Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 44

Memuat...

Tampak diatas kasur kecil peranti untuk bersamadi duduk seorang perempuan setengah baya, sikapnya welas asih dan berseri girang.

Sekali pandang lantas Thian-ih merasa seolah-olah dirinya pernah melihat atau bertemu, suatu perasaan dekat dalam batin lantas timbul dalam benaknya, tanpa merasa segera ia membungkuk tubuh memberi hormat, serta sapanya: "Wanpwe Thio Thian-ih menghadap Siancu.

Semoga Siancu selalu sehat walafiat." Hun-tai Siancu menerima pemberian hormatnya itu, terdengar suaranya tersenggak: "Silakan bangun..............." Sekilas Thian-ih masih sempat melihat, mendadak kedua matanya memancarkan rasa duka hampa.

Tapi ini terjadi sekilas saja, tak lama kemudian seperti awan yang mengembang dan tersebar hilang.

Kini pandangan matanya terang penuh mengandung belas kasih, sehingga Thian-ih merasa hangat dan lega serta lapang dada.

Tanpa berkesip Hun-tai Siancu memandangi wajah Thian-ih.

Cia In-hun sudah mengundurkan diri, maka dalam ruangan itu tinggal mereka berdua, Thian-ih ingin menanyakan jejak si badju perak.

Tapi sampai diujung mulut ia telan kembali, biarlah dia sepuas hati memandangi dirinya.

Seakan sang bunda yang welas asih penuh kasih sayang melihat anaknya yang telah kembali dari perjalanan yang jauh.

Siapapun tidak mau memecahkan suasana tenang hangat dan nyaman ini.

Tidak lama kemudian terdengar Hun-tai Siancu menghela napas dan bertanya: "Apa kau mau tinggal beberapa lama di-tempat ini?" Sebetulnya Thian-ih hendak menolak karena masih banyak urusan yang perlu dibereskan tapi entah mengapa terasa sulit untuk menampik kebaikan yang ditawarkan ini dan susah membuka mulut, tanpa sadar ia manggut-manggut.

Hun-tai Siancu tersenyum, katanya: "Kau pergilah istirahat dan makan dulu.

Nanti datang lagi menghadap aku, ada banyak persoalan yang hendak kutanyakan kepadamu." Waktu Thian-ih keluar, Cia In-hun sudah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan.

Setelah mandi lantas makan, meski hanya berupa hidangan sederhana saja dia makan dengan lahapnya.

Suasana di Hun-tiong-khek (kediaman ditengah awan) sangat tenang dan sunyi, tatkala itu disiang hari, dimana tempat Thian-ih makan hanya kabut dan angin sepoi-sepoi saja yang memenuhi ruangan itu, memang kadang kala kera-kera kecil berloncatan lewat tapi juga sangat hati-hati tidak mengeluarkan suara, ini menambah suasana menjadi lebih angker.

Thian-ih berpikir, agaknya sikap Hun-tai Siancu terhadap dirinya sangat baik dan prihatin, dia minta dirinya tinggal disini entah untuk maksud apa" Teringat akan Hong-gi hatinya menjadi gundah tidak tentram, diam-diam ia ambil kepastian hendak menanyakan jejak siorang berkedok itu, tak peduli ketemu atau tidak, begitu urusan disini selesai secepatnya aku harus segera kembali mencari Hong-gi.

Malam itu begitu berhadapan Thian-ih lantas menanyakan jejak sibaju perak.

Ternyata Hun-tai Siancu juga tidak main sembunyi, dikatakan bahwa sibaju perak memang pernah datang, tapi hanya tinggal beberapa kejap lantas pergi lagi, dia datang memberi tahu akan kedatangan Thian-ih.

Thian-ih bertanya kemanakah dia pergi.

Hun-tai Siancu menjawab tidak tahu.

Hati Thian-ih menjadi risau, pikirnya, untuk apa sibaju perak membawa dirinya keatas Hun-tai-san " Sesaat ia tenggelam dalam pemikirannya.

Sekarang mulailah Hun-tai Siancu bertanya kepadanya, ditanyakan pelajaran apa saja yang telah dipelajari selama berada di Kiam-bun-San" Bagaimana pengalamannya setelah turun gunung" Thian-ih merasa Siancu sedemikian akrab dan kasih sayang seumpama menghadapi sanak keluarganya sendiri, maka tanpa ragu-ragu lagi ia mulai bercerita panjang-lebar tentang semua pengalaman selama ia turun gunung.

Dengan tenang Hun-tai Siancu ikuti ceritanya.

Setelah cerita Thian-ih habis ia menggeleng-geleng kepala sambil menghela napas panjang.

Ia menegor Thian-ih tidak seharusnya dia begitu tergesa-gesa untuk menuntut balas sampai merembet dan mengorbankan banyak jiwa yang meninggal secara konyol.

Tergerak hati Thian-ih, batinnya, kalau sibaju perak itu pernah kemari pasti dia sangat bersahabat dengan Hun-tai Siancu.

Ditanyakan nama dan siapakah sebenarnya sibaju perak itu mengapa ia selalu menggoda dan mempermainkan dirinya membunuh dengan semena-mena.

Hun-tai Siancu tidak menjawab secara langsung, hanya dikatakan bahwa itu ada sebab lain yang tak dapat diterangkan, kelak pasti Thian-ih akan paham sendiri.

Ditegaskan bahwa sibaju perak itu tiada mengandung maksud jahat terhadap dirinya.

Hanya godaan dan sepak terjangnya terhadap Thian-ih itu memang rada keterlaluan.

Thian-ih tidak percaya, diajukan bukti-bukti tentang kematian Kim Khe-sian sipendeta pemabukan itu.

