i seorang hwesio kecil berkepala gundul.
Bertahun-tahun dia mempelajari ilmu bun dan bu (sastera dan silat) di kuil itu, berguru kepada para hwesio (pendeta Buddha) sehingga dia menjadi pandai, bukan saja bertubuh kuat dan pandai ilmu silat, bersemangat, juga pandai dalam hal ilmu membaca dan menulis.
Namun, kehidupan sebagai pendeta di kuil tidak memuaskan hatlnya.
Dia meninggalkan kuil, hidup terlunta-lunta dan dalam usia belasan tahun itu, dia bahkan pernah mengikuti seorang pengemis sakti, hidup sebagai seorang pengemis!
Akhirnya, karena kegagahan dan kepandaiannya, karena bakatnya menjadi pemimpin, setelah bertualang di dunia kang-ouw, dia berhasil diangkat menjadi seorang beng-cu (pemimpin rakyat).
Dia telah menjadi dewasa, berpengalaman dan berpengetahuan luas, sudah lenyap sama sekali bekas-bekas kehidupan petani di pedesaan.
Dia memperkuat kedudukannya, memperkuat para pengikut yang dihimpunnya menjadi pasukan, melatihnya dan dalam usia duapuluh delapan tahun, dia sudah demikian kuatnya dan memperoleh dukungan dari rakyat jelata, dari golongan rendah sampai menengah, memberontak terhadap kekuasaan Kerajaan Mongol yang telah menjajah Cina selama hampir seratus tahun.
Dia memimpin pasukan rakyatnya menyerbu dan menguasai Nan-king yang kemudian menjadi pusat kekuasaannya, bahkan kemudian menjadi kotarajanya.
Dan dalam tahun 1368, dalam usia empatpuluh tahun, dia telah berhasil menguasai seluruh wilayah kekuasaan Mongol di daratan Cina.
Dia lalu mendirikan dinasti baru, yaitu Dinasti Beng dan dia menjadi kaisar pertamanya yang bernama Kaisar Thai-cu.
Semenjak itu, Kaisar Thai-cu terus mengadakan pembersihan, mengirim pasukan di bawah pimpinan Jenderal Su Ta, yaitu seorang panglima yang menjadi tangan kanannya, jauh ke utara dan barat untuk mengejar sisa-sisa pasukan Mongol dan bahkan membakar kotaraja Karakorum, kota raja lama yang dulu menjadi pusat kekuasaan pendiri Kerajaan Mongol, yaitu Jenghis Khan.
KETIKA Sam Sian dan Sin Wan diperkenankan menghadap kaisar untuk menyerahkan pusaka-pusaka yang berhasil ditemukan kembali oleh Tiga Dewa itu, Kaisar Thai-cu telah tujuh tahun menjadi kaisar (1375).
Tentu saja Kaisar Thai-cu gembira bukan main ketika menerima Sam Sian dan melihat betapa semua pusaka yang dicuri maling itu telah dapat ditemukan kembali.
Kaisar yang sebelum menjadi kaisar sudah banyak bertualangan di dunia kang-ouw ini tahu benar bahwa mengandalkan pasukan saja, akan sulit untuk dapat menemukan kembali pusaka-pusaka yang hilang.
Oleh karena itulah maka dia mengutus Sam Sian untuk mencari dan membawa kembali pusaka-pusaka itu.
Ular Saking gembiranya Kaisar Thai-cu menawarkan kedudukan kepada mereka bertiga.
Ketika Sam Sian menolaknya dengan halus, Kaisar Thai-cu yang sudah mengenal watak-watak para tokoh dan datuk persilatan, tidak menjadi marah.
"Kalau begitu, kalian pilih sebuah di antara pusaka-pusaka yang dapat ditemukan kembali ini.
Pilihlah sebuah yang paling disukai, dan kami hadiahkan pusaka itu kepada kalian." Karena seorang demi seorang yang ditawari, Dewa Arak berkata.
"Hamba tidak membutuhkan pusaka, karena kesukaan hamba hanyalah minum arak." Kaisar Thai-cu tertawa dan dia lalu mengutus seorang petugas untuk mengambilkan sebuah guci arak yang merupakan benda pusaka pula karena guci itu terbuat dari semacam batu kumala yang berkhasiat.
