Mendadak saja Ang-bian Kim kong mengendorkan lengan bajunya dan Gokhiol terpental menubruk dinding.
Hay Yan, setelah menelan pil mujarab tadi, kini semangatnya telah pulih kembali. Begitu melihat jantung-hatinya dipermainkan, maka sambil menggertak giginya ia mengeluarkan dari kantong bajunya tiga batang panah kecil dari emas dan ditimpuknya kearah kepala si Lhama! Ang-bian Kim-kong tak menduga sama sekali yang sigadis telah pulih kembali tenaganya dengan begitu cepat.
Begitu merasa ada samberan angin, ia miringkan kepalanya.
Tapi apes baginya, sebatang anak panah menancap dipipinya. Yang dua lagi dapat ia elakkan.
Ang-bian Kim kong menggeram kesakitan, dicabutnya panah itu dan dibuangnya ketanah. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan dengan sekelebatan saja anglo batu yang atas meja sembahyang telah berada diatas tangannya. Dengan sekuat tenaga anglo itu ditimpukkan kearah kepala sigadis.
"Budak jahanam! Kuhancurkan kepalamu!" teriaknya dengan bengis.
Se-konyong2 pada detik yang genting itu angin menyambar masuk, menyusul mana terdengar suara orang berseru : "Lepaskan anglo itu!" Maka tampaklah sesosok bayangan berkelebat dan pada detik menyusul anglo itu sudah terlepas dari tangan Angbian Kim-kong.
Terperanjat si Lhama menoleh dan dilihatnya yang menyerangnya adalah seorang ... gadis muda yang berparas elok. Adapun yang mengherankan adalah alis sigadis ...
yang hijau! Ditangannya menggenggam sebuah pecut panjang, sedangkan dipinggangnya terselip sebilah pedang.
Dalam sekejap mata saja pecut gadis itu sudah menggeletar diudara. Cepat2 Ang-bian Kim-kong menggunakan ilmu Thiatpan-sui yang sangat diandalkannya, dan dengan sekuat tenaga ia menyapu pecut orang! Biasanya semua senjata lawan akan hancur kena kibasannya itu, tapi kini diluar dugaannya begitu pecut menyambar, ....brett... bagaikan pisau tajamnya, lengan bajunya terbeset robek! Ang-bian Kim-kong terperanjat! Samar2 permainan pecut gadis itu dapat dikenalnya. Inilah ilmu Tian-Pek Bu-pay yang disebut "Hong-bwee-cie" atau Gergaji-ekor angin yang sangat lihay.
Kabarnya Tiang Pek Lo-ni mempunyai seorang murid yang bernama Kim Gan Bie. Mungkinkah gadis ini orangnya, pikir Ang-bian Kim-kong dalam hatinya.
Si Lhama menjejakkan kakinya dan mencelat keatas meja semhahyang, seraya tertawa dingin ia berseru : "Hai, gadis cilik! beritahukan namamu! Aku tak pernah membunuh orang yang tiada kuketahui namanya!" Sigadis menyimpan kembali pecutnya dan sambil menuding ia berseru : "Ang-bian Kim-kong! Aku memperingatkan kepadamu. Apabila kau mau lekaslah enyah dari sini! Guruku Sin Ciang Taysu sedang menanti diatas puncak!" Ang-bian Kim-kong gentar juga. "Mengapa aku harus bercidera dengan Tiang Pek Lo-ni gara2 Gorisan" Nikow tua itu tak boleh dibuat gegabah!" Tiba2 Gokhiol berteriak mengguntur dan mencabut tiang yang menantap pada lubang tanah, kemudian sambil membalikkan badannya berbareng ia menyapu lawannya.
Bukan kepalang kagetnya si Lhama, buru2 ia lompat kesamping, tapi tak, urung ia masih merasakan juga desiran angin dibawah kakinya.
Menyusul terdengar suara yang keras, pentungan tadi telah membentur batu yang menjepit tubuh Hay Yan.
Tanah disekitarnya bergetar dengan hebatnya, sedangkan balok batu itu menjadi hancur berkeping-keping.
Hay Yan segera meloncat keluar, sedangkan sigadis beralis hijau dengan tersenyum mengayunkan pecutnya hingga berbunyi diudara. Tanpa pikir panjang Ang-bian Kim-kong berlari pergi meninggalkan tempat itu. "Gorisan telah menyuruh aku membunuh Hay Yan, baiklah kalian mencari dia saja!" teriaknya.
Gokhiol ingin mengejarnya, tapi telah dicegah oleh Hay Yan. Dan untuk beberapa saat lamanya ketika muda-mudi itu saling berpandangan satu sama lain.
Kemudian pemuda kita memberi hormat kepada sigadis penolongnya seraya berkata : "Engkaukah Siocia yang dipanggil Kim Gan Bie" Aku mengucapkan terima kasih, atas suratmu. Karena surat itulah aku baru ketahui bahwa Hay Yan tertawan disini. Sudilah kiranya kau menerima hormatku?" "Tio Kongcu, betul akulah Liu Bie," jawab sigadis beralis hijau. Kau tak perlu menghaturkan terima kasih kepadaku. Adapun pada tahun yang lalu guruku Tiang Pek Lo ni telah menitahkan kepadaku untuk menyelidiki hilangnya Wanyen Hong, kakak seperguruanku. Kebetulan sekali aku telah menyingkap rahasia orang yang telah menyamar sebagai Gak Hong, setelah dengan teliti kuselidiki, barulah dapat kuketahui bahwa segala perbuatan adalah perbuataan suhumu. Dan selain itu, diluar dugaanku dialah orangnya yang telah....membunuh ayahmu?" "Liu Siocia" tanya Gokhiol, "Siapa sebenarnya Gak Hong yang kau sebut itu" Apakah dia Im Hian Hong Kiesu?" "Benar, dialah Im Hian Hong Kie-su keponakan alamarhum Goan-swee Gak Hui," sahut Liu Bie seraya menyahut.
"Tapi mengapa Gak Hong jeriji tangan kanannya putus satu?" tanya Gokhiol dengan heran. "Lagipula apa bukan Gak Hong yang membunuh ayahku?" "Koko, kau belum mengerti!" Hay Yan segera memotongnya. "Orang yang berbaju hitam yang berjumpa denganmu itu adalah Wan Hwi Sian yang menyamar sebagai Im Hian Hong Kie-su. Sejak ia memperoleh obat ajaib untuk merubah rupa, ia dapat menyamar sebagai siapa saja. Waktu itu ia menyamar sebagai Im Hian Hong Kie-su dan kau disuruhnya untuk mencari Wan Hwi Sian itu adalah dia sendiri!" Begitulah seterusnya sigadis menceritakan bagaimana ia kena ditipu oleh Wan Hwi Sian, yang menyuruhnya datang ke Mo Thian Nia. Dan lalu bagaimana dirinya sampai kena ditawan oleh Ang-bian Kim-kong, Lhama berwajah merah itu.
Mendengar penuturan Hay Yan itu, pemuda kita bukan kepalang lagi gusarnya "Wan Hwi Sian! kau sungguh seorang keji. Bi1a kau tak kubunuh dengan tanganku sendiri, aku bersumpah tidak akan menjadi arang!" la berteriak dengan suara mengguntur bergema suaranya dikeempat penjuru. Gokhiol bergerak ingin meningggalkan tempat itu, untuk mencari gurunya.