.

Dewa Arak cepat menghampiri rekannya dan menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan darah mengalir keluar.

Akan tetapi setelah memeriksanya, tahulah Dewa Arak bahwa luka yang diderita rekannya itu terlampau parah dan tak mungkin dapat disembuhkan lagi.

Pedang Dewi Ular Cantik bukan hanya merobek kulit dan daging saja, melainkan melukai anggauta badan sebelah dalam sehingga tidak mungkin lagi Dewa Pedang dapat ditolong dan diselamatkan.

Sementara itu, melihat rekannya roboh, Pek-mou-sian Thio Ki meloncat ke depan wanita cantik itu.

"Siancai ....., hatimu sungguh ganas dan kejam, Bi-coa Sian-li.

Kami dahulu mengalahkanmu tanpa melukai, akan tetapi sekarang engkau berusaha membunuh kami." "Pek-mou-sian!

Terluka atau tewas dalam pertandingan sudah menjadi resiko semua orang di dunia persilatan.

Hal itu biasa dan wajar, kenapa banyak ribut lagi!

Kalau tadi aku yang kalah, tentu aku yang terluka dan mungkin tewas.

Nah, sekarang majulah, aku sudah siap!" tantang wanita cantik itu.

"Suci, engkau sudah lelah.

Biarkan aku maju mewakilimu menghadapi dia!" Tang Bwe Li melompat ke depan, akan tetapi, Cu Sui In mengerutkan alisnya dan membentak.

"Sumoi, mundur kau!

Ingat, jangan mencampuri urusan ini.

Ini urusan pribadiku, kau tahu?

Biar andaikata aku terdesak dan terancam maut sekalipun, engkau tidak boleh turun tangan!" Lili mundur.

Ia maklum akan watak kakak seperguruan, bekas gurunya ini.

Cu Sui In wataknya persis ayahnya, yaitu See-thian Coa-ong Cu Kiat.

Watak yang keras dan gagah, juga tinggi hati dan pantang dianggap curang atau penakut.

Karena itulah ia tidak menghendaki sumoinya mencampuri pertandingannya melawan Sam Sian, apalagi melihat betapa Tiga Dewa itu tidak mengeroyoknya.

Kalau tadi Lili mencoba untuk mewakili sucinya, hal itu adalah karena ia tahu benar betapa sucinya itu sudah lelah karena tadi harus mengerahkan tenaga sepenuhnya ketika melawan Kiam-sian, walaupun sucinya keluar sebagai pemenang.

Dan ia dapat menduga bahwa tingkat kepandaian kakek rambut putih itu tentu setinggi tingkat Dewa Pedang pula.

Dengan hati khawatir Lili melangkah mundur dan kembali menjadi penonton saja, tidak berani membantu karena kalau ia lancang melakukan hal ini, sucinya tentu akan marah bukan main karena perbuatannya itu dapat dianggap menghina dan merendahkan harga diri sucinya itu!

Pek-mou-sian Thio Ki maklum akan kelihaian lawan.

Tadi dia mengikuti pertandingan antara rekannya Dewa Pedang melawan wanita ini dengan teliti dan dia tahu bahwa yang amat berbahaya adalah ilmu pedang yang gerakannya seperti gerakan ular cobra tadi.

Rekannya saja, yang dijuluki Dewa Pedang dan ahli dalam ilmu pedang, tidak mampu menandingi ilmu pedang ular itu.

Akan tetapi, Dewa Rambut Putih tidak menjadi gentar sama sekali.

Bagi dia, hidup atau mati bukan hal yang paling penting.

Yang terpenting adalah bagaimana dia dapat selalu mengambil jalan yang benar.

Kalau sudah benar, mati atau hidup sama saja!

Mati karena membela yang benar jauh lebih baik dari pada hidup mempertahankan kejahatan!

"Siancai .....!" Ingat, Bi-coa Sian-li, adalah engkau yang datang mencari dan menantang kami.

Baik kalah atau menang, akibatnya adalah tanggunganmu.

Kami hanya melayani permintaanmu." "Aku datang bukan untuk berdebat.

Keluarkan senjatamu, kalau memang engkau tidak takut menyambut tantanganku!" bentak Cu Sui In.

Dewa Rambut Putih mengeluarkan kipas dan sulingnya.

Kipas itu dipegangnya dengan tangan kiri, dan sulingnya dengan tangan kanan.

Dia bersikap tenang walaupun waspada, karena dia maklum bahwa orang seperti wanita ini tidak segan menggunakan siasat yang betapa ganaspun, seperti tadi ia menyerang Dewa Pedang dengan jarum beracun yang keluar dari gagang pedangnya.

"Bi-coa Sian-li, aku sudah siap, katanya.

Baru saja kata-katanya habis, pedang ditangan Cu Sui In sudah menerjangnya dengan dahsyat bukan main.

Dewa Rambut Putih me ngebutkan kipasnya dan menggunakan sulingnya menangkis.

"Tranggg ........!" Suling menangkis pedang dan kipasnya mengebut ke arah muka lawan.

Cu Sui In cepat mengelak dari sambaran angin kipas itu, akan tetapi tiba-tiba kipas itu tertutup dan gagangnya menotok ke arah pundak Sui In.

Totokan dengan gagang kipas itu nampaknya lemah saja, namun sesungguhnya dibalik gerakan yang lernbut itu terkandung tenaga yang dahsyat.

Tahulah Cu Sui In bahwa lawannya amat lihai.

sesuai dengan fils

Post a Comment