Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 47

Memuat...

Kalau dia bersembunyi dalam gua disekitar sini.

Haahha......" "Cekluk" dia menelan ludah.

Pak-ko-Seng seorang tua bangkotan yang licik dan banyak akalnya, katanya tertawa: "Kalau dia masih berada dalam gua, saat ini hari kebetulan akan terang tanah, mungkin dia masih belum bangun, sangat tepat kepergianmu ini !" sejenak berhenti lalu pesannya lagi: "Tapi kau harus hati-hati, terlebih dulu kau harus tutuk jalan darahnya, jangan sampai dia melarikan diri, kalau Hun-tai Siancu itu sampai marah, wah tambah berabe nanti !" Ban Ai-ling menyeringai tawa: "Suhu, ucapanmu tepat sekali.

Baiklah aku akan berbuat menurut petunjukmu.

Kalau nasi sudah menjadi bubur, tidak takut gurunya itu tidak melulusi." Secepat terbang segera Ban Ai-ling berlari keluar.

Segera Pak-ko-seng menjinjing Thian-ih, sekali meraba-aba ditubuhnya, kontan rasa kesakitan tadi segera lenyap.

Tapi badannya masih sangat lemah tak bertenaga.

Sekali lempar tubuh Thian-ih terbang tinggi dan sebelum menyentuh tanah, mendadak Pak-ko-seng berteriak kejut, terus menyambar tubuhnya lagi terus dibawa lari kearah puncak secepat angin.

Dalam pada itu Ban Ai-ling sudah memasuki gua dimana tempat Cia In-hun tengah tidur nyenyak, sambil menyeringai iblis segera ia peluk tubuh yang tidur celentang itu.

Sekonyong-konyong Cia In-hun melompat bangun dan "Blang" dengan telak pukulannya mengenai pundaknya.

Keruan Ban Ai-ling menjerit kesakitan, dan terperanjat sekali.

Tanpa berani berpaling lagi segera Cia In-hun menerobos keluar terus lari sekencang-kencangnya.

Luka Ban Ai-ling tidak berat, tapi nafsu birahinya masih menyala-nyala, sungguh sesalnya bukan buatan, mengapa tadi tidak menutuknya lebih dulu, dengan sempoyongan segera ia mengejar keluar.

Mendadak terdengar dari kejauhan sana teriak orang sedang memanggil-manggil: "In-hun!

In-hun!

Thian-ih!

Dimana kalian?" Mendengar suara Hun-tai Siancu ini bagai kelinci mendengar guntur, cepat-cepat Ban Ai-ling menyelinap masuk kembali kedalam gua.

Sejenak kemudian dia merasa dengan sembunyi ditempat ini bukan tempat yang aman, siapa tahu kalau Cia In-hun sudah bertemu dengan Hun-tai Siancu dan tahu kalau dirinya berada dalam gua ini bukankah mereka akan segera meluruk kesini !

Cia In-hun saja susah dilawan apalagi bersama gurunya.

Maka sambil menahan kesakitan dia menggeremet keluar.

Untung bayangan Hun-tai Siancu dan Cia In-hun tidak terlihat, bergegas ia lari terbirit-birit ke puncak kanan dibelakang Hun-tai-san, yaitu rumah batu kediaman gurunya itu.

Melihat kelakuan muridnya yang serba runyam ini, segera Pak-ko-seng menanyakan pengalamannya, dengan tergagap Ban Ai-ling menuturkan.

Pak-ko-seng berjingkrak murka, makinya: "Goblok, sudah kusuruh kau menutuk jalan darahnya.

Apa kau sudah linglung?" Ban Ai-ling mewek-mewek, sahutnya: "Ya, Suhu memang aku sudah linglung." Melihat tingkah muridnya ini, Pak-ko-seng menjadi jengkel dan geli lagi, katanya: "Tidak lekas kau bawa orang she Thio itu masuk kedalam lorong bawah tanah!

Apa lagi yang kau tunggu berdiri disitu?" Ban Ai-ling mengiakan sambil membungkuk-bungkuk tubuh, tersipu-sipu ia berlari masuk kedalam kamar terus jinjing tubuh Thian-ih, setelah menekan knop pintu rahasia terus masuk kedalam lorong bawah tanah yang peranti dibuat berbuat mesum mereka guru dan murid.

