Menurut pelayan hotel bahwa Hun-tai-san depan lebih ramai dari yang dibelakang.
Lantas terpikir deh Thian-ih pastilah Hun-tai-san belakang yang dimaksudkan, setelah menanyakan cara perjalanan ini dengan kudanya ia menuju ke Hun-tai-san.
Puncak dari Hun-tai-san belakang ini ada dua terletak disebelah kanan kiri, dilihat dari kejauhan tingginya hampir sama, Thian-ih sendiri tidak tahu puncak yang mana yang dimaksud oleh sibaju perak.
Apa boleh buat akhirnya dipilihnya puncak disebelah kiri itu.
Jalan pegunungan agak sempit dan tidak rata kuda sukar dapat manjat keatas, terpaksa Thian-ih turun dan berjalan kaki, sampai beberapa li kemudian baru jalanan menjadi datar dan rata, sepanjang jalan ini panorama sangat mempersonakan, Thian-ih naik keatas kudanya.
Tatkala itu sudah menjelang tengah hari, matahari sudah mulai doyong ke arah barat, hawa diatas pegunungan ini sangat sejuk, dilihatnya awan mengembang di lereng gunung, pemandangan ini sungguh melegakan hati, Thian-ih merasa lapang dada, mendadak ia bersuit panjang.
Sekonyong-konyong terasa diatas kepalanya ada gerakan suara yang mencurigakan, begitu ia mendongak kagetnya luar biasa hampir saja jantungnya melompat keluar dari rongga dadanya, ternyata sebuah batu sebesar kuda tunggangannya tengah melayang turun dengan cepatnya tepat diatas kepalanya, jaraknya terpaut sangat dekat, kalau tidak sempat menyingkir..................
Thian-ih berteriak kejut, bahwasanya orang dalam bahaya pasti keluarkan kecerdikannya untuk mencari jalan hidup, tangkas sekali ia menggelinding ke samping, terpaut sedetik saja lantas terdengar suara gemuruh yang menggetarkan bumi, dimana batu besar itu jatuh, sungguh kasihan kuda tungangannya itu hancur lebur seperti bergedel, darah dan daging berceceran kemana-mana.
Thian-ih mengelus dada, saking kejutnya badan sampai gemetar, untung benar bahwa dirinya masih selamat, baru saja ia hendak bangkit berdiri, mendadak kakinya menginjak tempat kosong, ternyata di pinggir jalan kecil itu adalah rumpun pohon kecil, tak tahunya belakang rumpun pohon kecil ini adalah jurang yang sangat dalam, Thian-ih tidak memperhatikan hal ini, kontan tubuhnya terjerumus melayang ke dalam jurang.
Tiba-tiba terdengar olehnya suara gelak tawa orang dari atas.
Kiranya memang ada orang yang tengah menjebak dirinya, Thian-ih memandang ke bawah, lamping jurang ini sedemikian curam entah berapa dalamnya sampai tidak kelihatan dasarnya, sekali jatuh kesana pasti tubuhnya hancur lebur, karena merasa tiada harapan lagi, segera ia pejamkan mata pasrah nasib.
Mendadak terasa tubuhnya menyerempet entah benda-benda apa, timbul lagi harapan hidupnya, secara gerak reflek tangannya menggapai dan mencengkram dengan kencang, kiranya yang dicekal adalah akar pohon-pohon penjalin yang menjalar diatas tebing itu, untung tubuhnya melayang dekat dinding gunung sehingga dia selamat bergelantungan memegangi akar pohon itu.
Orang diatas itu masih perdengarkan gelak tawanya yang menggila, agaknya sangat puas dan kegirangan, dari bawah Thian-ih masih dapat melihat bayangannya, orang itu mengenakan pakaian serba hitam, ternyata bukan sibaju perak yang disangkanya, tapi entah apakah tujuannya hendak membunuh dirinya dengan jebakan yang keji ini" Hatinya geram sekali, segera kaki tangannya mulai bergerak merambat naik ke atas, untuk membuat perhitungan dengan si baju hitam ini.
