Kita dapat hidup mengembara kemana kita suka, pesiar, bermain musik atau belajar membaca dan silat, bayangkan betapa senang dan bahagia hidup semacam itu, rasanya lebih menggembirakan dari pada hidup dilingkungan pemerintahan yang terlalu membosankan dengan ikatan dinas apa segala..........." Tidak terkirakan oleh Thian-ih bahwa ternyata keturunan seorang berpangkat macam dia mempunyai pambek sedemikian besar dan luhur, sedemikian besar tekad dan cita-citanya sampai rela meninggalkan jabatan pemerintahan yg tinggi mandah kelana di Kangouw yang penuh liku-liku hidup yang membahayakan.
Timbul rasa kagum dan simpatik dalam benak Thian-ih, ingin benar rasanya bersahabat dengan seorang kawan yang berpandangan jauh selaras dengan tujuan hidup sendiri.
Mendadak suara Nyo Hway-giok berubah ketus penuh penyesalan: "Tapi.........sekarang........
semua menjadi kenangan hampa belaka, betapapun indah impian muluk-muluk itu, kau sudah pergi mendahului aku.........aku.........hidup.......bagaimana aku dapat hidup melewatkan hari-hari yang mengenaskan ini.............." Kata Nyo Hway-giok lagi sambil sesenggukkan: "Adik Hong-gi, semasa hidup kita tidak bisa berdampingan, biarlah kita mati dalam satu liang kubur, peduli dengan segala peristiwa dan urusan dalam dunia ini sudah tiada sangkut-pautnya lagi dengan aku..............." Lalu dari dalam sakunya dikeluarkan sebuah anak kunci terus dimasukkan dan diputar dilobang kunci, di lain saat dengan mudah sekali tutup batu kaca itu sudah terbuka.
Seketika berhamburanlah bau harum semerbak memenuhi seluruh ruang pekuburan itu.
Nyo Hway-giok bersiap hendak memasuki peti batu kaca itu, serta melihat tegas wajah Li Hong-gi seketika ia mengunjuk rasa kaget dan heran, saking terpesona dan gembira tanpa merasa ia membungkuk tubuh mencium bibir Li Hong-gi, tiba-tiba ia tersentak dan berjingkat mundur, Thian-ih mendengar dia tengah menggumam: "Heran, apa yang telah terjadi" Mengapa bibirnya masih terasa hangat, mulutnya berbau arak keras sekali?" Nyo Hway-giok tenggelam dalam pikirannya, penemuan yang tak terduga ini menyebabkan Thio Thian-ih juga ikut terheran-heran, kalau betul-betul terjadi masakah tidak janggal" Mana mungkin orang yang sudah meninggal selama seratus hari bibirnya masih terasa hangat, bukan mustahil karena keampuhan dari kasiat kedua butir mutiara itu.
Atau kesalahan dari perasaan Nyo Hway-giok sendiri" Dilihatnya Nyo Hway-giok tengah membungkuk memeriksa dengan teliti, tak lama kemudian dia angkat kepala sambil bertepuk tangan, wajahnya penuh mengunjuk rasa kegirangan yang berlimpah, terdengar ia menggumam lagi: "Mungkinkah adik Hong-gi minum arak 'Pek-jit-kui' (seratus hari pulang) " Unsu (guru berbudi) pernah berkata bahwa seseorang yang minum Pek-jit-kui meskipun tubuhnya kaku, tapi kalau ditutuk Jin-tiong-hiatnya, pasti kelopak matanya bergerak-gerak, dari sini dapatlah kubuktikan apakah adik Hong-gi benar-benar sudah meninggal atau masih hidup........." Jantung Thian-ih ikut berdebur dengan kerasnya, dengan tegang ia ikuti perkembangan Sementara itu Nyo Hway-giok sudah ulur jarinya hendak menutuk tapi mendadak ditarik kembali, katanya: "Aku menjadi ragu-ragu apakah adik Hong-gi kuat menahan tutukanku ini." sejenak ia termenung lalu katanya lagi: "Betapapun harus kucoba untuk membuktikan adik Hong-gi betul-betul belum meninggal, dik, maafkan tindakan engkohmu yang lancang ini !" secepat kilat jarinya bergerak sekali, lalu dengan cermat ia mengawasi kelopak biji mata Li Hong-gi.