Dalam kamar bawah tanah itu Ban Ai-ling lampiaskan kedongkolan hatinya sambil menggebuki dan menendangi tubuh Thian-ih sampat babak belur, dimaki kalang kabut lagi.

Karena jalan darah tertutuk dan tidak mampu bergerak, Thian-ih mandah saja dirinya disiksa.

Dari mulut orang yang mengomel panjang pendek, Thian-ih menarik kesimpulan bahwa Cia In-hun tentu belum sampai ternoda, legalah hatinya, diketahui pula kalau mereka guru murid tentu tak lama lagi akan menyusul tiba, timbullah setitik harapan dalam benaknya.

Tak lama kemudian Thian-ih mendengar suara Pak-ko-seng tertawa diatas: "Kukira siapa" Ternyata tetangga agung datang bertandang, mengapa sepagi ini" Ada urusan apakah" Lho nona Cia, kenapa kau terpeleset jatuh " Sampai pakaianmu kotor dan robek?" Terdengar suara Hun-tai Siancu berkata dingin: "Muridku ini bukan jatuh, adalah karena terbokong oleh bangsat rendah yang kurang ajar.

Mana muridmu itu " Kuminta panggil dia keluar!" "Muridku, Ban Ai-ling maksudmu " Dua hari yang lalu dia pergi ke Tang-hay, kira-kira sepuluh hari lagi baru pulang." Sekarang nada perkataan Hun-tai Siancu mengandung kemarahan, semprotnya: "Pak-ko Toyu, ucapan seorang kalangan kita selamanya mengutamakan kepercayaan dan kenyataan.

Terang gamblang jejak kaki muridmu menghilang sampai disini.

Kalau kau mengatakan tidak ada, apakah kau tidak terlalu menghina orang!" Pak-ko-seng juga berkata keras: "Aneh, dia benar-benar tidak ada, kalau tidak percaya silakan kau geledah!" "Tamuku di Hun-tiong-khek bernama Thio Thian-ih kemaren malam mendadak hilang, kukira dia sekarang berada dirumah batu itu, harap lepaskan dia keluar." "Hahaha, Siancu, kau ini main kelakar sama aku!

Tamumu hilang kenapa minta ganti kepadaku, kan aku bukan penyamun atau bangsa penculik.

Kapan aku pernah kenal orang yang bernama Thio Thian-ih apa segala.

Ini bukan guyon-guyon !" Sayangnya Thian-ih tidak bisa bersuara, ingin menggunakan kepalanya untuk membentur dinding supaya bersuara, tapi seluruh badan lemas lunglai tiada sedikit tenagapun.

Terdengar olehnya suara Siancu mulai mengancam: "Pak-ko-seng, kalau kau tidak serahkan mereka berdua, aku pasti tidak akan berhenti." "Kalau kau tidak percaya, suruh aku bagaimana" Silakan kau periksa saja, rumah batu ini terbagi tiga kamar, jauh lebih kecil dan sempit dari Hun-tiong-khek kediamanmu itu.

Kau tidak percaya cobalah kau geledah sendiri !" "Sreng" terdengar suara pedang dilolos dari sarungnya, lantas terdengar lagi Siancu berkata penuh tekad: "In-hun, menghadapi orang macam ini jangan terlalu percaya, biar aku awasi dia, kau masuk memeriksa." Dikejap lain lantas terdengar derap langkah Cia In-hun melangkah kian kemari diatas.

Saking tegang Ban Ai-ling berkeringat basah kuyup.

Agak lama berselang baru terdengar suara Cia In-hun penuh kemarahan dan putus asa, "Suhu, tidak ada." Terdengar gelak tawa pak-ko-seng, serunya: "Bagaimana" Kataku kalian ini terlalu banyak curiga, mengandal nama dan ketenaranku, masa aku bisa mencelakai tamumu" Dan lagi kalau kelakuan muridku tidak genah, pasti aku tidak lepaskan dia, apalagi sampai menggoda dan kurangajar terhadap nona Cia, pasti akan kubekuk dan kutelikung diserahkan pada Siancu.

