Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 38

Memuat...

Lalu dikeluarkan sebuah gelang batu Giok, katanya: "Kalau Cu-hiantit setuju harap dia suka terima gelang ini dan menukarnya dengan sebuah barang tanda mata sebagai ikatan perjodohan ini.

Gelang ini adalah milik anakku yang selalu dipakainya, harap Ji-chengcu suka memberikan kepada Cu-hiantit..." Dengan keterangan yang panjang lebar ini disangkanya Thian-ih pasti setuju dan tiada persoalan lagi.

Lahirnya Thian-ih memang tenang dan tertawa-tawa, namun hatinya risau dan bingung, dalam keadaan yang terdesak, terpaksa ia berkata: "Maksud paman ini memang baik dan menggembirakan sekali, namun tentang perjodohan ini betapapun harus kutanyakan dulu kepada Cu-hiantit, entah bagaimana jawabannya nanti?" Kwi Chun manggut-manggut penuh harapan, katanya tersipu-sipu: "Terima kasih akan jerih payahmu dan persoalan ini kuserahkan kepada Ji-chengcu saja." Diam-diam Thian-ih membatin: "Orang tua ini ceroboh dan gegabah.

Untung ketemu Hong-gi yang menyamar jadi pria.

Jikalau seorang laki lain yang sudah menikah, bagaimana dengan nona Kwi Tong-ing itu nanti?" Segera ia berdiri dan minta diri, Kwi Chun mengantarnya sampai di pelataran tengah.

Saat itu Hong-gi tengah menanti tidak sabaran di dalam kamar, begitu melihat Thian-ih kembali segera ia bertanya: "Bagaimana ?" Thian-ih tersenyum sambil mengangsurkan gelang batu Giok itu, katanya: "Perjodohan ini sudah pasti jadi.

Sang mempelai adalah Pek-yan (siwalet putih) Kwi Tong-ing yang kenamaan, pelajaran silatnya mendapat didikan langsung dari orang tuanya, mungkin juga pandai menggunakan pedang dan senjata rahasia.

Maka menurut aku, Cu-hiante, pemuda macammu yang lemah tak bertenaga ini, janganlah kelak sampai dihajar oleh mempelai perempuan yang gagah perkasa.

Hahaha !" Setelah menanyakan duduk persoalannya, Hong-gi berkata sambil mengerutkan kening: "Koko, bicara terus terang aku sudah menduga akan terjadinya urusan ini.

Sekarang lebih baik kita terangkan secara terbuka saja." Thian-ih ragu-ragu, ujarnya: "Kalau kita jelaskan, betapa mereka akan kecewa dan putus harapan !

Siapa tahu bakal timbul hal-hal yang tak terduga, menurut hematku nanti malam, kalau hujan ini sudah reda kita ngacir saja secara diam-diam." Semua perbekalan Thian-ih dan Hong-gi sudah dipersiapkan, nanti punya nanti sampai hari sudah petang hujan masih turun dengan lebatnya.

Kwi Chun suami istri mengadakan perjamuan dan menyuruh gadisnya keluar menyatakan terima kasihnya.

Dengan sikap yang wajar dan tanpa malu-malu nona Tong-ing menuang dua cawan arak lantas dipersembahkan kepada Hong-gi berdua.

Diam-diam Hong-gi mengeluh dalam hati, karena merasa dirinya selalu dilirik, maka dia segera tundukkan kepala tak berani beradu pandang.

Begitulah perjamuan ini berjalan terus dengan meriahnya, kalau pihak tuan rumah sedemikian girang dan riangnya, sebaliknya Thian-ih berdua semakin gundah duduk tidak tenang.

Sampai tengah malam, perjamuan baru bubar, sekembali di kamarnya Thian-ih dan Hong-gi duduk tepekur dengan risau, untung juga menjelang fajar hujan agak reda, inilah kesempatan baik untuk bolos keluar, maka cepat-cepat mereka tinggalkan gelang batu giok serta menulis sepucuk surat pernyataan terima kasih dan sekadar penjelasan, lalu secara diam-diam menuntun keluar kuda mereka terus dipacu sekerasnya ke selatan dibawah hujan rintik-rintik.

Beberapa lama kemudian hari pun sudah mulai terang tanah, dari kejauhan ditengah jalan raya sebelah depan sana membedal cepat empat ekor kuda, begitu dekat tiba-tiba salah seorang diantara mereka berteriak sambil menuding Thian-ih: "Itu dia Thio Thian-ih !" Keruan Thian-ih terkejut, tampak olehnya bahwa mereka adalah para petugas dari kesatuan Bhayangkari, cepat-cepat ia keprak kudanya memacu dengan kencang.

