Thian-ih membuka mata seperti baru sadar dari impiannya.
Mendadak sibaju hitam berobah sikap, wajahnya mengunjuk tawa berseri terus menarik lengannya dan berkata: "Saudara Thio, membuat kau kaget saja.
Siaute hanya bermain-main saja dengan kau!'' Tiba-tiba terasa angin berkesiur sebuah bayangan orang melayang turun dengan ringannya.
Thian-ih merasa pandangannya menjadi terang serta hidungnya mengendus bau harum.
Tampak seorang gadis yang mengenakan serba putih tengah berdiri tegak dihadapan mereka, wajahnya yang jelita itu mengunjuk rasa gusar, sepasang matanya yang bening bak bintang kejora itu tengah menatap tajam memancarkan sinar gusar.
Justru sorot gusar ini ditujukan kearah sibaju hitam.
Bagai tikus ketemukan kucing, sibaju hitam menundukkan kepala tak berani beradu pandang dengan gadis serba putih ini.
Terdengar gadis itu menyemprot: "Ban Ai-ling, apa yang kau lakukan" Berani kau hendak membunuh dia?" Ternyata sibaju hitam bernama Ban Ai-ling, terdengar ia menyahut gagap: "Adik Hun, kau salah paham lagi, aku hanya bermain-main saja dengan saudara Thio ini !" sorot mata yang minta dikasihani memandang kearah Thian-ih, agaknya minta belas kasihannya.
Katanya lagi: "Saudara Thio, coba katakan bukankah kita hanya main saja" Bukankah kita tadi datang bergandengan tangan!" Thio Thian-ih mendenguskan hidungnya keras-keras, hatinya merasa muak dan dongkol melihat sikap licik dan menjilat sibaju hitam yang bernama Ban Ai-ling ini.
Tapi sigadis baju putih juga tidak gampang ditipu, jengeknya dingin: "Bagus sekali Ban Ai-ling, kau menipu aku mengatakan hendak membantu aku menyambut tamu dan menghadang dipuncak sebelah kiri ini.
Tidak kira kau mengandung maksud jahat, untung aku sudah curiga akan sikapmu tadi dan lekas-lekas memburu tiba, kalau tidak bukankah Ji-chengcu ini sudah terjebak dalam tipu muslihatmu." sekilas ia melirik kearah Thian-ih, dimana tangan merogoh pinggang "sreng" sebilah pedang pusaka lantas dihunus ditangannya, dibawah sinar matahari, pedang itu memancarkan sinar kebiru-biruan.
Agaknya Ban Ai-ling ini sangat takut menghadapi gadis baju putih, cepat ia membela diri: "Betul-betul aku hanya main-main saja, aku hanya ingin menjajal kepandaian ajaran dari Kiam-bun-It-ho tulen yang disohorkan itu, akibatnya...." Gadis baju putih ini agaknya cukup cerdik, kalau dibiarkan saja mengudal mulut pasti dia akan mengisahkan keadaan Thian-ih yang tidak becus melawan kepandaiannya, hal ini kiranya cukup memalukan bagi Thian-ih yang masih berdiri melongo ditempatnya.
Maka cepat-cepat ia menukas: "Tak usah banyak mulut lagi, lekas kau pergi, aku tidak memerlukan tenagamu lagi !" Kata Ban Ai-ling: "Adik Hun, biarlah aku menemani kalian menuju ke Hun-tiong-khek." Gadis baju putih malah membanting kaki berulang-ulang, semprotnya: "Tidak usah dan tidak perlu, kita bisa jalan sendiri, masa aku tidak kenal jalanan?" Melihat orang tetap menolak, apa boleh buat akhirnya Ban Ai-ling berkata dengan wajah mengunjuk sikap mesra: "Kalau begitu baiklah adik Hun, besok kita bertemu ditempat lama." Thian-ih jadi berpikir; dilihat keadaan ini agaknya Ban Ai-ling dan gadis baju putih ini adalah sepasang kekasih.
Diam-diam ia merasa gegetun dan sayang bagi gadis nan ayu jelita ini.
Tak kira mendadak si gadis baju putih menegakkan alis serta hardiknya: "Ban Ai-ling, apa maksudmu dengan tempat lama apa segala.
Kita dari Hun-tiong-khek selamanya tidak berhubungan dengan kalian guru dan murid, kuharap jangan kau sembarang mengoceh." habis berkata ia memutar tubuh menghadap Thian-ih terus sapanya: "Ji-chengcu, mari kita berangkat !" tanpa hiraukan orang lagi mereka terus manjat keatas gunung.
Terdengar Ban Ai-ling tertawa dingin, entah apa yang digrundelkan, dengan mendelong ia awasi kedua orang muda mudi ini menghilang dari pandangannya.
