Bahwa kuburan Li Hong-gi telah bobol jenazahnya juga hilang, malah di luar dan didalam kuburannya bergelimpangan mayat-mayat manusia yang mengerikan keadaannya, peristiwa besar yang menggemparkan seluruh huni kota Ki-lam ini seketika membuat Li-tihu marah mencak-mencak dan sedih pula, segera ia perintahkan menutup seluruh pintu kota dan mengadakan penjagaan serta penggeledahan serempak yang keras dan ketat.
Li Hong-gi sudah bertekad bulat mengikuti Thian-ih kemana dia pergi seumpama istri mengikuti suami layaknya, sudah tentu tidak ingin bertemu lagi dengan ayah-bundanya, bergegas mereka berkemas sekadarnya terus berangkat.
Untung Ginkang Thian-ih sudah mencapai taraf yang dapat dibanggakan, malam itu dengan mudah mereka melompati tembok kota terus merat keluar kota.
Menurut tafsiran Thian-ih tentu Nyo Hway-giok sudah kembali kekota raja, maka disewanya sebuah kereta untuk Li Hong-gi sedang dirinya menunggang seekor kuda terus langsung menuju ke kota raja.
Takut ayah-bunda berkuatir dan banyak pikiran, sebelum berangkat Li Hong-gi menulis sepucuk surat yang antara lain isinya menerangkan segala peristiwa yang telah terjadi diluar kuburan serta pengalaman dirinya sendiri, diterangkan pula tentang Nyo Hway-giok yang pergi mengejar jejak penjahat disaat dirinya meregang jiwa dan hampir menemui ajalnya, untung Thio-jikongcu yang sudah dikenal itu datang tepat pada waktunya memberi pertolongan.
Melihat keadaan dirinya yang menderita tanpa hiraukan pantangan antara sentuhan badan laki dan perempuan, dia mengorbankan tenaga murninya untuk membantu dan menyembuhkan dirinya, karena sudah ketelanjur maka anak tidak menyesal dan sudah bertekad untuk mendampinginya seumur hidup sebagai suami istri.
Seharusnya untuk itu mereka harus minta restu dan bersujud dihadapan para orang tua, tapi mengingat situasi yang masih tegang dan tidak aman bukan mustahil para penjahat akan turun tangan lagi, maka terpaksa dalam sementara waktu ini dia harus mengikuti Thio Thian-ih mengumpat ke tempat yang jauh dan aman.
Keadaan ini adalah terpaksa diharap ayah bunda suka memaafkan dan jangan banyak pikiran, dibawah perlindungan Thio Thian-ih yang berkepandaian tinggi pasti keselamatan jiwanya dapat terjamin.
Kelak kalau sudah aman dan tenteram anak pasti segera pulang keharibaan ayah bunda.
Tentang perkawinan dengan keluarga Nyo diminta ayah suka membatalkan saja.
Surat itu tertanda atas nama Li Hong-gi bersama Thio Thian-ih sebagai menantu.
Setelah selesai menulis surat itu Li Hong-gi angsurkan kepada Thian-ih.
Tangan Thian-ih gemetar waktu membaca surat itu, hatinya kejut dan girang serta menyesal dan gugup pula, katanya tergagap: "Adik Hong-gi, mana bisa begini, mana bisa begini !" Mata Li Hong-gi merah hampir menangis, sahutnya: "Ko-ko, kita sudah bersentuhan badan walaupun belum melampaui batas hubungan, betapapun hatiku sudah bulat tidak menikah dengan orang lain......." Thian-ih semakin gugup, ujarnya: "Adik Hong-gi, mari kita mencari Nyo Hway-giok untuk menerangkan hal ini"." "Tidak, tidak bukan menerangkan tapi adalah suatu pernyataan.
Nanti kalau sudah bertemu biar aku yang menjelaskan kepada dia tentang apa yang telah terjadi sebenarnya, akan kuminta dia mencari jodoh lain"." sekilas melirik kearah Thian-ih, dilihatnya Thian-ih tengah menggelengkan kepala, hatinya semakin mangkel dan serunya marah: "Thian-ih, apa kau tidak suka kepadaku" Karena aku seorang lemah dan tidak cocok menjadi pasangan seorang gagah perwira ?" "Bukan, bukan begitu adik Hong-gi, betapa jelita dan agung wajah serta tubuhmu ini, seribu Thian-ih juga belum dapat memadai, bukan aku tidak suka kepada kau, soalnya.......eh, sebenarnya aku menyukai kau......" "Ai, naga-naganya kau sudah punya tambatan hati " Apakah So-cici yang datang bersama kau malam itu?" Sudah tentu So Hoan kalah jauh dibanding sama Hong-gi, walaupun sikap So Hoan sangat baik dan simpatik terhadapnya, tapi selama itu belum pernah menyatakan sikap apa-apa kepadanya, maka segera sahutnya: "Bukan, tidak.
