Melihat Hay yan yang masih sangat muda dan ingin menemui Ciang-bun-jin, maka Tie Tek Tosu merasa heran".
"Siauw niocu datang dari Mana" Couw-su kami sudah lama tidak menerima orang luar. Siauw niocu mempunyai urusan apa dengan beliau" Nanti biarlah siauw-te yang menyampaikannya." Hay Yan tak sabar hatinya, surat rahasia yang harus disampaikan sendiri kepada Hian Cin To-tiang. Harap kau memberitahukan kepada beliau dengan lekas" Mendengar sigadis mempunyai urusan penting, Tie Tek Tosu tergerak hatinya. "Silahkan Siauw nioicu masuk dan tunggulah dikamar tamu. Biarlah siauw-te memberitahukannya kepada Couw-su Ya." Hay Yan diantarkan keruangg tetamu. Setelah melewati beberapa lapis rumah dan pekarangan, maka sampailah mereka pada sebuah ruangan kecil. Disitu ada seorang To-tong keci1 menyajikan teh. Tie Tek Tosu meninggalkan gadis kita diruangan itu.
Setelah menunggu beberapa saat lamanya, Tie Tek Tosu masih belum muncul juga. Hay Yan menjadi gelisah, ia keluar dari ruangan tamu untuk berjalan dipelataran rumah.
Begitulah tanpa disengaja sampailah ia pada tempat dimana tertanam banyak pepohonan dengan sebuah jalan kecil Yang terbuat dari batu2 menuju kesebuah bukit. Diatasnya berdiri sebuah rumah yang terbuat dari bambu. Keadaan disekitarnya sangat sunyi, nampaklah Tie Tek Tosu tengah berdiri tegak didepan rumah bambu itu.
Hay Yan menjadi mengkel. Mengapa tosu itu berdiam saja disitu dan tidak masuk kedalam rumah". Sungguh kelakuan mereka itu sangat tolol kelihatannya. Hay Yan berlari menanjak bukit, gesit sekali seperti kijang. Begitu sigadis datang, Tie Tek Tosu lantas membentak.
"Siauw niocu jangan sembarang masuk" Couw-su sedang tidur siang dan tidak boleh dibangunkan" "Urusanku sangat penting, harap bangunkan saja "Couw-sumu," ujar gadis kita.
Tie Tek Tosu menyilangkan tangannya.
"Siauw niocu" Jangan kau coba berbuat lancang! Tunggu dibawah?" Mendengar bentakan tosu itu, Hay Yan menjadi mendongkol, maka didorongnya Tie Tek Tosu hingga terpental kebelakang. Tapi pada saat itu juga terdengarlah orang berseru dari dalam.
"Biarkan gadis kecil itu masuk, Tie Tek! Surat yang dibawanya telah kubaca!" Suara itu bergema dikeempat penjuru angin, menandakan tenaga dalam yang sempurna sekali. Tie Tek Tosu tersenyum getir.
"Siauw niocu, silahkan masuk," ujarnya.
Hay Yan dengan hati berdebar masuk kedalam rumah bambu itu dan nampak dihadapannya sebuah tempat tidur yang terbuat dari batu marmer putih. Seorang Tosu yang lanjut usianya sedang duduk bersila diatas pembaringan itu.
Ditangannya, ia masih memegang sepucuk surat dan diatas meja kecil menggeletak... batu Giok-Cwan! Terperanjat Hay Yan merabah saku bajunya dan... benar saja. Surat rahasia sudah berpindah tangan tanpa disadarinya sedikitpun juga. Ia mengawasi dengan terbengong-bengong, kepandaian tosu tua itu sungguh hebat luar biasa. Penuh hikmat ia berlutut dihadapan Hian Cincu.
"Lo-sin Sian," ujarnya "Tit-lie yang rendah bersujud kepadamu. Surat itu adalah dari suhuku untuk disampaikan kepada Couw-su Ya." Hian Cin-cu mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berkata : "Pinto sudah mengetahui semuanya. Sungguh tidak kusangka bahwa Wanyen Hong Kongcu masih hidup didunia. Kini kau pulanglah dan sampaikan salamku kepadanya." Hay Yan membelalak matanya.
"Tapi..., tapi, apakah Couw-su hanya dapat memberikan jawaban itu saja?" "Aku sekarang belum dapat menjawabnya dengan segera. Tapi obat Oil yang gurumu minta akan kuserahkan, tapi kau harus ber-hati2 membawanya dan simpanlah dengan baik2 dalam baju dalammu." "Couw-su," tanya Hay Yan pula, "obat apakah itu?" "Nanti, gurumu akan beritahukan padamu sendiri," jawab Ciang-bun-jin perguruan Ciong-lam Pay.
Setelah menghaturkan terima-kasihnya, maka Hay Yan meninggalkan gunung Ciong-lam San dan menempuh perjalanan siang dan malam tanpa berhenti. Begitulah ia sampai dibukit Kiam-Bu Nia, yang merupakan daerah penting untuk memasuki propinsi Su-Cwan. Disitu hanya terdapat jalanan batu pasangan yang berjajar menanjak keatas bukit.
