Ingat jangan lupa pesanku ini!" Ban Ai-ling mulai mengayuh perahunya menuju ke tengah lautan.
Kira-kira setengah harian kemudian dari jauh terlihat sebuah pulau muncul dihadapan mereka.
Dengan hati-hati Ban Ai-ling melabuhkan perahunya dipinggiran terus menggendong Thian-ih kedaratan, setelah membuka jalan darahnya, seperti dikejar setan saja, dia terus lari terbirit-birit naik ke atas perahunya lalu mengayuhnya cepat.
Walaupun jalan darah sudah bebas tapi untuk sementara waktu darah masih belum normal berjalan jadi tubuh juga susah bergerak dalam sementara waktu.
Hanya derita yang dialami selama ini akan siksaan Pak-ko-seng dan muridnya yang membuatnya sangat menderita maka untuk sementara waktu ia masih lemas lunglai rebah diatas tanah.
Tak lama kemudian diatas angkasa mendadak muncul sebuah benda melayang-layang diatas kepalanya, sebentar lagi lantas berdatangan lagi beberapa ekor, lambat laun terbang semakin rendah semua mengelilingi Thian-ih, sikapnya garang seperti hendak menyambar turun.
Sekilas pandang saja lantas Thian-ih paham asal usul nama dari pulau ini.
Elang-elang raksasa yang terbang diatas kepalanya ini sebesar meja, patuknya tajam luar biasa, cakarnya runcing dan keras bagai tembaga.
Mereka tengah menanti hendak merobek-robek tubuh Thian-ih untuk dimakan.
Cepat-cepat Thian-ih harus mengerahkan hawa murni memulihkan tenaga, sebelum dirinya diserang tenaga harus sudah pulih dan melarikan diri.
Gerombolan burung elang ini semakin lama semakin banyak, tatkala itu tiba tengah hari, saking banyak elang bergerombol sampai sayapnya itu menutupi sinar matahari, sehingga Thian-ih merasa seperti disaat magrib.
Tiba-tiba salah seekor elang yang terbang rendah menukik turun, agaknya dia sudah tak sabar menunggu lagi, cakar dan patuknya berbareng menyerang kearah Thian-ih.
Maka elang-elang lain kuatir ketinggalan tak mendapat hidangan lezat beramai-ramai lantas menerjang turun sambil memekik-mekik !
Mendadak Thian-ih loncat bangun, "Wut, wut", dua kali pukulannya dilancarkan.
Tujuh delapan elang yang menerjang terdepan sekaligus terjungkal jatuh kena angin pukulannya, sambil memekik-mekik elang-elang yang lain segera terbang tinggi.
Menggunakan kesempatan ini segera Thian-ih angkat langkah terus berlari kencang menyusup kedalam rimba.
Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan panjang dibelakangnya, lantas terlihat sebuah bayangan hitam besar tengah mengejar bagai terbang.
Bayangan ini seperti elang juga, membuntuti dibelakang Thian-ih sejauh dua tiga rombak.
Thian-ih sudah lari terbirit-birit sekencangnya, tapi masih belum dapat menghindarkan kejaran bayangan hitam itu, selalu mengikuti dibelakangnya berjarak dua tiga tombak.
Begitu Thian-ih mengendorkan larinya, dia juga terbang lamban.
Seakan-akan memang sengaja hendak mempermainkan Thian-ih.
Waktu ia berpaling dilihatnya jelas bahwa bayangan hitam itu juga manusia adanya, tapi bayangan itu agaknya malu-malu kucing, begitu dipandang dia lantas memungkur hanya kelihatan punggungnya saja.
Tampak dia mengenakan jubah hitam, rambutnya panjang terurai, kakinya telanjang, bentuk yang aneh ini seperti setan ditengah alas pegunungan.
Hati Thian-ih kebat-kebit, melihat orang tidak bergerak, dengan membesarkan hati segera ia menggeremet maju hendak melihat tegas, sampai jarak mereka tinggal tiga empat kaki, mendadak orang aneh itu kebutkan lengan panjangnya kebelakang.
