tidak dikenalnya ini.
Akan tetapi, yang membuat dia hampir telanjang itu adalah anak perempuan ini!
Bukan dia yang tidak tahu malu atau kurang ajar, melainkan anak perempuan itu yang telah mencuri pakaiannya selagi dia mandi.
Biarpun dia menjadi marah dan ingin memaki, ingin menampar anak perempuan itu, namun pendidikan mendiang ibunya membuat dia mampu menahan diri.
Dia menekan perasaannya yang marah dan penasaran, lalu membungkuk depan anak perempuan itu dan berkata.
"Nona, harap dikembalikan pakaianku itu!" katanya, biarpun kata-katanya dan sikapnya sopan, namun suaranya keras mengandung kemarahan yang tertahan.
Akan tetapi, anak perempuan itu membelalakan matanya.
"Apa kaubilang?
Engkau tidak cepat berlutut minta ampun atas kesalahanmu.
malah menuntut dikembalikanya pakaianmu?
Hemm, engkau memang anak yang kurang ajar, nakal dan tak tahu diri!" Sikap dan ucapan anak perempuan itu bagaikan minyak bakar yang disiramkan kepada api bernyala.
Sin Wan marah bukan main.
Dia malah dimaki-maki oleh anak yang mencuri pakaiannya!
Aturan apa macam ini?
"Nona sungguh tak tahu diri!" katanya, biarpun marah masih menjaga kata-katanya.
"Nona telah mencuri pakaianku, sedangkan selama hidupku, aku tidak pernah bertemu denganmu, tak pernah mengganggumu.
Dan sekarang dengan hormat aku minta dikembalikan pakaianku yang nona curi, nona malah memaki-maki aku!" "Siapa bilang engkau tidak mengganggu kami?
Guruku dan aku sedang enak-enak mandi di situ," ia menuding ke sebelah hilir.
"dan engkau mengotori air dengan mandi di sebelah atas!
Setan kurang ajar, sepatutnya engkau dihajar.
Akan tetapi cukup engkau minta maaf kepada kami dan kehilangan pakaian ini!" Anak perempuan itu lalu merobek-robek semua pakaian Sin Wan yang berada di tangannya!
Saking marahnya, Sin Wan sampai tidak menyadari bahwa sungguh merupakan hal yang luar biasa sekali bagi seorang anak perempuan dapat merobek-robek pakaiannya seolah-olah pakaian itu terbuat dari pada kertas saja!
Dia terlalu marah untuk ingat akan hal itu.
"Engkau sungguh tidak tahu aturan!" bentaknya.
"Andaikata benar tuduhanmu tadi bahwa aku mandi di sebelah hulu dan membuat air menjadi keruh, hal itu kulakukan tanpa kusadari.
Aku sama sekali tidak tahu bahwa ada orang mandi di hilir.
Dan engkau kini malah merobek-robek pakaianku.
Sungguh engkau kurang ajar.
Kalau tidak ingat engkau ini anak perempuan, tentu hemmm """" Anak perempuan itu melangkah, maju sampai berdiri dekat sekali di depan Sin Wan, hanya dalam jarak kurang dari satu meter.
"Hemmm apa?
Hemmm apa?
Hayo katakan, mau apa kau?" "Kalau bukan anak perempuan.
tentu kupukul kau agar tahu aturan!" Sin Wan terpaksa melanjutkan ancamannya karena diapun merasa penasaran dan marah sekali.
Selama hidupnya belum pernah dia melihat seorang anak perempuan senakal dan segalak ini!" "Apa?
Kamu?
Mau memukul aku?
Pukullah "., hayo pukullah ".!" anak perempuan itu maju lagi sehingga dadanya membentur dada Sin Wan dan kedua tangannya bertolak pinggang, sikapnya menantang sekali.
"Aku bukan pengecut yang suka memukul anak perempuan cengengl" Sin Wan menghardik.
Anak perempuan itu menjadi semakin marah.
Kedua matanya yang lebar itu terbelalak, hidungnya mendengus-dengus seperti seekor kuda marah.
"Kau bilang aku cengeng?
Setan iblis jahanam keparat kamu, ya?