Terdengar ke-empat penunggang kuda di belakang sudah mengejar dengan kencang pula, pemimpinnya malah membentak marah: "Thio Thian-ih, seorang kesatria tidak akan melarikan diri !

Hayo berhenti aku ada omongan yang hendak kutanyakan." Thian-ih juga berpikir, secepat lari kudanya ini tentu takkan dapat lari jauh, maka segera ia berpesan kepada Hong-gi: "Dalam keadaan terdesak nanti kau jangan hiraukan aku lagi, cepat-cepatlah kau lari kembali ke perkampungan Hong-kiam-san-cheng, bawalah mereka keluar menolong aku disini." Habis berkata ia menghentikan kudanya dan menanti, sekejap mata saja ke-empat ekor kuda itu sudah mengejar tiba, begitu dekat pemimpinnya segera maju perkenalkan diri: "Jichengcu aku adalah Coan-hun-chiu Yu Liat-bong, dan kuperkenalkan lagi ini adalah Chit-sing-to Kiu san, ini Siau-hun-ho Lu Cau, dan ini adalah Sin-chio-ciang Khu Gi-liong, kita berempat jadi satu krabat dalam kesatuan Bhayangkari." Meskipun Thian-ih belum pernah bertemu dengan Yu Liat-bong dan Kiu San, namun nama julukan mereka sudah pernah didengar di kalangan Kangouw, memang mereka berdua bersama Lim Han dan Siu Hoa serta enam orang lainnya termasuk sepuluh jagoan yang paling jempolan di istana raja.

Kedua temannya ini tentu juga bukan sembarang orang.

Thian-ih insaf kalau betul-betul bertempur betapa pun tinggi kepandaiannya tentu takkan kuat bertahan menghadapi keroyokan mereka berempat.

Terdengar Yu Liat-bong si tangan penembus awan berkata: "Ji-chengcu adalah seorang kesatria, sudah lama kami dengar namamu yang mulia.

Kalau kami mengejar sedemikian kencang tak lain tak bukan hanya untuk menolong Lim Han yang masih terkurung di penjara karena penggantian mutiara palsu itu.

Sekarang tak peduli kedua mutiara itu kau bekal atau tidak, kuharap kau suka memberi muka turutlah kita ke kota raja untuk melepaskan Lim Han yang menderita dalam penjara.........." sejenak ia merandek lalu sambungnya lagi, "Tentang kematian Siu Hoa, sudah tentu kita sesalkan kepandaiannya yang masih cetek, dan apa boleh buat.

Tapi sayangnya waktu kita periksa jenazahnya, ternyata bahwa pergelangan tangannya terkena sebatang senjata rahasia yang sangat beracun..............." Thian-ih terkejut, tanyanya cepat: "Mana ada kejadian begitu, waktu kita bertempur karena tak sempat lagi menarik tanganku jalan darah di dada Siu-toako kena tertutuk........" Khu Gi-liong yang berdiri disamping Yu Liat-bong segera membentak dengan sedihnya: "Bangsat rendah, kau masih hendak mungkir, Ban-seng-to-hoat yang dimainkan pamanku belum selesai dilancarkan mengapa dia tidak mampu membela diri sampai tertutuk jalan darah mematikan.

Sebab musababnya tidak lain karena pergelangan tangannya sudah terkena senjata rahasia yang keji, kau kira dapat mengelabui para orang gagah di seluruh dunia" Hm !" Memang hal ini tidak terpikirkan oleh Thian-ih.

Diingat keadaan waktu itu, tenaga dalam sipena berapi Siu Hoa sangat hebat, sedang tutukan itu hanya gertakan belaka supaya lawan menarik kembali serangannya.

Memang tiga jurus serangan berantai Siu Hoa belum sempat dilancarkan habis lantas kena tertutuk mati, sungguh keadaan seperti itu sangat janggal dan mencurigakan, dipikir-pikir tanpa merasa tubuhnya merinding dan berdiri bulu kuduknya.

Bukan mustahil si baju perak berpedang emas itu pula yang menjadi gara-gara dalam peristiwa ini" Melihat orang termenung diam, Yu Liat-bong tersenyum ejek: "Ji-chengcu, siapa akan duga murid kenamaan Kiam-bun-it-ho ternyata bisa berbuat serendah itu membokong orang dengan senjata rahasia beracun.

