membayangkan perasaan kaget, penasaran dan juga kagum.
"Hemm, hendak kulihat apakah engkau benar bernyali naga, ataukah hanya berlagak saja!" katanya dan dari mulutnya keluar suara mendesis, tak lama kemudian, terdengar suara desis yang sama dari dalam rumah dan muncullah seekor ular yang besar sekali.
Ular itu panjangnya ada lima meter, besarnya sepaha orang dewasa.
Ular itu keluar sambil mendesis-desis.
See-thian Coa-ong si Raja Ular itu terus mengeluarkan desis yang makin meninggi seperti bersiul dan tiba-tiba ular itu lalu bergerak maju menyerang Lili!
Anak perempuan berusia sembilan tahun itu tidak nampak terkejut ataupun takut.
Ia sudah meloncat berdiri dan begitu ular menyerangnya, ia sudah melompat ke samping dan ketika kepala ular meluncur lewat, ia menggerakkan kaki menendang ke arah kepala ular dari samping belakang.
"Plakkl" Kepala ular kena ditendang, akan tetapi kepala ular itu keras sekali sehingga Lili merasa kaki di dalam sepatunya nyeri.
Ular itu terkejut, membalik dan dengan moncongnya yang dibuka lebar dia menerjang lagi.
Dengan gesit, Lili meloncat lari ke samping.
Akan tetapi la tidak sempat menendang lagi karena kepala ular itu sudah membalik dan melanjutkan serangannya yang bertubi-tubi.
Bukan hanya kepalanya saja yang menyerang, juga ular itu menggerakkan ekornya untuk menyambar kaki anak perempuan itu.
Lili terpaksa harus meloncat ke sana sini dan ia menjadi marah sekali.
"Ular keparat, kaukira aku takut padamu?" bentaknya dan ketika ular itu menyerang lagi dengan moncongnya.
ia mengelak ke kiri, kemudian ia meloncat dan menerkam leher ular itu dari belakang, mencengkeram leher itu dengan kedua tangannya!
Gerakan ini selain tangkas, juga berani sekali.
Hal ini tidak begitu mengherankan.
Lili adalah murid Dewi Ular Cantik, seorang yang biasa bermain dengan ular.
Sejak kecil Lili sudah dibiasakan oleh gurunya untuk bermain dengan ular yang menjadi dasar dari ilmu-ilmunya, maka Lili tidak pernah takut berhadapan dengan ular.
Hanya belum pernah berkelahi dengan ular sebesar itu!
Biarpun dua buah tangan itu kecil saja, dengan jarl-jari yang mungil dan tidak panjang, namun cekikan kedua tangan pada leher ular itu cukup kuat.
Ular itu meronta-ronta hendak melepaskan leher yang dicekik.
Demikian kuat ular itu meronta sehingga tubuh Lili terbawa dan terbanting, terguncang ke kanan-kiri.
Namun, bagaikan seekor lintah, anak perempuan itu tak pernah mau mengendurkan, apa lagi melepaskan cekikannya.
Ular itu kini menggerakkan ekornya dan tubuh ular yang panjang besar dan licin dingin itu membelit-belit tubuh Lili!
Lilitan ular itu kuat sekali.
Seorang laki-laki dewasapun takkan dapat tahan kalau dililit ular itu, akan patah-patah dan remuk tulang-tulangnya.
Akan tetapi, desis yang keluar dari mulut Raja Ular merupakan isyarat atau perintah yang amat dipatuhi ular besar itu.
Lilitannya bukan untuk membunuh, melainkan untuk membuat anak perempuan itu tidak mampu bergerak.
Seluruh tubuh anak itu dililit ular, kedua kaki dan kedua lengannya pula.
Akan tetapi, kedua tangannya masih tetap mencekik leher ular, walaupun tenaganya banyak berkurang karena kedua lengannya dililit ular.
Lili tidak mampu bergerak lagi.
"Subo!" ia memandang subonya, akan tetapi wanita cantik itu acuh saja seolah muridnya tidak terancam bahaya.
Lili hanya satu kali memanggil, tanpa berkata minta tolong.