Kontan Thian-ih merasa seperti dadanya dipukul godam, badannya terus roboh terkapar.
Orang aneh itu mendadak pentang kedua tangannya terus loncat keudara terbang seperti burung elang, kedua lengan panjangnya itu menari-nari ditengah udara seperti dua sayap besar, Thian-ih merasa setiap kali lengannya itu bergerak lantas tubuhnya disambar angin tajam sampai seluruh badan terasa seperti disayat-sayat, sakitnya bukan kepalang.
Terdengar pula suara tawa orang aneh itu laksana tangisan setan gentayangan, lambat laun lantas teringat oleh Thian-ih, bukan mustahil orang inilah yang dimaksudkan sebagal iblis elang yang diperbincang oleh Pak-ko-seng guru dan murid itu.
Dilihat bentuknya yang jelek seram pasti hatinya kejam dan telengas.
Orang yang terjatuh di tangan manusia macam ini pasti tiada harapan untuk hidup.
Saking putus harapan tiba-tiba ia berteriak memaki: "Ing-mo (iblis elang)!
Lekas bunuhlah aku!" Mendadak orang aneh itu malah menghentikan aksinya, terdengar suaranya melengking bertanya: "Apa kau bilang" Tadi kau panggil aku apa?" Lantas dia menggumam dan berkata sendiri: "Ing-mo !
Baik juga nama ini !" Harus diketahui selama bertahun-tahun dia hidup seorang diri diatas pulau kosong hanya berkawan dengan elang melulu, hakikatnya dia tidak mempunyai nama.
Bagi dunia ramai yg mengetahui adanya seorang tokoh lihay diatas pulau ini, maka lantas memberikan nama sebagai Ing-mo tapi dia sendiri bahwasanya belum pernah mendengar akan nama julukan ini.
Ing-mo mendadak bersuit panjang, suaranya tinggi menusuk hati seperti tangisan gendruwo, terlihat dia menari-nari sambil menggerakkan kedua tangannya saking kegirangan sambil berteriak-teriak: "Aku sudah punya nama !
Haha, Ing-mo, mereka menganggap aku sebagai Iblis !
Haha para iblis menganggap seorang orang tulen, dinamakan iblis.
Haha, geli sungguh menggelikan !" Sejenak berhenti, lantas dia menggumam lagi: "Dari sini dapat kusimpulkan kalau para iblis itu takut pada aku, hahaha, sungguh girang aku, sungguh girang aku." seperti bocah kecil yang diberi permen oleh ibunya dia mencak-mencak dan meloncat-loncat.
Mendadak ia mengerakkan kedua lengan panjangnya itu berloncatan ke tengah udara, sambil menyerang dengan angin kebutannya itu.
Saking tidak tahan menderita pukulan yang hampir menghancurkan seluruh tulang belulangnya, Thian-ih memaki dengan gusar: "Iblis durjana, kau ini setan jahat.
Kenapa tidak segera kau bunuh aku" Aku tidak bermusuhan dengan kau, mengapa kau siksa aku sedemikian rupa ?" Ing-mo menyeringai tawa seram, ujarnya: "Siapa berkata kita tidak bermusuhan, semua orang kuanggap mempunyai dendam dengan aku.
Justru aku tidak senang segera membunuhmu, pelan-pelan akan kusiksa kau sehingga kau menderita supaya lambat laun mati sendiri." Thian-ih menjadi gusar, semprotnya: "Kenapa semua orang mempunyai dendam kepada kau, selamanya aku tidak kenal kau bagaimana bisa dikatakan bermusuhan denganmu !" Sahut Ing-mo : "Sebab di dunia ini tiada seorang baik, semua orang jahat !
Maka aku anggap mereka semua adalah musuhku !" Saking tak tahan lagi Thian-ih berteriak memaki: "Kentut !
Kalau kau bermusuhan dengan semua insan di seluruh dunia ini, mengapa kau mengeram dan sembunyi diri diatas pulau kosong ini.