Aku punya pilihan hati apa?" Hong-gi menghela napas lega diulurkannya tangan menggenggam tangan Thian-ih, ujarnya lemah lembut: "Thian-ih, jadi kau belum punya pilihan hati dan menyukai aku pula, itulah bagus sekali......." sikapnya mesra dan aleman sekali.
Thian-ih kewalahan terpaksa dengan lemah lembut ia membujuk dengan kata-kata manis untuk mencari dan menemui Nyo Hway-giok dulu serta menjelaskan kepadanya supaya tidak menimbulkan salah paham, tentang urusan perjodohan ini biarlah kelak diputuskan lagi.
Melihat orang demikian kukuh Hong-gi agak marah dan jengkel namun tak enak merengek-rengek terus.
Surat itu dimasukkan pos ditengah perjalanan, sepanjang jalan Thian-ih mengiringi disamping kereta menunggang seekor kuda belang, setelah melewati sungai besar, Hong-gi minta kepada Thian-ih untuk membelikan pakaian perempuan, didalam kereta itulah sejak hari itu ia mengenakan pakaian perempuan lagi.
Tengah hari itu mereka tengah menempuh jalan pegunungan yang berdebu, karena hawa sangat panas tanpa sadar Li Hong-gi menyingkap tenda kereta, dan secara kebetulan sikusir kereta berpaling kebelakang, dilihatnja pemuda yang ganteng dibelakangnya itu mendadak berubah wajah menjadi seorang perempuan jelita yang ayu rupawan, saking terperanjat sikusir sampai kesima, mulut terpentang lebar tanpa dapat mengeluarkan suara.
Untuk menghindari perhatian umum Thian-ih hanya membelikan pakaian kasaran sekadarnya saja, namun demikian masih tidak mengurangi kejelitaan dan keagungan sicantik ini meskipun berdandan secara sederhana semakin pandang malah terasa semakin menggiurkan, apalagi wajahnya selalu mengulum senyum yang manis mesra, Thian-ih semakin kesengsam dan girang serta kuatir, tanpa merasa ia menghela napas panjang.
Karena perjalanan sangat jauh dan hawa juga panas sekali, selalu duduk dalam tenda kereta membuat Li Hong-gi merasa kesal dan tak betah lagi, saban-saban ia menyingkap tenda untuk melihat pemandangan di sepanjang jalan serta mencari angin, sudah tentu wajahnya nan ayu jelita itu menarik banyak perhatian orang sepanjang jalan, setiap pasang mata pasti melotot kesima memandangi wajahnya yang cantik molek bak bunga mekar.
Sejak kecil Hong-gi hidup dalam lingkungan keluarga berpangkat, meskipun sering bepergian, namun selalu terkurung dalam usung tenda yang tertutup rapat, jangankan melihat atau dilihat orang, mengintippun menjadi pantangan keluarganya.
Belum pernah merasa sebebas yang dialami sekarang, hatinya semakin riang dan pikiran terasa terbuka setelah melihat kenyataan hidup dialam yang bebas ini.
Namun demikian lama kelamaan ia merasa bosan dan sebal juga karena setiap orang yang melihatnya selalu melotot kesima, akhirnya ia bertanya kepada Thian-ih: "Koko, lihatlah!
Mengapa mereka selalu melihat aku begitu rupa, apa tubuhku ini ada sesuatu yang istimewa?" Thian-ih tersenyum geli, gadis ini terlalu polos dan wajar, tidak disadari olehnya betapa cantik wajahnya itu, maka tidaklah heran kalau orang-orang terpesona melihatnya.
Tapi semua ini tidak dikatakan, hanya diminta ia menurunkan tenda kereta dan habis perkara.
Kalau tadi orang-orang memandang dengan pandangan terpesona kepada Li Hong-gi, sebaliknya sekarang orang-orang itu memandang kepada Thian-ih dengan sorot yang sirik dan iri, sudah tentu hal ini membuat Thian-ih merasa bangga dan senang dalam hati.
Insan manakah yang takkan terpesona melihat wajah ayu bak bidadari" Dasar putri orang berpangkat yang biasanya selalu dilayani oleh para dayang dan ditunggui, nyali Li Hong-gi menjadi sangat kecil, setiap kali menginap dipenginapan ia takut sendirian dalam sebuah kamar tersendiri, alasannya gampang saja, bagaimana kalau dirinya diculik orang pula" Toh tidak mungkin Thian-ih meronda diluar kamarnya semalam suntuk.
