Halo!

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Chapter 41

Memuat...

Tai-tai bukan kepalang gusarnya dan sesumbar ia mencaci : "Persetan! Sial! Gila paras elok!" Sehabis kenyang memaki, Tai-tai merasa menyesal.

Ditempelengnya serdiri mulutnya serta berkata searang diri : "Aku benar2 jahat. Dia pergi untuk menolong siociaku. Mengapa sebaliknya aku memakinya" Jika terlambat bukankah siociaku akan binasa?" Mendadak saja bayangan berkelebat dari belakang Taitai dan tahu2 tubuhnya berada diatas punggung kuda, sedangkan ditelinganya ia mendengar orang berbisik.

"Janganlah kuatir, Tai-tai."Dia tak mau mengajak kau pergi, aku yang ajak kau." Dan dalam sekejap mata saja sang kuda berlari kedepan, Tai-tai menoleh dan segera mengenali bahwa yang naik Kuda itu adalah gadis beralis hijau yang telah menyelipkan surat kepadanya waktu kemarin. Tanpa terasa ia berseru : "Kau mau bawa aku kemana?" "Ah, Tai-tai. Jangan banyak bicara, siociamu sedang ditawan musuh. Aku tahu bahwa kau pernah ke Leng-WanKoan, maka aku minta kau menjadi penunjuk jalan."

---oo0dw0oo---

Tak henti2nya Gokhiol memacu kudanya, bagaikan angin "terbang" diatas padang pasir. Kemudian ia mengambil jalan singkat menyusuri permukaan sungai yang airnya telah membeku menjadi es.

Akhirnya ia tiba di Leng Wan Koan. Tapi hari sudah malam. Pemuda kita loncat keatas genteng rumah dan melongok kesana kemari. Setelah dilihatnya keadaan aman, barulah ia melompat turun diruang tengah. la berjalan masuk, berindap-indap tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Tiba2 dilihatnya sebuah topi bambu yang biasa di pakai oleh kaum Lhama bagian barat, menggeletak diatas serambi yang menembus keluarg gunung. Pada topi itu terdapat tulisan "Bu-liong-Sie" yang merupakan tiga huruf Ceng-hay.

Cokhiol terkejut! Segera ia hampiri goa tadi dan tampak didalamnya sebuah pendopo dengan satu meja sembahyang. Adapun tempat sembahyang tersebut ialah untuk memuja rohnya Kie Thian Tay Seng, Sun Go Kong si Raja Kera.

Sedangkan diluar goa terdapat tiga huruf Swie-Cian-Tong.

Gokhiol melangkah masuk, dan bercekatlah hatinya.

Patung si Raja Kera sudah tidak ada lagi! Juga tiang yang berdiri tegak sebagai Kim-kong Pang, senjata Kie Than Tay Seng yang berupa pentungan dan tingginya kurang lebih tiga tombak sudah dicabut dan kini rebah dipinggiran meja sembahyang.

"Siapa yang telah mencabut tiang berat itu?" pikir sipemuda dalam hatinya, "Tenaga orang itu bukan main hebatnya!" Keadaan didalam goa gelap-pekat. Tiba2 terdengar oleh Gokhiol suara orang sayup2 me-rintih2, iapun menjadi kaget. Dihampirinya tempat darimana suara tadi terdengar dan nampak olehnya..., seorang gadis terhimpit balok batu dan pentungan Kim Kong Pang. Gadis itu bukan lain dari...

Hay Yan! "Siocia, kau kenapa?" seru sipemuda dengan kaget bercampur gusar. Tanpa ayal ia mengangkat sigadis, menariknya, tapi Hay Yan berteriak kesakitan.

"Sudahlah," teriaknya, "Badanku ... terjepit oleh balok batu... " belum habis ia berkata atau sigadis telah... jatuh pingsan.

