Ketua Thian-liong-pang itu membentak, penuh keheranan, kekagetan dan juga kemarahan. Bun Beng tersenyum lebar, bangkit berdiri dan memberi hormat. Suaranya penuh kegirangan dan kejujuran ketika ia berkata,
"Benar, Locianpwe, saya Gak Bun Beng. Selamat bertemu dan semoga Locianpwe selalu bahagia dan sehat se-perti saya!"
Agaknya jawaban ini membuat Ketua Thian-liong-pang sedemikian herannya sehingga lupa akan kemarahannya.
"Bagaimana kau bisa berada di sini?"
"Saya? Saya terbang.... heh-heh, saya.... saya hanyut oleh air sorga, sampai di sini, senang sekali, Locianpwe. Betapa indahnya sorga ini.... heh-heh...."
Sepasang mata di balik kerudung itu berkilat dan Nirahai, wanita berkerudung itu, mengerutkan alisnya.
Heran sekali, pikirnya, bagaimana bocah ini bisa masuk ke sini? Dia melihat sikap dan mendengar bicaranya, agaknya anak ini telah menjadi gila! Pada dasarnya, Nirahai bukanlah seorang yang kejam. Sama sekali tidak. Dia dahulu adalah puteri Kaisar yang sejak kecil telah mempelajari segala macam dasar kebajikan dari kitab-kitab kesusasteraan kuno yang penuh filsafat di samping ilmu silat yang tinggi. Memang wataknya keras dan berdisiplin karena dialah dahulu menjadi panglima kerajaan ayahnya, memimpin pasukan pembasmi kaum pemberontak yang amat disegani. Memang wataknya berubah menjadi dingin karena tekanan batin setelah dia berpisah dari suaminya, Pendekar Super Sakti, dan rasa sakit hati karena merasa disia-siakan suaminya yang tercinta itu membuat dia menjadi makin keras dan dingin, namun hal ini sama sekali bukan mengubahnya menjadi seorang yang berwatak kejam.
Dia tadinya bermaksud membunuh Bun Beng, karena pemuda ini selain telah mengacaukan Thian-liong-pang dan telah membunuh orang-orangnya, juga telah mengetahui rahasianya bahwa Ketua Thian-liong-pang yang selalu menyembunyikan keadaan dirinya di balik kerudung, sebetulnya adalah isteri Pendekar Super Sakti. Di samping itu, karena tahu pula bahwa pemuda ini adalah anak haram dari datuk sesat Gak Liat, maka dianggapnya bahwa anak itu pun keturunan seorang jahat yang berwatak rendah dan jahat pula. Akan tetapi, ketika tanpa disangka-sangkanya pemuda itu tahu-tahu muncul di dalam tempat rahasianya ini dalam keadaan seperti orang gila, dia menjadi tidak tega untuk membunuhnya dan merasa kasihan di samping keheranannya bahwa pemuda itu yang tadinya ia lihat lumpuh dan terluka hebat, masih belum mati, bahkan tidak lumpuh lagi.
"Bocah gila, berapa lama engkau berada di sini?"
"Ha-ha-ha, Lociapwe baru tahu sekarang, ya? Saya sudah lama sekali di sini, sudah setengah tahun. Ha-ha.... sudah habis kitab itu saya pelajari....!"
"Apa....? Kau....!"
Nirahai meloncat ke depan, tangannya bergerak mencengkeram ke arah pundak Bun Beng.
"Wuuutttt.... heeeiiihhh!"
Dengan gerakan yang ringan dan mudah saja Bun Beng miringkan tubuhnya dan Nirahai berturut-turut melanjutkan cengkeramannya sampai tiga kali, tetap saja ia mencengkeram angin dan pemuda itu dapat mengelaknya dengan mudah. Diam-diam ia terkejut menyaksikan gerakan yang luar biasa ringan dan gesitnya itu.
"Heii, tahan dulu, Locianpwe! Jangan main-main dengan pukulan berbahaya!"