Bukan saja arak yang disimpan dalam guci itu akan menjadi semakin lezat, juga kalau ada racun terkandung dalam minuman atau makanan, begitu dimasukan ke dalam guci yang warnanya putih kebiruan itu akan menjadi hitam!
Tentu saja Dewa Arak merasa gembira sekali menerima guci arak yang ada gantungannya itu, apalagi guci itu diisi arak yang paling tua di istana.
Dia cepat menghaturkan terima kasih.
Ketika tiba giliran Dewa Rambut Putih, dia memberi hormat.
"Hamba juga tidak membutuhkan pusaka, karena kesukaan hamba hanyalah membaca kitab dan meniup suling membuat sajak." Kaisar Thai-cu mengangguk-angguk senang dan memandang kagum.
Lalu dia mengutus petugas lain untuk mengambilkan sebuah kitab kumpulan huruf-huruf (semacam kamus) dan sebuah suling yang terbuat dari perak dan mempunyai suara yang amat nyaring dan merdu.
Mendapatkan hadiah yang baginya lebih bernilai dari pada segala macam pusaka.
Dewa Rambut Putih menghaturkan terima kasih dengan hati gembira.
Tinggal Dewa Pedang yang ditawari memilih sebuah di antara pusaka yang ditemukan kembali.
Bagi seorang ahli pedang seperti Kiam-sian, tentu saja ia mengincar pedang yang dianggapnya paling hebat di antara pusaka-pusaka itu, yaitu Gin-kong-kiam (Pedang Sinar Perak) yang pernah dipergunakan mendiang Se Jit Kong melawan pedangnya, yaitu Jit-kong-kiam dan ternyata pedang pusaka kerajaan itu tidak kalah ampuhnya dibandingkan pedangnya sendiri.
Akan tetapi, dia teringat akan Sin Wan.
Pernah Sin Wan bercerita kepadanya tentang Pedang Tumpul, yaitu pedang buruk yang pernah dilihat anak itu dan bahkan Se Jit Kong pernah menceritakan riwayat pedang itu kepada Sin Wan.
Sin Wan mengatakan kepadanya bahwa anak itu amat suka dengan Pedang Tumpul.
Ketika ditanya mengapa menyukai pedang tumpul yang tentu kurang bermanfaat sebagai pedang, anak itu membantah.
"Suhu, teecu sudah bersumpah kepada ibu bahwa teecu tidak akan menjadi jahat dan kejam seperti mendiang Se Jit Kong.
Bahkan teecu di depan makam ibu bersumpah tidak akan melakukan pembunuhan.
Pedang tumpul itu cocok sekali untuk teecu.
Karena tidak tajam, dan tidak runcing, maka pedang itu tidak berbahaya bagi nyawa lawan, akan tetapi cukup baik untuk dipakai membela diri.
Apa lagi menurut mendiang Se Jit Kong, pedang itu dahulunya bernama Pedang Asmara yang sudah dirombak, pedang yang menjadi lambang kasih sayang." Kini, ketika Kaisar Thai-cu menawarkan sebuah di antara pusaka-pusaka itu untuk dipilihnya, diapun memberi hormat.
"Kalau paduka mengijinkan, hamba mohon diberi hadiah Pedang Tumpul ini." Dia menunjuk ke arah pedang di antara tumpukan pusaka itu.
"Apa?
Pedang yang buruk ini pilihanmu, totiang (bapak pendeta)?" Kaisar bertanya sambil mengangkat pedang yang amat buruk itu, kemudian menghunusnya.
"Aih, pedang ini bukan saja gagang dan sarungnya amat sederhana, akan tetapi pedangnya sendiri tumpul dan buruk!" "Ampun, Sribaginda.
Keburukan melahirkan kebaikan, dan kebaikan melahirkan keburukan, keduanya tak terpisahkan.
Akan tetapi hamba memilih yang buruk kulitnya akan tetapi baik isinya, daripada yang baik kulitnya akan tetapi buruk isinya." Kaisar Thai-cu tertawa senang.
"Ha-ha-ha, totiang benar.
