Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 34

Memuat...

Terlihat olehnya seorang cantik bak bidadari nan ayu molek tengah berdiri tersenyum mesra dalam kamar, dia tak lain tak bukan adalah tambatan hatinya Li Hong-gi.

Setelah tertegun sejenak, baru Thian-ih menghela napas lega, siapapun menduga seorang gadis lemah dari keluarga orang berada yang biasanya dipingit dapat melakukan perjalanan jauh dengan selamat sampai dirumahnya.

Sudah tentu enso serta seluruh penghuni rumah ini sangat setuju bila jodoh yang setimpal ini terangkap, kalau dirinya menolak lagi pasti ensonya marah.

Memang tindakan Li Hong-gi sangat tepat, sampai Thian-ih termangu sekian lama didepan pintu, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Para dayang sudah menyingkir sambil mengikik geli, Hong-gi lantas berlenggong mendekati dan menarik tangannya, katanya mesra: "Pergilah mandi dan tukar pakaian !

Lihatlah begitu kotor tubuhmu itu !" Wajah nan ayu penuh seri serta ucapan yang kasih sayang membuat Thian-ih terpesona sekian lama, pikirannya bagai melayang di-awang-awang.

Kata-kata yang sudah disiapkan hendak menegor tindakan orang yang ceroboh itu tak kuasa lagi terucapkan.

Dengan tatapan tajam Hong-gi berkata lagi: "Waktu masih panjang, nanti setelah kau membersihkan diri kita bicara lagi." Naga-naganya ia sudah dapat menebak isi hati Thian-ih yg hendak menegor tindakannya karena pergi tanpa pamit itu, maka suaranya mengandung kegetiran hati yang harus dikasihani.

Keruan Thian-ih menjadi tak tega dan menunduk tak berani beradu pandangan dengan sorot mesra yang penuh perasaan itu.

Tanpa berani membangkang lagi segera ia mengundurkan diri membersihkan diri dan ganti pakaian, susah dirasakan senang atau bersyukurkah hatinya ini.

Malam itu, Liu-si mengundang Thian-ih menghadap ke kamar semadinya, dalam kesempatan ini Thian-ih menuturkan pengalaman selama ini.

Selama mendengarkan Liu-si berulang kali bersabda Budha setelah cerita Thian-ih habis, cepat-cepat ia berkata: "Ji-siok, untuk selanjutnya tak kuijinkan kau keluar menempuh bahaya lagi, permusuhan lebih gampang diikat daripada dilerai, seumpama kau dapat membunuh musuh engkohmu juga tidak bisa hidup kembali.

Sejak kematian engkohmu, keluarga Thio kita tinggal kau seorang, kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sebagai orang yang lebih lanjut usia tidak memberikan petuah dan nasehat serta bertanggung jawab, kalau aku mati rasanya malu aku menemui leluhur kita di alam baka........." Thian-ih tunduk tak berani bersuara, dengan cermat ia perhatikan petuah dan nasehat ensonya.

Diam-diam ia membatin, enso pasti membantu Hong-gi untuk membujuk aku merangkap perjodohan ini.

Betul juga akhirnya Liu-si buka bicara dengan lebih ramah dan lemah lembut: "Betapa besar dan luhur cinta nona Li kepadamu, lahir dari keluarga besar dan kenamaan lagi, bisa membaca dan kenal sopan santun pula, wajahnya sedemikian cantik baru kali ini aku melihat gadis cantik begitu rupa seumur hidup ini.

Wataknya lemah lembut dan supel lagi, sejak kedatangannya seisi rumah ini menjadi bertambah semarak dan riang gembira, semua hormat dan menghargai sikapnya yang bajik itu.

Orang yang serba pandai seperti dia ini, Ji-siok mengapa kau masih rela hendak menyerahkannya kepada Nyo-kongcu apa segala"......" Kini suaranya mengandung penyesalan dan marah, tak tertahan lagi ia menegor penuh dongkol.