Bun Beng mengangkat tangan, sikapnya riang dan wajahnya berseri, tubuhnya bergoyang-goyang, karena terasa amat ringan, seolah-olah melayang-layang. Sedikitnya tidak ada pikiran takut, khawatir atau apa saja karena pikiran itu kosong, pandang matanya menjadi terang, pikirannya terang dan ia merasa seolah-olah dunia, semua benda, dirinya dan juga Ketua Thian-liong-pang itu telah berubah sama sekali, semua kelihatan menyenangkan hati! Inilah akibat dia makan jamur biru yang ternyata mengandung racun yang hebat dan luar biasa, lebih hebat daripada racun dan ganja dan madat! Racun jamur biru ini mempengaruhi syaraf dalam otak, membuat dia tidak memikirkan, tidak membayangkan sesuatu.
Segala rasa khawatir, takut, marah dan lain-lain timbul dari pikiran dan ingatan. Pikiran menggambarkan rasa takut, khawatir, iri, dengki dan lain-lain. Maka setelah pengaruh racun itu melenyapkan bayangan ini, dalam keadaan kosong dan bersih pikiran mereka jadi terang, pandang mata pun tidak dipengaruhi nafsu yang timbul dari pikiran. Itulah sebabnya maka segala hal tampak, terdengar, dan terasa amat indah oleh Bun Beng, karena jauh berbeda daripada biasa. Pikiran yang dibebani segala macam kekhawatiran, ketakutan dan macam-macam perasaan lain mengeruhkan pandangan dan pendengaran, seperti yang diderita oleh semua manusia. Namun, dalam keadaan istimewa itu, Bun Beng menghadapi kenyataan yang lain daripada biasanya.
"Locianpwe, saya telah mempelajari semua isi kitab dengan baik. Bukankah itu menyenangkan sekali?"
Nirahai yang sudah mengangkat tangan itu menurunkan lagi tangannya dan memandang tajam penuh keraguan. Jelas bahwa bocah ini lebih gesit daripada dahulu ketika membuat kekacauan di Thian-liong-pang, pikirnya. Melihat sikap dan bicaranya, seperti orang yang miring otaknya. Mana mungkin dia berada di sini selama setengah tahun tanpa dia ketahui? Apalagi mempelajari seluruh isi kitab. Akan tetapi, siapa tahu?
"Kau sudah mempelajari semua isi kitab dengan hasil baik? Juga ilmu pedangnya?"
Ia bertanya, tertarik karena selama setahun lebih dia masih belum berhasil melatih ilmu pedang dari kitab itu, selalu gagal dalam jurus ke tiga belas dan seterusnya!
"Heh-heh, tentu saja, Locianpwe selalu gagal dan tersandung dalam jurus ke tiga belas dan ke empat belas."
"Apa....?"
Mata Nirahai terbelalak dan kini dia mencurahkan perhatiannya. Kalau anak ini dapat tahu akan hal itu, berarti belum tentu dia membohong bahwa dia telah lama berada di sini dan telah mempelajari isi kitab!
"Dan engkau mengatakan telah berhasil mempelajari semua ilmu pedang itu? Ahh, siapa mau percaya omongananmu? Kulihat, sebatang pedang pun engkau tidak mempunyai."
"Saya mempergunakan pedang ini, Locianpwe."
Bun Beng memungut batu kecil panjang menyerupai bentuk pedang dan mengangkat ke atas sambil tersenyum lebar.
"Gak Bun Beng, kalau benar engkau telah dapat menguasai Ilmu Pedang Lo-thian Kiam-sut...."
"Aihh, namanya Lo-thian Kiam-sut (Ilmu Pedang Pengacau Langit)? Bukan main! Locianpwe tentu ingin mengetahui bagaimana saya mainkan ilmu itu, bukan?"
Nirahai mengangguk, kagum akan kecerdikan pemuda yang seperti gila itu.
"Terutama jurus ke tiga belas dan seterusnya, bukan?"
Kembali Nirahai mengangguk, kini kekagumannya bercampur keheranan. Pemuda itu seolah-olah dapat membaca isi hati dan pikirannya. Memang demikianlah, dalam keadaan terpengaruh racun jamur biru itu, ketika pikiran Bun Beng kosong bersih, pandang matanya menjadi tajam luar biasa.
