Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 27

Memuat...

Tampak kedua mata Li Hong-gi berkedip-kedip sambil menyedot hawa panjang, tiba-tiba ia mengeluh lirih, terus roboh terlentang dan pingsan.

Cepat Thian-ih berlari keluar kuburan terus menggembor dan berkaok-kaok sekerasnya memanggil nama Nyo Hway-giok, namun sampai mulutnya kering masih belum tampak bayangan orang muncul.

Dari gugup Thian-ih menjadi gegetun dan mangkel, bukankah Nyo Hway-giok sendiri tadi pernah berkata bila si pemabuk tidak segera diberi pertolongan dalam jangka waktu sepeminuman teh maka dia akan segera mati kejang" Tapi sekian lama ini yang ditunggu dan diharapkan masih belum datang, sebagai seorang kesatria dapatkah dirinya berpeluk tangan melihat kematian orang di depan matanya tanpa memberi pertolongan sepenuhnya " Tapi betapapun cara pertolongan semacam itu sangat menyulitkan karena mereka harus bersentuhan tubuh sebagaimana lazimnya sebagai suami isteri, lalu bagaimana mungkin dirinya harus menggantikan orang yang berhak melakukan tugas itu" Karena kuatir cepat-cepat ia berlari masuk lagi, dilihatnya keadaan Li Hong-gi sangat payah, keningnya berkerut dalam sambil menggigit bibir kencang-kencang, agaknya sangat menderita dan menahan sakit, napas juga mulai memburu, tiba-tiba matanya terpentang dengan pandangan yang harus dikasihani, tapi mulutnya tak kuasa dipentang, hanya kedua tangannya mencengkram kencang baju di depan dadanya.

Pikiran Thian-ih tengah bertempur dengan batinnya, sang waktu tidak menanti orang, sampai sedemikian jauh masih belum kelihatan Nyo Hway-giok muncul.

Kini hanya dua jalan untuk dia bertindak: pertama secara kejam dan "tega hati tinggal pergi' begitu saja tanpa hiraukan mati hidup orang, kedua tanpa hiraukan adat istiadat atau sopan santun lazimnya segera memberi pertolongan, kalau ini benar-benar dilakukan itu berarti untuk selanjutnya Li Hong-gi sudah menjadi calon istrinya, karena tak mungkin lagi ia menikah dengan orang lain, tapi apakah dia rela " Apakah Nyo Hway-giok dapat dan mau memahami segala ini " Kaki tangan Li Hong-gi sudah mengejang, namun matanya masih menatap kearah Thian-ih dengan pandangan gusar dan kecewa, seakan sesalkan sikapnya yang ragu-ragu dan tak berani berlaku tegas.

Seketika tergetar sanubari Thian-ih, waktu sudah berlarut dirinya tak boleh berayal lagi untuk segera turun tangan, kalau tidak pasti yang menjadi korban akan memaki dan mengutuk dirinya yang hidup juga pasti menista dan mencercah kebodohannya, sampai saat itu bagaimana hidup dirinya selanjutnya, seumpama menyesal juga sudah kasep.

Maka tanpa ayal lagi cepat-cepat ia berlari menutup pintu kuburan memantek dan mengganjelnya dengan batu besar.

Waktu dirinya memburu balik lagi seluruh tubuh Li Hong-gi mulai gemetar dan dingin sekali, wajahnya juga sudah berubah pucat sampai hidung juga mengalirkan darah segar.

Cepat-cepat Thian-ih mengerahkan tenaga dan mengkonsentrasikan pikiran serta menghimpun semangat terus menyalurkan tenaga murninya melalui telapak tangan, tangan yang lain berbareng bekerja menutuk berbagai jalan darah penting yang menembus ke jantung dan otak serta menormalkan jalan darahnya.

Sepeminuman teh kemudian usahanya ini ternyata berhasil juga, tampak tubuh Li Hong-gi yang kejang dan gemetar itu sudah mulai berangsur baik, semakin besarlah tekad Thian-ih untuk menolong secara terbuka dan tidak kepalang tanggung menurut petunjuk yang pernah didengar dari ucapan Nyo Hway-giok itu.

Begitulah setelah jalan darah normal kembali rasa kejang juga telah hilang, perlahan-lahan Li Hong-gi mulai siuman, kedua matanya sedikit terbuka memandangi wajah Thian-ih meski malu-malu tapi sorot matanya tidak menunjukkan kekesalan hatinya, agaknya dia tidak sesalkan tindakan Thian-ih yang keterlaluan ini serta pasrah nasib saja.