Gadis kita meng-hitung2 dan baru diketahuinya bahwa ia telah berjalan selama tujuh hari lamanya. Iapun berpikir apakah gurunya sudah sampai atau belum" Sedang asyiknya berjalan, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melompat turun dari puncak gunung. Tapi ayal ia bersiap dalam sikap tempur dan nampak olehnya kini orang itu sudah berdiri dihadapannya! "Yan-jie, gurumu sedang menantikan kau," kata orang.
Itulah gurunya Gokhiol, Wan Hwi Sian" "Gurumu sudah bertemu denganku pagi ini," kata Wan Hwi Sian dengan suara tenang, "kami telah berjumpa dibukit Sai-cu Giam. Ia takut kalau2 ia sampai dikenali orang, sedangkan tempat ini letaknya tidak jauh dari Mo-Thian Nia. Oleh karena itu untuk sementara ia bersama Gokhiol bersembunyi di Leng-Wan-Koan. la telah memberitahukan bahwa hari ini kau akan tiba kesini, maka ia telah minta pertolonganku untuk memberitahukanmu." Hay Yan setengah tidak percaya akan ucapan itu dan iapun berkata penuh kesangsian : "Tapi suhu telah menyuruh aku berjurnpa denangnya disini, mengapa sekarang ia sudab pergi lebih dahulu sebelum menemui aku?" "Suhumu hendak mencari tahu tempat dimana Im Hian Hong Kie-su sedang bersembunyi," jawab Wan Hwi Sian dengan wajah sungguh2. "Setelah diketahuinya, barulah bersama pinto akan pergi menuntut balas" Nah, oleh karena itu ia menunggu kedatanganmu di Leng-Wan-Koan. Nah, sampai bertemu pula." Dengan sekali berkelebat Dewa Kera Terbang meninggalkan tempat itu. Hay Yan menghela napas panjang, tapi tak urung daIam hatinya ia merasa cemas dan kuatir. Sebaiknya malam itu juga ia pergi ke Leng-Wan-Koan untuk melihat keadaan sesungguhnya.
---oo0dw0oo---
Kembali pada kisah Wanyen Hong, yang telah menyuruh muridnya pergi kegunung Ciong-lam San untuk minta obat Cie-sui Wan (Pil penghenti rasa ngantuk) kepada Hian Cin-cu, serta untuk menyelidiki asal-usul tentang diri... Wan Hwi Sian. Karena Wanyen Hong merasa curiga terhadap munculnya Wan Hwi Sian didalam dunia persilatan. Lagipula kekuatiran timbul ia harus tidur kembali, dan keadaan sangat gawat.
Begitulah sejak Hay Yan berangkat, sang waktu berjalan amat pesatnya. Pada hari kedelapan, pagi2 sekali puteri kita telah berdiri menanti dibawah bukit Salju Giam. Tapi setelah ditunggu sampai petang, Hay Yan masih juga belum kunjung tiba. la menjadi gelisah.
Menjelang magib, tiba2 terdengar olehnya suara senjata saling beradu dibawa angin. Rupanya ada orang sedang bertempur. Dengan cepat ia lompat kebalik bukit dan memandang kelembah. Tampak olehnya dua bayangan manusia yang sedang bertempur diancara berkelebatnya sinar2 pedang yang berkilauan. Tatkala itu sang surya yang berwarna kemerahan sudah lambat2 menyelinap dibalik gunung. Didalam lembah sudah menjadi gelap. Wanyen Hong mempergunakan ilmunya untuk melihat dalam jarak jauh. Maka tampak olehnya salah seorang mengenakan pakaian berwarna hijau, sedangkan seorangnya lagi mengenakan pakaian berwarna hitam. Walaupun jaraknya jauh, ia dapat melihat bahwa pedang sibaju hitam mengeluarkan sinar merah. Itulah Ang-liong-kiam! Sayup2 terdengar orang berseru : "Hai, iblis Im Hian Hong! Apakah ganjalan sakit hatimu terhadap gadis kecil itu" Mengapa kau menurunkan tangan kejammu?" Itulah suara Wan Hwi Sian! "Huh," jawab orang yang berbaju hitam itu. "Hay Yan adalah puteriku. Aku bawa ia pulang, itulah urusanku.
Mengapa kau ingin turut campur urusan orang" Kalau kau belum kenal gelagat janganlah kau salahkan bahwa pedang pusaka Ang-liong-kiam tidak mempunyai mata!" Mendengar ucapan sibaju hitam itu. Wanyen Hong timbullah kegusarannya. Sekali cabut pedang Mo-HweeKiam terhunus ditangannya dan bagaikan macan betina ia, melompat turun kedalam lembah dimana dua orang tadi tengah bertempur. "Wan Hwi To-iang! Jangan lepaskan iblis jahanam itu." teriaknya. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang jarang tandingannya, maka cepat sekali puteri kita sudah sampai dibawah lembah. Ia lompati batu2 gunung yang terjal bagaikan seekor burung walet saja yang sedang melayang turun dari angkasa.
