Syukurlah, seperti juga dihantar oleh Thian, Kie-su berkunjung kemari." Serta merta Hu ln mengantar Im Hian Hong Kie-su berjalan. Ketika sampai dekat pintu luar, pendekar tua kita menjadi terkejut! Sambil menunjuk pada sebuah menara besi yang sudah condong, ia bertanya : "Apakah Gorisan telah kabur" Menara itu bagaimana sampai bisa begitu doyong kebawah?" "Panjang sekali bila hendak diteritakan" menyahut Hu In, menara itu telah dirusak orang dengan mempergunakan obat peledak. Sedangkan tawanan, yang berada didalam menara itu telah berhasil meloloskan diri." Benar saja apa yang diduga oleh Datuk Rimba-hijau kita.
Hatinya terkejut. Begitu sampai didepan kamar Hian Cin-cu ia melihat beberapa pendeta yang menjaga didepannya semuanya pucat. Melihat Hu In membawa seorang yang tidak dikenal, mereka lantas bertanya : "Su-heng, apakah tamu ini datang untuk menolong Couwsu?" "Saudara2ku," jawab Hu In dengan hormatnya, "harap kalian jangan merasa kuatir. Gak Hong Cianpwee datang untuk menolong." Dengan hati berdebar-debar Datuk Rimba:hijau kita berjalan masuk. Im Hian Hong Kie su dihantar masuk kedalam markas besar Ciong lam San...
Hian Cin-cu sedang berbaring disebuah ranjang : Napasnya terdengar sangat perlahan. Mukanya pucat-pias.
Keadaan kamar sangat gelap. Im Hian Hong Kie-su lekas2 menghampiri. Pada sat itu juga terasa hawa sangat dingin menyambar keluar dari badan Ciang-bun Jin Hwee-Liong Pay itu. Ini hebat sekali.
"Sungguh lihay ilmu pukulan Sam-lm Ciang," gumam Sipenunggu Puncak Gunung Maut.
Untuk memunahkan racun dingin tersebut, ia segera menyedot hawa murni dari Tantian. la menoleh kebelakang. Tampak Hu In dan beberapa pendeta lainnya berdiri menggigil.
Lekas buka semua jendela dan pintu supaya sinar matahari dapat menembus masuk!" Ia berseru.
Perlahan-lahan ia mengurut nadinya Hian Cin-cu dan dirasakannya tangan pendeta itu dingin bagaikan es. Aliran darahnyapun ter-putus2. la meraba2 dada orang, d;., situ juga terasa dingin,sekali. Hanya kadang2 masib ada hawa panas yang menaik keatas, namun sebentar saja dan lenyap pula.
Hian Cin-cu dapat mempertahankan nyawanya berkat latihan tenaga dalam yang ber-puluh2 tahun lamanya, yang sudah hampir sampai taraf kesempurnaan. Kalau orang, lain niscaya sudah binasa. Mengingat pukulan maut niekouw itu, hati, pendekar tua kita bergidik.
"Kie-su Cian-pwee, apakah keadaan Couw-su sangat berbahaya?" tanya Hu In berselang beberapa waktu.
Im Hian Hong Kiesu, mengetahui bahwa jiwa Hian Cincu ada dalam, : keadaan, kritis, sukar untuk hidup.
Tapi ia masih tidak mau mengutarakannya kepada pendekar2 itu. "Gurumu telah dilukai Tai Im Lie-nie dengan Sam-Im Ciang. Ilmu itu berasal dari partai Lhama Pay. Aku tak tahu cara mengobatinya. Tapi jiwa gurumu dapat kuperpanjang sampai waktu duabelas jam lagi lamanya.
Dalam tempo itu kalian harus berusaha untuk dapat menemui seorang tabib pandai. Mungkin jiwa gurumu dapat ditolong!" Mendengar keterangan itu, para pendeta terdiam dengan muka pucat.
Pendekar tua kita menyuruh: Hian Cin-cu dibawa ke= Iuar untuk dijemur dibawah panas matahari. Kemudiah ia pasang cermin pada bagian muka, kaki dan badan pendeta itu. Setelah matahari terbenam, maka dipasangnya api unggun.
Para pendeta kini mengerti maksud Im Hian Hong Kiesu, lalu menghaturkan terima kasihnya.
Selagi orang sibuk menjalankan perintahnya, Datuk Rimba-hijau, kita berjalan keluar. la hendak memeriksa keadaan. menara besi tadi. la melewati taman, maka dilihatnya ada sebuah jalan kecil yang menuju menara tersebut.
Ia terus berjalan. Sesampainya dimenara, ia melihat bahwa menara itu terbuat dari besi. Dasarnya dari batu hijau yang sangat keras. Bentuk dasar menara itu bersegi enam. Luasnya kira2 enam kaki. Tinggi tiap susun tidak lebih dari lima kaki. Semakin tinggi keatas, semakin sempit dan pendek bentuknya.
Pada tingkat yang terendah terdapat sebuah pintu yangmtertutup o1eh besi cor. Dengan demikian menara itu tidak begitu lagi. Juga tidak ada jendelanya.
Menara besi itu miring kebawah. Karena dasarnya sangat kokoh. Menara tak menjadi roboh.
la berjalan mengitari menara sampai dua kali. Barulah diketemukan pada-tempat dimana menara itu condong terdapat bekas2 obat peledak. Sedangkan dibagian lainnya dasar batu hijau itu ternyata berlubang.
