Thian-ih sudah bersiap hendak menerjang keluar dengan sebuah serangan kilat yang mematikan, namun sebelum ia bertindak, diluar kuburan sana terdengar derap langkah orang ramai yang tengah mendatangi disusul suara gelak tawa yang riuh ramai di belakang Ho Han dan Ci Kiu.
Tersipu-sipu kedua setan hitam putih ini memutar tubuh, secepat itu pula segera Thian-ih melejit maju terus sembunyi dibelakang pintu, dari sini keadaan diluar dapat dilihatnya lebih tegas lagi.
Ternyata diluar sana sudah berjajar tujuh orang yang menghunus senjata tajam dengan sikap mengancam.
"Siapa kalian" Anjing alap-alap ataukah kawan dari satu golongan?" terdengar Pek-bian-kui Ho Han berseru menegur.
Yang dimaksud dengan anjing alap-alap adalah para bayangkari dari istana raja, sedang kawan satu golongan adalah sahabat-sahabat Kangouw dari golongan hitam.
Terdengar salah seorang dari tujuh orang itu bergelak tertawa lalu berkata: "O, kalau tidak salah kalian adalah Pek-bian-kui Ho Han dan Hek-bian-kui Ci Kiu dari Mo-san-sam-kui bukan" Selamat, selamat bertemu, aku yang rendah Kiu-bwe-long (serigala sembilan ekor) Kiau Sing beserta saudara-saudara dari Kam-liang-pay !" Kiranya mereka bukan lain adalah tujuh Tongcu dari Kam-liang-pay, ketujuh orang itu adalah: Kiu-bwe-long Kiau Sing, Gin-poan-koan (potlot hakim perak) Koan Kiat, Thiat-po-lo-han (Lohan berlengan besi) Cui Siau-peng, Hwi-yan-cu (siwalet terbang) Lo Cing, Cun-thian-lui (guntur menggelegar) Si Cin dan dua Tongcu wanita yang bernama Hun-lo-sat (kuntianak jelita) Kiong Giok-eng dan Soan nio-cu (gadis kecut) Kwe Ceng-sian.
Thian-ih malah lega akan kedatangan tujuh Tongcu dari Kam-liang-pay ini, biarkan mereka saling cakar dan bergumul sendiri supaya meringankan tenaganya nanti.
Satu hal masih diragukan bahwa Liong-gwa-hou-tiang terang sudah tiba mengapa masih belum muncul" Setelah hening sejenak Pek-bian-kui membuka suara, "Kiau Tongcu, Kam-liang-pay kalian bersarang jauh di daerah barat sana, jauh-jauh serta malam-malam meluruk ke Ki-lam, apakah tujuan kalian?" Kiau-bwe-long Kiau Sing menyeringai tawa, sahutnya: "Ho-heng, seorang jantan bicara secara terang-terangan, kau kan sudah tahu pura-pura tanya apa segala, bukankah berkelebihan bacotmu itu!
Hahaha..........." Begitulah karena saling mengukuhi haknya masing-masing kedua belah pihak semakin tegang berhadapan saling melotot.
Kalau dinilai kekuatannya, dalam hal Lwekang, terang pihak Kam-liang-pay tiada satupun yang dapat menandingi setan hitam putih ini, namun dengan gabungan tujuh tenaga yang bersiap main keroyok mereka tidak gentar menghadapi saingan berat dan lihay ini.
Dibawah penerangan obor ditangannya, wajah Pek-bian-kui terlihat pucat pasi menakutkan, diam-diam ia menerawangi situasi keadaan ini, terang pihak lawan menang banyak tenaga sehingga semua tindakan harus diperhitungkan lebih masak, apalagi jejak Bu-ing-kui Lok Sian menghilang tanpa diketahui dimana berada, bagaimana juga harus berlaku sabar dan melihat keadaan, maka katanya sambil menahan gusar: "Para Tongcu Kam-liang-pay yang terhormat.
Sebenarnya jauh pada dua bulan yang lalu telah kita ketahui tentang kedua butir mutiara mestika dalam kuburan ini, siang-siang kita sudah merancang untuk mengambilnya, sebab harus diketahui bahwa salah satu dari mutiara itu yaitu Hwe-ki-cu adalah pusaka pelindung Mo-san-pay kita.
Terang kita setindak lebih maju dengan bukti bahwa Lok-hiante kita sudah masuk kedalam untuk mengambil kedua mutiara itu.
Jauh-jauh kalian sudah datang, demi menjaga persahabatan janganlah kita sampai bentrok karena urusan kecil ini, untuk itu baiklah kita terpaksa mengalah dan merelakan mutiara yang lain yaitu Pi-seng-cu untuk kalian......." Dasar Kiau Sing licik dan banyak akal muslihatnya, diam-diam ia juga menimang situasi dan memperbandingkan kekuatan kedua belah pihak.
