Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 27

Memuat...

usaka pemberian kaisar yang isinya tentu saja sudah habis karena arak yang diterima dari kaisar sepuluh tahun yang lalu itu sudah dihabiskannya dalam waktu kurang dari seminggu!

Kini tinggal gucinya yang diisi arak biasa.

"Heh ..

heh ..

heh, angin apakah yang meniup kalian dua orang wanita cantik ke Pek-in-kok ?" "Angin dari Bukit Ular Pegunungan Himalaya." jawab Sui In dengan singkat dan ketus.

"Bukit Ular di Himalaya?

Wah ..wah ..

wah, bagaimana kabarnya dengan sobat See-thian Coa-ong Cu Kiat?

Kalian diutus oleh Raja Ular itu, bukan?" Dewa Arak meneguk kembali guci araknya.

"Ayahku tidak ada sangkut-pautnya dengan kedatanganku ini.

Aku datang untuk urusan pribadi dengan Sam Sian!" "Ho ..

ho ..

ho, kami tiga orang tua bangka tidak pernah mempunyai urusan pribadi, apa lagi dengan wanita muda dan cantik." kata Dewa Arak dengan sikapnya yang seenaknya.

"Mudah-mudahan saja Sam Sian yang terkenal sebagai pinisepuh dunia persilatan itu bukan hanya pengecut-pengecut yang pura-pura melupakan apa yang mereka lakukan.

Sam Sian, ingatkah kalian peristiwa sepuluh tahun yang lalu?

Aku, Bi-coa Sian-li Cu Sui In pernah kalian kalahkan.

Nah, inilah aku, datang untuk menantang kalian, untuk membalas kekalahanku yang dulu.

Sekali ini, mudah-mudahan saja Sam Sian bukan tiga orang laki-laki licik dan curang yang main keroyokan terhadap lawannya seorang wanita.

Aku tantang kalian untuk main satu demi satu mengadu kepandaian!" "Wah ..wah ..

wah, engkau terlambat nona.

Dahulu engkau menantang kami untuk merebut pusaka-pusaka istana itu, bukan?

Sekarang, pusaka-pusaka itu telah kami kembalikan kepada kaisar.

Kalau engkau menginginkannya, datanglah ke kota raja dan minta saja kepada kaisar.

Kami tidak tahu menahu lagi ......" "Aku tidak butuh pusaka!

Aku datang untuk menebus kekalahanku sepuluh tahun yang lalu.

Aku sudah cukup kaya, akan tetapi kalian telah menghinaku sepuluh tahun yang lalu, meruntuhkan nama dan kehormatanku.

Hari ini kalian harus membayarnya!" "Siancai .....

, kalau ada yang terang, mengapa memilih yang gelap?

Ada yang jernih mengapa memilih yang keruh?

Ada yang tenang, mengapa memilih kekacauan?" Yang berkata itu adalah Dewa Pedang.

Kemudian terdengar Dewa Rambut Putih juga bicara dengan suaranya yang lembut sambil tersenyum ramah.

"Nona, sepuluh tahun yang lalu, ketika berhadapan denganmu, kami adalah petugas-petugas utusan kaisar untuk mendapatkan kembali pusaka yang tercuri.

Setelah pusaka itu kami kembalikan, kami sudah mencuci tangan dan mengundurkan diri, dan bagi kami, perlstiwa dengan nona sepuluh tahun yang lalu sudah tidak ada lagi," kata-katanya lembut, lalu disusul kakek ini menyanyikan ayat-ayat yang diambilnya dari kitab To-tik-keng, yaitu kitab suci Agama To.

"Tariklah tali gendewa anda sepenuhnya gendewa dapat patah dan sesalpun tiada guna.

Asahlah pedang anda setajam-tajamnya mata pedang dapat aus dan takkan bertahan lama.

Tumpuklah emas permata di kamar anda dan anda akan bersusah payah menjaganya.

Membanggakan kekayaan dan kehormatan harga diri hanya menyebar benih kehancuran pribadi.

Undurlah sesudah tugas terlaksana demikian cara Langit bekerja." "Hemm, apa yang kaumaksudkan dengan nyanyianmu itu?" Dewi Ular Cantik bertanya dengan suara mengejek.

