Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 110

Memuat...

"Misalnya.... terhadap diriku, bagaimana? Apakah engkau juga merasa terlalu rendah untuk jatuh cinta kepadaku? Ini hanya umpamanya saja, Twako."

Bun Beng terbelalak, jantungnya berdebar keras. Betapa jujur dan polos hati dara ini! Mukanya menjadi panas seperti dibakar rasanya.

"Ahhh.... mana aku berani, Nona? Lebih-lebih terhadapmu! Engkau adalah puteri Pendekar Super Sakti, puteri Ketua Thian-liong-pang! Sedangkan aku...., aku hanya anak yang tidak syah dari seorang tokoh hitam, datuk kaum sesat!"

Milana merasa terharu.

"Aihh, engkau terlalu merendahkan diri, Gak-twako. Bagiku, aku tidak menilai seseorang karena keturunannya, karena wajahnya maupun karena kepandaian atau kedudukannya. Cinta adalah urusan hati, bukan urusan mata, urusan batin, bukan urusan lahir."

Jantung Bun Beng makin berdebar. Kata-kata yang amat aneh terdengar olehnya, kata-kata yang sukar sekali untuk diselami dan dikenal bagaimana isi hati orang yang mengucapkannya. Dia menjadi ragu-ragu dan penasaran, maka dia memberanikan hatinya bertanya.

"Maaf, Nona Milana. Sekali lagi aku bermulut lancang mengajukan pertanyaan ini. Apakah Nona mencintaku?"

Bun Beng dapat merasakan dengan punggungnya yang bersentuhan dengan tubuh dara itu betapa Milana agak gemetar mendengar pertanyaan itu, akan tetapi jawaban yang keluar dengan halus itu tetap tenang.

"Aku tidak tahu, Twako. Bagaimana aku tahu kalau aku sendiri tidak mengerti apa artinya cinta itu sendiri? Aku merasa suka kepadamu, dan merasa kasihan kepadamu. Hanya itulah yang terasa di hatiku, yang membuat aku mengambil keputusan bulat untuk membela dan menolongmu. Aku tidak tahu apakah suka dan kasihan itu sama dengan cinta. Bagaimana pendapatmu, Twako? Tahukah engkau apa sebetulnya cinta?"

Bun Beng tidak dapat menjawab. Kuda itu berjalan terus, perlahan-lahan dan keduanya diam, seolah-olah tenggelam dalam lamunan tentang cinta. Bun Beng memandang ke depan ke arah pohon-pohon seolah-olah ingin mencari jawaban tentang arti cinta di antara daun-daun pohon, di antara sinar matahari dan bayangan benda-benda yang bersinar oleh cahaya matahari. Dahulu ketika ia mengenangkan wajah tiga orang wanita, wajah Kwi Hong, wajah Ang Siok Bi puteri Ketua Bu-tong-pai, wajah Milana, ia pernah merenungkan tentang cinta. Kemudian, ketika ia masih kecil, pertemuan antara Pendekar Super Sakti dan isterinya, Nirahai yang ternyata adalah ibu kandung Milana, juga membuatnya termenung dan mulailah ia berpikir tentang cinta. Cinta antara pria dan wanita, apa itu?

"Cinta adalah penyakit!"

Tiba-tiba saja ucapan ini keluar dari mulutnya, tidak hanya mengejutkan hati Milana, juga mengagetkan Bun Beng sendiri karena kata-katanya sendiri itu seperti terlompat keluar tanpa disadarinya.

"Apa? Cinta adalah penyakit?"

Milana berseru keras. Karena sudah terlanjur, Bun Beng melanjutkan, mengikuti suara hatinya yang timbul di saat itu.

"Cinta adalah sumber penyakit yang menciptakan penyakit-penyakit baru. Cinta yang dikenal pria dan wanita, sebenarnya tidak patut disebut cinta, bahkan mungkin bukan cinta yang sesungguhnya! Seorang wanita dan seorang pria saling berjumpa, saling mengagumi keelokan masing-masing, saling tertarik. Kemudian timbul hasrat ingin saling memiliki. Itulah cinta! Bukankah keinginan itu hanya nafsu belaka? Nafsu mendapatkan sesuatu demi kesenangan dan kepuasan diri sendiri? Karena itu menjadi sumber penyakit. Kalau keinginan tidak terkabul, juga timbul penyakit-penyakit baru seperti cemburu, kecewa dan lain-lain. Ketidakcocokan pikiran dan watak mendatangkan pertengkaran dan ke mana larinya cinta? Ketidakpuasan dalam hubungan satu sama lain menimbulkan kekecewaan, ke mana larinya cinta? Cemburu yang menimbulkan kebencian, ke mana larinya cinta? Cinta yang dikenal sekarang, terutama oleh kaum pria, hanyalah nafsu dan si wanita hanyalah dijadikan alat penyenang hati dan badannya. Kalau kenyataan sebaliknya, terbanglah cintanya."