Jarak Thian-ih agak jauh jadi tak dapat melihat tegas, hatinya ikut gugup dan tidak tentram.
Akhirnya dilihatnya Nyo Hway-giok menegakkan tubuh sambil berseri gembira, saking riang dia sampai mencak-mencak dan menari-nari seperti putus lotre tiga juta.
Terdengar mulutnya mengoceh: "Bagus sungguh menggembirakan, adik Hong-gi ternyata kau belum meninggal, kau hanya minum arak Pek-jit-kui !
Rasa girang engkohmu ini, oh, dik, kalau kukatakan pasti kau tidak percaya, hampir aku kelenger saking senang," memang gerak-geriknya sempoyongan hampir roboh.
Nyo Hway-giok membungkuk lagi memeriksa dengan cermat seperti dokter yang tengah memeriksa pasiennya, mengendus sini mendengarkan sana lalu didengarkan pula denyut jantung Li Hong-gi sekian lama terus tekan sini dan pegang sana baru akhirnya ia berkata: "Adik Hong-gi, sekarang dapat kupastikan bahwa kau hanya minum arak Pek-jit-kui itu.
Unsu pernah bercerita kepadaku bahwa ditapal batas Hun-kui diatas pegunungan yang tinggi terdapat sebatang pohon aneh yang dinamakan Cap-li-biau-hiang (bau wanginya semerbak sampau sepuluh li), kuntum bunga ini berbentuk kecil tidak menyolok, setiap tahun hanya berkembang sekali pada tiap musim semi, meskipun berada jauh sepuluh li misalnya bila mengendus bau wangi ini seketika orang akan roboh ditengah jalan.
Maka mereka yang sudah kenal akan bau wangi ini cepat-cepat menutup hidung dan mulut.
Kuntum bunga Cap-li-biau-hiang kalau direndam dalam air salju dapat menjadi semacam arak yang harum dan sangat keras, seteguk saja dapat membuat orang jatuh mabuk sampai berapa lama baru bisa siuman.
Dulu seorang sahabat Unsu pernah membuat percobaan dengan kuntum bunga arak itu, akhirnya memang terbukti seratus hari kemudian baru orang yang jatuh mabuk itu siuman.
Oleh karena itu, maka dinamakan Pek-jit-kui (seratus hari kembali).
Meskipun arak semacam itu tidak dapat membunuh atau mencelakai orang, tapi kasiatnya memang sangat mengejutkan, jarang orang suka menggunakan, betapa tidak karena sekali jatuh mabuk seratus hari kemudian baru bisa siuman, bukan mustahil bagi orang yang sekali jatuh mabuk seratus hari tanpa bergerak tanpa makan minum seumpama orang mati badannya takkan membusuk.
Alkisah pernah terjadi seorang penjahat tunggal yang gemar minum arak secara suka rela menyediakan diri sebagai percobaan, akhirnya baru satu minggu saja sejak ia jatuh mabuk badannya mulai membusuk dan akhirnya meninggal dunia dalam waktu setengah bulan saja.
Lain halnya dengan sahabat Unsu itu, waktu mengadakan percobaan ia pernahkan dirinya didalam sebuah gua diatas puncak gunung es, untung lwekangnya sudah sempurna selama itu ia kuat bertahan, namun demikian tak urung setelah siuman dari mabuknya tubuhnya cacat terserang hawa dingin.
Sejak itu mulailah nama Pek-jit-kuy itu tersebar luas dan belum pernah kejadian ada orang berani minum arak obat yang lihay itu.
Siapa nyana kiranya adik Hong-gi juga telah minum arak obat pembius itu, malam ini pula genaplah seratus hari, sebentar lagi pasti adik Hong-gi bakal siuman, betapa hatiku takkan girang......" Saking senang tanpa disadari ia berjingkrak berjumpalitan serta menari-nari seperti bocah kecil.
Diam-diam Thian-ih juga merasa senang dan mengucapkan syukur dalam hati.
