Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 117

Memuat...

Sekarang dia baru mengerti akan tepatnya ucapan suhunya itu, dan ia mengingat akan wejangan selanjutnya.

"Seperti juga dengan mulut, manusia menyalahgunakan mata, telinga, hidung dan semua panca indrianya. Lupa lagi akan tugas sesungguhnya daripada semua anggauta yang menjadi alat hidup itu sehingga semuanya dikuasai oleh nafsu ingin nikmat, ingin senang tanpa menjenguk faedahnya. Maka selalu mencari pemandangan yang indah-indah dan merangsang, yang enak bagi nafsu.

Telinga selalu mencari pendengaran yang indah bagi nafsu, hidung pun ingin selalu mencium yang sedap-sedap bagi nafsu, tanpa mengingat lagi akan kemanfaatannya. Dengan demikian, hidup ini menjadi kosong dan tidak berarti, hanya menjadi gerak pemuasan sang nafsu, menjadi budak pengabdi keinginan nafsu belaka!"

Teringat akan ini, di tempat sunyi itu, dalam menghadapi maut, pikiran Bun Beng menjadi jernih dan dapat menangkap arti daripada ucapan suhunya itu, baru terbuka mata batinnya. Ia memandang lagi jamur di tangannya, kemudian dengan menekan nafsu yang menguasai hidupnya, lenyaplah bau amis dan lenyap pula kemuakannya, dan dimakanlah jamur itu. Dia tidak mempedulikan lagi rasanya karena tidak mau lagi dikuasai nafsu, yang diperhatikan hanyalah perutnya yang butuh isi.

Setelah menghabiskan tiga buah jamur, perutnya menjadi kenyang. Akan tetapi tiba-tiba perutnya terasa sakit seperti diremas-remas. Dia pergi sampai ke sudut dan membuang air besar di antara batu-batu basah, demikian hebat perutnya terkuras sampai dia jatuh pingsan, diam-diam dia mengeluh bahwa jamur yang dimakannya itu tentulah mengandung racun yang akan membunuhnya. Akan tetapi dia tidak merasa menyesal, juga tidak takut karena memang dia tahu bahwa dia sedang menghadapi kematian. Mati sekarang atau beberapa bulan lagi, apa bedanya? Bun Beng siuman kembali. Sebelum membuka mata, dia mendengar suara mengiang-ngiang diseling suara berdetak seperti tambur dipukul, ataukah kepalanya yang dipukuli dengan irama teratur?

Dia membuka matanya. Tidak ada siapa-siapa di situ, dan kepalanya tidak dipukuli orang. Akan tetapi suara itu masih terus berbunyi, mengiang-ngiang dan berdetak-detak. Ketika ia memperhatikan, kiranya yang terdengar mengiang-ngiang adalah desir darahnya sendiri dan suara berdetak adalah denyut jantungnya! Wah, racun jamur bekerja dan aku akan mati, pikirnya. Akan tetapi, biarpun dia menanti datangnya maut sampai berjam-jam, maut tidak datang menjemput, bahkan suara itu makin lama makin melemah akhirnya lenyap. Jalan darahnya normal kembali. Ia bangkit duduk dan aneh, lututnya tidak selemas tadi! Perutnya tidak nyeri lagi, dan masih terasa kenyang. Wajah pemuda itu berseri gembira. Ia teringat akan kata-kata suhunya lagi, dan dia tidak peduli. Karena yang ada hanya jamur, jamur pulalah yang akan dimakannya kalau perutnya membutuhkan.

Dia tidak perlu khawatir akan kebutuhan air. Di banyak tempat terdapat air bertitik, bahkan ada yang mengucur kecil dari celah-celah batu. Dan jamur merah banyak sekali terdapat di situ, tidak akan habis dimakan bertahun-tahun karena tentu akan tumbuh lagi. Jamur itu yang jelas mengenyangkan perutnya. Makin giranglah hatinya setelah mendapat kenyataan bahwa kini perutnya tidak mulas lagi, hanya ia selalu mesti buang air setelah makan jamur, dan kedua lututnya cepat sekali sembuh, tenaganya pulih. Pada hari ke tiga, Bun Beng mulai melatih diri dengan samadhi seperti yang diajarkan di dalam kitab kuno di atas meja itu. Untuk menjaga agar dia dapat bersembunyi dan mengetahui kalau wanita itu muncul, dia menumpuk beberapa batu sebesar kepalan tangan di depan pintu rahasia.