"Ha ..
ha ..
ha, anak bandel!
Menangislah, minta ampunlah, dan ular ini tentu akan melepaskanmu," kata See-thian Coa-ong Cu Kiat penuh kemenangan.
Akan tetapi, biarpun lilitan ular itu semakin kuat dan membuat dadanya terasa sesak, Lili bertahan dan memandang kepada kakek gurunya dengan mata bersinar-sinar.
"Sukong, subo tidak pernah mengajarkan aku untuk merengek dan menangis dengan cengeng!
Aku tidak bersalah apa-apa, aku tidak akan menangis, tidak akan minta ampun!" "Hemm, kalau begitu, ularku akan membunuhmu!" "Aku tidak percaya.
Subo akan melarangnya, dan sukong juga tidak mungkin membunuh cucu murid sendiri.
Andaikata dibunuh juga, aku tidak takut!" Kembali kakek itu mengeluarkan suara mendesis dan lilitan ular itu semakin kuat.
Lili sudah tidak mampu menggerakkan kaki tangan.
Akan tetapi ia tidak mau menyerah begitu saja.
Ia masih dapat menggerakkan lehernya.
Melihat betapa dadanya semakin sesak, ia lalu menunduk dan membuka mulutnya, dan menggigit leher ular yang berada di dagunya, menggigit dengan mengerahkan seluruh tenaganya.
Giginya yang kuat itu menembus kulit ular dan lidahnya segera merasakan darah yang asin amis!
Ular itu terkejut kesakitan dan lilitannya mengendur.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Lili untuk meronta, melepaskan diri dan meLoncat keluar dari lilitan ular itu.
Ia rneloncat ke dekat subonya.
"Subo, tolong teecu (murid) pinjam pedangnya sebentar untuk membunuh ular keparat itu teriaknya kepada subonya.
"Hushh!", bentak Cu Sui In.
"Kalau ayah menghendaki, sudah sejak tadi engkau mati, tulang tulangmu remuk dalam lilitan ular.
Atas perintah sukongmu, ular itu hanya mengujimu, bukan hendak membunuhmu, dan engkau malah menggigit dan melukai lehernya!" Mendengar keterangan gurunya, Lili terkejut.
Ia memandang dan melihat kakek itu dengan penuh sikap menyayang, memeriksa luka di leher ular dan mengobatinya dengan obat bubuk putih.
Ia merasa bersalah dan segera ia menjatuhkan diri berlutut di depan See-thian Coa-ong Cu Kiat.
"Sukong, aku bersalah.
Kalau sukong hendak menghukum dan membalas dengan menggigit leherku, silakan!" Raja Ular Itu memandang kepadanya, lalu tertawa bergelak.
"Ha ha ha, Sui In.
Sekarang aku mengerti mengapa engkau memilih setan cilik ini sebagai murid.
Ia memang pantas menjadi muridmu.
bahkan patut menjadi muridku, ha ha ha!" Mendengar ini, Cu Sui In tersenyum.
"Lili, cepat kau menghaturkan terima kasih kepada suhumu.
Mulai saat ini engkau menjadi murid ayah, dan aku menjadi sucimu (kakak seperguruanmu)!" Lili adalah seorang wanita yang cerdas sekali.
Ia segera memberi hormat dan menyebut suhu kepada Si Raja Ular yang tertawa bergelak karena girangnya memperoleh seorang murid yang menyenangkan.
Dan mulai saat itu, Lili menyebut suci kepada bekas ibu gurunya.
Hal itu amat menyenangkan hati Sui In, wanita yang selalu nampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya, dan yang selalu ingin dianggap muda.
Dengan tekun See-thian Coa-ong Cu Kiat menggembleng Tang Bwe Li atau Lili dengan ilmu-ilmunya, dan juga Sui In memperdalam ilmunya di bawah bimbingan ayahnya.
Sepuluh tahun kemudian, dalam usia sembilanbelas tahun dan menjadi seorang dara yang cantik manis, Lili telah menguasai ilmu-ilmu dari Si Raja Ular.
