Menghadapi kejadian ini Ama dan Yalut Sang menjadi bingung dan karena itulah aku disuruh lekas2 pergi ke Mo-thian-nia untuk mencari kau." Pada waktu itu yang menjadi kaisar dari kerajaan Monggol ialah Ogotai. Putera kedua dari Jenghis Khan, Putera sulungnya yang bernama Khetu telah meninggal, sedangkan puteranya yang ketiga Cohodai dan adiknya Tuli, masing2 mempunyai pasukan perangnya.
Bee-cin Ong-how adalah selirnya Ogotai yang keenam serta merupakan selir yang sangat disayangnya. Dari selir ini Ogotai memperoleh seorang putera yang diberi nama Kubisu yang pada waktu itu baru berusia empat tahun.
Karena merasa takut yang Jenderal Tuli akan menaiki takhta kerajaan Monggol, maka Bee-cin Ong-houw telah memancing putera-puteranya Jenderal Tuli serta menahannya. Mendengar penuturan adik ini, Gokhiol menjadi sengit "Bee-cin Ong-how berani berbuat demikian" Apakah ia sudah tidak pandang lagi gei-hoeku yang mempunyai kedudukan sebagai Panglima tertinggi dari pasukan perang Monggolia" teriak Gokhiol dengan gusarnya." "Gie koko...." ujar Pato, tapi segera ia memperbaiki ucapannya, "Ah, seharusnya aku membahasakan koko saya padamu. Kokopun sudah mengetahui yuga sifat ayah adalah sangat setia sekali kepada jungjungannya. Segala.
perintah Ogotai Khan ia selalu turuti. Kini tanpa perintah dari Khan yang mulia, ayah tak berani, pulang ke Holim." Gokhiol mendengarkan penuturannya Pato dengan hati gusar, kemudian ia berkata : "Sekarang lm Hian Hong kie-su dan Wanyen Hong Kong-cu berada disini. Sebaiknya besok baru aku akan menemui kau lagi." "Tak bisa" jawab Pato dengan cepat, "Biar bagaimanapun koko mesti ikut aku berangkat sekarang juga ke Holim. Sedikit terlambat saja, saudara2 kita akan celaka atau muugkin juga sudah mati !" Gokhiol segera teringat akan ibunya, lalu terbayang wajahnya, Mangu Moko, Kubilai, Hulahu dan Kadu....saudara angkatnya. Mereka bertujuh dibesarkan dan pergaulan mereka sangat akrab sekali melebihi saudara kandung. Maka. bagaimana, Gakhiol dapat berpeluk tangan melihat saudara2nya dalam marabahaya" Apakah ia ada seorang manusia yang tidak mengenal budi baik orang" Mengingat ini semuanya, tanpa memikir Iain Gokhiol segera menganggukan kepalanya sambil berkata, "Baik, sekarang juga kita berangkat!" Pato menjadi girang sekaIi, serta-merta dipeluknya saudaranya. "Aku sudah menduga yang koko pasti akan kembali kekampung halaman kita lagi. Kini selamatkanlah saudara2 kita." kata Pato dengan gembira.
Dengan cepat Gokhiol meringkaskan pakaiannya dan tak lupa pula pedang Ang liong-kiam ia selipkan pula dipinggangnya. Tetapi baru Gokhiol ingin melangkah keluar, didalam pikirannya segera terbayang wajahnya Hay Yan yang cantik jelita, sehingga timbullah niatnya untuk menemui dulu sicantik. Namun begitu ia teringat akan ejekannya Wanyen Hong tadi, lantas ia urungkan niatnya. Sebagai gantinya ia meninggalkan sepucuk surat untuk Hay Yan yang diletakan disamping bantalnnya.
"Lekas!" berkata Pato yang sudah tidak sabar lagi. "Hari sudah hampir terang, diluar aku sudah sediakan seekor kuda bagimu." Segera juga kedua jago muda itu melompat keluar melalui jendela dan sambil. berlarian mereka turun dari atas gunug bagaikan meteor melesat diangkasa malam yang luas berbintang.
---oo0dw0oo---
Pada keesokan harinya, Im Hian Hong Kie-su berserta kawan-kawannya tidak menemukan Gokhiol dikamarnya.