"Aku datang kesini bukan untuk mendengarkan khotbah!" Dewa Arak tertawa.

"Nona, Dewa Rambut Putih telah menyanyiken ayat suci dari Agame To, kenapa nona tidak mengerti?

Maksudnya adalah bahwa dalam kehidupan ini, seyogyanya kita tidak berlebihan dalam segala hal, memenuhi tugas dan kewajiban dan tidak mabok kemenangan atau keberhasilan.

Mengenai batas dan tahu diri.

Nona agak berlebihan, terburu nafsu sehingga peristiwa sepuluh tahun yang lalu disimpan dalam hati sebagai dendam.

Bukankah berarti nona meracuni diri sendiri selama sepuluh tahun ini?

Dan semua itu untuk apa?

Hanya untuk menebus kekalahan!

Hanya untuk menang!

"Sudahlah, tak perlu berkhotbah.

Aku datang untuk menantang kalian.

Mau atau tldak kalian harus menerima tantanganku, karena kalau kalian tidak mau menandingiku, aku akan menyerang dan kalian akan mati konyol!" "Nanti dulu, suci!" kata Lili.

"Jangan bunuh dulu mereka ini sebelum memberitahu kepadaku.

Hei, ketiga totiang.

Aku mencari anak setan kurang ajar itu.

Di mana dia?" "Anak setan yang mana?

Di sini tidak ada anak setan, yang ada hanya anak manusia, nona," kata Dewa Arak.

"Aku mencari Si Kerbau-sapi-kuda-anjing-kucing-babi itu!" kata pula Lili sambil mengepal tinju.

Dewa Arak melongo, memandang kepada gadis cantik itu dan hatinya berkata.

"Sungguh sayang, nona begini cantik otaknya miring!" Melihat kakek itu bengong saja, Lili membentak marah.

"Jangan pura-pura!

Aku mencari anak laki-laki yang sepuluh tahun lalu bersama kalian.

Dia tentu murid kalian!

Di mana si keparat itu?" "Ooohhh, kaumaksudkan Sin Wan?

Dia sedang pergi." "Sudahlah, sumoi.

Nanti kita cari musuhmu itu, sekarang aku akan membereskan dulu tiga orang ini!" kata Si Dewi Ular dan ia sudah mencabut pedangnya, lalu berkata kepada tiga orang pertapa itu.

"Sam Sian, aku Bi-coa Sian-li Cu Sui In menantang Sam Sian maju satu demi satu, tidak main keroyokan seperti pengecut-pengecut liar!" Tiga orang kakek itu saling pandang dan jelas nampak bahwa mereka itu merasa enggan untuk berkelahi walaupun sedikitpun tidak merasa takut.

Bagi mereka, melayani tantangan Dewi Ular Cantik itu sama saja dengan ikut menjadi gila.

Di antara mereka dan wanita itu sebetulnya tidak ada permusuhan apapun.

Dahulu mereka memang memperebutkan pusaka, akan tetapi sekarang pusaka itu telah kembali kepada pemiliknya, dan tentang kalah menang dalam pertandingan, bagi orang-orang dunia persilatan adalah hal biasa dan tidak pernah mendatangkan sakit hati dan dendam.

"Suci, percuma menantang pengecut.

Mereka takut!" kata Lili mengejek.

Sui In mengerutkan alisnya.

"Sam Sian, kalau kalian takut, kalian harus berlutut minta ampun kepadaku, baru akan kupertimbangkan untuk mengampuni nyawa kalian!" Ucapan ini sengaja dikeluarkan Sui In untuk menyudutkan mereka.

Tentu saja ia tahu bahwa orang-orang seperti Tiga Dewa itu tidak akan merasa takut menghadapi tantangan siapapun.

Ia sengaja memanaskan hati mereka agar mereka segera menyambut tantangannya.

Dan usahanya berhasil.

Pantangan bagi semua tokoh dunia persilatan kalau dikatakan takut.

"Siancai ....!

Bi-coa Sian-li memaksa orang.

Baiklah, karena engkau telah mencabut pedang, pinto (aku) akan melayanimu sejenak." kata Kiam-sian Louw Sun sambil meraba pinggangnya.