Dibawah menara itu masih terdapat tingkatan dalam tanah! Pada atas bagian batu terdapat lobang yang yang menghubungi sebuah terowongan kedalam tanah.
"Sudah pasti Gorisan mengambil jalan ini untuk meloloskan diri," pikir Im Hian Hong Kie-su seorang diri, "tapi cara bagaimana ia bisa menghancurkan batu itu?" Selagi ia ber-pikir2, tiba2 muncul dari dalam lubang suatu makhluk yang berbadan penuh sisik. Begitu melihat ada orang, mahluk itu cepat2 menyelusup pula kedalam lubang. Ternyata mahluk aneh itu adalah seekor tenggiling.
"Ah, tentunya binatang inilah yang telah membuat terowongan, sedangkan orang dari luar telah mempergunakannya untuk memasang obat peledak. Maka apa susahnya untuk Gorisan untuk menghancurkan batu itu?" Pikiran Datuk Rimba-hijau kita berjalan terus, teringat, pula olehnya - pembicaraan laki2 itu kepada nie-kouw.
"Benda, itu telah kami dapati." Tentunya Gorisan telah berhasil mencuri sesuatu benda yang berharga. Dan sudah pasti barang itu adalah mustika turunan dari partai Hwee-Liong Pay.
Ketika Im Hian Hong Kie-su kembali kedalam kuil, ia menarik Hu In kesamping dan bertanya dengan suara pelahan. "To-heng, aku lihat bahwa bagian bawah dari menara seperti bekas dipasangkan obat pe!edak. Sedangkan orang yang gurumu tetah kurung, kinipun turut lenyap. Aku ingin tanya kepadamu, apakah dalam menara itu terdapat sesuatu benda penting yang telah hilng?" Hu In menjadi terkejut atas pertanyaan orang.
"Benar! Sekarang baru kuingat! Hwee-Liong Pay mempunyai sebuah kitab pusaka yang sudah turun temurun. Kitab itu adalah mengenai teori2 barisan formasi yang aneh2 dari Pak-Kian. Semua ini bersal dari jaman Sam Kok. Sungguh kami tak tahu bagaimana kitab tersebut sampai ditangan partal kami. Hwee Liong Cinjin menggubahnya menjadi Hwee-Liong Tin-hoat atau barisan formasi Naga berapi.
Berhasilnya Gak-Goan-swee (Panglima Gak) mengalahkan orang2 Kim dan berhasil menawan pangeran Kim yang ke-empat bernama Kim Hu, itu semuanya berkat pertolongan Cinjin yang telah membantu Gak Goan-swee memasang tin. Sejak itu pula kitab tersebut dianggap pusaka yang tiada ternilai bagaikan mustika untuk partai katmi....." Im Hian Hong Kie-su tidak menunggu sampai orang habis berbicara, segera ia bertanya : "Kitab itu disimpan dimana" Apakah To-tiang mengetahuinya" "Siauwte tak tahu" jawab Hu In sambil menggelengkan kepalanya.
"Kitab itu tentu sudah hilang. Coba To-tiang antarkan aku keruang pendopo unuk memeriksanya!" Im Hian Hong Kie-su menarik tangan Hu In. Kedua orang itu bergegas masuk kependopo. Didalam tidak terdapat sesuatu yang mencurigakan, tapi pendekar tua kita tak berputus asa. la terus mengadakan penyelidikan.
Mereka memasuki ruangan lain. Ruangan ini sangat tinggi dan Iuas. Bangunannya sangat kekar dan pada sebuah papan beranda tampak sebuah tulisan: "Lu Sian-Kok" yang terbuat dari huruf emas. Itulah tempat pemujaan Lu Sian yang! Keadaan sangat sunyi: Im Hian Hong Kie-su melanjutkan penyelidikannya. Tantpak olehnya patung pemujaan yang terdapat ditengah ruangan letaknya agak miring mengarah kesamping. la berteriak terkejut! "Ah!, kenapa patung dewa Lu Sian-yang ini berkisar"!" Hu In pun turut kaget. Ketika ia hampir lebih dekat.
maka tampak alas patung yang terbuai dari batu Giok telah sebesar mulut mangkok.
Dengan hati berdebar Im Hian Hong Kie-su merogoh kedalam dengan tangannya.
Lobang itu kira2 setengah kaki dalamnya. la tak mendapatkan apa2 didalamnya. Segera ia menggeser pula patung itu pada letak yang sebanarnya. Sungguh ajaib! Lubang tersebut tertutup pula! Kiranya lubang itu adalah sebuah tempat rahasia! "Kitab mustika dari Hwee-Liong Pay tentu telah dicuri oleh Gorisan." ujar Im Hian Hong Kiesu," mungkin sekarang ia masih berada di lembah Cu-Bu Kok.
"Cianpwee," tanya Hu In, "bagaimana kau ketahui bahwa orang itu telah melarikan diri kesana" Kalau benar ia ada disana, siauwtee beserta saudara2 lainnya akan pergi kesana untuk menangkapnya kembali!" "Sebaliknya kalian jangan terlalu ter-gesa2, jika hanya Gorisan seorang, akupun dapat membantu kalian," ujar sipenunggu Puncak Gunung Maut" tapi yang kukawatirkan adalah mahluk2 berbisa dari gunung Tangkula itu. Kedua iblis itu adalah tokoh dari Bit-Cong Pay yang sangat tinggi kepandaiannya. Aku tak berani pergi mengusik mereka.