Hayo pukul, kalau kau tidak mau pukul, aku yang akan memukulmu!" Akan tetapi Sin Wan tidak perduli lagi dan melangkah mundur untuk pergi saja dari situ, tidak mau melayani anak perempuan yang galaknya melebih ayam bertelur itu.
Melihat dia tidak mau memukul dan malah mundur, anak perempuan itu makin marah.
"Kau tidak mau pukul, kaulihat pukulanku ini "." Dan iapun menerjang maju dan tangannya memukul ke arah dada Sin Wan, juga kakinya bergerak menyambar dari pinggir, menyapu kedua kaki Sin Wan.
Tadinya Sin Wan menganggap bahwa pukulan seorang anak perempuan tentu tidak ada artinya.
Apa lagi dia kebal dan tubuhnya sudah terlatih.
Dia bahkan ingin diam-diam membuat anak perempuan itu menderita karena kegalakannya dan dia mengeraskan dadanya yang terpukul untuk menyambut pukulan dan membuat tangan yang memukul itu kesakitan.
"Dukk "..
bressss ""!" Sin Wan terpelanting dan terjengkang!
Terpelanting karena kedua kakinya disapu dari pinggir oleh sebuah kaki kecil yang amat kuat, dan pukulan pada dadanya membuat dia terjengkang!
Pukulan itu ternyata mengandung tenaga yang kuat sekali dan biarpun dia tidak terluka dan juga tidak menderita nyeri terlalu hebat, namun dia terjengkang sampai terguling-guling!
Dia meloncat bangkit kembali dan melihat betapa orang yang dipukulnya tidak menderita apa-apa, bahkan mampu bangkit dengan cepat, anak perernpuan itu merasa penasaran dan meloncat memberi serangan yang lebih hebat lagi.
Gerakannya cepat dan kedua tangannya mengandung tenaga sehingga tiap kali digerakkan, terdengar suara angin.
Tahulah Sin Wan bahwa dia berhadapan dengan seorang anak perempuan yang sama sekali tidak lemah, bahkan pandai ilmu silat dan memiliki tenaga yang kuat.
Maka, begitu melihat anak perempuan itu menerjangnya, diapun cepat mengelak dan menangkis.
Tangkisannya yang disertai tenaga membuat lengan anak perempuan itu terpental dan hal ini membuatnya semakin galak dan ganas lagi.
Serangan datang bertubi-tubi, bahkan kini kakinya juga menyambar-nyambar.
Sin Wan sama sekali tidak ingin membalas, karena dia tetap berpendapat bahwa amat memalukan bagi seorang anak laki-laki untuk memukul perempuan.
Biarpun dia terdesak, dia hanya menangkis dan mengelak saja.
Akan tetapi, anak perempuan itu ternyata bukan hanya mengerti sedikit ilmu silat.
Sama sekali tidak!
Bahkan andaikata dia sungguh-sungguh melawan dan membalas, belum tentu dia akan mampu mendapatkan kemenangan dengan mudah!
Anak ini telah mendapat gemblengan dari seorang yang sakti, mungkin seperti mendiang Se Jit Kong saktinya!
"Desss """ Kembali dia terjengkang ketika sebuah tendangan yang tak disangka-sangka memasuki pertahanannya dan menghantam perut yang untung dapat dia keraskan sehingga tidak terluka.
Ketika dia meloncat bangkit kembali, dia melihat anak perempuan itu membuat gerakan dengan kedua tangan, mirip gerakan menghimpun sin-kang seperti yang pernah dilatihnya, yaitu "Menyambut Api Dari Langit", akan tetapi ketika turun, lanjutannya berbeda.
Kedua tangan anak itu melengkung ke kanan kiri, kemudian ketika kedua tangan itu membuat gerakan mendorong terdengar suara yang seperti ular mendesis.
Kedua tangan itu seperti kepala dua ekor ular menghantam ke arah dadanya.
Sin Wan cepat mengumpulkan tenaga sin-kang dari pusarnya dan menyambut pukulan yang dia tahu merupakan pukulan berbahaya itu dengan kedua tangannya sendirl.
