Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 25

Memuat...

lau orang menanti sesuatu dan memperhatikan sang waktu akan merangkak atau merayap seperti seekor siput.

Waktu juga mempermainkan pikiran dengan pembagiannya sebagai kemarin, hari ini dan esok atau masa lalu, saat ini dan masa depan.

Pikiran yang mengenang masa lalu hanya mendatangkan dendam, duka den penyesalan.

Sedangkan pikiran yang membayangkan masa depan hanya mendatangkan rasa malu, rasa takut dan khayalan muluk.

Masa lalu sudah lewat, hanya kenangan, masa depan belum ada, hanya khayalan.

Menghadapi saat ini, detik demi detik, berarti menghadapi kenyataan dan itulah hidup.

Hidup merupakan tantangan setiap saat yang harus kita hadapi, yang hanya kita tanggulangi.

Bagi yang hidup, dari saat ke saat bebas dari masa lalu dan masa depan.

Saat ini adalah pelaksanaan hidup, saat ini adalah cara hidup, jalan hidup, sedangkan besok hanyalah ambisi, khayalan.

Yang lalu sudah mati, yang kelak belum datang.

Sekarang benar, nantipun benar.

Benar dan tidak terletak pada saat sekarang ini!

Tuhan sudah menciptakan kita dalam keadaan sempurna, serba lengkap dengan perabot dan alat yang dapat kita pergunakan untuk menghadapi dan menanggulangi hidup, lengkap dengan jasmani yang serba lengkap, panca indera, hati dan akal budi.

Semua itu masih ditambah lagi dengan kekuasaan Tuhan yang meliputi diri kita luar dan dalam, kekuasaan Tuhan yang melindungi, membimbing, asal kita mendasari semua ikhtiar dengan penyerahan kepada Tuhan Maha Kasih dengan sabar, tawakal dan ikhlas!

Semua kehendak Tuhan jadilah!

Tanpa terasa lagi sepuluh tahun telah lewat sejak terjadinya peristiwa-peristiwa yang telah diceritakan di bagian depan.

Pagi itu udara amat cerah di Pek-in-kok (Lembah Awan Putih) biarpun sinar matahari pagi masih terlampau lunak untuk dapat mengusir hawa yang dingin sejuk dan terasa menusuk tulang bagi mereka yang tidak biasa tinggal di tempat yang berhawa dingin.

Sudah sejak subuh tadi Sin Wan dan Kui Siang meninggalkan lembah dan pergi ke kota Yin-coan.

Tahun baru tinggal sebulan lagi dan tiga orang guru mereka menyuruh mereka pergi ke Yin-coan untuk membeli pakaian baru untuk kedua orang murid itu.

"Akan tetapi, suhu.

Untuk apa teecu berdua harus membeli pakaian baru?" tanya Sin Wan yang kini telah menjadi seorang pemuda berusia duapuluh tahun.

Pemuda ini bertubuh tegap dan sedang, dengan dada lebar dan kaki tangan kokoh kuat.

Dahinya lebar, rambutnya hitam panjang digelung ke atas, alisnya tebal berbentuk golok melindungi sepasang mata yang besar dan bersinar cerah.

Hidungnya mancung agak besar, dan mulutnya membayangkan keramahan dengan dagu yang berlekuk membayangkan keteguhan hati.

Seorang pemuda yang gagah dan ganteng, dengan kulit yang agak gelap.

"Teecu juga heran.

Kenapa teecu berdua diharuskan berbelanja pakaian baru?

Pakaian teecu masih baik dan masih cukup banyak." Kui Siang juga membantah.

Dewa Arak yang mewakili dua orang rekannya menyuruh dua orang murid itu, tersenyum.

Tiga orang pertapa yang di juluki Sam Sian (Tiga Dewa) itu kini telah tua.

Usia mereka sudah enampuluh tahun lebih, akan tetapi mereka masih nampak sehat dan kuat.

Terutama sekali Ciu-sian Tong Kui.

Dewa Arak yang memiliki pembawaan gembira ini nampak lebih muda dari dua orang rekannya.

Usianya yang enampuluh dua tidak meninggalkan bekas.

