Nanti akan kuberikan kanair obat." Disudut kamar terdapat sebuah empang kecil berisikan air, sedangkan didasarnya terbenam balokan es. Selain itu terdapat pula tidak jauh dari empang kecil itu, sebuah belanga besi berkaki tiga yang bawahnya dinyalakan api.
Dalam belanga besi tersebut terisi semacam cairan yang mendidih.
Gokhiol samar2 mengawasi empang yang terisi air dingin itu. la sudah tak tahan lagi, badannya panas sekali.
Hampir2 saja ia pingsan ... pingsan.
Wan Hwi Sian menyendok cairan dari dalam belanga besi dan menghampiri muridnya : "Lekas buka mulutmu! Aku berikan obat padamu!" Gokhiol yang sudah tidak dapat membuka matanya lagi, segera membuka mulutnya.
Wan Hwi Sian menuangkan cairan mendidih itu kedalam mulut pemuda kita.
Bukan kepalang rasa terkejutnya Gokhiol! Bagaikan segumpalan api menembus kedalam tubuhnya saja, cairan yang dikatakan obat itu. Lebih tepat cairan itu disebut dengan air raksa yang mendidih! Gokhiol berteriak sekuat tenaga, tapi napasnya sesak sekali. Pada saat itulah Wan Hwi Sian melepaskan tali gantungan lalu melemparkan pemuda kita keempang air.
Tubuh Gokhiol terbenam didalam air bercampur es itu. Air mendesis keras disusul dengan asap putih yang mengepul dari permukaan air.
Gokhiol tengah mendapat gemblengan yang sangat hebat! Tanpa terasa lagi setengah tahun telah lewat, pemuda kita telah menjadi manusia baru yang berkulit tembaga dan bertulang besi. Air maupun api takkan dapat membahayakannya! Selanjutnya Wan Hwi Sian mulai mengajarkannya iImu pedang Leng-Wan Kiam-hoat (Ilmu Pedang Kera Sakti).
(Adapun pemuda kita harus pandai melompat kesana kemari, tinggi-rendah dengan gerakan yang gesit sekali.
Seperti kera saja. Pada satu hari sang guru dan murid duduk berhadapan untuk melatih jalan pernapasan. Perlahan-lahan Wan Hwi Sian menyalurkan tenaga-dalamnya yang telah dilatihnya selama puluhan tahun, kedalam tubuh Gokhiol! Tiba2 bercekadlah hatinya pemuda kita. la merasa bahwa dari sepuluh jari suhunya yang ditempelkan pada tubuhnya, hanya ... sembilan jari2 saja yang mengeluarkan getaran2! "Mengapakah telunjuk tangan-kanannya tidak mengeluarkan apa2?" pikirnya heran.
Sebaliknya setelah diperhatikannya, ternyata sepuluh jari2 orang itu lengkap, iapun tidak menaruh curiga lagi.
Setahun telah lewat tanpa terjadi sesuatu peristiwa penting. Selain mengikuti Wan Hwi Sian pergi meninggalkan Leng Wan Koan, Gokhiol belum pernah berjalan seorang diri. la selalu bersamadhi menambah tenaga-dalamnya, tekun mempelajari ilmu Ciang-hoat dan Kiamhoat.
Pada suatu hari Dewa Kera Terbang turun, gunung dan menurut keterangannya ia akan pergi selama setengah bulan lebih lamanya. Gokhiol dipesan agar menjaga kuil Leng Wan Koan dengan baik2, disamping harus terus menerus berlatih apa yang telah diturunkan kepadanya.
Selain itu pemuda kita hanya diperkenankan pergi kepuncak gunung untuk berlatih, sedangkan turun gunung sama sekali tidak diperkenankan.
Kemudian Wan Hwi Sian bergerak melompat dan sekejap mata saja ia sudah naik kemulut batu gunung, dimana sebelumnya mereka pernah masuk melalui muara sungai dari es. Berselang dua hari, Gokhiol mulai merasa kesepian, tinggal seorang diri didalam rumah ibadah. Pikirnya : Sudah setahun sejak aku datang kesini, selain Tai-tai iang pada hari pertama kujumpai, tak ada lain orang lagi yang kulihat. Kini suhu sedang turun gunung, mengapa kesempatan ini tidak kupergunakan untuk pergi keluar. Dan apabila ,dibawah sana ada seorang penjual arak maka aku senang sekali untuk minum beberapa cangkir.
Demikianlalh setelah mengambil keputusan, diambilnya sebilah pedang dan ditinggalkannya rumah ibadah ini.