Kalau dipikir memang beralasan, bukan mustahil wajahnya yang cantik molek itu telah menimbulkan rasa dengki sementara para penjahat yang berniat kotor terhadapnya.
Maka untuk menjaga terjadinya segala kemungkinan terpaksa Thian-ih melulusi untuk menyewa sebuah kamar saja.
Sudah tentu dalam pandangan Manager penginapan dan orang-orang lain, mereka adalah suami istri, namun hakikatnya mereka masih menjaga baik norma-norma adat kesopanan, belum pernah berhubungan melewati batas kesusilaan.
Hari itu mereka menginap pula dalam sebuah penginapan, didalam kamar Thian-ih merasakan sesuatu keanehan, yaitu karena perjalanan yang jauh ini seluruh tubuhnya penuh kotoran debu, sebaliknya keadaan Li Hong-gi tetap bersih menyala bagai sekuntum bunga teratai putih mulus yang habis disiram hujan.
Sungguh Thian-ih tidak habis mengerti.
Agaknya Li Hong-gi mengetahui isi pertanyaan yang terkandung dalam benak Thian-ih, sambil tersenyum simpul dikeluarkan sebutir mutiara dari dalam balik bajunya serta katanya: "Koko, agaknya kau sudah melupakan kasiat Pi-seng-cu ini.
Sekarang terbukti dengan membekal mutiara ini sedikitpun tiada debu kotoran dalam kereta, berkali-kali kuminta kau duduk dalam kereta menemani aku, kau tetap berkukuh menunggang kuda saja, coba lihat betapa bodohnya kau ini tidak tahu kebaikan orang lain." Habis berkata wajahnya bersungut-sungut marah.
Tersipu-sipu Thian-ih minta maaf.
Esok harinya mereka melanjutkan perjalanan lagi.
Kali ini Hong-gi mengenakan mutiara itu sebagai perhiasan, sebuah untuk hiasan didepan dada sedang yang lain diatas sanggul kepalanya.
Ditimpa sinar matahari kedua mutiara itu memancarkan sinar berkilau yang menyilaukan pandangan semua orang.
Melihat betapa cemerlangnya kedua butir mutiara itu, semakin jauh Thian-ih semakin was-was dan kuatir, maka segera ia minta untuk menanggalkan kedua perhiasannya itu.
Betapa cantik jelitanya Li Hong-gi ini sudah menjadi buah pembicaraan orang-orang sepanjang jalan.
Apalagi mengenakan perhiasan yang harganya tak ternilai itu, keruan menimbulkan incaran dan ngiler para penjahat dari golongan hitam.
Benar juga setelah melewati Ho-kian lantas Thian-ih merasa bahwa sepanjang perjalanan ini mereka mulai dikuntit oleh berbagai rombongan orang-orang yang tidak dikenal.
Diam-diam ia menambah kewaspadaan, pedang panjangnya sudah patah sewaktu bertempur melawan Lok Sian tempo hari, maka waktu meninggalkan kuburan tak lupa ia ambil sepasang tongkat milik Pek-bian-kui sekedar untuk berjaga-jaga, kini tongkat itu dipersiapkan untuk menjaga segala kemungkinan.
Tidak jauh dari danau Se-ting, sang surya sudah doyong ke barat.
Mendadak jauh di depan sana terlihat membedal kencang dua ekor kuda yang tengah mendatangi, kedua penunggangnya berpakaian ringkas dan membekal senjata, setelah dekat kedua ekor kuda berpencar ke kanan kiri melesat lewat disamping kereta Hong-gi, tapi tidak jauh kemudian mendadak memutar balik lagi terus dipacu lagi kearah datangnya semula.
Tidak lama kemudian datang lagi dua penunggang kuda yang bertingkah laku serupa.
Sekarang baru Thian-ih sadar dan waspada, cepat-cepat disuruhnya Li Hong-gi menurunkan tenda, sepasang tongkat pendeknya disiapkan diatas kudanya.
Beberapa li kemudian di depan sana mereka harus melewati sebuah lembah yang bermulut sempit, lembah ini dilingkungi oleh tebing-tebing yang menjulang tinggi ke angkasa, samar-samar terlihat berkelebatnya bayangan beberapa orang di atas sana.
Si kusir kereta, agaknya mengenal gelagat, betapapun dia takut untuk meneruskan keretanya meski sudah dijanjikan bayaran berlipat ganda.
Terpaksa Thian-ih mengancam dengan kekerasan senjatanya, apa boleh buat si kusir menjalankan keretanya lagi dengan kebat-kebit.