Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 24

Memuat...

Maka dilain kejap dengan mudah saja batok kepala Kiong Giok-eng kena terketok hancur oleh tongkat Ho Han.

Saking ketakutan Gadis kecut Kwe Cing-sian sampai tekuk lutut minta diampuni.

Dasar kejam dan telengas, mendadak setan putih malah membentak beringas: "Perempuan jalang, pergilah, kau sangka Ho-toaya ini orang apa?" tongkatnya menjojoh kedepan menutuk dada Kwe Cing-sian, seketika ia menjerit roboh dan melayanglah jiwanya.

Tidak keruan paran perasaan hati serigala sembilan ekor Kiau Sing, dalam situasi yang mendesak ini terpaksa dikeluarkan senjata rahasianya terus disambitkan sekuat tenaga.

Kala itu setan putih tengah kegirangan dapat membereskan musuh-musuhnya sehingga kurang waspada, waktu sadar bahwa dirinya tengah terancam elmaut sudah kasep, telak sekali kedua senjata rahasia itu mengenai dada dan mukanya, belum sempat mengeluarkan suara jiwanya sudah melayang.

Sudah tentu gusar Ci Kiu bukan kepalang, dengan kalap ia menerjang seperti harimau gila sambil memutar senjatanya.

Belum sempat Kiau Sing memutar tubuh, kepalanya pun hancur tercerai-berai.

Ibarat cengcorang menerkam tonggeret, tidak tahunya burung gereja mengintil dibelakangnya.

Begitulah keadaan Ci Kiu, tidak disadarinya bahwa Lo Ceng juga tengah memburu tiba dibelakangnya waktu ia berhasil membunuh Kiau Sing, pedang panjang Lo Ceng juga sudah melobangi punggungnya sampai tembus keluar dada.

Seketika tubuh Ci Kiu mengejang terus pelan-pelan memutar tubuh mendadak ia menggembor keras sambil mendorong kedua tangannya kedepan lancarkan pukulan sisa tenaganya.

Keruan tubuh Lo Ceng melayang-layang sampai jauh dan terbanting keras diatas tanah.

Setelah melancarkan pukulan terakhir ini, ludaslah tenaga Ci Kiu, dengan keras tubuhnya berdentam ditanah, setelah berkelojotan akhirnya diam untuk selama-lamanya.

Karena tamak harta pihak Kam-liang-pay dan Mo-san-ji-kui sampai gugur bersama dimedan laga, mayat bergelimpangan dengan bau anyir darah yang memualkan, sekejap saja keadaan menjadi hening bertambah seram.

Tidak lama kemudian tampak tubuh si walet terbang Lo Ceng bergerak dan merangkak bangun, agaknya lukanya tidak terlalu berat, hanya dia seorang yang masih ketinggalan hidup, setelah pertempuran mati-matian tadi.

Sambil menahan sakit setindak demi setindak ia berengsut jatuh bangun mendekati mulut kuburan.

Keadaan Lo Ceng ini seperti orang yang sudah kehilangan pikiran sehat, sejenak ia merandek terus memutar balik berjalan berkeliling menghampiri semua mayat-mayat itu untuk diperiksa.

Setelah diketahui semua sudah melayang jiwanya, terdengar mulutnya menggumam: "Bagus sekali, hahaha, semua sudah modar (mati)!

Hahaha, biar aku sendiri yang kangkangi kedua butir mutiara mestika itu, hehehe!" Lalu ia beringsut lagi menghampiri mulut kuburan.

Sebetulnya Thian-ih sudah bersiap dibelakang pintu kuburan.

Tidak tahunya baru saja Lo Ceng tiba diambang pintu, mendadak tubuhnya dihujani berpuluh batang anak panah dari belakangnya, tidak ampun lagi tubuhnya roboh dengan puluhan panah menancap diatas badannya, meskipun dalam keadaan meregang jiwa ini dia masih bertahan sekuat tenaga, susah payah ia merangkak terus kedepan hendak memasuki mulut kuburan.

Dilain saat dibelakangnya bermunculan bayangan orang banyak yang dipimpin oleh Liong-gwa-hou-tiang Li Ti, anak buahnya menyulut obor berdiri dikedua sampingnya.

Terlihat oleh Thian-ih wajah Li Ti mengulum senyum ejek sambil memandang hina kearah Lo Ceng yang masih merangkak-rangkak maju selangkah, mendadak tangan Li Ti terayun menggablok punggung Lo Ceng dengan kerasnya.

Sepasang mata Li Ti memandang jalang kepada semua anak buahnya untuk angkat perbawa, lalu dipesannya pada anak buahnya: "Siap untuk masuk!

Juru panah bersiaga diluar sini, bunuh saja siapapun yang berani mendekat !" Belum habis perkataannya mendadak seorang anak buahnya maju melapor: "Dikejauhan sana tampak bayangan orang tengah mendatangi......" Li Ti terperanjat, memang benar dilihatnya sebuah bayangan orang tengah meluncur datang secepat meteor terbang.

Dasar nyali Li Ti memang kecil dan berjiwa pengecut, cepat-cepat ia memberi komando pada anak buahnya: "Berpencar dan sembunyi, dengar perintahku untuk bertindak!'' Tersipu-sipu semua orang mencari tempat perlindungan.

Ditempat sembunyinya Thian-ih mencibir bibir, bahwa Li Ti telah memboyong semua kekuatannya kemari tapi toh masih bermain licik dan pengecut serendah itu, sungguh harus disesalkan dan memalukan.

Dalam sekejap saja bayangan itu telah meluncur tiba, dari perawakan orang, Thian-ih dapat mengenal jelas, dia bukan lain adalah Nyo Hway-giok adanya, calon suami Li Hong-gi.

