yang mengandung sin-kang amat kuat, dan terdengar suara gaduh ketika dua batang cabang pohon itu runtuh.
Dia mengambil dua batang cabang itu, membersihkan daunnya dan menyerahkan sebatang kepada muridnya.
"Nah, pergunakan pedang ini dan serang aku!" katanya dan diapun memegang kayu cabang yang kedua.
"Baik, suhu." Kata Sin Wan dan anak ini lalu memutar-mutar kayu itu bagaikan sebatang pedang, dan mulai melakukan serangan-serangan dengan sepenuh hati kepada gurunya.
Sambil mengamati gerakan muridnya, Kiam-sian menangkis dan balas menyerang.
Dengan cara mengajak muridnya bertanding seperti ini, lebih mudah baginya untuk mengukur dalamnya ilmu yangng telah dimiliki muridnya, dari pada kalau hanya melihat anak itu bersilat pedang seorang diri saja.
Setelah semua jurus dimainkan habis dan Sin Wan meloncat ke belakang menghentikan serangannya, Kiam-sian mengangguk-angguk.
"Duduklah kembali, Sin Wan." Sin Wan duduk bersila lagi menghadapi api unggun.
Tiba-tiba Dewa Arak telah berada di belakangnya, juga duduk bersila dan gurunya ini berkata sambil tersenyum.
"Sin Wan, coba kau kerahkan seluruh tenaga sin-kang yang pernah kau latih." Setelah berkata demikian, tangan kirinya ditempelkan di pundak, tangan kanan melingkari perut dan menempel di pusar.
Sin Wan tidak membantah.
Dia mengangkat kedua tangannya ke atas, dengan telapak tangan tengadah.
Gerakan ini oleh mendiang Se Jit Kong dinamakan "Menyambut Api Dari Langit".
Kedua tangan yang tengadah itu menggetar kemudian perlahan-lahan turun ke bawah, kini kedua telapak tangan menempel dengan tanah.
Ini yang dinamakan "Menyedot Api Dari Bumi".
Dia menghimpun tenaga seperti yang diajarkan Se Jit Kong, merasakan betapa ada hawa panas memasuki pusarnya, berputaran dan seperti yang biasa dilatihnya, dia mencoba untuk menguasai hawa yang berputaran itu agar dapat dia salurkan ke arah kedua lengannya.
Akan tetapi, tiba-tiba ada hawa sejuk masuk ke dalam pusar, dan ketika tenaga panas yang disalurkan ke lengan tiba di pundak, hawa itu terhenti dan kembali ke pusar.
"Cukup, hentikan latihanmu," terdengar suara lembut dan baru dia teringat bahwa Dewa Arak bersila di belakangnya.
"Siancai, murid kita ini telah mewarisi ilmu-ilmu yang sifatnya ganas.
Akan tetapi, jangan dilupakan begitu saja ilmu-ilmu itu, Sin Wan.
Engkau berhak menguasainya, dan kalau pandai mempergunakannya untuk berbuat kebaikan, maka ilmu-ilmu itu akan hilang keganasannya dan berubah menjadi ilmu yang amat bermanfaat bagimu," kata Dewa Rambut Putih.
"Teecu akan mentaati semua nasihat dan petunjuk suhu bertiga," jawab Sin Wan dengan kesungguhan hati.
Malam itu mereka beristirahat dan pada keesokan harinya, ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan.
Sin Wan minta ijin tiga orang gurunya untuk mencari sumber air atau anak sungai untuk mandi.
Tiga orang pertapa itu tersenyum dan Dewa Arak berkata sambil tertawa.
"Ha ..
ha ..
ha, kami sudah biasa bertapa tanpa mandi tanpa makan tanpa tidur sampai berbulan, maka pagi hari ini kamipun tidak membutuhkan air.
Akan tetapi engkau terbiasa mandi setiap hari dan kemarin engkau sudah mengeluh karena sehari tidak mandi.
Pergilah, kurasa di sebelah kiri sana ada anak sungai yang airnya cukup jernih, Sin Wan." Pemuda kecil itu berterima kasih, membawa ganti pakaian dan lari ke kiri.