Pedang ini memang gagal pembuatannya sehingga nampak buruk, akan tetapi kabarnya pedang ini terbuat dari pada batu bintang hijau.
Nah, terimalah, totiang, dan mudah-mudahan bukan saja isinya yang baik, akan tetapi juga kegunaannya." Kiam-sian menerima pedang itu dengan gembira dan menghaturkan terima kasih.
Kemudian mereka mendapat ijin untuk mengundurkan diri.
Diam-diam Sin Wan yang diajak guru-gurunya menghadap kaisar, kagum bukan main.
Selama hidupnya, belum pernah dia melihat gedung yang demikian indah seperti istana itu, dan melihat perabot-perabot dan barang"barang yang luar biasa sehingga dia merasa seperti dalam mimpi saja.
Ketika Sam Sian dan Sin Wan keluar dari pintu gerbang istana yang terakhir dan menghadap ke jalan umum, di luar pintu gerbang itu terdapat seorang anak perempuan yang ditemani seorang wanita setengah tua.
Begitu melihat Sam Sian, anak perempuan itu segera menjatuhkan diri berlutut di atas tanah di tepi jalan.
"Sam-wi lo-cianpwe (tiga orang tua gagah), saya Lim Kui Siang mohon agar diterima sebagai murid sam-wi." Tentu saja tiga orang kakek itu saling pandang dan merasa heran.
Mereka mengamati anak perempuan itu.
Seorang anak perempuan yang usianya sembilan atau sepuluh tahun, wajahnya yang cantik manis dengan kulit putih mulus itu nampak berduka, pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang anak bangsawan atau hartawan.
"Nona kecil, jangan begitu.
Kami tidak menerima murid, dan jangan berlutut di tepi jalan, nanti menjadi tontonan orang." kata Dewa Arak dan menghampiri anak itu hendak mengangkatnya bangun.
"Sam-wi lo-cianpwe, sebelum sam-wi menerima saya sebagai murid.
Saya akan tetap berlutut di sini sampai mati!" Tentu saja ucapan ini membuat tiga orang kakek itu terkejut bukan main, akan tetapi mereka lalu tersenyum dan di dalam hati mereka tidak percaya bahwa anak perempuan yang jelas anak seorang bangsawan ini akan benar-benar senekat itu.
"Nona, sudah kami katakan bahwa kami tidak menerima murid.
Bangkitlah dan pulanglah, nona," kata pula Dewa Arak dan kepada wanita setengah tua yang berpakaian pelayan itu diapun berkata.
"Ajaklah nonamu pulang.
Tidak baik membiarkan ia bersikap seperti ini di tempat umum." Akan tetapi wanita pelayan itu memberi hormat dan berkata dengan suara sedih.
"Sudah sejak di rumah tadi saya mencoba untuk membujuk siocia (nona), bahkan paman-paman dan bibi-bibinya membujuk.
Akan tetapi siocia berkeras hati." "Kalau begitu, biarkan sajalah kalau ia ingin berlutut di sini sampai mati," kata pula Dewa Arak dan diapun memberi isyarat kepada dua orang rekannya untuk meninggalkan pintu gerbang itu, tidak mau menoleh lagi.
Sin Wan yang beberapa kali menoleh!
Melihat betapa anak itu masih tetap berlutut, tidak bergerak sama sekali, dia merasa kasihan sekali.
"Kenapa suhu bertiga membiarkan ia berlutut di sana terus?
Bagaimana kalau ia benar-benar tidak mau bangkit lagi dan akan berlutut terus di sana sampai mati seperti yang ia katakan tadi?" "Ha ..
ha ..
ha!" Dewa Arak berkata.
"Ia anak bangsawan yang tentu sejak kecil dimanja dan setiap keinginannya harus dipenuhi.
Ia hanya menggertak saja." "Siancai .....
pinto (aku) belum pernah mendengar, apalagi melihat ada anak sekecil itu demikian teguh hati akan berlutut terus sampai mati kalau tidak dipenuhi permintaannya," kata Kiam-sian si Dewa Pedang.
"Ia tentu dibuai khayal, mendengar bahwa kita telah berhasil menemukan kembali pusaka-pusaka itu, dan ia bermimpi untuk kelak menjadi seorang pen