Betapa gagah dan jujur serta kesatrianya pendeta itu, tapi toh mengalami ancaman dan permainan sibaju perak, akhirnya sampai menceburkan diri kedalam jurang yang dalam dan mati tanpa dipendam diliang kubur yg layak, apakah dia juga mempunyai dosa " Hun-tai Siancu tertawa, katanya: "Apa kau tahu kalau dia mempunyai ganjalan hati" Menurut hematku sudah siang-siang dia harus mampus, apa kau tahu sebab musabab akan kematiannya itu?" Thian-ih membayangkan adegan yang menggiriskan pada malam itu, katanya dengan gemas: "Karena takut mendengar suara deburan air terjun sehingga menimbulkan kenangan pahit dan menyedihkan akan pengalamannya pada masa yang lampau.

Anak dan istrinya mati dibawah injakan kaki-kaki kuda, sedang gema suara air terjun itu memang persis benar dengan derap langkah berlaksa kuda yang sedang berlari kencang......" Hun-tai Siancu sedikit menggeleng kepala, katanya: "Kim Khe-sian salah, meskipun dia menyesal dan bertobat sebelum ajal, tapi dia masih tidak rela mengemukakan dosa-dosanya yang tercela itu kepadamu.

Dari sini dapatlah dimengerti betapa licik orang ini, dia masih mengharap supaya namanya tidak tercela dan harum sepanjang masa......" Melihat Thian-ih memandang dirinya dengan sorot keheranan tak mengerti, maka mulailah dia bercerita: Banyak tahun yang lalu, dalam kalangan Kangouw muncul seorang kesatria yang gagah perwira, akhirnya dia menikah dan memperoleh seorang putra.

Tapi pada usia pertengahan, mendadak sifatnya berobah sangat tercela, dia mengalihkan cintanya menyukai seorang gadis remaja lain, dan gadis remaja itu selalu mengejar dan tergila-gila padanya, malah mendesaknya supaya menceraikan istrinya yang pertama.

Akhirnya dia termakan akan bujuk rayu dan maksud keji itu, tapi dia berpikir kalau perceraian bukanlah penyelesaian yang tepat mengingat nama baiknya selama ini, akhirnya pasti perbuatannya yang tidak senonoh ini akan mendapat cercah dan kutukan para sahabat Kangouw, dari pada bercerai lebih baik dilenyapkan saja jiwanya supaya perbuatan kotornya tidak diketahui orang lain.

Maka dengan kandungan angan-angan yang jahat ini selalu ia mencari kesempatan untuk turun tangan.

Pada suatu ketika kesempatan itu tiba juga.

Didengarnya kabar bahwa pada suatu tempat selalu terjadi kerusuhan huru-hara akan berandal-berandal jahat yang merajalela.

Maka tentara kerajaan hendak menggerebek sarang-sarang penyamun itu.

Dengan sengaja ia membawa anak istrinya ke tempat dimana balatentara kerajaan bakal lewat disitu.

Memang rombongan tentara berkuda lewat seperti yg direncanakan, dia pura-pura berseru kejut dan ketakutan sambil berteriak-teriak dan melarikan diri, saking tergesa-gesa ia seret anaknya itu, diluar dugaan anaknya itu sangat sayang dan tak mau berpisah dengan ibunya, mati-matian ia menggondeli ibunya tidak mau tinggal pergi, dalam sekejap mata saja rombongan tentara berkuda sudah tiba didepan mata, terpaksa orang itu loncat menyingkir sendiri, mengandal Ginkangnya yang tinggi dengan gampang saja ia lolos dari bahaya.

Sebaliknya istri dan anaknya hancur lebur terinjak-injak kaki kuda.

Meskipun muslihatnya itu berhasil, tapi tujuannya semula hanya hendak membunuh istrinya saja tidak kira akhirnya anaknya ikut melayang jiwanya.

Sejak saat itu, walaupun ia hidup senang tapi suara teriakan sang istri sebelum ajal selalu terkiang di pinggir telinganya, sehingga ia menyesal dan bertobat sampai mati dengan pengalaman yang kau saksikan sendiri.

Inilah riwayat hidup Kim Khe-sian dulu, setelah mendengar cerita ini apakah kau masih beranggapan kalau kematiannya itu penasaran?" Thian-ih bungkam.

Kata Hun-tai Siancu lagi: "Yang lain umpamanya Kiau-si Hengte, Hek-san-siang-ing, Cin-tiong-sam-hiap, serta sipena berapi Siu Hoa dan golok tujuh bintang Kiu San, dosa mereka sudah bertumpuk-tumpuk dan kematian mereka adalah setimpal.

Sebaliknya mereka yang bijaksana dan jujur, umpamanya kau sendiri, Nyo Hway-giok serta Li Hong-gi dan Ban-keh-seng-hud Ciu Hou, meskipun terancam bahaya berulang-ulang, tapi sedikitpun tidak mengalami cidera apa-apa........" Diam-diam bercekat hati Thian-ih.

Sedemikian jelas dan terang analisa Siancu ini seperti dia mengalami sendiri.

Meskipun tadi dirinya sudah menuturkan semua dengan jelas, tapi juga cukup meragukan, maka segera tanyanya: "Mohon tanya Siancu, mengapa si baju perak berbuat begitu rupa" Apakah tujuan yang sebenarnya?" Hun-tai Siancu mengerutkan alis, sahutnya lirih : "Apakah tujuan semua sepak terjangnya itu" Aku sendiri tidak tahu jelas, tapi aku percaya bahwa dia tidak mengandung maksud jahat terhadap kau !" Tak tertahan lagi Thian-ih, berkata keras: "Dia membunuh banyak kawan-kawanku, berulang kali menggoda dan mempermainkan aku dengan Hong-gi, menculik Ciu Hou sampai tidak keruan paran jejaknya.

Post a Comment