Thian-ih menjadi gugup dan kuatir akan keselamatan orang, bagaimana ia harus menolong jiwa orang dari ancaman hujan anak panah" Terpaksa dari belakang pintu Thian-ih sambitkan sebuah senjata rahasia keluar, sebuah bianglala bersuit ketengah udara diluar pekuburan itu.

Ini sudah cukup mengejutkan Nyo Hway-giok, segera ia hentikan langkahnya sambil bersiaga.

Dan belum sempat ia membuka suara, anak panah telah menghujani kearah dirinya, karena sudah bersiaga Nyo Hway-giok obat-abitkan kedua lengan bajunya yang gondrong tanpa gentar sedikitpun, seketika anak panah itu berjatuhan di sekitar tubuhnya.

Setelah hujan anak panah itu berhenti, lantas berloncatan keluar sekian banyak orang dari sekitar tempat-tempat yang gelap, mereka mengepung dengan garang sambil menyoreng senjata.

Dengan tajam Nyo Hway-giok tatap orang-orang di sekitarnya lalu tanyanya: "Apa maksud kalian membunuh orang sedemikian banyak disini?" Salah seorang diantara pengepungnya tertawa dingin, jengeknya: "Buyung, siapa kau" Hendak apa kau kemari?" Sungguh harus dipuji sikap Nyo Hway-giok sebagai orang terpelajar yang mengenal sopan santun, sikapnya tetap sabar meskipun diperlakukan kasar, sahutnya: "Aku yang rendah Nyo Hway-giok, ini kuburan istriku tercinta.

Siapakah kalian ini" Harap suka perkenalkan diri !" Orang itu menyahut: "Aku she Li bernama Ti berjuluk Liong-gwa-hou-tiang, bicara terus terang tujuan kita adalah kedua mutiara mestika dalam kuburan istrimu itu, serahkan saja kepada kita supaya tiada pembunuhan berdarah dan segera kita tinggal pergi............" Nyo Hway-giok tetap tenang dan sabar, dengan kalem dan sopan ia coba memberi penjelasan: "Li-enghiong, ketahuilah bahwa kedua butir mutiara itu adalah pemberian seorang aneh yang hebat kepandaiannya kepada Li-tayjin, kasiatnya sangat aneh dapat menghilangkan kotoran debu dan peranti melindungi jenazah istriku supaya tidak membusuk, demikianlah keadaan istriku sekarang, begitu besar manfaat kedua butir mutiara itu kalau sekarang kuserahkan kepada Li-enghiong, dapatkah jenazah istriku terlindung lagi" Hal ini..........membuat aku yang rendah serba susah dan tidak dapat melulusi..............." Thian-ih menjadi getol dan kurang sabar mendengar penjelasan Nyo Hway-giok yg berbau kecut sebagai kaum pelajar itu.

Bicara secara sopan dan demi keadilan kepada manusia pengecut dan licik seperti Liong-gwa-hou-tiang ini akan sia-sia dan hampa.

Memang tepat dugaannya ini, terdengar Liong-gwa-hou-tiang berkata sambil menggeleng kepala: "Nyo-kongcu, orang hidup adalah untuk mati, setelah mati untuk apa pula dilindungi jenazah dan wajahnya apa segala " Seumpama aku tidak minta, cepat atau lambat pasti juga dicuri orang lain.

Bukankah kau sudah melihat mayat-mayat bergelimpangan ini" Mereka saling bunuh karena ingin mengangkangi kedua mutiara itu, mampus sekelompok akan membanjir kelompok yang lain lagi, sebaiknya tanamlah budi kepada orang lain demi kebaikan sesama manusia dan demi ketenteraman istrimu tercinta dalam kuburan itu, marilah serahkan kepadaku saja........." "Gading gajah membakar tubuh, mutiara menimbulkan bahaya......" demikian Nyo Hway-giok menggumam seorang diri, lalu serunya: "Memang ucapanmu tepat sekali.

Betapapun sebelum aku sendiri mati, tidak rela kulihat wajah istriku yang molek itu berubah sedikitpun.

Li-enghiong, lebih baik kuganti dengan emas perak atau harta benda berharga lainnya kepada kalian bagaimana, jangan kedua mutiara itu yang kalian incar." Tingkah dan ucapan Nyo Hway-giok yang lemah lembut ini membuat Li Ti sebal dan tidak sabar lagi serta memandang rendah.

Tiba-tiba semprotnya marah dengan melotot: "Kutu busuk!

Siapa sabar tawar menawar dengan kau, bagaimana juga mutiara itu harus kita dapatkan, kau minggir !" lalu dengan langkah lebar ia memburu ke mulut kuburan.

Nyo Hway-giok menjadi gugup, tersipu-sipu ia memburu menghadang sambil melintangkan kedua tangannya di depan pintu kuburan, ujarnya: "Li-enghiong, berapa banyak yang kau minta akan kuserahkan kepadamu, tapi jangan........." Mendadak Li Ti angkat tangan terus memukul ke dada orang, terpaksa Nyo Hway-giok harus membela diri, tangan kirinya terlihat bergerak menyambut pukulan musuh, seketika terasa sejalur tenaga besar menerjang ke arah Li Ti dengan dahsyatnya, kontan tubuhnya yang tinggi besar itu terpental terbang ke belakang.

Tidak kepalang heran dan kejut Nyo Hway-giok sampai melongo sekian lama, bahwa kepandaian orang ternyata sedemikian tidak becus, maka cepat-cepat ia susuli lagi dengan tangan kanan didorong kedepan terus ditarik balik lagi hingga angin pukulannya tersedot kembali, tanpa kuasa tubuh Liong-gwa-hou-tiang terbawa jumpalitan dan jatuh duduk di tanah tanpa kurang suatu apa.

Post a Comment