Benar saja, tak lama kemudian, dia melihat sebuah anak sungai yang airnya cukup jernih karena seperti anak sungai di pegunungan, dasar sungai terdapat banyak pasir dan batunya sehingga airnya tersaring jernih.
Dengan girang Sin Wan menanggalkan pakaiannya, menaruhnya di tepi anak sungai bersama pakaian bersih yang dibawanya tadi, kemudian dengan bertelanjang bulat Sin Wan memasuki sungai kecil yang airnya jernih itu.
Airnya sejuk segar dan Sin Wan memilih bagian yang dalamnya mencapai dadanya, mandi dengan gembira.
Tubuhnya terasa nyaman bukan main ketika berendam di air itu.
Dia menggunakan sebuah batu halus untuk menggosok-gosok kulit tubuhnya dan membersihkan debu-debu yang menempel.
Dia tidak melihat atau mendengar betapa dua orang lain yang juga sedang mandi tak jauh dari tempat dia mandi akan tetapi tidak nampak dari situ karena berada di balik belokan sungai, menjadi marah sekali ketika mendengar ada orang turun ke sungai dan mandi di hulu tak jauh dari mereka.
Perbuatan itu dengan sendirinya mengotorkan air yang mengalir ke arah mereka.
Dengan bersungut-sungut, keduanya naik ke tepi sungai dan cepat mereka mengeringkan tubuh dan mengenakan pakaian.
Mereka itu adalah dua orang wanita, yang seorang berusia sekitar tigapuluh tahun akan tetapi masih nampak seperti gadis duapuluh tahun saja, cantik jelita dan anggun akan tetapi sinar matanya keras dan tajam, dan seorang anak perempuan yang usianya kurang lebih baru sembilan tahun akan tetapi sudah kelihatan cantik manis!
"Subo (ibu guru), mari kita lihat siapa orangnya.
Dia harus dihajar!" kata anak perempuan itu dengan wajah bersungut-sungut.
Wajah yang manis itu kulitnya kemerahan karena digosok-gosoknya ketika mandi tadi dan ia memang seorang anak perempuan yang manis.
Rambutnya hitam dan gemuk sekali, dibiarkan panjang sampai ke punggung dan diikat pita merah.
Wajahnya yang bentuknya bulat itu memiliki mata yang seperti sepasang bintang, hidungnya mancung dan mulutnya kecil, dagunya meruncing.
Wanita cantik itu tersenyum dan nampak lesung di kedua pipinya melekuk manja.
Yang paling mempesona pada diri wanita ini adalah mulutnya.
Mulut itu berbentuk demikian indah, dengan bibir yang merah membasah, penuh dan seperti gendewa terpentang, kalau tersenyum nampak kilatan gigi yang berderet putih seperti mutiara, kalau bicara kadang nampak rongga mulut yang merah dan ujung lidah yang jambon.
Bibir yang bawah dapat bergerak-gerak hidup, penuh gairah dan memiliki daya pikat yang kuat sekali.
"Li Li, jangan terburu nafsu.
Kita lihat dulu apakah sikapnya buruk.
Dia mandi di sana disengaja ataukah tidak.
Kalau sikapnya buruk, baru kita hajar dia!" Dan di dalam suaranya yang merdu itu tersembunyi ancaman yang akan membuat orang yang mendengarnya menjadi ngeri.
Wanita itu memang cantik sekali.
Rambutnya yang halus dan hitam panjang digelung seperti model rambut seorang puteri bangsawan dan dihias dengan tusuk sanggul emas permata berbentuk burung Hong dan bunga teratai.
Ketika mandi tadi, walaupun ia hanya mengenakan pakaian dalam, ia membenamkan dirinya sampai ke leher dan menjaga agar rambutnya tidak sampai basah, tidak seperti anak perempuan yang mencuci rambutnya.
Kini setelah berpakaian, wanita itu makin nampak seperti wanita bangsawan.
Pakaiannya serba indah dan mewah.