"Nah, lihatlah, Locianpwe!"
Pemuda itu lalu menggerakkan pedang batunya, bersilat pedang mulai dari jurus ke tiga belas. Gerakannya demikian gesit dan sempurna sehingga Nirahai memandang bengong, penuh keheranan dan iri hati karena dia mendapat kenyataan betapa Bun Beng benar-benar dapat mainkan jurus-jurus itu, ke tiga belas sampai terakhir, dengan lancar, sempurna, dan sama sekali tidak membawa akibat buruk seperti yang telah dialaminya. Pedang batu itu mengeluarkan bunyi berdesing, melengking seperti suling ditiup, dan terasalah olehnya hawa dingin dan panas silih berganti keluar dari angin pedang batu itu!
"Hebat....! Luar biasa....!"
Nirahai berseru setelah Bun Beng menyelesaikan ilmu silat pedangnya dan melempar pedang batu ke bawah sambil tersenyum lebar. Tiba-tiba wanita itu meloncat ke depan dan secepat kilat tangannya bergerak menotok Bun Beng yang merasa seperti melayang-layang itu, agaknya tidak menyangka buruk sama sekali sehingga dia tidak mengelak maupun menangkis.
"Cuss!"
Sebuah totokan yang amat tepat mengenai jalan darah di pundak kanannya dan robohlah pemuda itu dalam keadaan lemas dan lumpuh. Ia roboh terlentang akan tetapi masih memandang ke arah wanita itu dengan senyum menghias bibir, seolah-olah keadaan tertotok itu mendatangkan rasa senang yang luar biasa! Setelah menotok Bun Beng, Nirahai lalu mencabut pedangnya, kemudian dia yang sudah menghafal jurus-jurus ilmu pedang itu lalu bermain silat pedang, mulai dari jurus ke tiga belas. Pemuda itu dapat memainkannya, masa dia tidak? Tingkat kepandaiannya tentu jauh lebih tinggi daripada pemuda itu, buktinya pemuda itu dapat dirobohkannya sekali totok. Mungkin karena dia takut-takut, maka dia tidak pernah berhasil. Kini dia harus nekat, tidak menghentikan gerakannya kalau ada kepeningan dan sesak dada menyerangnya.
Dalam keadaan terpengaruh jamur biru itu, pandangan Bun Beng menjadi terang dan kini ia dapat melihat di mana letak kesalahan Ketua Thian-liong-pang itu, ialah di bagian pengaturan napas. Dia melihat dan mengetahui ini, akan tetapi karena dia kagum akan keindahan yang dilihatnya dalam keadaan terpengaruh dan mabok itu, dia diam saja, hanya memandang dengan mulut tersenyum. Nirahai bersilat dengan gerakan cepat dan kuat. Alisnya berkerut, kepalanya terasa pening dan dadanya sesak, akan tetapi dia nekat melanjutkannya dengan jurus ke empat belas. Dia agak terhuyung, napasnya terengah, namun dia masih dapat bermain sampai jurus ke dua puluh dan tiba-tiba ia mengeluarkan keluhan pajang, pedangnya terlepas, tubuhnya roboh dan wanita ini pingsan!
Bun Beng mengeluh perlahan. Pemandangan yang indah itu mulai berubah dan akhirnya ia sadar. Totokan itu tanpa disengaja oleh Nirahai, telah membuyarkan pengaruh racun jamur biru. Makin sadar, makin terkejutlah Bun Beng teringat akan semua yang telah terjadi tadi. Teringat pula dia akan keadaannya setelah makan jamur biru dan dia menjadi bengong. Bagaimana dia bisa begitu berubah? Mengapa dia berani bersikap seperti mempermainkan Ketua Thian-liong-pang dan sama sekali tidak menjadi takut? Kini timbul rasa takut dan ia cepat mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya. Tak lama kemudian ia berhasil membobol totokan dan jalan darahnya kembali normal kembali. Cepat ia meloncat dan menghampiri Ketua Thian-liong-pang yang masih rebah miring dalam keadaan pingsan.