Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 94

Memuat...

"Niocu, seorang gadis seperti engkau ini, cantik jelita, berilmu tinggi dan berbudi mulia, bijaksana, tentu saja berhak memilih seorang calon suami yang sebaik-baiknya."

"Ah, jangan terlalu memuji padaku, Tong-ko. Dengarkanlah pendapat dunia kang-ouw tentang diriku dan engkau akan tahu bahwa aku tidak patut dipuji seperti itu. Aku pernah terkutuk, juga pernah bersumpah bahwa aku akan membunuh pria yang berani mencintaku! Entah sudah berapa orang yang kubunuh karena itu. Akan tetapi aku sekarang telah terbebas dari kutukan, bahkan aku mendambakan cinta kasih yang tulus ikhlas dari seorang pria. Aku tidak memilih yang muluk-muluk, melainkan yang berhati bersih, jujur dan mencintaku tanpa pamrih."

"Niocu....!"

"Ada apakah, Tong-ko?"

"Kalau sekarang ada seorang pria yang jatuh cinta kepadamu, seorang pria yang tidak berharga, miskin dan papa, yang tidak mampu menjanjikan apa pun kepadamu, apakah engkau dapat menerima cintanya?"

"Aku tidak membutuhkan pria yang kaya raya atau pandai dan berkedudukan. Aku membutuhkan pria yang jujur dan baik."

"Niocu, aku.... Aku seorang tak berharga, yatim piatu tidak mempunyai apa-apa...."

Dia berhenti bicara.

"Ya....? Mengapa?"

"Aku yang hina ini telah berani bermimpi tentang bintang yang tak terjangkau oleh tangan...."

"Tidak oleh tangan, melainkan harus dijangkau oleh hati yang penuh cinta kasih."

"Aku.... maafkan aku, Niocu. Aku seperti dalam mimpi. Aku berani jatuh cinta padamu...."

Bi-kiam Nio-cu menjadi merah padam kedua pipinya, jantungnya berdebar karena girang.

"Cintamu tidak sia-sia, Tongko!"

Bu Tong terbelalak memandang wajah yang cantik itu.

"Maksudmu, engkau tidak marah padaku?"

Niocu menggeleng kepalanya.

"Tidak, aku malah merasa girang dan berbahagia sekali karena pria dalam angan-anganku tadi sepertimu inilah, Tong-ko. Engkau jujur, engkau sederhana, engkau rendah hati."

Keduanya sudah berhenti melangkah sejak tadi dan berdiri saling berhadapan. Dua pasang mata saling bertemu bertaut dan dua pasang mata itu menjadi basah karena haru. Bu Tong melangkah maju dan memegang kedua tangan Niocu.

"Benarkah semua ini? Bukan mimpi kosong? Niocu, benarkah engkau dapat menerima cintaku? Maukah engkau menjadi isteriku?"

"Kita berdua sama-sama yatim piatu, tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini. Tentu saja aku mau menjadi isterimu, Tong-ko."

Bukan main girangnya hati Bu Tong di saat itu. Dengan kedua lengannya yang tegap itu dia memeluk Niocu demikian kuatnya seolah dia ingin membenamkan kepala yang tersayang itu ke dalam dadanya. Setelah merasa yakin bahwa dalam hidupnya ada Bi-kiam Nio-cu Siang Bi Kiok, Gan Bu Tong menjadi pemberani. Dengan terus terang dia mengajak kekasihnya menghadap gurunya.

"Suhu, teecu mohon doa restu dan persetujuan Suhu, karena teecu dan Niocu sudah mengambil keputusan untuk menjadi suami isteri!"

Pengakuan ini dia katakan di depan Toat-beng Kiam-sian, isterinya dan juga di depan Lo Siu Lan. Mendengar ini, Lu Siu Lan berteriak girang dan segera menghampiiri Niocu dan merangkulnya.

"Ah, selamat kuucapkan kepada kalian! Enci Bi Kiok, hatiku merasa gembira bukan main mendengar berita yang membahagiakan ini!"

Toat-beng Kiam-sian Lo Cit juga merasa heran dan gembira sekali. Dia menganggap bahwa muridnya itu berperuntungan baik sekali, dapat menjadi pilihan Bi-kiam Nio-cu untuk menjadi jodohnya.

"Tentu saja kami merasa berbahagia, Bu Tong. Semoga kalian menjadi suami isteri yang berbahagia. Dan karena engkau tidak mempunyai keluarga yang bisa menjadi wali, biarlah kami yang akan menikahkan, berbareng dengan pernikahan Siu Lan dengan Tang Hun!"

Kata Toat-beng Kiam-sian Lo Cit. Demikianlah, semenjak hari itu Niocu tinggal di Kwi-san untuk menanti hari baik itu. Perjodohan antara mereka akan dibarengkan dengan perjodohan antara Siu Lan dan Tang Hun. Di kota raja juga terjadi hal yang berbahagia. Setelah bertemu dengan Tao Kwi Hong, Cia Kun tergila-gila kepada saudara misan itu. Sebaliknya Kwi Hong juga tertarik sekali kepada putera Pangeran Cia Sun itu.