Kalau wanita itu muncul, tumpukan batu itu tentu akan runtuh dan mengeluarkan bunyi yang dapat membuat dia cepat bersembunyi. Kekuasaan Tuhan memang tak dapat terlawan oleh kekuasaan apa pun juga. Kalau Tuhan belum menghendaki seseorang mati, ada saja jalan yang ditempuh orang itu tanpa disadarinya. Demikianlah pula dengan keadaan Bun Beng. Pemuda ini sudah jelas keracunan darahnya, dan Pendekar Sakti Suma Han sendiri sudah memeriksa dan menyatakan bahwa kalau tidak mendapatkan obat, pemuda itu hanya akan dapat hidup paling lama setengah tahun saja! Akan tetapi, karena terpaksa, tidak ada makanan lain kecuali jamur merah, dan karena sadar akan wejangan mendiang suhunya, Bun Beng nekat makan jamur, sama sekali tidak tahu bahwa jamur itu mengandung racun yang amat kuat.

Racun terhisap oleh darahnya dan bertemu dengan racun di dalam darahnya akibat perbuatan Pendeta Maharya dan betapa ajaibnya, kedua racun itu adalah racun yang sifatnya bertentangan sehingga saling membunuh! Andaikata Bun Beng tidak keracunan darahnya, tentu dia akan mati oleh racun jamur. Kini, racun jamur itu malah menjadi "obat"

Yang menghilangkan ancaman maut oleh ra-cun yang berada dalam darahnya. Tentu saja Bun Beng tidak tahu akan hal ini, hanya dia merasa betapa kesehatannya pulih kembali dengan cepat. Dengan hati-hati sekali ia menjaga diri agar jangan sampai ketahuan oleh Ketua Thian-liong-pang yang ternyata datang ke tempat itu kurang lebih sebulan sekali. Setiap kali datang melalui pintu rahasia itu, Bun Beng cepat bersembunyi dan mengintai, dan dia kembali menyaksikan betapa wanita sakti itu selalu macet kalau berlatih ilmu pedang sampai ke jurus tiga belas!

Selalu terhuyung-huyung dan mukanya menjadi pucat, napasnya menjadi sesak. Dengan tekun Bun Beng melatih sin-kang menurut petunjuk kitab itu. Tiga bulan kemudian pelajaran ini selesai dilatihnya dan dengan girang sekali ia mendapat kenyataan bahwa tenaga sin-kangnya meningkat secara luar biasa sekali, beberapa kali lipat lebih kuat daripada sebelum ia berlatih. Yang lebih menggirangkan hatinya lagi, setelah melatih diri dengan sin-kang menurut petunjuk kitab itu, dia kini mampu melakukan Ilmu Silat Sam-po-cin-keng dengan ringan dan mudah, bahkan dia dapat me-lakukan gerakan dengan cara ilmu memindahkan tenaga dengan tepat sekali. Untuk ilmu memindahkan tenaga ini ia berlatih dengan batu besar yang ia lontarkan ke atas. Ketika batu itu meluncur ke arah tubuhnya,

Ia mengikuti gerakan batu itu, mengerahkan sin-kang ke ujung tangan yang berlawanan kemudian ia memindahkan tenaga luncuran batu itu ditambah sin-kangnya sendiri menghantam dari samping, membuat batu itu pecah berantakan! Setelah selesai melatih sin-kang, mulailah ia mempelajari ilmu pedang yang terdapat dalam kitab itu. Kembali ia tercengang. Ilmu pedang itu memiliki gerakan yang hampir sama dengan Sam-po-cin-keng sehingga dengan mudah ia dapat melatih diri, menggunakan pedang-pedangan batu yang ia buat dari batu karang yang banyak terdapat di tempat itu. Ilmu pedang ini terdiri dari tiga puluh enam jurus dan dia melatih setiap jurus dengan teliti dan hati-hati sekali dan betapa herannya ketika ilmu pedang yang hampir serupa dengan Sam-po-cin-keng itu ternyata setiap jurusnya merupakan lawan dari jurus-jurus Sam-po-cin-keng!

Agaknya ilmu pedang ini memang sengaja dicipta orang sakti untuk menandingi Sam-po-cin-keng! Untuk setiap jurus ia latih sampai selama tiga hari, dan makin mendekati jurus ke tiga belas, dia makin berhati-hati. Akan tetapi ketika tiba saatnya ia melatih jurus ke tiga belas ini, dia dapat mainkan jurus itu dengan baik dan tidak terjadi sesuatu dengan dirinya, seperti yang diderita oleh Ketua Thian-liong-pang! Bun Beng menjadi tercengang dan termenung setelah selesai melatih jurus ke tiga belas ini. Mengapa dia bisa mainkan dengan baik sedangkan Ketua Thian-liong-pang yang jauh lebih lihai daripada dia itu tidak mampu? Pemuda ini tidak tahu bahwa kini ilmu sin-kangnya sudah amat tinggi, hampir menandingi sin-kang Ketua itu, dan tidak tahu bahwa Ketua itu gagal karena tidak menguasai peraturan pernapasan ketika mempelajari jurus ke tiga belas itu!

