Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 36

Memuat...

Dengan merasa pilu dan berat perasaan Thian-ih untuk meninggalkan kampung halaman ini.

Entah kapan baru dapat kembali lagi setelah bepergian kali ini, demi menghindari diri dari penangkapan.

Sebelum berangkat ia harus minta diri kepada ensonya Liu-si.

Tapi Hong-gi keburu telah bicara: "Tidak usah, enso menyuruh kita segera berangkat, dia suruh kau waspada dan menjaga diri, tak usah kuatir akan keadaan dirumah." Thian-ih merasa hampa, sekilas ia melirik kearah Hong-gi, terlihat orang telah berganti pakaian mengenakan celana panjang yang ringkas dan leluasa untuk naik kuda, kepalanya juga sudah memakai topi rumput yang besar, terang dia juga sudah siap melakukan perjalanan jauh.

Tanya Thian-ih: "Apa kau bisa menunggang kuda" Perjalanan sedemikian jauh apa kau kuat bertahan?" Hong-gi tersenyum, sahutnya: "Meskipun aku tidak pandai silat, sejak kecil aku sudah belajar menunggang kuda dibelakang kebon rumahku dulu !" nadanya ringan penuh semangat dan kepercayaan.

Thian-ih tertawa getir, berkelana tanpa tujuan membawa serta wanita secantik bidadari, bukan saja membuat orang-orang sepanjang jalan ngiler dan sirik, malah mungkin terjadi peristiwa yang tidak diinginkan.

Betapapun tubuhnya yang lemah itu takkan kuat menahan terik matahari dan hujan angin.

Sekali jatuh sakit susahlah dibayangkan akibatnya.

Apalagi kalau pasukan Bhayangkara itu mengejar tiba, bertempur atau melarikan diri dengan adanya dia ikut serta pasti kurang leluasa.

Hong-gi cerdik dan cermat, tahu dia apa yang tengah Thian-ih pikir dan kuatirkan.

Bola matanya berputar lantas katanya sambil merengut: "Koko, kalau kau tidak mau bawa aku biarlah pasukan Bhayangkara itu datang meringkus aku.

Tegakah kau membiarkan aku meringkuk dalam penjara ?" Apa boleh buat terpaksa Thian-ih harus berpikir panjang, tujuan utama perjalanan kali ini adalah Ho-bwe-pang di Kanglam, maka segera ia ayun cambuknya bersama Hong-gi mulai melakukan perjalanan ke selatan.

Tidak mengherankan lagi, kecantikan Hong-gi yang luar biasa ini telah menarik perhatian orang-orang di sepanjang jalan.

Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti pencegatan tokoh-tokoh penjahat semacam Go Hong tempo hari, Thian-ih mengusulkan supaya Hong-gi mengenakan pakaian laki-laki saja.

Memang dengan pakaian laki-laki ini mereka dapat mengelabui orang.

Sejak hari itu mereka melakukan perjalanan sebagai kakak beradik.

Hari itu mereka menginap dalam sebuah hotel.

Dilihatnya seluruh tubuh Thian-ih penuh kotoran debu, sebaliknya dirinya masih putih bersih, diam-diam ia merasa heran, teringat olehnya bukankah kedua mutiara mestika itu telah dikembalikan kepada Lim Han, lalu dari mana dan mengapa dirinya sekarang masih dapat menolak kotoran debu itu.

Ini benar-benar aneh, waktu diperiksa buntalannya dan seluruh tubuh kudanya juga bersih tanpa tertempel sedikit debu pun.

Karena heran diam-diam ia memberi tahu kepada Thian-ih, segera mereka mencari dan menggeledah seluruh perbekalan dan semua yang terbawa termasuk baju yang dipakainya, tapi kedua mutiara itu masih tidak diketemukan.

Hari kedua waktu berangkat, tanpa sengaja Thian-ih melihat Hong-gi masih mengenakan anting-anting, Thian-ih tertawa geli ujarnya: "Dik, coba lihat memang kau ini terlalu ceroboh, sudah berpakaian laki-laki tapi tidak mencopot anting-anting, pasti semua orang yang melihatmu akan terheran-heran." Hong-gi terkikik geli juga, cepat ia tanggalkan kedua anting-antingnya, waktu ditimang-timang ia menjadi heran dan mengawasi kedua anting-antingnya itu dengan kesima, serunya kejut: "Koko, lihatlah, bukankah ini kedua butir....................." sadar telah kelepasan omong cepat-cepat ia telan kata-kata selanjutnya.

Thian-ih mengulur tangan menyambuti, memang kedua butir mutiara mestika itulah yang telah diporotkan menjadi permata kedua anting-anting itu.

Diam-diam ia heran dan curiga.

Terang kalau kedua butir mutiara itu telah diserahkan kepada Lim Han, lalu siapa pula yang mengembalikan dan diganti dengan permata anting-anting Hong-gi.

Siapakah yang telah berbuat demikian usil" Mungkinkah si baju perak yang misterius itu, kalau benar dia lalu apa lagi maksud tujuannya " Kini setelah dapat menemukan kedua mutiara mestika ini, dirinya sudah kadung menjadi pelarian, bagaimana juga tak mungkin menyerahkannya ke kota raja.

Terpaksa setelah kembali dari Kanglam, barulah dititipkan orang untuk menolong Lim Han dari penjara.

Hari itu mereka sampai di Yang-ciu, terpaut dari markas besar Ho-bwepang tidak jauh lagi, karena terburu nafsu melanjutkan perjalanan Thian-ih kehilangan kesempatan untuk menginap, kini hari sudah hampir petang, mereka masih dipertengahan jalan, entah adakah tempat penginapan di depan sana.