Karena terburu-buru Gokhiol tidak melihat lagi bahwa badannya sigadis terjepit balokan batu setengahnya, sampai batas pinggang. Hay Yan persis masuk pada lubang bekas tiang, sedangkan balok batu itu kelihatannya seperti belum terkisar dan lagi terpendamnya sangat dalam sekali.

Pemuda kita tak habis pikir cara bagaimana harus mencongkel batu besar itu keluar.

Demi melihat keadaan sigadis, hatinya merasa kuatir, pedih bagaikan disayat sembilu. Berkali-kali ia memanggil Hay Yan, tapi sigadis diam saja. Wajahnya pucat pasi dan napasnya tersesak-sesak.

Gokhiol bingung, bingung sekali. Apakah yang harus diperbuatnya" Tiba2 teringat olehnya bahwa didalam kamar gurunya tersimpan banyak macam obat2-an. Dengan terharu ia turunkan buntalannya untuk diganjalkan pada kepala sigadis. Setelah itu lekas2 ia ber-lari2 kekamar gurunya.

Dengan hati ber-debar2 dicarinya obat Sian Cauw Wan Hun Wan atau Pil Mujijat Pemulih Sukma.

Gokhiol mengetahui obat ini, karena apabila ia berlatih ilmu "Sui Hwee To" dia kerap kali pingsan, maka Wan Hwi Sian memberikannya obat mustajab tersebut. Diraupnya beberapa butir pil, lalu pemuda kita berlari keluar.

Benar saja! Setelah pil itu ditelan, maka Hay Yan sadar pula. Gokhiol bukan kepalang girangnya. Sambil menarik napas legah, iapun bertanya : "Siocia, bagaimana kau sampai datang kesini" Dan kemana perginya Lhama iblis Ang-bian Kim-kong?" Sambil menyenderkan kepalanya diatas paha sipemuda, Hay Yan menjawab dengan suara yang lemah : "Bagaimana kau sampai mengetahui bahwa Lhama itu ingin mencelakakan diriku" Aku telah ditipu oleh gurumu untuk datang kemari. Dia bilang guruku ada disini, tapi tak terduga sama sekali aku masuk perangkapnya Ang-bian Kim -kong." "Aku sudah mengetahui segala tipu busuknya Wan Hwi Sian" ujar Gokhiol dengan gemas. "Memang sebelumnya dalam hati kecilku telah merasa bahwa ia bukan orang baik2. Sebab itulah setelah pulang dari Bu Liong Sie aku mencari kau. Tapi dengan cara bagaimana An- bian Kimkong sampai dapat menawan dirimu ?" "Dia menggunakan ilmu "Toan-auw Kui-eng-kang" atau Ilmu menyusut, tubuh. Dan tanpa terasa lagi aku jatuh Pingsan," demikian Hay Yan menceritakan kepada Gokhiol. "Setelah aku siuman, ternyata separoh badanku tidak dapat bergerak lagi karena terjepit balok batu ini." Mendengar penuturan sigadis, hati Gokhiol bergelora bagaikan dibakar saja. "Tunggulah sebentar," ujarnya, "Aku akan, menolongmu keluar, nanti kita sama2 pergi mencari Angbian Kim-kong untuk mengadakan perhitungan! Aku keremus dia!" Gokhiol meninggalkan sigadis sebettar untuk kembali membawa setahang air. Dituangkannya air itu kedalam lubang. Kini semangat sigadis pu!ih kembali, iapun bertanya: "Apakah yang hendak kau lakukan sekarang?" Gokhiol menyelidiki keadaan permukaan tanah, lalu jawabnya : "Aku sedang menyelidiki bagian tanah yang lembek. Disitu tentunya air akan terhisap dengan lebih cepat." Kemudian Gokhiol mengambil sebuah linggis dan dengan cepat sekali ia sudah berhasil menggali lubang sedalam empat atau lima kaki.