Adapun Bun Beng sendiri, biarpun tidak mempelajari pernapasannya karena kitab itu tidak lengkap namun dia telah mempelajari pengaturan napas ketika mainkan Sam-po-cin-keng sedangkan ilmu pedang itu dasarnya sama dengan Sam-po-cin-keng, bahkan menjadi imbangannya. Dengan girang sekali Bu Beng mendapat kenyataan bahwa telah lima bulan lebih ia berada di tempat itu, dan kesehatannya terasa makin baik! Dia telah sembuh! Secara aneh dia telah sembuh! Kalau tidak, tentu dia sekarang telah mati seperti yang dikatakan Pendekar Super Sakti. Pendekar itu tidak mungkin membohonginya. Jamur itu! Kini ia dapat menduga bahwa tentu jamur-jamur itu yang menyembuhkannya, maka diam-diam ia menjadi girang dan bersyukur sekali.

Sampai tiga bulan lebih ia mempelajari ilmu pedang dan akhirnya ia dapat mainkan semua jurus ilmu pedang itu dengan baiknya. Dia sendiri tidak sadar bahwa ketika ia mainkan batu kecil panjang seperti pedang itu, terdengar suara nyaring melengking dan tampak sinar berkelebatan yang mengandung hawa sebentar panas sebentar dingin! Selama itu, dia selalu bersembunyi kalau Si Ketua Thian-liong-pang muncul. Dia kini telah selesai melatih diri, dan penyakitnya pasti telah sembuh, maka timbullah keinginan hatinya untuk keluar dari tempat itu. Tak mungkin dia selamanya akan tinggal di tempat itu setelah kini dia tidak terancam maut. Akan tetapi bagaimana mungkin dia dapat keluar dari situ?

Dia bersikap sabar dan karena kini dia menduga bahwa jamur-jamur yang setiap hari dimakannya itu mengandung obat yang menyembuhkannya, maka kini dia mulai mencoba jamur lain karena selain jamur merah, di situ terdapat jamur putih, biru, hijau dan lain-lain. Selama ini yang dimakannya hanyalah jamur merah yang amis karena ternyata bahwa jamur itu selain mengenyangkan perut, juga dapat menahan dia sehingga tidak kelaparan. Kini setelah sembuh, timbul keinginan hatinya untuk mencoba jamur yang lain. Pertama-tama dia mencoba jamur yang putih. Jamur ini kepalanya berbentuk segi lima ujungnya meruncing seperti topi seorang petani, baunya tidak amis akan tetapi rasanya agak pahit. Begitu dia makan tiga buah, dia merasa mengantuk sekali, Bun Beng duduk bersandar batu karang dan merasa betapa selain mengantuk, juga tubuhnya makin lama makin terasa panas!

Mula-mula rasa panas hangat-hangat ini nyaman sekali, dan ada perasaan girang luar biasa di dalam hatinya. Akan tetapi makin lama, terdapat perasaan yang amat aneh, yang membuat seluruh urat-urat syaraf menegang dan dia menjadi gelisah bukan main. Dorongan hasrat nafsu berahi yang amat hebat membakar tubuhnya, membuat dia menderita hebat sekali, gelisah dan bingung, mengerang-ngerang seperti orang dibakar perlahan-lahan, bergulingan ke sana-sini untuk melawan dan menekan hasrat yang meluap-luap itu. Terbayanglah di depan mata, di dalam otak dan di hatinya, wajah-wajah jelita dari Milana, Kwi Hong dan Siok Bi, puteri Ketua Bu-tong-pai yang manis itu. Terbayang olehnya betapa mereka itu berganti-ganti tersenyum, bersikap manis dan bergema di telinganya suara mereka yang seperti merayunya.

"Aduhhh.... gila! Aku telah gila....!"

