Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 24

Memuat...

na) bernama Lim Kui Siang, berusia hampir sepuluh tahun.

Saya adalah pelayan dan pengasuhnya sejak ia masih bayi.

Siocia ini puteri dari keluarga Lim, bangsawan dan pejabat tinggi yang tadinya menjabat sebagai pengurus gudang pusaka istana.

Ketika terjadi pencurian pusaka-pusaka itu, Lim-taijin (pembesar Lim) tewas pula dibunuh pencuri.

Ibunya, yang sedang menderita sakit, terkejut mendengar akan tewasnya suaminya, apalagi keluarga Lim harus bertanggung jawab mengenai kehilangan itu.

Maka, kedukaan akhirnya membuat ibu siocia ini meninggal pula." "Hemm ......, apa hubungannya semua itu dengan kenekatannya untuk menjadi murid kami?" Dewa Arak bertanya.

"Saya tidak tahu ......

nona, ceritakanlah sendiri mengapa nona bersikeras untuk belajar ilmu dari mereka ......." Arak perempuan itu, Lim Kui Siang, sudah dapat menguasai kesedihannya dan iapun mengangkat muka memandang kepada tiga orang pendeta itu.

Wajahnya tidak begitu pucat lagi dan sinar matanya penuh harapan.

"Saya telah menjadi yatim piatu.

Kedua orang paman saya, adik dari ibu saya, bersikap baik, akan tetapi saya tahu bahwa mereka itu berbaik kepada saya karena menghendaki harta warisan orang tua saya.

Saya muak dengan kepalsuan mereka semua itu.

Kematian ayah dan ibu membuat saya kehilangan sagala-galanya.

Saya mendendam kepada pembunuh ayah yang menjadi pembunuh ibuku pula.

Saya mendengar bahwa Sam-wi lo-cianpwe telah berhasil menemukan kembali pusaka-pusaka itu.

Ini berarti bahwa sam-wi lebih pandai dari pada pencuri itu.

Maka saya bertekad untuk berguru kepada sam-wi!" katanya dengan suara mantap dan tegas.

"Ho ..

ho ..

ha ..

ha ..

ha !" Dewa Arak tertawa.

"Kalau engkau ingin bersusah payah mempelajari ilmu untuk membalas dendam, jerih-payahmu itu akan sia-sia belaka, nona.

Ketahuilah bahwa orang yang kau musuhi itu, pencuri yang membunuh ayahmu itu, dia telah mati!" Akan tetapi anak perempuan itu tidak kelihatan kaget.

"Biarpun dia telah mati, saya tetap ingin mempelajari ilmu dari sam-wi lo-cianpwe," katanya tegas.

"Ehh?

Untuk apa seorang anak perempuan bangsawan seperti engkau mempelajari ilmu silat, sedangkan orang yang kau musuhi itu sudah tidak ada?" tanya Dewa Arak, tertarik oleh kekerasan dan kesungguhan hati anak itu.

"Ayahku tewas karena dia tidak pandai ilmu silat, ibuku juga meninggal dunia karena tubuhnya lemah.

Saya ingin menjadi orang yang pandai silat sehingga saya dapat membela diri, melindungi orang-orang yang tidak bersalah, menentang penjahat-penjahat keji, dan saya ingin mempunyai tubuh kuat tidak seperti ibu.

Nah, saya mohon sam-wi sudi menerima saya sebagai murid." Dan kembali anak perempuan itu menjatuhkan diri berlutut.

"Sekali ini saya tidak akan nekat berlutut seperti kemarin, akan tetapi kalau sam-wi menolak, selamanya saya akan menganggap sam-wi tidak mempunyai belas kasihan kepada seorang anak yatim piatu seperti saya." Tiga orang kakek itu saling pandang.

Anak ini memang lain dari pada yang lain.

Kecuali keras hati dan bersemangat, juga pandai bicara!

"Siancai .....!

Kami suka saja menjadi gurumu, akan tetapi bagaimana dengan keluargamu?

Bagaimana dengan rumah peninggalan orang tuamu?

Tentu banyak sekali harta peninggalan orang tuamu.

Kalau kau tinggalkan, bagaimana dengan semua warisan itu?" "Saya tidak perduli!