Dalam perjalanan ini tanpa Thian-ih keburu membuka mulut, sigadis baju putih sudah mendahului menerangkan: "Aku bernama Cia In-hun, guruku adalah Hun-tai Siancu (dewi gunung Hun-tai), kita tinggal di Hun-tiong-khek yang terletak dibelakang puncak sebelah kiri sana.
Kemaren guruku mendapat kabar bahwa Ji-chengcu akan berkunjung kemari, maka pagi-pagi benar dia menyuruh aku menunggu di-puncak depan ini." Segera Thian-ih bertanya: "Nona Cia, orang yang memberi kabar itu apakah seorang yang mengenakan baju perak" Dimana dia sekarang?" Melihat sikap orang yang gugup, Cia In-hun unjuk senyum geli, sahutnya: "Tentang ini, maaf aku tidak bisa memberi jawaban.
Aku sendiri tidak melihat orang baju perak itu dan tidak tahu dimana dia sekarang.
Harap Ji-chengcu langsung tanyakan saja kepada Suhu nanti!'' Setelah mengucapkan perkataannya tadi, sibaju putih terus bungkam membisu, wajahnya masih mengunjuk senyuman manis, tapi rada bersikap malu-malu seperti gadis umumnya kalau berhadapan dengan pemuda.
Begitulah sekian lama ia berjalan didepan menunjuk jalan, sesekali ia menoleh ke belakang, dilihatnya Thian-ih tengah memandangi dirinya, disangkanya orang lelah dan ingin istirahat, maka segera katanya tertawa: "Sudah hampir sampai, itu diatas sana!" Thian-ih memandang keatas tempat yang ditunjuk itu adalah sebuah puncak kehijauan yang diselubungi kabut putih, samar-samar terlihat atap genteng yang bewarna merah.
Diam-diam ia bertanya dalam hati; siapa dan tokoh macam apakah Hun-tai Siancu ini" Bangunan rumah dipuncak ini ternyata berbentuk lain dari pada yang lain.
Setelah beberapa langkah lagi jalan pegunungan sudah habis dilalui, kini mereka harus menerobos semak-semak pohon yang berduri tajam.
Cia In-hun membuka jubahnya terus loncat berlarian diatas rumpun bunga dan pohon-pohon liar.
Waktu ia berpaling dilihatnya Thian-ih juga tengah menelat perbuatannya, dilihatnya ilmu ringan tubuh orang ternyata tidak dibawahnya terus membuntuti dibelakangnya.
Agaknya Cia In-hun berlega hati, mulutnya berkecek memuji diam-diam ia merasa kagum.
Thian-ih melihat gerak kaki orang sedemikian lincah dan seenteng burung walet terbang pesat diatas pepohonan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun juga, sebaliknya setiap kaki sendiri bergerak pasti terdengar suara keresekan dari sentuhan dahan-dahan pohon itu, diam-diam ia merasa malu sendiri.
Teringat olehnya akan pertolongannya tadi, dari kejauhan melepas senjata rahasia yang tepat mengenai cincin yang dikenakan di jari Ban Ai-ling sehingga pemuda jahat itu tahu diri dan mundur teratur.
Kepandaian semacam ini benar-benar jarang terlihat di dunia persilatan.
Entah bagaimana kepandaian gurunya Hun-tai Siancu itu " Kalau muridnya saja sudah sedemikian lihay, pasti kepandaian gurunya itu lebih mengejutkan lagi.
Baru sekarang Thian-ih insaf akan setinggi-tinggi gunung masih ada yang lebih tinggi, semakin terasa pula olehnya betapa kerdil kepandaian sendiri ini.
Setelah melewati semak belukar yang berumpun duri ini, bangunan genteng merah itu sudah terlihat semakin jelas.
Tengah mereka berlari dengan pesat, mendadak Cia In-hun berhenti dan melintangkan tangan, katanya tertawa: "Tuan tamu yang mulia hati-hatilah!" Begitu Thian-ih memandang kebawah kakinya kejutnya bukan kepalang, tepat dibawah kakinya kiranya adalah sebuah jurang yang dalam dan pekat diselubungi kabut entah berapa dalamnya.
Ternyata meskipun bangunan rumah bergenteng merah itu sudah tidak jauh jaraknya, tapi untuk mencapai tempat itu mereka masih harus melewati sebuah jurang didepannya ini.
Didapatinya diatas jurang terbentang seutas tali sebesar jempol kaki, tali ini bergoyang gontai dihembus angin.
Thian-ih berpikir, apakah harus melewati tambang ini kalau mau menyebrang kesana, dilihat dari besarnya tali itu diam-diam ia menimang dan tiada pegangan dapat lewat dengan selamat ke sebrang sana.