Lehernya memakai kalung dan kedua lengannya dihias gelang emas.
Alisnya melengkung hitam di atas sepasang mata yang bersinar tajam dan Kadang amat keras sehingga nampak galak.
Hidungnya juga mancung dan manis, namun daya tarik yang paling memikat adalah mulutnya.
Di dahinya nampak anak rambut halus berjuntai ke bawah, dan di depan telinga terdapat untaian rambut yang melengkung indah.
"Mari kita ke sana, subo!" anak perempuan itu nampak tergesa karena ia sudah marah sekali, merasa mandinya terganggu orang.
Ia juga mengenakan pakaian yang terbuat dari sutera mahal, walaupun bentuknya sederhana, tidak ada kesan mewah seperti pakaian wanita cantik yang disebutnya subo.
Anak ini hanya memakai sepasang gelang batu giok (kumala) sebagai perhiasannya.
Guru dan murid itu lalu mengitari semak-semak belukar di belokan sungai dan tak lama kemudian mereka melihat Sin Wan yang sedang mandi.
Anak laki-laki itu dengan gembiranya membenamkan kepalanya ke air berulang kali.
"Kiranya hanya seorang bocah.
Tentu dia anak nakal sekali," anak perempuan yang disebut Li Li tadi mengomel.
"Dia harus diberi hukuman atas kelancangannya yang sudah mengganggu kita." Dengan gerakan yang cepat sekali ia meloncat ke arah tumpukan pakaian Sin Wan.
la menyambar tumpukan dua stel pakaian kotor dan bersih itu, meninggalkan sebuah celana pendek saja dan meloncat kembali ke belakang semak-semak di mana subonya menunggu.
Biarpun gerakan anak perempuan itu cepat sekali, bagaikan seekor kelinci, namun Sin Wan masih dapat melihat bayangan orang berkelebat.
Dia menengok dan melihat bayangan itu lenyap ke balik semak belukar.
Akan tetapi yang membuat dia terkejut, ketika dia menengok ke arah tumpukan pakaiannya, tumpukan itu telah lenyap, hanya tinggal sepotong baju atau celana di sana.
"Heiiiii "".!" Dia berteriak dan hendak keluar dari sungai itu.
Akan tetapi dia ingat bahwa dia bertelanjang bulat, maka dia meragu, lalu kembali dia berteriak.
"Heii, siapapun yang berada di daratan!
Aku akan keluar dari sungai dalam keadaan telanjang bulat.
Kembalikan pakaianku!" Akan tetapi tidak terdengar suara dari balik semak, juga tidak ada gerakan apapun.
Tentu pencuri pakaian itu telah melarikan diri jauh-jauh, pikir Sin Wan.
Dia lalu melompat ke atas daratan, dan menyambar celana dalamnya yang masih tertinggal di tempat tumpukan yang lenyap tadi.
Dipakainya celana dalam itu, sebuah celana yang hanya menutup dari pinggang sampat ke paha, dan larilah dia ke belakang semak untuk mengejar orang yang mencuri pakaiannya.
Dan dia hampir saja menabrak seorang wanita cantik dan seorang anak perempuan manis yang berdiri di belakang semak belukar itu.
"Eh, maaf!" kata Sin Wan dan cepat dia melempar diri ke kanan sehingga bergulingan akan tetapi dia tidak sampai menabrak orang.
Ketika dia bangkit berdiri lagi, dia melihat bahwa pakaiannya masih dipegang oleh anak perempuan yang manis itu, yang kini berdiri di situ memandang kepadanya dengan senyum mengejek dan pandang mata penuh kemarahan.
Guru dan murid itupun memandang kepadanya.
Kalau anak perempuan itu memandang dengan senyum geli dan mengejek, wanita itu wajahnya berubah kemerahan dan ia membuang muka sambil berkata ketus.
"Anak laki-laki tak tahu malu!" Sin Wan merasa penasaran.
Tentu saja dia pun merasa canggung dan malu harus berdiri dalam keadaan tiga perempat telanjang di depan dua orang wanita yang