Milana membelalakkan mata, bergidik ngeri.

"Aihhh, kau terlalu kejam, Twako! Kurasa tidak demikian buruk seperti yang kau sangka, atau karena kau belum merngenal, kau lalu mengawur saja tentang cinta. Cinta itu murni, halus, indah bagi wanita. Cinta itu bukan nafsu semata, lebih halus, lebih mendalam, mengenai perasaan hati. Wanita ingin dicinta, ingin dihargai, ingin dikagumi, ingin dimanja. Untuk itu, dia rela berkorban apa pun, rela menyerahkan badan dan nyawa untuk laki-laki yang mencintanya."

"Hemm, di mana ada keinginan, timbullah kekecewaan. Keretakan pun terjadilah seperti Ibu dan Ayahmu, eh, maaf....!"

Bun Beng terkejut dan tiba-tiba saja terbukalah matanya mengenai keretakan hubungan antara Pendekar Super Sakti dan isterinya, Nirahai.

"Kau keliru. Kekecewaan pun akan diterima oleh wanita yang mencinta dan dicinta. Suka sama dinikmati, duka sa-ma dipikul. Itulah cinta...."

Bun Beng menarik napas panjang.

"Ahhh, memang ada perbedaan pendapat tentang cinta antara pria dan wanita, akan tetapi justeru perbedaan pendapat itulah yang menciptakan seninya, seni untuk menyesuaikan diri. Setiap perjuangan menghadapi kenyataan pahit dan usaha untuk mengatasinya, itulah seni hidup. Wanita lebih menggunakan perasaannya yang halus, karena itu cintanya lebih murni, tidak seperti pria yang menggunakan pikirannya sehingga timbullah dorongan-dorongan nafsu jasmani yang kadang-kadang berlebihan sehingga memancing datangnya pertentangan dan persoalan...."

"Sssstt.... ada orang...."

Tiba-tiba Milana berbisik dan ketika Bun Beng mengangkat muka, ternyata muncul lima orang Thian-liong-pang yang sikapnya keren dan menyeramkan. Milana menahan kudanya dan menghadapi lima orang itu dengan pandang mata penuh wibawa. Ia menggunakan lengan kiri dilingkarkan di pinggang Bun Beng, karena maklum bahwa sekali terguncang hebat, pemuda yang masih setengah lumpuh dari pinggang ke bawah itu akan dapat terpelanting dari atas punggung kuda. Tangan kanan memegang kendali kuda dan ia berkata nyaring,

"Kalian berlima menghadang perjalananku, ada maksud apakah?"

Seorang di antara mereka segera mengangkat kedua tangan memberi hormat sambil menjawab,

"Harap Siocia suka memaafkan kami dan suka memaklumi kedudukan dan keadaan kami sebagai petugas dan utusan Pangcu. Kami diperintahkan untuk menangkap atau membunuh pemuda yang bernama Gak Bun Beng ini, dan kami sangat mengharapkan agar Siocia suka menyerahkan kepada kami, mengingat bahwa kami adalah utusan-utusan Pangcu yang berkuasa penuh."

"Tidak. Aku juga bertugas sebagai manusia sudah mengambil keputusan melidungi Gak Bun Beng. Aku tidak mau menyerahkannya, dan tidak akan membolehkan kalian menangkap atau membunuhnya. Habis, kalian mau apa?"

"Srat-srat-sing-sing!"

Tampak sinar kilat ketika lima orang itu mencabut golok masing-masing.

"Maaf, Siocia. Tidak melaksanakan perintah Pangcu berarti nyawa kami melayarrg secara sia-sia. Kalau memaksa sehingga bertentangan dengan Siocia, andaikata kami tewas sekalipun, kami tewas dalam menjalankan tugas sebagai anggauta Thian-liong-pang yang setia. Tentu kami memilih mati sebagai anggauta setia daripada anggauta yang murtad tidak menurut perintah Ketua."

"Hemm, jadi kalian hendak melawanku?"

Milana membentak.

"Bukan melawan Siocia, hanya menja-lankan tugas kami."

"Nona Milana, tinggalkan aku, harap jangan engkau turun tangan melawan orang-orangmu sendiri,"

Kata Bun Beng.

Post a Comment