Maklum badannya terasa sangat lemah dan terkulai melintang diatas tubuh Thian-ih, boleh dikata seluruh badannya rebah dalam pelukan Thian-ih yang kencang.

Lama kelamaan tenaga Li Hong-gi sudah mulai pulih sebagian, tubuhnya sudah dapat bergerak sedikit miring, tanpa malu-malu lagi ia pandang wajah Thian-ih dengan senyum simpul yang manis sekali, senyuman yang berarti bahwa Thian-ih sudah dianggapnya sebagai suami sendiri yang tengah berusaha memberi pertolongan kepada istrinya.

Entah sudah berselang berapa lama kemudian, tubuh Thian-ih sendiri juga sudah basah kuyup oleh keringat, waktu ia menghentikan saluran tenaganya sendiri dan pentang mata seketika jantungnya berdebar keras, maklum menghadapi si jelita yang rupawan malah bersentuh tubuh lagi tanpa mengenakan pakaian yang layak, tergugahlah hatinya dari keinginan terhadap perangsang yang membangkitkan daya kelakiannya, jantungnya seperti bertambah mendegup dan darahnya menggelora.

Untung sebelum ia kehilangan kesadarannya, didengarnya suara yang mencurigakan dari arah pintu sana.

Thian-ih terkejut dan pikirannya menjadi terang serta tergugahlah pikiran kotornya, keringat dingin mengalir diatas jidatnya.

Cepat-cepat ia bimbing tubuh Li Hong-gi lantas turun dari peti batu berkaca itu, tubuh Li Hong-gi masih sangat lemah belum kuat berdiri, terpaksa menggelendot di tubuh Thian-ih, dua pasang mata saling berpandangan, sesaat mereka kemekmek entah apa yang harus dikatakan.

Akhirnya Thian-ih membuka suara: "Nona Li, kuharap kau tidak salah paham, aku terpaksa bertindak sekasar ini untuk menolong jiwamu.........." Dengan sepasang matanya yang bening lembut Li Hong-gi memandangi wajahnya serta sahutnya merdu: "Mana bisa aku salahkan kau, kau sudah menolong jiwaku, berterima kasih saja sudah terlambat !" sedemikian merdu suaranya bagai kicau burung kenari, seketika hilanglah rasa kuatir rikuh serta risi Thian-ih, dilihatnya Li Hong-gi tengah mengulum senyum yang menggiurkan, sinar matanya membuat Thian-ih merasa lega dan badan terasa hangat .

Tanya Thian-ih penuh kasih sayang: "Nona Li, bagaimana perasaanmu?" "Seperti sedang mimpi saja," sahut Li Hong-gi lembut, "aku masih ingat kemaren malam aku berada dirumah sedang bermain catur dengan cici So, pada tengah malam Li-toaya datang memberikan secangkir arak kepadaku, arak itu sangat wangi dan hangat sampai aku merasa gerah dan mungkin terus jatuh mabuk tak ingat apa-apa lagi.

Saat apakah sekarang" Bagaimana aku bisa sampai disini" Tempat apakah ini?" Li Hong-gi melayangkan pandangannya ke seluruh pelosok ruang besar ini, melihat peti mati yang besar dan mewah itu, hatinya merasa ciut dan takut, tanpa merasa ia cekal kencang lengan Thian-ih, tanpa ragu-ragu lagi Thian-ihpun membimbingnya.

Hari sudah mulai terang tanah sebentar lagi pasti ada orang datang, untuk menghindarkan prasangka yang kurang baik, mereka harus segera meninggalkan kuburan ini.

Maka segera katanya: "Nona Li, segala hal ihwal kejadian ini tidak mudah dituturkan dalam waktu singkat, yang terpenting kita harus cepat-cepat tinggalkan tempat ini dulu." Sebelum tinggal pergi tak lupa oleh Thian-ih diambilnya kedua butir mutiara mestika yang menimbulkan bencana bagi sesama kaum persilatan itu.

Sambil menyerahkan kepada Li Hong-gi, Thian-ih berkata: "Apakah kau sudah merasa baik" Dapatkah berjalan sendiri?" "Sudah agak mendingan tapi kepalaku masih terasa pening." baru berapa langkah tiba-tiba ia mengeluh kesakitan karena kakinya menginjak batu kerikil tubuhpun sampai sempoyongan hampir roboh.

Lekas-lekas Thian-ih pegangi tubuhnya.

Dengan jengkel Li Hong-gi pegangi telapak kakinya sambil mengomel: "Tanpa mengenakan sepatu mana aku bisa berjalan." Apa boleh buat terpaksa Thian-ih harus menggendongnya untuk meninggalkan tempat itu.