Kalau bertempur satu lawan satu terang pihak sendiri tiada yang bakal menang, tapi kalau tujuh orang serentak maju berbareng agaknya cukup berkelebihan untuk membereskan setan hitam putih ini.
Mumpung Lok Sian sisetan gentayangan itu belum keluar, ganyang dulu kedua setan ini lebih baik, demikianlah pikirnya, maka katanya temberang : "Kalau mau mengalah jangan kepalang tanggung serahkan kedua-duanya, Kam-liang-pay akan sangat berterima kasih kepada kalian.
Kalau tidak boleh, jangan sesalkan pihak Kam-liang-pay tidak hiraukan persahabatan apa segala.
Jauh-jauh kita kemari tidak mungkin kembali dengan tangan hampa, terpaksa marilah unjukkan kepandaian kalian untuk dipertontonkan kepada kita sekalian saudara............" Watak Hek-bian-kui Ci Kiu lebih berangasan, semprotnya bengis: "O, jadi beginilah congor asli pihak Kam-liang-pay, terhitung orang gagah apa kalian ini" Mari, mari, majulah bersama, Ci Kiu takkan mundur menghadapi bangsa kurcaci macam kalian............" sambil memaki dijinjingnya senjata tombak yang menyerupai cabang-cabang pohon Bwe terus melompat maju ketengah kalangan.
Justru tindakan lawan inilah yang dinantikan oleh Kiau Sing, girang hatinya bukan kepalang karena pancingannya ternyata berhasil, maka serunya memberi aba-aba: "Koan-hiante dan Cui-hiante, layanilah setan hitam ini.
Dan kau Lo-hiante dan Si-hiante cegatlah setan putih itu, biar aku bersama adik-adik kita masuk ke dalam menjemput mutiara itu.............." Serentak para saudaranya itu mengiakan bersama, terus bergerak menurut petunjuk saudara tua mereka tadi.
Seketika terjadilah pertempuran yang sengit dan seru.
Sementara Kiau Sing memimpin Kiong Giok-eng dan Kwe Ceng-sian menerjang masuk kedalam kuburan.
Setan hitam putih bertempur sambil membentak-bentak untuk menambah semangat.
Lwekang setan muka putih Ho Han sudah mencapai kesempurnaannya, melihat Kiau Sing bertiga bermain licik hendak bolos masuk kedalam kuburan, hatinya gusar bukan kepalang, ilmu sepasang tongkat ditangannya merupakan kepandaian yang paling dibanggakan dan lihay luar biasa, tidak kepalang tanggung lagi segera dilancarkan tipu Keh-an-koan-hwe (menonton kebakaran dari sebrang), dengan telak jalan darah mematikan dipunggung Si Cin kena tertutuk, seketika ia berteriak sambil muntah darah terus roboh terkapar tak bergerak lagi.
Sungguh mengagumkan kepandaian Ho Han ini, secepat itu tutukannya berhasil, mendadak tubuhnya melejit kebelakang terus menerjang ke mulut kuburan sambil melintangkan kedua tongkat bajanya serta ancamnya: "Siapa yang ingin mampus, silakan maju rasakan dulu kemplangan tongkatku ini!" Beberapa langkah lagi Kiau Sing sudah tiba dimulut kuburan, serta didengarnya teriakan Si Cin yang mengerikan lalu secepat itu pula Ho Han sudah berkelebat menghadang dimulut kuburan, keruan bukan kepalang kejut dan gusarnya, maka teriaknya memberi aba-aba: "Maju bersama, ganyang setan gentayangan ini !" Serentak senjata mereka bertiga bergerak diacungkan kedepan dengan serangan yang mematikan, tanpa gentar Ho Han menggerakkan sepasang tongkatnya untuk menangkis.
Kalau disebelah sini Ho Han sudah berhasil membunuh seorang musuh, adalah disebelah sana sisetan muka hitam juga berada diatas angin, tombak bercabangnya ini sangat aneh dan menakjubkan, gerak-geriknya susah diraba, dilandasi pula oleh kekuatan pembawaan yang besar, sudah tentu Gin-poan-koan Koan Kiat dan Thiat-pi-lo-han Cui Siau-ping tak mampu bertahan, dalam gebrak pertama tadi begitu beradu senjata kontan sepasang Poan-koan-pit Koan Kiat telah dibikin terbang dari tangannya, dalam ketakutannya ia coba putar tubuh hendak melarikan diri, namun dasar sial tombak bercabang milik setan hitam sudah mengepruk hancur kepalanya, jeritannya melolong panjang.