Sedangkan yang diketemukan hanyalah sepucuk surat untuk Hay Yan yang bunyinya sebagai berikut: "Berhubung saudara-saudaraku di Holim sedang menghadapi bencana dan aku mesti berangkat kesana dalam waktu yang singkat, maka tak sempat lagi aku berpamitan dengan kalian para pendekar yang budiman.
Untuk ini harap dimaafkan dan sampai berjumpa.
Gokhiol." "Apa yang kukatakan?" ujar Wanyen Hong dengan nada mengejek, "Sudah kuduga biar bagaimanapun, dia tetap adalah budaknya orang Monggol! la secara mendadak pergi, tentunya ada kawannya yang datang kemari" "Bagaimana ia sampai tega meninggalkan kita?" berkata Hay Yan, hampir2 air matanya keluar, "Kemarin aku malah sudah menyuruhnya untuk mengganti namanya dengan Tio Peng." "Huh! Apa kau kira karena ia jatuh cinta, lantas ia sudi menggantikan hubungannya dengan orang2 Mongol?" berkata Wanyen Hong kepada puterinya. "Sedangkan didalam suratnya saja, ia masih tetap menggunakan Gokhiol sebagai namanya. Sayang kemarin aku tidak sempat menawannya. Memang aku sudah mempunyai firasat bahwa dikemudian hari dia merupakan penyakit yang membahayakan kita." Melihat kedua orang itu saling bertengkar, Im Hian Hong Kie-su menarik napas : "Kongcu, dengarlah kata kataku sebentar. Tio Peng meskipun dibesarkan dinegri Monggo!, tapi jiwanya tetap adalah jiwanya bangsa Han.
Maka itu tetap ia masih dapat membedakan antara budi dan dendam. Dikemudian hari, pastilah ia akan mengakui yang dirinya adalah turunan asli dari pahlawan negeri Song yang jaya! Biarlah kini ia meninggalkan kita, esok-lusapun pasti kita akan bertemu dengan dia. Sekarang yang penting, Kongcu harus kembali pulang kenegeri Kim, agar orang2 Monggol tidak sempat mengetahui bahwa Kongcu berada disini. Demi untuk mencegah timbulnya kesulitan, aku bersedia pula untuk mengantar Kongcu pulang kenegeri Kim." kata Im Hian Hong Kie-su.
Wanyen Hong terdiam mendengar nasehatnya, jago ini.
"Kata Gak Lo-cianpwee memang Sangat beralasan," Liu Bie turut berbicara, "Kini asal-usul Su-ci telah diketahui orang. Maka apabila Su-ci berdiam terus dikota Hitam orang2 Monggol pasti akan mengadakan penyerangan. Lagi pula suhu ada perintah agar kau kembali kenegeri Kim.
Sebaiknya Sucie turuti nasehat itu. " Wanyen Hong termenung. Teringat olehnya istana dinegerinya yang menjadi tempat kediamannya selama tujuh belas tahun, menghindarikan diri dari dunia keramaian. Dan belum sempat pula ia menuntut sakithatinya, ia tak dapat kembali pulang dan menemui kakaknya Wanyen Ping, raja dari negeri Kim.
Sebaliknya ia merasa kuatir juga terhadap bangsa Monggol, apabila mereka mengetahui bahwa ia masih hidup. Tentunya mereka akan mengadakan penyergapan.
Kini Jengis Khan telah wafat. Sedangkan orang yang telah mencemarkan dirinya telah ia ketahui adalah saudara misannya sendiri Gorisan. Untuk apa ia berdiam terus ditempat sepi! Maka iapun mengambil keputusan untuk kembali pulang ketanah airnya dan mengakhiri semua peristiwa2 ini.
Dengan pancaran wajah yang tenang ia menghaturkan terima kasih kepada Im Hian Hong Kie-su yang telah bersedia uatuk menghantarnya pulang.
"Sekarang kota Tong-koan dan Hong-leng yang merupakan pintu negeri yang terpenting, telah dikuasai oleh bangsa Monggol. Sebaiknya kita ambil jalan memutar ke Sia See dan menyusuri pegunungan Hu-gu San. Cuma sebelumnya Kong-cu menulis surat agar Liu Bie Kouwnio membawanya lebih dahulu ke Pian Liang dan meminta supaya diadakan suatu penyambutan," ujar Si Penunggu Puncak Gunung Maut.