Begitu mendengar seruan Wanyen Hong, sibaju hitam Menangkis pedang Wan Hwi Sian. Kemudian menyusul pukulan Telapak Tangan Hijau dan segera pasir serta lelatu kecil berhamburan bagaikan dihembus badai. Sesaat kemudian sibaju hitam melesat keatas, tebing lamping gunung. Hal itu tepat terjadi pada ketika Wanyen Hong sampai dibawah lembah! Bagaikan setan sibaju hitam menghilang tanpa diketahui arahnya lagi.
Wanyen Hong berhadapan dengan Wan Hwi Sian. Ia melihat pada baju tosu itu terdapat bekas telapak tangan berwarna hijau. Sedangkan yang kelihatan hanyalah empat jari! Wan Hwi Sian bermandikan peluh. Begitu melihat Wanyen Hong ia menyapanya dengan nada menyesal.
"Kalau Kongcu datang sedikit lebih cepat pasti Iblis itu takkan lolos dari kematian." Wanyen Hong tak menghiraukan ucapan orang itu, sebalikanya ia bertanya dengan kuatir.
"To-tiang, dimanakah muridku Hay Yan ?" Wan Hwi Sian berubah suram.
"Iblis itu telah menangkap muridmu. Pinto mengejarnya dari belakang tapi tengah kukejar tak di-sangka2 muncul kalian yang lantas mengambil muridmu dan melarikan diri." "Celaka!" Wanyen Hong berseru bahna kagetnya, "aku harus, menolong Yan-jie. Apakah totiang dapat membantu aku untuk mencarinya?" "Memang aku bermaksud mengajak Kongcu untuk bersama pergi kegunung Jie-Liong San untuk membuat perhitungan dengan jahanam Im Hian Hong Kie-su," jawab Wan Hwi Sian dengan penuh semangat, "jika Kongcu tidak gentar untuk menyatroni sarang harimau, maka dengan menggabung tenaga kita berdua menjadi satu, pasti kita dapat membunuh penjahat itu!" Wanyen Hong memberi hormat kepada Dewa Kera Terbang, yang lekas2 mundur seraya mengulapkan tangannya. "Jangan Kongcu mengucap terima kasih terhadapku.
Sudah selayaknya kita harus bantu membantu dalam menumpas kebathilan. Dengan menggunakan pedang MoHwee-Kiam Im Hian Hong pasti akan dapat dibinasakan oleh Kongcu." "Mula2 aku kira Wan Hwi Sian adalah orang jahat.
Sungguh keterlaluan, hampir saja aku memusuhi seorang sahabat rimba persilatan," demikianlah pikir puteri kita dalam hatinya.
Begitulah malam hari itu juga bersama Wan Hwi Sian, Wanyen Hong menempuh perjalanan kegunung Jie-Liong San. Bagaikan bayangan saja kedua petualangan itu melesat secepat angin dan dalam waktu sekejap mata saja mereka telah hilang dikegelapan malam ...
---oo0dw0oo---
Diceritakanlah bahwa setelah Im Hian Hong Kie-su yang sejati, nama sebenarnya adalah Gak Hong, keluarga almarhum Jendral besar Gak Hui setelah berpisahan dengan Pato dan Gokhiol di Kota Hitam, lalu balik kembali ke Jie Liong San, ke Jie-liong-bio.
Adapun tatkala Gak Hui difitnah oleh Cin Kui dan menjalani hukuman mati yang menimpah sanak keluarganya. maka Gak Hong mengganti namanya menjacli Im Hian Hong Kie-su dan hidup mengasingkan diri bersama kedua orang perwira bawahannya yang setia padanya. Adapun kedua perwira itu yang satu bernama Ong Hoan, yang memiliki tenaga yang luar biasa hebatnya, ia melatih Gwa-kang atau Tenaga-luar. Sedangkan yang satunya lagi bernama Lie Gan yang mempunyai kepandaian untuk mempergunakan senjata Lian Cu Tancie, yaitu peluru berantai! Andaikata ia seratus kali melepaskan pelurunya, maka tidak satupun yang gagal menemui sasarannya. Lie Gan sangat faham akan sifat2 binatang. Apabila ia bersiul, maka binatang2 buas didalam hutan segera datang menghampirinya.
Semenjak kedua perwira setia mengikuti Im Hian Hong Kie-su untuk hidup menyepi mereka menjadi penjaga kuil Jie-Liong Bio. Apabila ada orang jahat yang ingin mendaki gunung, maka mereka menggulingkan batu2 besar atau menyuruh binatang2 buas mengusirnya. Maka selama belasan tahun, tiada seorangpun yang berani mencoba untuk mendekati atau mengganggu Jie-Liong Bio.
Malam itu angin gunung menderu-deru, diluar kuil JieLiong Bio sebaliknya keadaan sunyi senyap. Tiba2 seekor burung gagak terbang keatas seraya menjerit-jerit dengan berisiknya.
Terkesiap Ong Hoan melompat dan masuk kedalam untuk membangunkan Lie Gan.