Thian-ih sudah turun dari atas kuda dan mendahului membuka jalan di depan, ditimpah sinar matahari sepasang tongkat di tangannya berkilat menyolok mata.
Diluar dugaan sebegitu jauh mereka masih dapat berjalan terus seenaknya melewati lembah itu tanpa adanya gangguan sedikitpun.
Lega dan heran hati Thian-ih, tanpa pikir panjang lagi diperintahkan supaya kereta berjalan cepat.
Malam itu mereka menginap di sebuah hotel di pinggir danau Se-ting, tengah mereka makan minum dalam kamar, seorang pelayan masuk menyampaikan sebuah kotak kecil katanya pemberian dari seseorang.
Waktu dibuka didalam kotak kecil itu terdapat secarik kertas yang penuh tulisan berbunyi: "Disampaikan kepada tuan Pek-bian-kui Ho Han dari Mo-san.
Malam ini diatas sebuah perahu di pinggir danau Se-ting, kami adakan perjamuan untuk menyambut kedatangan tuan, harap memberi muka dan sukalah datang." Salam hormat dari Tok Bok-san dan Go Hong.
Bercekat hati Thian-ih waktu melihat kedua nama ini.
Maklumlah Tok Bok-san dan Go Hong ini merupakan gembong-gembong penjahat dari kalangan hitam di daerah Ho-pak dan Kam-siok yang sudah sangat kenamaan.
Tok Bok-san terkenal karena ilmu To-sa-ciang dan ilmu weduknya.
Sedang julukan Go Hong adalah Hun-tiap (kupu jelita) dia lihay dalam ilmu ringan tubuh, asalnya seorang maling terbang.
Bersama Tok Bok-san mereka berdua mengangkat diri dengan julukan Se-ting-siang-mo (dua gembong iblis dari Se-ting).
Sungguh tak nyana ditempat ini mereka harus berhadapan langsung dengan kedua gembong iblis ini.
Mungkin karena melihat senjata yang digembolnya itu mereka menyangka dirinya sebagai Pek-bian-kui Ho Han salah satu dari Mo-san-sam-kui.
Bukankah ini sangat kebetulan.
Hatinya menjadi gundah dan ragu-ragu, pergi atau tidak persoalan ini membuat hatinya susah mengambil keputusan, kalau tidak pergi nanti dianggap takut, kalau pergi lalu bagaimana dengan Li Hong-gi.
Melihat orang tepekur bingung, Li Hong-gi mengikik geli, katanya: "Koko siapakah yang mengirim surat itu?" Lalu ia bangkit mendekat serta menyambuti surat yang diangsurkan Thian-ih kepadanya, setelah membaca surat itu, Li Hong-gi tersenyum katanya: "Tok Bok-san, Go Hong.
Orang macam apakah mereka itu" Mereka menyangka kau adalah Ho Han, mungkin karena memandang nama Ho Han itu jadi mereka tidak turun tangan di tengah jalan.
Apa yang mereka kehendaki" Apakah mereka hendak merampok kita?" "Tok Bok-san dan Go Hong adalah dua gembong penjahat yang terkenal di kalangan hitam.
Kalau Tok Bok-san semula sebagai penjahat tunggal besar, sedang Go Hong adalah maling terbang yang ditakuti.........." Mendengar keterangan ini berdetak jantung Li Hong-gi, sekarang ia merasa takut, terang mereka tengah mengincar kedua mutiara yang dibawanya itu, maka katanya gugup: "Koko, para penjahat itu pasti banyak kaki tangannya, betapapun kita takkan kuat menahan kerubutan mereka.
Lebih baik jangan hiraukan mereka, tinggal pergi saja secara diam-diam." Sebenarnya Thian-ih tidak setuju memperlihatkan kelemahan, namun demi keselamatan Hong-gi mau tak mau ia harus berpikir panjang, memang terpaksa mereka harus menyingkir sementara.
Malam itu juga secara diam-diam mereka lanjutkan perjalanan.
Waktu terang tanah mereka sudah puluhan li jauhnya dari danau Se-ting, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki kuda yang riuh rendah di belakang mereka, segerombolan orang tengah mengejar tiba dengan kencang.
Terang tak mungkin lagi mereka dapat menyingkir dari kejaran ini, terpaksa Thian-ih hentikan kereta di pinggir hutan menunggu kedatangan mereka sambil menenteng kedua tongkat pendeknya dengan sikap gagah.
Para pengejar sudah semakin dekat, dibawah sinar matahari pagi yang cerlang cemerlang terlihat rombongan pengejar ini terdiri dari dua puluhan orang penunggang kuda, dua ekor yang terdepan tinggi besar penunggangnya juga bertubuh kekar, salah seorang berwajah putih cakap.
Begitu dekat segera si tinggi kekar itu menegor kepada Thian-ih: "Ho-lotoa !
Kau juga seorang gagah, mengapa tidak memberi muka terus tinggal ngeloyor pergi begitu saja, terhitung apa perbuatanmu ini" Memandang rendah Se-ting-siang-mo agaknya?" Sitinggi besar ini bukan lain adalah Tok-sa-ciang To Bok-san.
Belum sempat Thian-ih membuka suara kedua penunggang kuda itu sudah melesat tiba dihadapannya, terdengar sicakap putih itu menimbrung: "Toako, dilihat dari usia orang ini tidak mirip dengan Ho-lotoa !" Tok-sa-ciang atau pukulan pasir beracun To Bok-san agak tercengang mendengar seruan saudaranya, dengan cermat segera ia amat-amati wajah Thian-ih, memang benar tidak mirip dengan bentuk wajah Ho Han yang pernah didengarnya dulu.