Karena dinding gunung sangat licin susah untuk dipanjat, namun Thian-ih tak putus asa dengan susah payah ia harus merambat ke atas sambil mengeluarkan ilmu cecak merambat dinding, diam-diam hatinya berdoa supaya usahanya ini tidak sampai konangan oleh si baju hitam.
Kalau tidak dia tengah berdiri di pinggir jalan, sekali ulurkan tangan saja pasti tamatlah jiwanya.
Tak kira si baju hitam itu kiranya juga cukup cerdik, dengan cermat ia longak-longok, Thian-ih yang sudah sembunyi dan mepet dinding masih terlihat juga olehnya.
Terdengar ia bergelak panjang, Thian-ih tahu bahaya tengah mengancam lagi, lekas-lekas ia kerahkan tenaga untuk berjaga-jaga, sedapat mungkin tubuhnya dipepetkan ke dinding gunung.
Mendadak orang di atas itu melancarkan pukulan-pukulan dahsyat sampai debu dan dahan-dahan pohon beterbangan, tapi karena Thian-ih sembunyi mepet dinding, maka samberan angin pukulannya itu tidak sampai mengenai dirinya, sementara waktu agaknya dia masih kuat bertahan.
Melihat usahanya ini tidak membawa hasil, cepat-cepat ia mengusungi beberapa buah batu-batu terus digelundungkan ke bawah, begitu melayang jatuh batu itu menggelundung ke depan, meskipun suaranya bergemuruh tapi sedikitpun tidak mengenai Thian-ih.
Kesempatan ini digunakan Thian-ih untuk terus merambat ke atas, akhirnya sampai juga di pinggir jurang, kebetulan si baju hitam tengah mengusung lagi beberapa buah batu.
Sekali loncat ringan sekali Thian-ih menginjakkan kaki di atas tanah, tanpa hiraukan napasnya yang masih ngos-ngosan, cepat-cepat ia bersiap hendak menghadapi lawan.
Si baju hitam tengah memanggul sebuah batu besar, begitu memutar tubuh, tahu-tahu Thian-ih sudah berdiri di hadapannya, tampak bajunya sudah koyak-koyak, mukanya terbaret banyak luka-luka kecil, darah masih mengalir keluar, sepasang matanya mendelik dengan garangnya, sikapnya ini sangat menakutkan, tanpa merasa si baju hitam sampai mendelong Dilihatnya oleh Thian-ih si baju hitam ini masih sangat muda, kulitnya putih berwajah cakap, namun sepasang matanya memancarkan sifat-sifat sombong dan culas serta keji.
Thian-ih berpikir, aku belum pernah kenal orang ini mengapa ia menjebak hendak membunuh aku.
Maka segera bentaknya: "Siapa kau" Mengapa kau jebak aku ke dalam jurang?" Si baju hitam menyeringai iblis, jengeknya: "Kau ini yang bernama Thio Thian-ih ?" Thian-ih mengangguk.
Mendadak dia angkat batu besar itu sambil berteriak: "Kalau kau Thio Thian-ih maka kau harus mampus!" mendadak ia lemparkan batu besar itu.
Thian-ih melejit setinggi tiga tombak.
"Blang", tempat dimana ia tadi berdiri sampai melesak dalam ketindih batu sedemikian besar, waktu Thian-ih melayang jatuh lagi tepat ia menginjak diatas batu yang baru jatuh ini.
Tanpa banyak kata lagi sambil menggerung gusar si baju hitam segera menubruk maju sambil menyerang dengan pukulannya, tenaga pukulannya sangat kuat dan deras, hampir saja Thian-ih keterjang jatuh lagi ke dalam jurang.
Mendadak timbul kecerdikan Thian-ih lagi, tangkas sekali tiba-tiba ia mendakan tubuh, terus menyeruduk kedepan, gesit sekali sibaju hitam mengelak.
Kini kedudukan mereka terbalik, Thian-ih mepet dinding sedang sibaju hitam membelakangi jurang.