Untung sepanjang jalanan ini agak sepi, mereka dapat membedal kuda secepat terbang.

Sepeminuman teh kemudian dari kejauhan tampak disebelah kiri jalan didepan sana pintu gerbang sebuah perkampungan, cepat-cepat mereka keprak kuda menuju kesana.

Pintu gerbang ditutup rapat, segera Thian-ih maju mengetok pintu dan minta menginap satu malam.

Sipenjaga pintu segera berlari masuk memberi lapor.

Sambil menunggu Thian-ih angkat kepala dilihatnya diatas pintu gerbang terpancang papan nama besar yang bertuliskan empat huruf emas yang gede-gede, samar-samar dikeremangan malam itu ia membaca "Hong-kiam-san-cheng'' empat huruf tulisan kuno.

Thian-ih terkejut, serunya: "Ternyata perkampungannya Kwi-loya !" Hong-gi tidak tahu siapakah Kwi-loyacu itu.

Maka Thian-ih menerangkan, Kwi-loyacu ini bernama Kwi Chun, semasa mudanya bekerja sebagai Popiau pada suatu perusahaan expedisi di Kanglam, namanya sudah menggetarkan kalangan Persilatan, pedang panjang dan senjata rahasia yang dinamakan buntut kalajengking belum pernah menemui tandingannya, selama tigapuluh tahun belum pernah terkalahkan, tak heran perusahaannya itu sedemikian besar sampai selatan dan utara sungai besar, relasinya tersebar dimana-mana, maka dikalangan persilatan dia diangkat sebagai ketua dari organisasi expedisi diseluruh daerah Kanglam, karena mengagumi kepandaiannya itu para sahabatnya memberi julukan Thi-piat-kim-liong (naga mas berpunggung besi).

Pada usia enampuluh tahun Kwi Chun menanggalkan pedang mengundurkan diri dari dunia persilatan, secara besar-besaran ia umumkan pengunduran dirinya ini kepada semua golongan dan aliran silat seluruh negeri, bahwa untuk selanjutnya dia tidak akan turut campur lagi segala urusan tetek bengek dunia persilatan.

Sudahlah jamak bagi kaum persilatan yang hidup dengan sesuap nasi dari penghasilan mengantar barang menanam permusuhan dengan para penjahat, dan akhirnya mereka pasti mengalami banyak keributan dan hidup tidak tentram pada hari tuanya.

Apalagi seperti Kwi Chun yang namanya sedemikian disanjung puji sebagai tokoh yang diagungkan, maka pengunduran dirinya itu dianggap tepat dan cerdik.

Tengah Thian-ih memberi keterangan, penjaga pintu sudah keluar lagi dengan seorang laki-laki, tapi bukan tuan rumah sendiri.

Orang ini menyilahkan Thian-ih berdua masuk.

Tampak Thi-piat-kim-liong tengah menanti kedatangannya di ruang tamu yang besar.

Setelah saling memperkenalkan diri, dengan seksama Kwi Chun amat-amati Hong-gi yang berada disamping Thian-ih.

Segera Thian-ih memperkenalkan: "Ini adalah Cu Bing-cu-hiante !" Takut konangan penyamarannya, Hong-gi segera membungkuk tubuh tanpa membuka suara.

Secara lazimnya Thian-ih mengucapkan terima kasih akan kesediaan tuan rumah yang sudi menerima kedatangannya.

Kwi Chun hanya ganda tersenyum saja sambil suruh pelayan menyediakan kamar dan segala keperluan.

Meskipun dengan ramah ia layani tamunya tapi air mukanya mengunjuk adanya ganjalan hati yang tengah merisaukan benaknya, keningnya selalu berkerut seakan ada sesuatu urusan besar yang tengah dipikirkan.

Selagi mereka asyik bicara seorang dayang tiba-tiba melaporkan: "Loya, nona jatuh pingsan lagi, Hujin minta Loya segera masuk." Kwi Chun mengulapkan tangannya, katanya tidak sabaran, "Katakan kepada Hujin suruh dia menyiapkan segala keperluan.

Buat apa aku mesti masuk melihat dia meninggal secara mengenaskan begitu!" Thian-ih segera berdiri memberi hormat serta ujarnya: "Kami tidak tahu kalau nona sedang sakit, maaf kalau kedatangan kita ini terlalu mengganggu, silakan paman masuk aku dan Cu-hiante hanya menginap semalam saja, besok pagi-pagi segera melanjutkan perjalanan.'' Kwi Chun menghela napas panjang, katanya: "Thio hiantit, kalau tidak kujelaskan sikap Lohu yang tidak genah ini pasti menimbulkan salah paham kalian dianggap aku sengaja menyepelekan kalian.'' Selang sesaat berkatalah Kwi Chun lebih jauh sambil tertawa getir: "Lohu sudah berusia enampuluh tahun dan hanya dikaruniai seorang anak perempuan, sungguh tak beruntung seminggu yang lalu dia terserang penyakit aneh yang susah diobati, jiwanya sudah diambang pintu akhirat, hatiku menjadi risau........" Tak tertahan lagi segera Thian-ih bertanya: "Entah nona terserang penyakit apa, masa tiada obat mujarab untuk mengobatinya." Sahut Thi-piat-kim-liong menghela napas: "Entah aku ini dulu pernah berbuat dosa apa, penyakitnya itu adalah bisul berbisa.

Menurut kata tabib yang memeriksa bahwa selain ada Le-hwe-po-cu yang dapat menyedot bisa dan menyembuhkan luka, kasiatnya sangat mujarab tiada obat lain lagi.

Post a Comment