Tapi bukan mustahil nona Cia sendiri yang salah lihat orang, mungkin tamu kalian yang bernama Thio Thian-ih itu yang berbuat kurangajar terus melarikan diri........hahaha.

Siancu, coba katakan betul tidak rekaanku ini"'' Derap langkah Hun-tai Siancu dengan Cia In-hun semakin menjauh dan hilang.

Terdengar Pak-ko-seng masih mengoceh: "Aku tidak salahkan kalian.

Kita kan tetangga saling bantu adalah jamak.

Baiklah, begitu anak Ling kembali pasti aku akan gusur dia dan menanyakan dihadapan kalian....

baiklah......selamat bertemu......" Mendadak Ban Ai-ling melompat bangun sambil menghela napas panjang-panjang.

Sebaliknya Thian-ih merasa pilu sedih dan putus harapan.

Ruang bawah tanah ini meski hanya berpaut selapis batu dinding, sedemikian dekat tapi Hun-tai Siancu dan Cia In-hun tak dapat menemukan tempat itu.

Nanti punya nanti akhirnya Pak-ko-seng turun ke ruang bawah tanah ini, katanya sambil mengerutkan kening: "Sungguh sukar menghadapi mereka, untung tempat ini sangat bagus bangunannya, sedikitpun tidak kelihatan bekas-bekasnya." "Suhu," kata Ban Ai-ling, "Thio Thian-ih ini harus diapakan, dibunuh saja bagaimana atau dibuang kedalam jurang?" Pak-ko-seng merenung sebentar lalu katanya: "Semua cara itu kurang sempurna.

Meskipun mungkin Hun-tai Siancu tidak mengetahui, tapi jangan sampai menimbulkan kecurigaan!

Cara yang terbaik adalah menggunakan golok orang lain untuk membunuhnya.

Benar, anak Ling, kau bawa dia ke-pulau Elang saja, biar Iblis elang itu yang membunuhnya, ini jadi tidak menyangkut pada kita, bukankah cara ini paling baik dan sempurna?" "Akal bagus !" teriak Ban Ai-ling memuji muslihat gurunya, "Suhu, apa sekarang juga berangkat?" "Bocah goblok yang tidak tahu urusan," omel Pak-ko-seng merengut, "Kau sangka Hun-tai Siancu dan muridnya sudah pergi" Hm, mereka tengah sembunyi disekitar rumah batu kita ini!

Kita harus mengulur waktu sampai mereka benar-benar sudah pergi baru berangkat.

Apalagi sejak saat ini kau jangan terburu-buru pulang, sementara waktu kau sembunyi ditempat Susiokmu.

Setelah pertikaian ini padam baru kau boleh kembali.

Selanjutnya baru kita pikirkan lagi cara untuk menundukkan mereka guru dan murid, tidak perlu terburu nafsu." Dua hari sudah berlalu, Thian-ih terkurung dalam ruang bawah tanah itu, badan lemas tak bertenaga, dalam keadaan perut lapar dan dahaga kesehatannya semakin jelek pikirannya jadi kurang waras diantara sadar tak sadar.

Sampai hari ketiga, Pak-ko-seng memasukkannya kedalam sebuah kantongan besar, dipanggul diatas pundaknya terus dibawa lari secepat terbang.

Yang terasa hanya angin menderu dipinggir telinga, entah sudah berapa jauh jalan ditempuh, akhirnya mereka tiba dipinggir laut dimana Ban Ai-ling mengendalikan sebuah perahu tengah menanti.

Pak-ko-seng mengeluarkan Thian-ih lalu membebaskan tutukan jalan darahnya serta memberi makan dan minum.

Setelah itu jalan darah pelemasnya ditutuk lagi supaya dia meringkuk lemas diatas perahu.

Lalu dia berpesan kepada Ban Ai-ling: "Setelah sampai dipulau Elang baru kau bebaskan tutukannya.

Iblis Elang itu paling suka mendapat seorang pemuda lincah yang pandai silat!

Post a Comment