Ketahuilah Siu Hoa memikul tugas untuk menangkapmu, sebetulnya ada permusuhan apa dengan kau, sampai sedemikian tega kau turun tangan keji.........

Sekarang, keponakan Siu Hoa, Khu Gi-liong ini sudah datang, kita beramai ingin minta pertanggungan jawabmu !" Thian-ih menjawab dengan lantang: "Tuan-tuan harap dengarkan dulu penjelasanku.

Sebetulnya aku Thio Thian-ih belajar di Kiam bun-san belum tamat lantas keluar dari perguruan sebab kematian engkohku Thio Thian-ki yang dianiaya itu.

Karena besar hasratku hendak menuntut balas maka aku berkelana di kalangan Kangouw, setiap kali aku bertanding dengan orang meskipun ilmu silatku rendah, selalu aku hanya bersenjata pedang dan bertempur secara jantan, belum pernah berlaku keji dan serendah itu, apa lagi menggunakan senjata rahasia beracun yang jahat itu....................." Bantah Khu Gi-liong dengan sedih: "Tatkala itu hanya kau dan pamanku saja yang sedang bertempur, jikalau bukan kau berlaku licik, lalu siapa yang melepas senjata rahasia itu" Masa senjata rahasia itu bisa terbang sendiri mengeram dalam pergelangan tangan pamanku........" Thian-ih ragu-ragu, lalu sahutnya: "Sebetulnya aku tiada niat hendak melukai saudara Siu Hoa, waktu itu serangan tiga jurus berantai yang dilancarkan itu belum selesai, aku turun tangan hanya menggertak dia supaya merobah cara permainannya, tak terduga sedikitpun ia tidak menangkis atau mengelak malah menerjang langsung ke depan sampai aku gelagapan dan tak sempat menarik pulang tutukanku yang tepat mengenai di dadanya.

Kalau dipikirkan memang keadaan waktu itu rada-rada janggal dan aneh, mungkin ada seseorang sembunyi dan membokong, maka akulah yang menjadi kambing hitamnya............." "Kentut !" bentak Khu Gi-liong, "Siapa mau percaya obrolanmu itu !" Kata Thian-ih lagi: "Tentang kedua butir mutiara itu, baru beberapa saat tadi diketemukan di anting-anting nona Hong gi, kalian boleh ambil kembali untuk..............." Ucapannya ini membuat keempat orang itu berjingkrak, Chit-sing-to Kiu San segera membentak: "Thio Thian-ih, kau tak perlu obral mulutmu yang manis itu.

Kau sendiri sudah mengaku kalau mutiara itu berada di tangan kalian, apa lagi yang perlu diperdebatkan !

Terang dengan sengaja kau menukar yang tulen dengan yang palsu untuk menipu Lim Han.

Tapi kau masih berani membangkang dan melawan petugas hukum yang hendak meringkusmu, malah membunuh Siu Hoa lagi dengan alasan mutiara itu tak berada di tanganmu." "Waktu itu memang kami belum tahu kalau mutiara itu masih ada." demikian Thian-ih coba menerangkan, "Entah siapa yang menjadi gara-gara memporotkan kedua mutiara itu kedalam hiasan anting-anting nona Hong-gi..............." Yu Liat-bong si tangan penembus awan tertawa ejek: "Ji-chengcu, betapapun ucapan yang menipu orang ini kita takkan mau percaya.

Urusan dinas ini harus kau patuhi dan kalian ikut kita ke kota raja." "Mutiara dapat kami serahkan, tapi kami takkan ikut pergi, karena kami masih ada urusan penting." Si tombak sakti Khu Gi-liong menghardik gusar: "Bangsat kurcaci, kau masih berani melawan perintah hukum !" "Wut", tanpa banyak cakap lagi segera ujung tombaknya menusuk tiba terus berputar berpetakan kembang perak, betapa hebat permainan tombaknya ini serasi benar dengan nama julukannya, terpaksa Thian-ih harus melompat menyingkir.

Terdengar golok tujuh bintang Kiu San berteriak: "Saudara Yu dan kau Lu Cau kalian cegat perempuan itu, biar aku bantu membereskan yang ini." Thian-ih menjadi gugup, teriaknya pada Hong-gi: "Dik, lekas kembali ke rumah Kwi-locianpwe, jangan hiraukan aku lagi." Tanpa diminta kedua kalinya segera Hong-gi mengayun pecut terus memacu kudanya kembali.

Saat itu Yu Liat-bong dan Lu Cau sudah turun dari tunggangannya, tersipu-sipu mereka lompat lagi keatas kuda terus mengudak dengan kencang.

Post a Comment