Waktu sampai di ambang pintu dilihatnya pintu batu itu sudah sedikit terbuka dan kedua batu besar yang dibuat mengganjel juga sudah tergeser ke samping, terang kalau tadi sudah ada orang yang datang, dari suara lirih yang didengarnya tadi Thian-ih berkesimpulan kalau ringan tubuh orang itu pasti sangat tinggi, diam-diam ia sudah dapat menduga siapakah kiranya orang itu, semakin bertambahlah duka dan gelisah hatinya.

Saat mana tiada banyak tempo buat berpikir, cuaca sudah terang benderang untung belum ada orang datang, tersipu-sipu Thian-ih tinggal pergi sambil menggendong Li Hong-gi.

Maksud Thian-ih semula hendak mengantar Li Hong-gi pulang ke tempat ayahnya.

Tapi Li Hong-gi berkeras dan membandel tak mau pulang minta dibawa ke tempat lain untuk istirahat sambil mendengarkan cerita Thian-ih tentang pengalamannya selama ini.

Sepanjang jalan Thian-ih bercerita blak-blakan dengan ringkas jelas, lalu sambungnya: "Untuk menolong jiwamu terpaksa aku tidak hiraukan segala adat sopan santun lagi." Wajah Li Hong-gi berseri merah, sahutnya: "Thio-toako, bukan saja tidak salahkan kau malah aku harus berterima kasih kepadamu." Panggilan yang halus dan mesra ini membuat hati Thian-ih syur dan lega luar biasa, diangkatnya kepalanya serta bertanya keheranan: "He, kau masih ingat namaku?" Senyum Li Hong-gi menjadi-jadi bagai kuntum bunga mekar, sahutnya dengan suara halus: "Mengapa tidak ingat, kau adalah Thio-jichengcu, So cici pernah bercerita tentang dirimu, katanya kau pandai silat dan pintar sastra, aku.......aku tidak punya saudara ............bolehkah aku panggil kau engkoh saja?" Menghadapi sifat polos dan lincah ini terketuk perasaan Thian-ih, sahutnya: "Bagus, boleh saja, tapi......

tapi.........aku..................nona Li!" Li Hong-gi merengut, katanya aleman: "Jangan lagi kau panggil aku Nona Li apa segala, sedemikian baik kau terhadapku, kuingin kau menjadi engkohku !" "Baik, baiklah !

Tapi engkohmu ini kurang cocok dibanding kau.................." "Cocok saja.................." tukas Li Hong-gi sambil menatap tajam dengan kedua biji matanya yang bening dan cemerlang bagai bintang kejora.

"Kau sangat cocok menjadi engkohku." demikian sambungnya.

Thian-ih berpikir, cerdik dan pandai juga cara Hong-gi berpikir, tentu dia sudah pikirkan masa depannya.

Seumpama kejadian hari ini, bilamana kelak mereka tidak bisa sehidup semati, itu berarti mereka hanya sebagai kakak dan adik belaka jadi hubungan mereka masih erat dan dekat.

Karena pikirannya ini lapanglah dada Thian-ih.

Namun demikian terasa juga seakan dirinya telah kehilangan sesuatu apa yang membuat hatinya terasa kosong dan hampa.

Tengah ia terpekur dalam lamunannya tiba-tiba Li Hong-gi membuka kata: "Koko, perutku lapar mari kita pergi cari makanan!" Thian-ih bertanya bagaimana kalau mengantarnya pulang" Tak terduga Li Hong-gi balik bertanya apakah kalau dia pulang Thian-ih mau ikut serta dan selalu mendampinginya " Keruan Thian-ih menjadi serba salah dengan tegas ia tekankan bahwa ia harus mengembara untuk mencari jejak musuh besar pembunuh engkohnya, jadi tak mungkin berdiam menetap dirumah Li Hong-gi.

Li Hong-gi memperingatkan, kalau dirinya kehilangan perlindungan yang diandalkan bagaimana kalau dirinya diculik dan diracun orang lagi" Thian-ih menjadi serba sulit, jejak sibaju perak memang sangat misterius, betapapun Li Hong-gi sangat membutuhkan tenaganya, didesak sedemikian rupa Thian-ih menjadi rikuh dan tak enak hati serta menyatakan kekuatirannya.

Debat punya debat mereka masih belum dapat mengambil putusan konkrit, akhirnya Thian-ih membawanya ke sebuah penginapan, dimana Li Hong-gi minta supaya dibelikan seperangkat pakaian laki-laki untuk menyamar supaya tidak menimbulkan kecurigaan dan perhatian orang.

Post a Comment