"Sungguh aku tidak habis mengerti mengapa kau main sungkan dan bimbang, ceroboh lagi.........." Mana Thian-ih berani main debat, sejak kecil ia diasuh dan dibesarkan oleh Liu-si dipandangnya sebagai orang tuanya sendiri, apalagi ensonya ini sejak lama sudah mengasingkan diri dari dunia ramai umumnya, pasti takkan mengerti tentang segala hal ihwal dunia persilatan, ada lebih baik bungkam saja tanpa banyak komentar.

Dua hari lamanya Thian-ih mengeram diri dalam rumah tanpa pergi ke-mana-mana.

Hong-gi melayani segala keperluannya dengan penuh kasih sayang dan mesra.

Seorang diri tidur di kamar buku merasakan kenikmatan hidup yang serba lengkap dan rapi dibawah asuhan pembantu rumah tangganya, semua kemewahan ini selamanya belum pernah terasakan dalam kelananya di perantauan.

Akan tetapi semangat kejantanannya untuk menuntut balas masih berkobar dan bergelora dalam dadanya.

Kelima orang berkedok dan sibaju perak adalah musuh-musuh yang setiap saat selalu terbayang dalam ingatannya, penasaran rasanya sebelum rasa dendam ini terlampias.

Terkenang akan para kawan yang telah mati seperjoangan, kangen pula pada para sahabat yang masih hidup.

Teringat betapa bajik dan luhur So Tiong dan adiknya, Hi Si-ing murid keponakan yang telah menjadi gila, serta Ciu Hou yang menghilang tak diketahui mati hidupnya dan Nyo Hway-giok yang terluka berat ditolong orang entah dibawa kemana, setiap terbayang wajah-wajah mereka ini seolah-olah terasa mereka tengah mendesak dan menganjurkan supaya dirinya segera meninggalkan kampung halaman berkelana di Kangouw mencari musuh-musuh besarnya.

Sebaliknya kecantikan, kelemah lembutan Li Hong-gi yang penuh kasih sayang itu laksana sesuatu kekuatan yang membelenggu sanubarinya sehingga tak kuasa dirinya melepaskan diri, dia berharap supaya Thian-ih selalu mendampingi disisinya, tak memikirkan lagi soal menuntut balas dan segala urusan tetek-bengek yang membahayakan jiwa.

Sudah tentu Thian-ih tidak rela dibelenggu ketat demikian, tapi setiap kali bentrok dalam pandangan yang penuh kasih mesra itu luluhlah hatinya, mulutnya terbungkam tak kuasa mencurahkan isi hatinya untuk mengabaikan maksud baik orang.

Masih teringat oleh Thian-ih bahwa Hong-gi dulu pernah menghilang secara misterius, tapi akhirnya dibawa orang kembali lagi.

Dan kejadian yang terakhir si baju perak itu juga datang mengunjunginya.

Naga-naganya semua peristiwa itu terikat dan berhubungan erat satu sama lain, sedikit banyak Li Hong-gi pasti mengetahui seluk beluk kejadian itu.

Bagaimana pengalamannya setelah dirinya diculik, inilah hal yang perlu segera diketahui oleh Thian-ih.

Maka secara halus ia mencari akal untuk mengorek keterangannya.

Ternyata Li Hong-gi juga cerdik, tanyanya tertawa: "Mengapa sedemikian mendetail kau menanyakan kejadian itu" Kau curiga aku mengalami sesuatu yang merugikan diriku" Ketahuilah selain merasa ketakutan Li Hong-gi tidak kurang suatu apa." Memang lazimnya suatu penculikan kalau tidak minta tebusan yang tinggi nilainya pasti hendak merusak kehormatan sang gadis yang diculik itu.

Justru pengalaman dirinya ini sangat janggal dan aneh.

Bukan saja Li Hong-gi tidak kehilangan perhiasannya, badannya juga masih suci bersih.

Lantas apakah tujuannya menculik dirinya ini sampai sekarang masih belum dapat diketahui.

Thian-ih mendengar sambil mengawasi dengan mendelong.

Keruan dalam anggapan Hong-gi bahwa Thian-ih sudah salah sangka bahwa dirinya telah diperkosa, maka sambil menunduk malu-malu ia mencubit lengan Thian-ih sambil mencemoohkan pandangannya yang keliru itu.