"Desss ......!!" Kini tubuh anak perempuan itu yang terpental dan terhuyung, bahkan ia tentu akan roboh kalau saja lengannya tidak disambar oleh wanita cantik yang menjadi gurunya.
"Kau tidak apa-apa?" Wanita cantik itu bertanya sambil meraba dada muridnya.
Ailsnya berkerut ketika ia merasakan ada suatu ketidakwajaran pada muridnya.
"Subo, tangannya panas sekali "".!" kata anak perempuan itu yang segera duduk bersila dan mengatur pernapasan.
Wanita itu memandang kepada Sin wan dan melihat betapa kedua tangan anak laki-laki itu masih mengeluarkan uap tipis.
Sekali tubuhnya bergerak, wanita itu sudah meloncat dan berada di depan Sin Wan, membuat anak ini terkejut sekali.
Gerakan wanita itu seperti menghilang saja!
"Katakan, apa hubunganmu dengan Iblis Tangan Api?" wanita itu kini membentak, suaranya tetap halus namun mendesis seperti ular, dan dingin seperti salju, dan ketika Sin Wan memandang, sepasang mata itu mencorong seperti mata naga dalam dongeng.
"Tidak ada hubungan apa-apa," jawabnya singkat dan dia memutar tubuh hendak pergi dari tempat itu.
"Tunggu!
Engkau tidak boleh pergi begitu saja setelah memukul muridku." Sin Wan menghadapi wanita itu dengan penasaran.
"Bibi, aku sama sekali tidak memukulnya." "Hemm, coba kaupukul aku seperti-gerakanmu tadi." "Sungguh, aku tidak memukulnya, aku hanya menangkis pukulannya!" Sin Wan memrotes.
"Kalau begitu, kau tangkis pukulanku ini!" Wanita itu lalu menggerakkan kedua tangan, cepat sekali, seperti yang dilakukan muridnya tadi, ke arah dada Sin Wan.
Terpaksa, untuk menjaga diri, Sin Wan menyambut dengan dorongan kedua tangannya seperti tadi.
"Desss .......
!!" Kini tubuh Sin Wan yang terjengkang, bahkan terbanting keras dan dia merasa betapa dadanya sesak dan sukar bernapas.
Ketika dia bangkit duduk, dia muntahkan darah segar dan merasa betapa dadanya nyeri.
Dengan terhuyung Sin Wan bangkit berdiri memandang kepada wanita itu dan bertanya.
"Bibi, kenapa engkau memukulku ?
Apakah engkau akan membunuhku?" Pertanyaan itu mengandung keheranan dan penasaran, sama sekali tidak membayangkan perasaan takut sedikitpun.
"Aku belum membunuhmu agar engkau dapat memberitahu kepada Se Jit Kong bahwa aku akan membunuhnya!" Mendengar bahwa wanita ini musuh Se Jit Kong, berkurang rasa tak senang dalam hati Sin Wan.
"Bibi siapakah?" "Katakan saja bahwa Bi-coa Sian-li (Dewi Ular Cantik) yang memukulmu!" Sin Wan lalu membalikkan tubuhnya dan terhuyung-huyung pergi dari tempat itu dalam keadaan hampir telanjang, hanya memakai celana dalam yang pendek.
Tentu saja tiga orang kakek itu terkejut dan heran melihat murid mereka kembali ke situ dalam keadaan hampir telanjang, bahkan terluka dalam sehingga mukanya pucat dan bibirnya berlepotan darah.
"Siancai ......
apa yang terjadi padamu?" tanya Dewa Pedang, sedangkan Dewa Arak tanpa bicara lagi segera memeriksa tubuh muridnya.
Melihat betapa muridnya terluka dalam karena guncangan tenaga sin-kang yang kuat, dia lalu menyuruh muridnya duduk bersila, dan diapun bersila di depannya dan menempelkan telapak tangan kirinya ke dada muridnya, Sementara itu, Pek-mau-sian si Dewa Rambut Putih membantu dengan beberapa kali totokan dan tekanan pada punggung dan kedua pundak Sin Wan.
Dalam waktu singkat saja kesehatan Sin Wan pulih kembali.
"Nah, sekarang ce