Mati-matian Cui Siau-ping membacok dan membabat dengan senjata kapaknya yang besar dan berat, namun hanya sekali tangkis dan digentakkan saja kapak besar itu juga terbang tinggi malah orangnya juga terpental jungkir balik.
Teriakan Koan Kiat sebelum ajal menggugah sanubari Lo Ceng yang sudah berada diambang pintu kuburan, tepat waktu ia merandek dan berpaling dilihatnya Cui Siau-ping tengah menghadapi bahaya, secepat kilat sebelah tangannya diayun, meluncurlah tiga titik bintang melesat mengarah kedua biji mata setan hitam.
Terpaksa setan hitam harus menunduk kepala untuk menyelamatkan diri, dan peluang sedetik ini cukup untuk Lo Ceng memburu tiba merintangi niat jahatnya terhadap Cui Siau-ping.
Dalam sekejap mata dua diantara saudara para Tongcu Kam-liang-pay itu mampus, sudah tentu sisa lima yang lain menjadi keder dan ciut nyalinya.
Tapi dalam keadaan mati dan hidup betapapun harus mengadu jiwa, tanpa komando lagi mereka memecah diri dalam dua kelompok untuk mengeroyok kedua setan dari Mo-san itu.
Bagaimana juga kepandaian setan hitam-putih lebih tinggi dan hebat, beruntun mereka dapat membinasakan dua musuh, bangkit dan menyalakan semangat tempur mereka, senjata diputar dan bergerak semakin lincah dan aneh menakjubkan, meskipun dicecar berbagai serangan senjata musuh, namun penjagaannya sangat rapat seumpama air hujan juga tidak akan tembus masuk, malah dalam setiap kesempatan dapat melancarkan jurus-jurus mematikan yang tidak terduga, lambat laun posisinya semakin menguntungkan dan banyak menyerang dari pada membela diri.
Meskipun pihak Kam-liang-pay berjumlah lebih banyak, betapapun kepandaian pihak sendiri kalah setingkat dibanding musuh, keruan semakin terdesak dibawah angin.
Melihat situasi yang lebih menguntungkan ini bergelak tertawalah kedua setan hitam-putih, terdengar setan hitam berolok-olok: "Lo-ho, cepat sedikit bisa tidak.
Kedua lawanku ini adalah telur busuk yang tidak berguna, coba biar kubuktikan kulukai seorang yang ini." Benar juga lantas terdengar Thiat-pi-lo-han menggerung kesakitan, ternyata pundaknya berlobang tertusuk tombak bercabang Ci Kiu.
Meskipun terluka berat dan sakit luar biasa Cui Siau-ping tak berani mengundurkan diri, dengan mati-matian ia masih terus tempur musuhnya dengan sengitnya.
Terdengar Ci Kiu berolok lagi sambil menyeringai: "Lo Ho, bagaimana" Tidak jelek bukan" Satu diantara telur busuk ini sudah terluka, sebentar biar kuantar jiwa keduanya ini menghadap nenek moyangnya!" Disebelah sana Ho Han sisetan putih juga tidak mau kalah suara, serunya: "Bagus sekali, adik Ci, selamat bekerja, bereskan secepatnya supaya tidak menunda-nunda waktu untuk ambil kedua mestika itu.
Coba kau lihat kedua gadis rupawan genit ini, tidak tega aku turun tangan........hahaha..........." Ci Kiu bergelak tertawa, dia merasa geli mendengar banyolan saudaranya itu.
Dengan tembang sebul dalam saat menghadapi musuh ini seakan-akan mereka tidak pandang sebelah mata pada kelima musuh-musuhnya, keruan gemas dan murka para Tongcu Kam-liang-pay bukan main, sudah kewalahan marah lagi sehingga kurang konsentrasi, maka semakin kacau balaulah pertahanan mereka.
Terutama Cui Siau-ping yang terluka berat, langkahnya semakin sempoyongan maka dialah yang menjadi sasaran paling empuk, tiba-tiba terdengar Ciu Kiu membentak keras: "Pergilah menghadap Giam-lo-ong !" sekali tendang tepat mengenai dada Cui Siau-ping, seketika roboh dan muntah darah tak bangun lagi.
Saking kaget Hwi-yan-cu Lo Ceng berteriak ketakutan: "Kiau-toako......" Terpaksa Kiau Sing tinggalkan setan putih dan memburu tiba membantu Lo Ceng menghadapi setan hitam.
Begitu serigala sembilan ekor tinggal pergi, keadaan Kiong Giok-eng dan Kwe Cing-sian semakin payah, setelah sekian lama bertempur mati-matian, badan sudah basah kuyup oleh keringat, napas juga sudah megap-megap, tapi sepasang tongkat Ho Han bergerak semakin lincah, mengurung empat penjuru sampai kesempatan untuk melarikan diri juga tidak ada lagi.