"Betul," Kim Gan Bie membenarkan," baiklah Suci tulis surat itu, nanti akan kuhantarkan." Puteri negeri Kim menganggukkan kepalanya.
---oo0dw0oo---
WAKTU lewat dengan begitu cepatnya, berselang sebulan, Wanyen Hong, Hay Yan dan puteri angkatnya Tai-tai dengan berkendaraan sebuah kereta kuda berjalan menuju negeri Kim. Sedangkan untuk mengelakkan dari kecurigaannya orang2 Monggol, Im Hian Hong Kie-su menyamar sebagai kusir kereta kuda.
Selagi mereka melewati sebuah gunung, tampak tidak jauh dipinggir jalan berdiri seorang pengemis tua.
Pakainnya yang compang camping tak keruan rupa dan ditangannya ia mencekal sebuah tongkat bambu. Si pengemis menghadang jalanan kereta! Im Hian Hong Kie-su mengetahui bahwa termpat sepi ini sering digunakan oleh orang2 aneh untuk menyembunyikan diri. Melihat si pengemis tua muncul dengan tiba2, ia segera berseru agar sipengemis suka memberi jalan. Dengan perlahan ia menarik 1es kudanya untuk mengelakan tubuh sipengemis tua itu.
Tapi baru saja kereta lewat disamping pengemis itu, tiba2 terdengar suara keras dan roda kereta menjadi hancur.
Kereta kehilangan keseimbangannya dan membentur sebuah batu besar pada tepi jalan sehingga terbalik. Kuda2-nya untung tidak lari kabur.
Ketiga penumpang terhempas jatuh, tapi cepat2 bangkit berdiri dengan hati mendelu.
Im Hian Hong Kie-su terkejut! Pada saat selanjutnya angin berkesiur disampingnya. la menoleh dan melihat sipengemis tua telah berdiri beberapa tombak dihadapannya Wanyen Hong.
"Apa Kongcu tidak luka?" tanya, sipengemis dengan cengar-cengir, "barusan aku telah berbuat lalai. Aku tak sempat masukkan mainanku kedalam saku, sehingga telah mengagetkan kedua kuda itu. " Karena dirinya dipanggil dengan Kongcu, Wanyen Hong terkejut dalam hatinya. Diawasinya pengemis itu dengan seksama. Tampak pada pinggang orang terlilit sebuah benda panjang berwarna merah. Itulah seekor ular yang berbisa! "Ular2 ini sering menyusahkan hati tapi sebaliknya dia mempunyai suatu kefaedahannya. Sekali saja itu memandang kau, maka untuk seterusnya takkan dilupakannya. Dinegeri Burma orang memanggilnya ular pengenal orang. Ha... ha...ha...!" Sambil berkata sipengemis me-main2kan ularnya.
Panjang ular itu ada kira2 tujuh atau delapan kaki. Begitu dimainkan, leher binatang itu berkembang dan melembung seperti sebuah bola bundar. Mulutnya terbuka dan lidahnya melelet keluar. Kemudian kembungannya kempes kembali.
Mereka yang menyaksikan mencium bau yang sangat amis sekali, seperti ikan busuk. Wanyen Hong menekap hidungnya, hampir2 ia muntah. Sipengemis tertawa pula.
"Kongcu tidak biasa mencium bau amis ini. Tapi ular ini dapat membantu kau untuk mencari musuhmu. Maka dikemudian hari akan berguna bagimu!" Im Hian Hong Kie-su mendengar kata2 sipengemis, menjadi sadar bahwa orang mempunyai suatu maksud.
lapun membuka suara : "Hai sobat. Kita sebenarnya belum saling mengenal. Hari ini kami kebetulan melewati daerahmu dan kau telah membuat terbalik kereta kami.
Apakah maksudmu?" Sipengemis membungkuk sambil memberi hormat. "Ah, tak ada maksud apa2. Lohu hanya ingin menyampaikan suatu kabar kepada Kongcu." Wanyen Hong bertanya dengan suara lantang: "Akulah puteri dari negeri Kim. Kau siapa dan berita apa yang ingin kau sampaikan kepadaku?" Sepasang mata sipengemis mengawasi Wanyen Hong tanpa berkesip. Sedangan airmukanya sukar membedakan apakah menunjukkan perasaan baik atau jahat.