Mendadak Nyo Hway-giok berhenti dan berdiri tegak seakan ingat sesuatu, gumamnya: "Wah, hampir aku kelupaan, menurut keterangan Suhu bahwa setelah siuman dari mabuknya dia harus dijaga oleh seorang yang berlainan kelamin untuk membantunya memperlancar jalan darah dengan cara menutuk dan menembuskan semua jalan darah besar-kecil lalu mengurutnya pula, setelah itu baru menyalurkan tenaga murni sendiri kedalam tubuh sipemabuk, meskipun cara ini kurang sopan, tapi hanya cara inilah yang dapat menolong.
Apalagi juga harus bertindak secara cepat, terlambat sedetik saja sipenderita pasti celaka, badan menjadi kejang dan jiwa bisa melayang seketika." Mendengar semua uraian itu Thian-ih menjadi serba salah gugup dan malu lagi, cara pengobatan semacam itu harus dilakukan oleh suami-istri yang harus bersentuhan tubuh sedemikian rupa, sebagai orang luar mana bisa dirinya menyaksikan adegan yang tak boleh dilihat orang luar itu.
Saking bingung Thian-ih menjadi gopoh selekasnya ia harus berusaha menyelundup keluar kuburan.
Sampai sedemikian lama Li Hong-gi masih berbaring dengan tenangnya.
Nyo Hway-giok menanti dengan sabar dan tekun.
Sekonyong-konyong terdengar bentakan dan caci maki diluar kuburan sana, keruan Nyo Hway-giok kaget dan gugup, katanya: "Adik Hong-gi segera bakal sadar, bila ada orang masuk mengganggu disaat aku mengobati pasti bisa celakalah kita berdua.
Terpaksa harus kugebah pergi dulu orang-orang itu." Mulut berkata segera iapun bertindak, cepat-cepat ia tutup peti batu kaca lalu dikunci pula, ujarnya: "Adik Hong-gi, segera aku kembali, kali ini aku tidak akan main sungkan dan ampun lagi kepada para penjahat itu." sambil angkat alis bergegas ia lari keluar.
Lekas-lekas Thian-ih keluar dari tempat sembunyinya dan memburu kearah pintu, kalau tadi terdengar suara pertempuran yang seru dan sengit sampai angin pukulan menderu-deru dan senjata berdenting saling beradu.
Maka Thian-ih berpikir: biar aku saja yang menghajar adat para penjahat itu supaya Nyo Hway-giok ada kesempatan memberi pertolongan kepada istrinya.
Karena pikirannya ini pelan-pelan ia menggeremet keluar kuburan, namun suasana diluar kuburan dalam sekejap itu telah menjadi sunyi tanpa kelihatan bayangan seorang jua, sampai Nyo Hway-giok sendiri juga telah menghilang entah kemana " Tatkala itu sang surya mulai muncul di ufuk timur memancarkan sinar kuningnya yang terang benderang, angin pagi sepoi-sepoi dingin menggugah lamunan Thian-ih.
Thian-ih menjadi serba sulit dan bimbang, akan ditinggal pergi atau menunggu kedatangan Nyo Hway-giok" Sekian lama ia susah ambil kepastian, tapi Li Hong-gi masih berada didalam peti betapapun harus menolongnya dari mara bahaya.
Tunggu punya tunggu Nyo Hway-giok masih belum tampak mata hidungnya, terpaksa ia masuk kembali kedalam kuburan, seketika ia kaget dan memburu maju.
Ternyata Li Hong-gi benar-benar sudah siuman dan hendak duduk didalam peti batu kaca itu, namun karena tutup itu terlalu rendah jadi tubuhnya tak dapat duduk tegak dan kedua tangannya meronta-ronta berusaha menyurung tutup peti.
Keruan Thian-ih ikut menjadi gugup dan kerepotan berusaha membuka tutup peti itu, namun tutup itu sedikitpun tidak bergeming karena sudah terkunci, dilihatnya pula Li Hong-gi masih meronta dan mencakar serta mencekik leher sendiri, naga-naganya dia sudah kehabisan napas.
Mendadak teringat oleh Thian-ih akan kunci kecil yang ditemukannya di daerah barat tempo hari waktu mengejar jejak Ciu Hou itu, maka cepat-cepat dirogohnya keluar dan dicobakan ke dalam lobang kunci, eh, ternyata persis dan cocok benar lalu diputarnya dua kali, benar juga tutup peti itu seketika terbuka sendiri.