Melihat orang salah paham Thian-ih tertawa geli, cepat-cepat ia memberikan keterangan, maksudnya hanya ingin mengetahui tentang rupa dan bentuk orang-orang yang telah menculik dan mengantarnya pulang itu, mungkin pula mendengar atau melihat sesuatu tanda khas serta melihat suatu kejadian apa" Tutur Hong-gi penuh kenangan: "Waktu aku diculik dulu pada tengah malam yang buta rata.

Tahu-tahu seorang berkedok yang mengenakan pakaian putih perak kemilau menerjang masuk kedalam kamarnya, tangannya membekal Loh-kim Pokiam.

Begitu tiba dia lantas mengancam dengan pedangnya terus menjejalkan sesuatu benda kedalam mulutku terus dimasukkan kedalam karung besar.

Diantara sadar tak sadar Hong-gi merasakan dirinya dibawa menempuh perjalanan yang sangat jauh, saking ketakutan hingga ia jatuh pingsan dan tak tahu apa yang dialami selanjutnya dan kemana dirinya telah dibawa" Akhirnya pada keesokan malamnya ia ditolong orang dan siuman dari pingsannya, orang-orang ini memberi makan dan minum pada dirinya, sikapnya halus dan membujuk dirinya supaya tidak takut karena segera akan diantar pulang.

Mereka mengenakan seragam hitam berjumlah lima orang, salah seorang yg bersuara serak agaknya menjadi pemimpin karena empat yang lain sangat tunduk dan mendengar segala perintahnya.

Lima orang seragam hitam berkedok, bukankah mereka itu algojo-algojo pembunuh engkohnya" Hampir saja Thian-ih melonjak kaget.

Menurut penjelasan Hong-gi bahwa kelima orang itu tidak mau memperkenalkan diri, hanya dalam perjalanan pulang itu secara kebetulan ia mendengar mereka tengah berunding hendak pergi ke Kanglam mencari sebuah perkumpulan yang bernama Ho-bwe-pang.

Ho-bwe-pang.

Thian-ih masih ingat waktu engkohnya baru saja wafat Ho-bwe-pang Pangcu Kun-suseng Liok Peking juga datang melawat.

Ia adalah sahabat kental engkohnya betapapun takkan mungkin mencelakai jiwanya, urusan ini benar-benar agak janggal dan tak masuk akal.

Thian-ih ingin selekasnya pergi ke Kanglam mencari tahu di Ho-bwe-pang, dia beritahu maksudnya ini kepada Hong-gi, sudah tentu Hong-gi tidak rela dia pergi menempuh bahaya tapi melihat Thian-ih bertekad bulat susah dibujuk akhirnya ia hendak ikut juga.

Kini Thian-ih sendiri yang serba runyam, perjalanan sedemikian jauh penuh bahaya lagi mana mungkin ia ajak Hong-gi yang berbadan lemah kaum perempuan yang ayu molek lagi, bagaimana juga ia tidak menyetujui.

Begitulah karena masing-masing mengukuhi pendapatnya tanpa ada penyelesaian yang konkrit, sampai pemberangkatan Thian-ih tertunda sekian lama.

Pada hari ketiga, mendadak ada puluhan penunggang kuda yang mendatangi Thio-keh-cheng, puluhan penunggangnya adalah para Bhayangkari dari kota raja dipimpin oleh Hwe-poan-koan Siu Hoa.

Siu Hoa adalah sahabat terdekat Lim Han merupakan salah seorang berkepandaian tinggi dari kesatuan Bhayangkara itu.

Tersipu-sipu Thian-ih keluar menyambut.

Dasar Hwe-poan-koan Siu Hoa ini orang berangasan begitu melihat Thian-ih segera ia menjengek sambil tertawa dingin, tanpa turun dari atas kudanya segera ia menyuruh Thian-ih: "Ji-chengcu, segera kau ikut kami pergi." Thian-ih tertegun, tanyanya: "Ada terjadi apa lagi dikota raja?" Siu Hoa mendengus, serunya gusar: "Thio Thian-ih, kau masih berpura-pura" Apa yang kau perbuat pasti hatimu tahu sendiri.

Post a Comment