Akan tetapi, alisnya berkerut dan dia segera teringat bahwa tidak ada lagi pedang di pinggangnya.

Pedang Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari), yang biasanya dililitkan di pinggang, kini tldak terdapat lagi di pinggangnya karena sudah dia berikan kepada muridnya, Lim Kui Siang!

Sedangkan Pedang Tumpul yang diterimanya dari Kaisar, telah dia berikan kepada Sin Wan.

Tadinya, pedang-pedang itu hanya dipergunakan oleh kedua orang murid itu untuk latihan ilmu pedang, akan tetapi kemudian Si Dewa Pedang memberikan pedang-pedang itu kepada mereka karena dia sendiri tidak membutuhkan pedang.

Baru sekarang dia teringat, akan tetapi dia tersenyum dan sama sekali tidak menjadi panik.

"Bi-coa Sian-li, maaf, aku tidak mempunyai pedang.

Biarlah kupergunakan sebatang ranting pohon saja untuk melayanimu bermain pedang," katanya dan diapun menghampiri sebatang pohon dan mematahkan ranting yang panjang dan besarnya seperti pedang.

Dia kembali menghadapi wanita itu dengan pedang kayu di tangan!

Wajah wanita itu berubah merah dan ia marah sekali.

"Dewa Pedang, engkau sungguh menghina dan berani memandang rendah kepadaku.

Baik, kau akan menebus penghinaan ini dengan nyawamu!" Cu Sui In sudah menggerakkan pedangnya sambil mengeluarkan bentakan nyaring.

Sinar pedang menyambar ganas dan Dewa Pedang cepat meloncat untuk menghindarkan diri, sambil mengelebatkan pedang kayunya, menusuk atau menotok ke arah pergelangan tangan lawan yang memegang pedang.

Namun, Dewi Ular Cantik itu cepat menarik kembali tangannya, memutar pergelangan pedang dan pedang itu sudah meluncur lagi dengan tusukan dahsyat yang membuat Dewa Pedang terkejut dan terpaksa meloncat lagi ke samping untuk menghindarkan diri.

Dewi Ular mendesak terus, pedangnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang menyilaukan mata dan dari gulungan sinar itu terdengar suara bercuitan melengking.

Dewa Pedang yang memutar pedang kayunya sambil mempergunakan keringanan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini, diam-diam terkejut bukan main.

Dari gerakan pedang lawan, tahulah dia bahwa wanita ini sama sekali tidak dapat disamakan dengan sepuluh tahun yang lalu.

Kini ilmu pedangnya matang dan mantap, gerakannya cepat dan ringan sekali sedangkan tenaga sin-kang yang terkandung dalam pedang itu kuat bukan main, membuat pedang kayunya selalu terpental dan tangannya tergetar.

Tahulah Dewa Pedang bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh!

Penglihatan Dewa Pedang memang tidak keliru.

Selama sepuluh tahun ini, Cu Sui In telah menggembleng diri di bawah bimbingan ayahnya sehingga selain ilmu-ilmunya menjadi matang, juga gin-kang dan sin-kang yang dikuasainya menjadi semakin kuat.

Selain ini, ayahnya mengajarkan ilmu pedangnya yang baru saja diciptakannya, yang diberi nama Hek-coa Kiam-sut (Ilmu Pedang Ular Hitam).

Si Raja Ular Cu Kiat menciptakan ilmu pedang ini berdasarkan gerakan seekor ular hitam beracun, yaitu seekor Cobra hitam, kalau binatang itu marah dan menyerang.

Untuk menyempurnakan ciptaannya, dia telah mengorbankan entah beratus ekor cobra hitam dan musang yang diadunya untuk dia tangkap inti sari gerakan ular hitam itu.

Akhirnya, dia berhasil menciptakan Hek-coa Kiam-sut yang terdiri dari delapan belas jurus yang ampuh sekali.

Dan ketika puterinya menggembleng diri selama sepuluh tahun, dia mengajarkan ilmu pedang ini kepada puterinya dan kepada muridnya, yaitu Tang Bwe Li.

Sepuluh tahun yang lalu, tingkat kepandaian Sui In masih kalah setingkat diban

Post a Comment