"Ji-chengcu," terdengar Cia In-hun berkata: "Kita harus kesana lewat tali ini, meskipun jurang ini tidak begitu lebar, tapi selain guru dan Pak-ko-seng tiada seorangpun yang pernah kulihat dapat terbang ke sana, semua orang yang lewat harus menggunakan tali tambang ini............" Thian-ih membatin, bocah perempuan ini pandai menipu orang, betapa lebar jurang ini sedikitnya juga ada sepuluhan tombak, gurunya kan bukan burung, mana mungkin terbang lewat di tengah udara.
Lalu terdengar pula penjelasannya tentang tali tambang itu adalah terbuat dari untaian urat-urat binatang, puluhan tahun sudah berselang tapi masih kokoh kuat.
Dengan ringan sekali gadis baju putih itu loncat ke atas tambang, dua kali entulan tubuhnya sudah melesat sampai di tengah-tengah jurang, dengan seenaknya ia berdiri seumpama di tanah datar saja.
Kuatir Thian-ih tidak percaya disini ia menggerakkan tubuh sambil berjongkok dan mengentul-entul sampai tambang itu bergoyang gontai, bukan takut malah dia tertawa berseri dan berseru kepada Thian-ih: "Ji-chengcu, lihatlah, tambang ini sedemikian kokoh kuat." Di kejap lain gadis baju putih sudah tiba di seberang jurang dengan selamat.
Thian-ih membatin betapa sukarpun juga harus kucoba, supaya tidak menjadi buah tertawaan seorang gadis.
Teringat olehnya sejak meninggalkan perguruan, entah sudah berapa kali menghadapi dan mengalami pertempuran-pertempuran dahsyat yang membahayakan jiwa, demikian juga kali ini, paling banyak terkubur didalam jurang, apa pula yang harus ditakutkan.
Setelah berketetapan timbullah semangat dan keberaniannya, begitu mengembangkan ginkang terus melayang dan hinggap di atas tambang itu.
Terasa kakinya seperti menginjak di atas tanah saja, memang tambang itu sangat kuat dan keras, maka dengan lega hati ia maju terus sampai di tengah, tiba-tiba terdengar olehnya dibawah sana suara yang gemuruh dari deburan ombak tak tertahan lagi ia melongok ke bawah.
Tampak di bawah jurang sana ternyata adalah arus air yang sangat deras sekali bergelombang tinggi, suaranya gemuruh bagai geledek, tanpa merasa hatinya menjadi ngeri dan takut, sedikit gemetar kakinya lantas terpeleset jatuh...............
Dalam saat-saat yang kritis itu untung tangannya masih sempat meranggeh dan memegang kencang tambang aneh itu sehingga tubuhnya bergelantungan.
Terdengar seruan kaget, secepat terbang enteng sekali Cia In-hun berlari datang berdiri di atas tambang sambil mengulur tangannya terus menjinjing tubuh Thian-ih ke atas.
Thian-ih merasa mukanya merah membara.
Setelah sampai di seberang jurang Thian-ih mengintil terus di belakangnya, tak lama kemudian di tengah-tengah kabut yang tebal di hadapannya telah berdiri sebuah bangunan gedung yang bergenteng merah itu, bangunan gedung ini begitu megah dan angker, diatas pintu depan tergantung sebuah papan nama yang bertuliskan "Hun-tiong-khek" tiga huruf, kiranya tepat dan serasi benar nama ini dengan keadaan sekelilingnya.
Baru saja kakinya melangkah masuk pintu lantas hidungnya diserang bebauan wangi dari harumnya kembang-kembang yang sedang mekar, di belakang emper sebelah sana terlihat seekor burung betet segera menggape-gapekan sayap sambil berteriak: "Tamu agung datang, tamu agung datang." Dua ekor kera warna putih lantas melompat keluar, begitu melihat Thian-ih lantas cecoetan sambil berjingkrak-jingkrak, matanya yang merah bening berputar-putar memandang Thian-ih dengan seksama.
Segera Cia In-hun menggerakkan tangan sambil berkata: "lekas laporkan kepada Siancu!" mendadak burung betet itu terbang masuk, sedang kedua kera putih juga lantas loncat menghilang di balik pintu.
Tak lama kemudian Cia In-hun membawa Thian-ih sampai di depan sebuah pintu bundar berbentuk bulan sabit, di depan pintu kerai terbuat dari bambu terurai turun.
Sampai di depan kerai segera Cia In-hun membungkuk tubuh memberi lapor: "Sam-ho Thio-keh-cheng Ji-chengcu sudah tiba !" "Silakan masuk !" terdengar sebuah suara menyahut dari dalam, tapi tak terlihat orang keluar menyambut.
Thian-ih membatin lagi, takabur benar Hun-tai Siancu ini.
Menyingkap kerai ia terus menyelinap masuk.