Paman-paman saya dan keluarga mereka sudah selalu mengincar harta itu.

Biarlah mereka bagi-bagi.

Saya tidak butuh harta, saya butuh ilmu dari sam-wi suhu (guru bertiga)!" "Ha ..

ha ..

ha, sungguh aneh mendengar ucapan itu keluar dari mulutmu, nona kecil.

Kalau bagi kami bertiga, memang kami tidak membutuhkan harta karena kami suka hidup di tempat sunyi, tldak membutuhkan apa-apa lagi.

Akan tetapi, engkau adalah seorang anak perempuan, puteri seorang bangsawan.

Kelak engkau akan membutuhkan untuk keperluan hidupmu.

Kebetulan aku mempunyai seorang kenalan di kota raja, yaitu Ciang-ciangkun.

Biar kutitipkan semua harta peninggalan orang; tuamu itu kepadanya untuk dilindungi, agar kelak engkau dapat menerimanya kembali darinya." Anak perempuan itu memandang kepada tiga orang kakek itu dengan wajah berseri.

"Ini berarti bahwa sam-wi suhu menerima saya sebagai murid!" Tiga orang itu saling pandang dan tersenyum, lalu mengangguk.

Jarang ditemukan seorang anak perempuan seperti itu.

Mereka sudah mengambil Sin Wan sebagai murid, tidak apa ditambah seorang murid perempuan lagi.

"Suhu .......!" Anak perempuan itu lalu memberi hormat kepada mereka bertiga secara bergantian.

Lalu ia bangkit dan merangkul wanita setengah tua yang menjadi pengasuhnya sejak ia masih kecil.

"Kiu-ma, engkau sudah mendengar sendiri.

Aku diterima menjadi murid ketiga orang suhu ini dan aku akan pergi mengikuti mereka.

Kiu-ma, engkau pulanglah dan kalau engkau masih suka, tinggallah di rumah keluargaku.

Kalau tidak, engkau boleh pulang ke dusun dan semua yang kuberikan kepadamu itu dapat kaubawa pulang." "Siocia .....ah, siocia ......!" Wanita itu merangkul dan menangis sedih.

"Sudahlah Kiu-ma.

Peristiwa ini amat membahagiakan hatiku, kenapa engkau sambut dengan tangis?

Jangan mendatangkan kesedihan bagiku, Kiu-ma.

Kalau aku sudah selesai belajar ilmu kelak, tentu kau akan kucari dan kita akan dapat bertemu kembali." Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya pelayan yang setia ini meninggalkan nonanya dan menyerahkan buntalan pakaian yang memang sudah dipersiapkan lebih dulu oleh Kui Siang.

Anak perempuan ini memang sudah mengambil keputusan tetap, maka ketika meninggalkan rumah untuk menghadang tiga orang kakek itu di depan pintu gerbang, ia telah membawa bekal, bahkan sudah meninggalkan banyak emas kepada Kiu-ma, pelayannya yang setia.

Pada keesokan harinya, Dewa Arak mengajak Kui Siang pergi ke gedung Ciang-ciangkun (perwira Ciang), seorang komandan pasukan yang terkenal gagah perkasa.

Perwira ini pernah ketika terjadi perang menumbangkan kekuasaan Mongol, dan dia sedang memimpin pasukannya, dia terjepit dan terkepung musuh.

Dia dengan belasan orang pengawalnya saja dikepung ratusan orang perajurit Mongol dan kalau tidak muncul Dewa Arak yang menyelamatkannya, sukarlah bagi perwira itu untuk menghindarkan diri dari kematian.

Inilah sebabnya mengapa Dewa Arak mengenal perwira Ciang itu.

Kunjungannya pada pagi hari itu diterima oleh Ciang-ciangkun yang kini berusia empatpuluh tahun itu dengan penuh kehormatan dan kegembiraan.

Biarpun kini dia sudah memperoleh kedudukan tinggi, panglima ini tidak melupakan orang yang pernah merenggutnya dari cengkeraman maut.