Sekonyong-konyong sibaju hitam menjotos lagi dengan kekuatan penuh.
Kalau tadi Thian-ih beruntung tidak sampai terjungkal lagi kedalam jurang, namun kini mepet dinding tiada tempat untuk mundur lagi terpaksa ia angkat tangan untuk menangkis.
"Blang", kedua tangan tergetar sampai linu, dinding batu dibelakangnya sampai tergetar berhamburan sehingga kepala dan mukanya kotor kena debu.
Agaknya sibaju hitam sudah menjajal bahwa tenaga dalam Thian-ih ternyata tidak dibawah dirinya, sambil tertawa dingin kakinya bergerak pindah kedudukan terus merangsak maju lagi, dimana kedua jarinya dirangkapkan terus menutuk ke tenggorokan Thian-ih.
Thian-ih kerahkan tenaga sekuatnya ia menangkis dengan sebuah pukulan.
Tapi mendadak sibaju hitam merobah serangan tutukan menjadi tamparan, telapak tangannya menyerempet lewat diatas pundaknya, terasa sakit seperti dipapas pisau.
Thian-ih insaf kepandaian sendiri masih bukan tandingan lawan.
Siapa duga yang dimaksud oleh sibaju perak tentang pengalaman aneh yang membawa keberuntungan ternyata adalah menyuruh dirinya ke Hun-tai-san ini untuk mengantar kematian.
Apalagi sibaju hitam ini sudah mengetahui namaku sebelumnya, ini menambah tebal dugaannya ini.
Terpaksa Thian-ih kuras kepandaian yang dipelajarinya dari gurunya, sedapat mungkin dia membela diri.
Tapi sepasang lengan baju sibaju hitam menari-nari sangat cepat, tenaganya besar pula, sehingga Thian-ih mati kutu dan terkepung dalam kekangan tenaga pukulannya itu, seumpama kucing mempermainkan tikus saja, demikianlah keadaan Thian-ih sekarang.
Tahu kalau dirinya tidak bakal ungkulan, dengan rapat ia menjaga diri jangan sampai terlihat lobang kelemahannya.
Tapi bertempur cara begini apa pula gunanya bagi dirinya " Diatas pegunungan yang sepi ini, siapa pula yang bakal menolongnya.
Agaknya sibaju hitam juga tidak sabaran lagi, jurus-jurus dan tipu-tipu ganas segera dilancarkan, menghadapi yang ini tak tahu sudah terancam dengan serangan yang lain lama kelamaan Thian-ih merasa sekelilingnya terkepung oleh bayangan sibaju hitam, tahu dia bahwa pertahanan cara demikian pasti tidak akan berlangsung lama, hatinya mulai berpikir cara untuk melarikan diri atau bila terpaksa biarlah membunuh diri saja daripada terhina.
Mendapat hati sibaju hitam merogoh rempelo, dimana angin pukulannya menyambar lewat segera Thian-ih menubruk maju menempuh bahaya, tapi tubuhnya terpental balik lagi oleh sebuah pukulan musuh terus terpantek di dinding gunung, begitu tangan kanan diulurkan dua jarinya menutuk kearah mukanya.
Thian-ih kenal jurus tutukan yang dinamakan Liong-hi-siang-cu (naga mengambil sepasang mutiara), yang diarah adalah kedua biji matanya, tangan dan kaki Thian-ih sudah terkekang oleh musuh, tubuhnya susah bergerak lagi, agaknya kedua matanya ini susah diselamatkan lagi.
Terlihat olehnya jari tak bernama dari tangan kanan sibaju hitam mengenakan sebuah cincin yg berbentuk aneh, bersinar kemilau ditimpa sinar matahari, semakin dekat dan dekat.......
"Creng'' mendadak sebuah kilatan menyambar cincin diatas jari sibaju hitam, maka jari yang diulurkan dan sudah mengenai kulit mata Thian-ih itu mendadak ditarik kembali secepat kilat, lantas terdengarlah sebuah suitan nyaring panjang dari kejauhan.