Bahkan dibandingkan dengan tingkat kepandaian bekas guru yang kini menjadi sucinya, ia hanya kalah pengalaman saja dan selisihnya tidak jauh!
Demikianlah, pada saat Sin Wan dan Kui Siang menuruni lembah Pek-in-kok di bagian timur, di pagi hari itu, Bi-coa Sian-li Cu Sui In dan bekas murid yang kini menjadi sumoinya (adik seperguruannya) mendaki lembah bukit dari barat.
Sui In dan Lili mempergunakan ilmu berlari cepat dan bagaikan melayang saja mereka mendaki lembah bukit yang bagi orang biasa merupakan daerah yang amat sukar dilalui itu.
Mereka mendaki Pek-in-kok hanya dengan satu tujuan, yaitu untuk membalas atau membalas kekalahan mereka sepuluh tahun yang lalu.
Dewi Ular Cantik Cu Sui In memiliki watak seperti ayahnya, yaitu tidak pernah dapat menelan kekalahan dari orang lain.
Oleh karena itu, ketika dalam usaha memperebutkan pusaka-pusaka istana ia kalah oleh Sam Sian, ia merasa terhina dan hatinya sakit sekali.
Urusan pusaka sudah tidak diingatnya lagi, akan tetapi kekalahan yang dideritanya selalu menghantuinya dan ia tidak akan merasa tenang sebelum dapat membalas dan menebus kekalahannya itu.
Dan agaknya Lili yang kini menjadi sumoinya, juga tidak pernah dapat melupakan penghinaan yang dialaminya dari anak laki-laki yang agaknya murid Sam Sian itu.
Anak laki-laki yang tidak dikenal namanya itu, yang dinamakannya Si Kerbau-sapi-kuda-anjing-kucing-babi itu, telah menangkapnya, memaksanya menelungkup di atas pangkuannya dan menampari pinggulnya sepuluh kali seolah-olah seorang ayah yang menghukum anaknya yang nakal saja!
Sampai mati ia tidak akan dapat melupakan penghinaan itu!
Ia akan membalas penghinaan itu dengan pukulan sampai seratus kali biar pantat orang itu hancur menjadi bubur!
Setiap kali membayangkan peristiwa itu, muka Lili menjadi merah sekali dan kemarahan seolah-olah membuat matanya berkilat dan napas yang keluar dari hidung dan mulutnya mengandung api!
Ketika dua orang wanita cantik itu tiba di depan pondok-pondok bambu yang sederhana namun rapi dan bersih itu, Sam Sian sedang duduk bersila di depan pondok, menikmati sinar matahari pagi yang hangat dan udara pagi yang segar.
Mereka duduk bersila di atas batu-batu datar yang halus, menghadap ke timur, ke arah matahari pagi yang masih lembut sinarnya.
Ketika dua orang wanita itu muncul dan berloncatan ke depan mereka, tiga orang kakek itu memandang dengan heran.
Melihat mereka dapat naik ke Pek-in-kok saja sudah dapat mereka ketahui bahwa dua orang wanita itu bukanlah orang-orang lemah, dan yang membuat mereka heran adalah sikap dan wajah mereka, terutama sinar mata mereka yang membayangkan kemarahan besar.
Tiga orang pertapa itu adalah orang-orang yang sudah dapat membebaskan diri dari kekuasaan nafsu, maka tiada lagi dendam atau ganjalan dalam hati dan pikiran mereka.
Tidak ada lagi kenangan yang hanya menimbulkan suka duka, dendam dan budi.
Maka, tentu saja mereka tidak ingat lagi siapa adanya dua orang wanita cantik ltu.
Bahkan Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih sudah memejamkan mata dan menundukkan muka, tidak memperdulikan dua orang wanita yang muncul sebagai pengganggu ketenteraman mereka.
Hanya Dewa Arak yang memandang mereka dengan mulut tersenyum ramah.
Seperti biasa, dalam menghadapi urusan apa saja, Ciu-sian Tong Kui ini selalu mengandalkan araknya.
Dia meneguk arak dari guci yang selalu berada di dekatnya, guci arak p