Ketika Dewa Arak menerangkan bahwa Lim Kui Siang, puteri dari mendiang bangsawan Lim akan ikut dengan dia menjadi muridnya, dan bahwa Dewa Arak menitipkan harta kekayaan anak itu sebagai peninggalan orang tuanya dalam pengawasan Ciang-ciangkun, perwira itu menerimanya dengan penuh kesungguhan hati.

"Jangan khawatir, totiang.

Saya mengenal baik mendiang Lim-taijin, seorang pembesar yang baik dan jujur.

Memang amat malang nasibnya, akan tetapi sungguh beruntung puterinya dapat menjadi murid totiang.

Saya akan menjaga semua harta milik nona Lim Kui Siang dan kelak, kalau ia sudah kembali ke sini tentu akan saya serahkan semua hak miliknya kepadanya." Anak perempuan itu lalu disuruh membuat pernyataan tertulis mengangkat perwira Ciang menjadi kuasanya untuk mengurus dan menguasai seluruh harta peninggalan orang tuanya Setelah itu, Dewa Arak mengajak muridnya meninggalkan perwira Ciang dan mereka bergabung dengan Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih, bersama Sin Wan meninggalkan kota raja.

Ketika Kui Siang dan Sin Wan saling bertemu dan saling pandang, Sin Wan tersenyum dan berkata.

"Sumoi, aku girang sekali kita dapat menjadi saudara seperguruan." "Aku juga girang sekali, suheng." Hanya itulah ucapan mereka karena mereka belum saling mengenal.

Kelak kalau mereka sudah akrab, keduanya semakin merasa suka karena memiliki nasib yang sama, yaitu keduanya sudah yatim piatu.

Akan tetapi ketika menceritakan riwayatnya kepada sumoi (adik seperguruan) itu, Sin Wan tidak pernah menyinggung tentang Se Jit Kong, hanya menceritakan bahwa ayahnya bernama Abdullah dan ibunya Jubaedah, keduanya Bangsa Uighur dan sudah meninggal dunia.

Sam Sian atau Tiga Dewa membawa dua orang murid mereka ke sebuah puncak yang diberi nama Pek-ln-kok (Lembah Awan Putih), satu di antara lembah Pegunungan Ho-lan-san yang terletak di pantai barat Sungai Kuning.

Pek-in-kok inilah yang menjadi tempat Sam Sian mengasingkan diri selama ini.

Lembah yang berada dekat puncak ini berhawa sejuk dan bertanah subur.

Akan tetapi untuk mencapai tempat itu merupakan hal yang amat sulit karena melalui dinding karang yang terjal dan sulit didaki orang biasa.

Ini sebabnya maka tempat itu tidak pernah dikunjungi orang luar dan menjadi tempat pertapaan yang benar-benar amat tenang dan tenteram.

Di sebeIah timur kaki Pegunungan Ho-lan-san terdapat sebuah kota di tepi Sungai Kuning.

Kota ini cukup besar dan ramai, yaitu kota Yin-coan dan sedikitnya sebulan sekali, Sin Wan dan Kui Siang mendapat kesempatan turun gunung dan berkunjung ke kota ini untuk membeli keperluan untuk mereka berlima.

Selain itu, mereka tidak pernah berhubungan dengan orang luar dan setiap hari, kedua orang anak itu menerima gemblengan ilmu-ilmu silat yang tinggi dari tiga orang guru mereka.

Waktu merupakan suatu kenyataan yang amat aneh.

Segala sesuatu di dalam kehidupan manusia di dunia ini, akhirnya menyerah kepada sang waktu kesemuanya, satu demi satu akan menyerah untuk ditelan habis oleh Sang Waktu!

Waktu merupakan bukti akan kekuasaan Tuhan, merupakan bahwa segala sesuatu di permukaan bumi ini tidak abadi adanya.

Hanya Tuhan yang abadi, tanpa awal tanpa akhir.

Segala sesuatu akan berubah menjadi permainan sang waktu.

Apabila tidak diperhatikan, sang waktu melesat cepat melebihi cahaya, melebihi kecepatan apapun juga sehingga seorang kakek yang mengenang masa kanak-kanaknya akan merasa betapa sang waktu lewat sedemikian cepatnya sehingga puluhan tahun bagaikan baru kemarin dulu saja!

Sebaliknya, ka

Post a Comment