Naiklah ke daratan besar sana untuk membunuh orang.
Beranimu sembunyi di atas sarangmu ini menghadapi orang tak berdaya dan menyiksanya sampai mati.
Terhitung orang gagah macam apa kau ini?" Dengan makiannya yang pedas ini sangka Thian-ih pasti iblis elang ini akan berjingkrak gusar, diluar dugaannya, sebaliknya si iblis ini malah menghentikan serangannya.
Sudah berapa tahun lamanya dia tidak pernah dimaki orang, karena semua orang yang terjatuh dalam cengkeramannya, selalu menyembah-nyembah iblis keji ini.
Begitu Ing-mo tertegun diam, segera Thian-ih berusaha lompat bangun sambil mengerahkan seluruh sisa tenaganya, makinya sambil menuding Ing-mo: "Kau ini iblis jahat, kukira dulu kau pernah dianiaya orang, maka anggapannya bahwa semua orang didunia ini adalah jahat.
Kau lampiaskan rasa rindu dendammu kepada mereka yg tak berdosa dan kalah ilmu silatnya dibanding kau !
Masa kau tidak tahu betapa besar dunia ini, berapa ribu berapa laksa manusia hidup di mayapada ini.
Sudah tentu ada yang jahat tapi juga ada yang jujur dan baik.
Seumpama rumput atau pohon-pohon ada yang tinggi dan ada yang rendah, kembang saja ada perbedaan bagus dan jeleknya, masakan pengertian yang sepele ini tidak terpikirkan olehmu.
Dan kau karena pernah teraniaya oleh sementara orang jahat lantas kau menuduh dan mencap semua manusia hidup ini adalah jahat dan terkutuk.
Pandangan semacam ini sangat cupat dan sangat kerdil pengetahuanmu.
Apalagi apa kau tidak pernah dengar sebuah kata "tepo seliro", artinya kalau kau tidak mau orang lain menyakiti kau, maka kau sendiri jangan menyakiti orang lain" Kalau orang jahat sudah menyiksa kau, kau sendiri tidak rela mati, lalu kenapa kau menyiksa orang lain malah sampai membunuhnya !
Dengan sepak terjangmu ini tidaklah berkelebihan kalau orang memberi julukan Iblis kepadamu.
Perbuatan jahat yang membunuh orang seperti kucing membunuh tikus ini, benar-benar membuat muak dan jijik saja, pasti kau dikutuk oleh Tuhan.
Mungkin semua korban yang telah kau bunuh itu tiada satupun yang pernah menyadarkan pikiran cupatmu ini, itu karena mereka takut mati, maka mereka minta ampun, menyanjung puja kepadamu, mereka tidak berani mengorek borokmu yang jelek.
Tapi aku lain, walau pun ilmu silatku rendah, seumpama harus mati aku tidak akan mengerutkan kening.
Tapi sebelum ajal aku harus melampiaskan penasaranku dengan membuka kedok kesalahanmu dan dosamu yang bertumpuk-tumpuk.
Dan yang terakhir biarlah aku adu jiwa dengan kau !" Ing-mo jatuh terduduk diatas tanah tanpa bergerak dan bersuara.
Sekarang Thian-ih melihat tegas wajahnya yang jelek sekali, rambut panjang menutupi seluruh mukanya, timbul rasa benci dan murka.
Teriaknya keras: "Iblis terkutuk, sambutlah pukulanku ini !" Seluruh tenaganya dikerahkan terus menggenjot sekuatnya.
"Blang" terdengar benturan dahsyat seperti geledek menggelegar, pukulannya itu dengan telak mengenai tubuh Ing-mo, tapi sedikitpun tubuhnya itu tidak bergeming seakan tidak terjadi suatu apa.
Thian-ih bertambah gusar dan penasaran, bentaknya lagi: "Biar aku adu jiwa dengan kau.
Sebagai penuntut balas bagi mereka yang telah ajal dengan penasaran ditanganmu !" "Menuntut balas !