Nampaknya dia belum ada limapuluh tahun!

"Sin Wan dan Kui Siang, kalian adalah orang-orang muda.

Kalian sudah sepatutnya hidup penuh gairah, mengenakan pakaian yang bersih dan rapi.

Menjelang tahun baru ini, kalian harus mempunyai pakaian baru untuk dipakai pada hari-hari tahun baru!" "Tapi, suhu.

Teecu sudah sepuluh tahun berada di sini dan teecu tidak pernah mengikuti tahun baru seperti para penduduk di bawah lembah," bantah Sin Wan.

"Dan pula, untuk apa teecu mengenakan pakaian baru di hari tahun baru?

Hendak dipamerkan kepada siapa?

Teecu tidak saling berkunjung dengan keluarga," bantah pula Kui Siang.

"Siancai, murid-muridku yang baik," kata Dewa Pedang.

Kiam-sian Louw Sun ini termasuk orang yang berpakaian paling bersih di antara Tiga Dewa itu.

"Mengenakan pakaian baru di hari tahun baru bukan sekedar untuk berpamer, melainkan mempunyai arti yang mendalam.

Tahun baru mengingatkan kita bahwa usia kita bertambah setahun lagi.

Kita wajib mawas diri, menyadari semua kesalahan di tahun yang lewat, mengubur semua kenangan masa lalu sehingga tidak ada tertinggal dendam di hati.

Hati harus bersih, seolah tahun baru membawa pula kehidupan baru yang ditandai dengan pakaian baru.

Jadi, pakaian baru melambangkan hati yang baru, cara hidup yang baru, yang bersih seperti juga pakaian yang baru.

Bersih itu pangkal sehat, bukan?

Nah, siapa bilang mengenakan pakaian baru di hari tahun baru hanya untuk pamer belaka?" Karena alasan yang dernikian kuat, dua orang murid itu tidak mampu membantah lagi.

Pula, di sudut paling dalam di hati mereka, harus mereka akui bahwa pakaian baru juga menarik dan menyenangkan hati mereka.

Hal itu menandakan bahwa memang ada gairah dalam hati dua orang muda ini, hal yang wajar bagi orang muda.

Ketika Sin Wan dan Kui Siang pertama kali naik ke Pek-in-kok, mereka baru baru usia kurang lebih sepuluh tahun.

Kini mereka telah dewasa.

Sin Wan telah menjadi seorang pemuda dewasa yang gagah dan ganteng, sedangkan Kui Siang juga telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan manis.

Tubuhnya sedang dan langsing berisi mengarah montok, kulitnya putih mulus.

Wajahnya bulat telur dengan dagu runcing dan di dagu kanan terhias tahi lalat hitam kecil.

Matanya lembut akan tetapi kadang sinarnya mencorong.

Bibirnya merah segar.

Mata dan mulutnya merupakan daya tarik terbesar pada diri gadis ini.

Sikapnya halus dan anggun dan pembawaan ini mungkin karena ia adalah puteri bangsawan yang ketika kecilnya terbiasa melihat sikap yang demikian.

Pada waktu dua orang muda kakak beradik seperguruan itu menuruni lembah di bagian timur, di luar tahu mereka tentu saja, dari barat terdapat dua orang yang mendaki lembah bukit itu dengan gerakan yang ringan dan cepat sekali.

Mereka itu adalah seorang wanita cantik berpakaian mewah yang kelihatan baru berusia tigapuluhan tahun, dan seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang lebih cantik lagi.

Wanita itu bukan lain adalah Bi-coa Sian-li (Dewi Ular Cantik) Cu Sui In.

sedangkan gadis manis itu adalah muridnya yang bernama Tang Bwe Li dan yang biasa dipanggil Lili oleh gurunya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, guru dan murid yang keduanya galak ini pernah mencoba untuk merampas pusaka-pusaka istana yang dibawa oleh Sam Sian, namun Dewi Ular Cantik itu tidak mampu mengalahkan Sam Sian.

Terpaksa ia mengajak muridnya pergi dengan marah dan hatinya penuh dendam kepada Sam Sian yang telah mengalahkannya.