"Ang-bian Kim-kong akan segera kembali," kata sigadis dengan cemas, "Jika kau melakukan pekerjaan ini, mungkin sampai pagi belum bisa selesai." Gokhiol tak menyahut. Tiba2 ditariknya tiang yang terlentang itu, dan ... tiang itu terangkat naik sedikit.

Hay Yan merasakan getaran tanah yang hebat sekali.

Tampak olehnya peluh telah mengucur diseluruh tubuh Gokhiol, sehingga pakaiannya basah. Ia maklum, karena sipemuda telah mempergunakan saentero tenaganya.! Hati Hay Yan merasa girang tercampur terima kasih dan dengan hati berdebar ia berbisik : "Oh, Kokoku.. Kapankah kau yakinkan tenaga yang sehebat itu?" Mendengar sigadis membahasakan dirinya dengan koko, hati pemuda kita terasa seperti di-elu2. Semangatnya semakin bertambah dan sambil menyingsingkan lengan bajunya ia berkata : "Aku telah meyakinkan ilmu Sui Hwee To, sehingga tenagaku seperti raksasa. Tapi sayang sekali, sehabis menggunakan tenaga ini, paling sedikit setengah bulan lamanya aku harus beristirahat. Baru setelah itu tenagaku akan pulih kembali." Pada waktu itu pentungan Kim-kong Pang sudah menyerong kedalam tanah, sedangkan pangkal lainnya menonjol keluar. Gokhiol mendorong pula pentungan itu beberapa kali kedalam tanah, lalu ia berseru : "Moay-moay, kau jangan kaget. Lihatlah aku nanti mencongkel balok batu:" Kedua tangannya mencakup ujung pentungan yang keluar dari tanah itu dan dengan sekuat tenaga ditekannya kebawah. Hay Yan melihat muka sipemuda menjadi merah padam, sedangkan urat2 nadinya menonjol keluar.

Peluh mengalir dengan derasnya, tanpa terasa lagi sigadis berbisik : "Koko, kau capai sekali. Jangan paksakan dirimu." "Untukmu Moy-moy, mengorbankan jiwaku aku rela!" "Aih, balok batu itu sudah bergerak!" ujar Hay Yan saking girangnya, "Lihatlah! Tanahnya sudah naik keatas." Benar saja balok batu itu telah tercangkel keatas. Tanah dipinggiran lobang pada merekah.

Gokhiol berkutetan setengah mati.

Mendadak dari luar berkesiur angin yang, amat santer disusul sebuah bayangan merah meleset kedalam.

Dialah Ang-bian Kim-kong! Tanpa mengucapkan kata2 lagi, Lhama itu menggerakkan tangannya memukul.

Terdengar angin menderu menyertai pukulan geledek tadi, sehingga tanah yang terbuka, kini merapat pula! "Koko, lekaslah Iari ! Jangan kau hiraukan diriku!" sigadis memperingati Gokhiol. Tetapi pemuda kita mana mau mengerti, dengan suara yang menyeramkan ia berseru : "Ang-bian Kim-kong! Marilah kita bertempur sampai kau atau aku menggeletak menjadi mayat!" Ang-bian Kim-kong mengawasi pemuda kita sebentar, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Ha-ha-ha! Kau sungguh bernyali besar. Coba lihatlah, aku akan bekuk kepalamu dan mengembalikan kepada gurumu!" Lhama itu lompat menyerbu. Gokhiol menyapu dengan pedangnya. Tapi dengan sekali sampok, pedang sipemuda terpental. Sedangkan telapak tangan Ang-bian Kim-kong menghantam amat dahsyatnya. Gokhiol merandek menghindarkan tangan orang, lalu menjemput pula pedangnya. Bagaikan harimau mengamuk dengan ujung pedangnya Gokhiol tikam perut Lhama itu! Tak dinyana lawannya memiliki ilmu Thiat-pan Sui-gwa-khang yang sangat sempurna. Dengan Iengan bajunya ia mengibas dan pedang sipemuda kelibat. Gokhiol tertarik dan tubuhnya melayang berputar.

Post a Comment