Segera ia membentak gusar: "Bedebah, kukira setan wajah putih yang tulen betul-betul telah datang tak tahunya hanya barang tiruan belaka.
Bocah keparat, siapa kau" Mengapa kau menggembol senjata istimewa dari Mo-san-sam-kui?" Thian-ih menahan gejolak hatinya, sahutnya lantang: "Cayhe Sam-ho Thio Thian-ih!" Tanya To Bok-san mengerut kening: "Apa hubunganmu dengan Seng-po-sat Thio Thian-ki dari Thio-keh-cheng di Shoatang?" "Itulah mendiang engkohku, baru sebulan yang lalu dia meninggal dunia................" Tak nyana sikap To Bok-san lantas berubah halus, katanya lemah lembut: "O, kiranya adalah Thio-jichengcu.
Sebenarnya kita juga sudah dengar tentang kabar buruk engkohmu itu, apa celaka kita sedang repot saat itu jadi tak sempat pergi melawat harap suka dimaafkan.
Ingin kami tanya pada Ji-chengcu apakah Pek-bian-kui telah kau bunuh?" "Untuk memperebutkan harta tak bernilai Mo-san-sam-kui, Kam-liang-chit-tongcu beserta Liong-gwa-hou-toang dan anak buahnya telah saling cakar dan bunuh di Kilam sampai akhirnya semua gugur bersama tanpa ketinggalan satupun yang hidup.
Senjata Pek-bian-kui ini secara kebetulan kutemukan................." "Jelasnya mereka gugur bersama karena memperebutkan dua butir mutiara mestika bukan" Kalau begitu tentu kedua butir mutiara itu telah terjatuh ditangan Ji-chengcu.................." "Toako," sela Hun-tiap si kupu jelita Go Hong dari samping.
"Buat apa kau main sungkan apa segala dengan bangsat ini.
Hud-sucia (rasul Budha, yang dimaksud disini adalah Thio Thian-ki) sudah mati, kita tiada hubungan apa-apa lagi dengan bocah ini, bekerja jangan kepalang tanggung bunuh sekalian bocah ini kan beres." Sekilas To Bok-san melerok ke arah Go Hong lalu katanya kepada Thian-ih: "Ji-chengcu, ketahuilah bahwa hubungan kita dengan engkohmu sangat akrab, kitapun tidak ingin membuat kesukaran terhadap kalian, untuk menghindarkan pertengkaran kuharap kau suka melulusi beberapa permintaan kita.
Pertama: mengenai kedua butir mutiara itu.
Mo-san-sam-kui, para Tongcu dari Kam-liang-pay serta Liong-gwa-hou-tiang dengan anak buahnya semua sudah mampus karena memperebutkan kedua mutiara itu, benda-benda berharga yang membawa sial dan bencana ini lebih baik jangan selalu kau kangkangi saja, demi keselamatan dan ketentraman hidupmu, aku memberanikan diri mohon kepada Ji-chengcu untuk meninggalkan saja kedua benda bertuah itu kepada kita.
Hal kedua tentang gadis dalam kereta yang kau kawal itu.
Harap diketahui bahwa adikku yang berjuluk Kupu jelita Go Hong sampai setua ini masih belum menikah, tentang nama dan kedudukannya sudah cukup tenar dan disegani di kalangan Kangouw.
Waktu melihat gadis dalam kereta itu, ai mungkin sudah takdir dan ada jodoh, selintas pandang saja dia lantas jatuh cinta, kuharap....................." "Stop !" mendadak Thian-ih menghardik dengan murka, kalau mau minta mutiara sih mungkin masih dapat dirundingkan, tak nyana sedemikian besar nyali penjahat ini serta kurangajar berani mengincar pula adik Hong-gi, keruan bukan kepalang gusar hatinya, semprotnya: "Kalian ini memang bangsa rendah yang hina dina, tak perlu banyak mulut lagi, tak mungkin permintaan kalian kululuskan !" Seketika berubah air muka To Bok-san, tidak ketinggalan Go Hong pun berjingkrak gusar, tantangnya sambil membolang-balingkan sepasang pedangnya: "Orang she Thio, kalau kau tidak tinggalkan perempuan jelita itu, biar pedang tuan besarmu ini menghabisi jiwamu." Sekali enjot ringan sekali Thian-ih loncat turun dari tunggangannya, jengeknya dingin: "Baik, mari maju ingin aku berkenalan dengan kepandaian hebat manusia bejat macammu ini !" terdengar kedua tongkat pendeknya berdenting, tanpa banyak cakap lagi segera ia mendahului turun tangan, kedua tongkatnya dibagi dua jurusan mengetok kepala dan menjojoh ulu hati, sekaligus ia lancarkan serangan mematikan !
Tapi ternyata kepandaian Go Hong ini juga tidak lemah, dengan sengit ia tangkis dan balas menyerang, sinar pedangnya berkeredep kian kemari berpetakan seperti kuntum bunga.
Dalam sekejap mata tujuh delapan jurus telah berlalu.
Sambil bersilat Thian-ih perhatikan juga kondisi pihak musuh, dilihatnya gerak gerik Kupu jelita Go Hong ini memang serasi dengan julukannya, bukan saja lincah tapi juga gesit serta tangkas sekali, ternyata Ginkangnya lumayan.
Tapi ilmu pedangnya biasa saja tiada sesuatu tipu-tipu ilmu pedangnya yang perlu diketengahkan.
Legalah hatinya, pikirnya: penjahat macam dia ini kalau dibiarkan hidup terus hanya mengotori dunia dan menimbulkan bencana bagi yang lemah, terpaksa aku harus melenyapkan duri dan sumber bencana yang membahayakan itu, paling tidak juga harus dibuat cacat supaya tidak dapat beroperasi lagi.