Sampai didepan kuil ia menengadah keatas, dan dilihatnya mulut batu gunung kira2 tujuh sampai delapn tombak tingginya. Sebenarnya ia belum pandai melompat setinggi itu, tapi kini ia ingin menjajalnya. Dengan menyedot hawa Cin-kie dan Tan-tian, tiba2 ia menjejakkan kakinya dan diluar dugaannya ..... tubuhnya lantas membubung tinggi keudara! Tahu2 ia sudah sampai diambang mulut batu gunung! Pemuda kita sangat terkejut bercampur girang. Gua batu itu rupanya adalah sebuah terowongan dan ia masih ingat bahwa dari tempat itulah ia dulu tergelincir jatuh kebawah.
Maka ia beranikan diri untuk memasuki terowongan dan setelah berjalan beberapa puluh tombak, tiba2 keadaan menjadi terang benderang. Rupanya ia sudah sampai diluar gunung.
Tampak olehnya sungai es darimana ia dahulu datang, yang Ietaknya terapit oleh dua puncak gunung. Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh ia melompat keatas ...
---oo0dw0oo---
SUNGAI es itu ber-liku2 bagaikan ular, dan Gokhiol merasakan tubuhnya ringan sekali, bagaikan seekor burung walet menyusuri jurang2 gunung yang berbahaya. Saat kemudian ia tiba dibawah ... gunung. la melihat keatas dan menjalarkan matanya dengan lebih jelas. Kiranya tempat itu bukanlah jalan yang pernah ditempuhnya waktu dulu! Diawasinya dengan heran lereng2 gunung yang terjal serta puncak2.
Tiba2 terdengar suara orang berseru dibelakangnya. "Halo! Bukankah yang datang kesini Tio Kongcu?" Bagaikan kilat Gokhiol menoleh kearah darimana suara itu datang dan ... dilihatnya seorang gadis cantik jelita muncul keluar dari balik batu gunung.
"Halo! Bukankah yang datang kisini Tio Kongcu?" Bagaikan kilat Gokhiol menoleh kearah darimana suara itu datang dan ...
dilihatnya seorang gadis cantik jelita muncul keluar dari balik batu gunung.
Pemuda kita tertegun. Itulah Hay Yan, gadis yang siang-malam dikenangi olehnya! Perasaan heran dan girang bergolak dalam hatinya. Untuk beberapa saat lamanya dipandanginya gadis itu tanpa dapai mengucapkan sepatah kata pun juga.
Hay Yan menghampiri dengan tindakan ayu, disapanya Gokhiol : "Tio Kongcu, apa kau masih membenci aku!" Dengan susah payah aku tetah mencari kau sehinga sampai disini. Adapun sampai aku berbuat demikian tidak lain adalah untuk memberi beberapa penjelasan kepadamu." Keadan menjadi sunyi kembali, anginpun seolah-olah berhenti. Ampat mata saling memandang.
Berdebar-debarlah jantung Gokhiol. Ingin ia menjerit mengungkapkan rindu-dendamnya, ingin ia mendekap tubuh yang gemulai itu.....
Serabut sutera yang terhalus adalah bagaikan rumput saja jika dibandingkan dengan rambut yang terkulai pada pipi sijuita. U1ar2 pasti mengiri jika melihat gerakan tubuhnya yang halus tatkala sicantik berjalan. Sedangkan napasnya memenuhi udara disekelilingnya dengan bau harum yang sedap, karena boleh dikata Hay Yan adalah gadis tercantik dalam dunia... dimata pemuda kita, tentunya. Angin dingin yang menampar pipi Gokhiol, telah menyadarkan pemuda kita bahwa Hay Yan sebenarnya adalah... Wie Mo Yauw-lie! Seorang pembunuh yang telengas! ular betina yang cantik, yang menyembunyikan kekejamannya dan kesesatan dibalik ... kecantikan.
"Nona Hay Yan, apakah yang ingin kau sampaikan kepadaku ?" ujarnya dengan dingin, "bukankah lebih tepat apabila dikatakan bahwa kau mencari aku untuk memberi hukuman atas pelarianku dari Kota Hitam" Mendengar sindiran sipemuda, Hay Yan tersenyum getir dan tidak menjadi gusar.
"Bukankah setahun yang lalu Tai-tai pernah memberikan pil kepadamu, yaitu pil Pit-Jiauw-Wan" Sebenarnya pada waktu itu akupun berada dengannya..." "Jika pada waktu itu kau berada disana, mengapa kau tak mau menemui aku?" Hay Yan memandang dengan sunguh2, lalu menjawab : "Aku tahu bahwa pada waktu itu hatimu masih penasaran terhadapku dan lagipula aku tak mau mengacaukan pikiranmu selagi kau bermaksud menjadi murid tosu itu." "Apa maksudmu untuk menyuruh Tai-tai membuat aku menelan pil itu?" tanya pemuda kita dengan mendongkol, karena mengingat tentu sicantik tertawa geli tatkala ia jatuh terguling dari lobang angin.
"Kelak Kongcu akan dapat memahaminya sendiri." jawab Hay Yan, "lebih baik tidak kujelaskan padamu saat ini.