Ia menjambak rambutnya, menampari dahinya, namun tetap saja bayangan tiga orang dara jelita itu berganti-ganti menggodanya, membuat nafsu berahinya makan memuncak. Semalam suntuk Bun Beng mengalami penderitaan yang selama hidupnya belum perah dia alami. Dia merasa tersiksa sekali, akan tetapi juga diam-diam merasa beruntung bahwa pada saat itu dia berada seorang diri. Dia tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukannya, apa yang akan terjadi andaikata di waktu itu ada seorang di antara tiga orang gadis itu yang berada di dekatnya! Dia tak dapat bertahan lagi! Setelah matahari terbit pada keesokan harinya, barulah dia terbebas daripada siksaan menggila itu. Seluruh tubuhnya terasa lemah dan lelah sekali, akan tetapi tubuhnya tidak panas dan denyut jantungnya normal kembali.

Ia cepat mandi di bawah air terjun di depan guha, membi-arkan air terjun menyiram kepala dan seluruh tubuhnya sehingga dia kembali merasa segar. Ketika dia kembali ke dalam, dia bergidik melihat jamur putih dan berjanji tidak akan mencoba-coba lagi makan jamur setan itu! Diam-diam ia merasa heran mengapa jamur-jamur di situ mengandung daya yang demikian mujijat. Ia kini melirik ke arah jamur biru dan jamur hijau. Akan dicobanya jugakah jamur-jamur ini? Bagaimana kalau mengandung racun yang lebih mengerikan lagi? Betapapun juga, hatinya takkan pernah merasa puas sebelum ia mencobanya. Dia telah makan jamur merah selama setengah tahun di tempat itu dan akibatnya malah menguntungkan dirinya. Dia telah pula mencoba jamur putih yang biarpun membuat dia tersiksa hebat semalam suntuk, namun pengalaman itu pun tidak merugikannya.

Apa salahnya kalau dia mencoba jamur yang lain? Dengan hati-hati ia makan sebuah jamur biru, sebuah saja karena dia sudah kapok, tidak berani makan banyak sehingga andaikata jamur itu beracun pula, pengaruh racunnya tidak terlalu hebat. Dan jamur ini lezat rasanya! Tidak berbau, dan rasanya gurih seperti di-garami! Dengan jantung berdebar dia duduk bersandar batu karang, menanti akibat dari jamur biru itu. Suara air terjun bergemuruh terdegar dari situ. Tiba-tiba ia terbelalak, kemudian memejamkan matanya. Apakah ini? Mabokkah dia? Suara air bergemuruh itu kini lain sekali didengarnya. Seperti berubah menjadi berlagu dan berirama! Begitu indahnya, seolah-olah bukan suara air terjun, melainkan selosin macam alat musik ditabuh oleh tangan orang-orang ahli! Seperti dalam mimpi, Bun Beng membiarkan pikirannya melayang-layang terbuai dan seolah-olah diayun dan dibawa terbang oleh suara air terjun yang berubah menjadi musik merdu itu.

"Aihh, jangan-jangan aku telah menjadi gila sekarang,"

Pikirnya dan ia cepat membuka matanya. Ia terbelalak dan mulutnya ternganga melihat cahaya matahari yang kini menjadi berwarna-warni, seperti pelangi! Dan batu-batu itu, begitu indah bentuknya dan begitu penuh rasa seni! Benarkah semua ini? Tempat itu dalam pandang matanya seolah-olah menjadi berbeda sekali, menjadi seperti.... ah, agaknya sorga begitulah macamnya! Dia menggerakkan kaki tangannya dan hampir dia berteriak. Dia seperti melayang-layang! Dia masih duduk di situ, akan tetapi merasa seolah-olah tubuhnya melayang, terbang di antara sinar matahari yang berwarna-warni indah sekali. Seperti dewa-dewa kalau terbang di antara mega-mega di angkasa.

Di antara keadaan sadar dan tidak sadar, Bun Beng mengalami hal yang benar-benar mentakjubkan, indah luar biasa, dan nikmat rasanya. Dia tidak sadar lagi akan keadaan sekitarnya, semua nampak indah, bahkan dia tidak kaget atau tidak takut ketika melihat pintu rahasia itu terbuka dan seorang wanita berkerudung meloncat keluar dari pintu, dan terdengar wanita itu berseru kaget dan meloncat cepat, tahu-tahu telah berdiri di depannya. Bun Beng memandangnya dengan tersenyum manis dan ramah, senyum sewajarnya seolah-olah dia bertemu dengan seorang sahabat lama, atau seorang bidadari kahyangan. Memang pantasnya bidadari! Bentuk tubuh yang amat indah, dan biarpun kepalanya ditutupi kerudung, namun keli-hatannya pantas dan serasi dengan tubuhnya!

"Kau....? Gak Bun Beng....?"

Post a Comment