Apalagi ketika ia mendengar bahwa pusaka-pusaka itu oleh Sam Sian telah dikembalikan kepada kaisar.

Ia segera mengajak muridnya pergi ke barat untuk mengunjungi ayahnya, yaitu seorang datuk besar bernama Cu Kiat dan berjuluk See-thian Coa-ong (Raja Ular Dunia Barat).

Datuk besar ini tinggal di puncak Bukit Ular di Pegunungan Himalaya ujung timur dan sudah belasan tahun dia tidak lagi terjun ke dunia ramai.

Namun nama besar See-thian Coa-ong pernah menggemparkan dunia persilatan karena wataknya yang aneh dan ilmunya yang tinggi.

Dia seorang datuk aneh, tidak condong kepada golongan sesat, tidak pula condong kepada para pendekar.

Dia berdiri di tengah-tengah dan menentang siapa saja yang tidak cocok dengan seleranya.

Kepada ayahnya yang juga menjadi gurunya, Bi-coa Sian-li Cu Sui In mengadukan kekalahannya terhadap Sam Sian dan ia ingin memperdalam ilmunya agar dapat menebus kekalahannya itu.

Kakek yang tinggi kurus itu mengelus jenggotnya dan mulutnya yang biasanya selalu dibayangi senyum mengejek itu kini tertawa.

Matanya yang sipit dengan lindungan alis hitam tebal itu semakin sipit ketika dia tertawa, matanya yang tajam bersinar-sinar gembira.

"Ha ..

ha ..

ha, engkau dikalahkan Sam Sian bertiga?

Ha ..

ha ..

ha, Sui In, engkau tidak perlu penasaran.

Ayahmu sendiripun tidak akan menang kalau maju sendiri menghadapi pengeroyokan mereka bertiga.

Mereka itu masing-masing memiliki ilmu yang khas dan lihai sekali.

Pusaka-pusaka itu telah dikembalikan kepada kaisar.

Sudahlah, tak perlu dibuat kecewa." "Tapi, ayah.

Aku merasa terhina sekali.

Aku harus membalas kekalahan itu, dan aku ingin memperdalam ilmuku.

Karena itulah aku datang menghadap ayah!" kata wanita cantik itu dengan tegas.

"Teecu juga harus membalas penghinaan yang teecu alami dari Si Kerbau-sapi-kuda-anjing-kucing anak setan sialan itu!" kata pula Tang Bwe Li atau Lili, tak kalah marah dan galaknya dibanding gurunya.

Datuk yang usianya sekitar limapuluh lima tahun itu memandang kepada Lili dengan mata terbelalak, kemudian mengerutkan alisnya dan bertanya.

"Siapakah bocah ini?" "Ia muridku bernama Tang Bwe Li, ayah." "Sukong (kakek guru), aku Lili menghaturkan hormat kepada sukong!" kata Bwe Li atau Lili sambil menjatuhkan diri berlutut di depan ayah dari subonya itu.

"Hemm, Sui In!

Kalau engkau akan mengambil murid, kenapa tidak memilih seorang murid laki-laki?

Anak perempuan seperti ini, mana mampu mewarisi ilmu kita yang tinggi?" tegur kakek itu sambil memandang kepada Lili dengan alis berkerut dan mulut mengejek.

Sebelum Dewi Ular Cantik menjawab, Lili sudah mengangkat muka memandang kepada kakek itu dengan mata bersinar penuh kemarahan, kemudian terdengar jawabannya lantang.

"Kenapa sukong berkata begitu?

Lupakah sukong bahwa subo, puteri sukong, juga seorang wanita?

Apakah sukong hendak mengatakan bahwa subo juga tidak mampu mewarisi ilmu dari sukong?" Cu Sui In tenang saja mendengar bantahan muridnya kepada ayahnya itu.

Ia sudah mengenal benar watak muridnya.

Justeru watak yang keras, berani dan jujur itulah yang membuat ia suka sekali kepada Lili.

Akan tetapi tidak demikian dengan datuk besar See-thian Coa-ong Cu Kiat.

Kakek ini terbelalak, mulutnya masih tersenyum mengejek, akan tetapi sinar matanya

Post a Comment