Hubungan mereka menjadi semakin akrab dan akhirnya Cia Kun minta kepada ayah bundanya untuk melamarkan Tao Kwi Hong. Pinangan itu diterima baik oleh Pangeran Tao Kuang, karena selain puterinya setuju, juga dia melihat bahwa Pangeran Cia Sun adalah seorang pangeran yang baik. Sebagai seorang pangeran namanya cukup bersih dan terhormat. Lalu bagaimana dengan Keng Han? Pemuda ini melakukan perjalanan ke Barat Laut dan pada suatu hari sampailah dia di perkampungan Khitan. Ternyata kakeknya, Khalaban, telah meninggal dunia dan yang ditunjuk sebagai penggantinya adalah Kalucin. Silani, ibu Keng Han dan juga Kalucin yang disebutnya paman menyambut mereka dengan gembira. Bahkan sebuah pesta diadakan oleh Kalucin untuk menyambut pulangnya pemuda itu. Seluruh perkampungan itu bergembira ria.

Semenjak ditinggalkan puteranya, siang malam Silani menanti kembalinya dengan penuh harapan. Bahkan Kalucin sudah beberapa kali mengajukan pinangan kepadanya. Namun Silani selalu menolaknya, dan mengatakan bahwa dia masih isteri Pangeran Tao Seng yang belum diketahui bagaimana nasibnya itu. Sampai berusia empat puluh lima tahun Kalucin masih belum beristeri. Dia benar-benar mencinta Silani dan tidak dapat menikah dengan wanita lain sebelum Silani bertemu kembali dengan suaminya. Biarpun pulangnya Keng Han amat membahagiakan mereka semua, namun diam-diam Silani kecewa karena suaminya tidak datang bersama puteranya. Setelah memperoleh kesempatan untuk bicara berdua saja dengan puteranya, Silani tidak dapat lagi menahan keinginan hatinya dan ia bertanya,

"Bagaimana, Keng Han, apakah engkau sudah bertemu dengan ayahmu? Kenapa dia tidak ikut datang bersamamu? Apakah dia menyuruh memboyongku ke sana?"

Dihujani pertanyaan itu, Keng Han merasa kasihan sekali kepada ibunya.

"Maafkan aku, Ibu. Aku datang tidak membawa berita yang baik. Ayah.... ayah.... telah meninggal dunia."

Silani terbelalak, mulutnya terbuka lalu perlahan-lahan air matanya berjatuhan ke atas pipinya yang menjadi pucat, lalu ia menutupi mukanya dan menangis. Keng Han maju dan merangkulnya dan wanita itu menangis di dada puteranya. Keng Han mengelus pundak ibunya dan menghiburnya. Setelah tangisnya mereda, dengan muka pucat sekali Silani bertanya apa yang telah terjadi dengan suaminya.

"Ayah memang seorang pangeran, Ibu. Akan tetapi dia bukan Pangeran Mahkota seperti yang diakuinya. Ketika dia meninggalkan ibu dan pulang ke kota raja, dia melakukan perbuatan yang buruk, yaitu dia hendak membunuh Pangeran Mahkota yang menjadi saudaranya sendiri. Dia ingin menjadi Pangeran Mahkota. Akan tetapi usahanya gagal, bahkan dia ditangkap dan dihukum buang selama dua puluh tahun."

"Ah, pantas dia tidak memberi kabar sama sekali. Kiranya dia dihukum...."

"Ketika tiba di kota raja, aku mendapatkan ayah telah menyamar sebagai seorang hartawan she Ji dan kembali dia mendirikan komplotan untuk membunuh Kaisar dan Putera Mahkota karena dia ingin menjadi kaisar. Dan kembali usahanya gagal bahkan ayah terbunuh dalam usahanya itu. Aku dikeroyok oleh tiga orang datuk sakti dan ayah hendak menolong dan membelaku, dan dalam usahanya inilah dia terbunuh. Aku sudah menguburkan jenazahnya di suatu tempat dan sebelum dia tewas dia berpesan kepadaku untuk memintakan ampun darimu, Ibu!"

"Ahhhhh....!"

Kembali ibunya menangis. Setelah tangisnya reda Silani bertanya kepada puteranya.

"Akan tetapi mengapa engkau begitu lama pergi? Sampai hampir enam tahun engkau pergi, membuat hati kami semua selalu mengkhawatirkan keselamatanmu."

Mendengar pertanyaan ibunya ini, Keng Han lalu menceritakan semua pengalamannya dengan panjang lebar, betapa selama lima tahun dia terasing di Pulau Hantu dan mempelajari ilmu silat yang dia temukan di sana. Kemudian dia menceritakan semua yang telah dialaminya. Ibunya memandang kepadanya dengan kagum.

"Demikian banyak dan hebat pengalamanmu, anakku. Akan tetapi engkau pulang bersama gadis yang berkerudung itu. Siapakah ia, Keng Han?"

"Ia seorang sahabat baik bernama The Cu In, Ibu. Puteri seorang panglima tinggi di kota raja."

"Hemmm, sahabat baik? Sampai di mana kebaikan itu?"

"Ia sudah seringkali menolongku dari kesulitan dan bahaya, Ibu. Kalau tidak ada ia yang menolong, mungkin sekali aku tidak dapat pulang hari ini."

"Akan tetapi mengapa ia ikut ke sini?"

"Ia ikut agar dapat berkenalan dengan Ibu. Terus terang saja, Ibu, ia bukan sahabat biasa. Kami berdua sudah mengambil keputusan untuk menjadi suami isteri dan aku mengajaknya agar Ibu dapat mengenal calon mantunya."

Wajah Keng Han berubah kemerahan ketika membuat pengakuan itu.

"Calon mantuku? Ahhh, aku girang sekali. Akan tetapi mengapa ia selalu menutupi mukanya dengan cadar? Suruhlah ia membuka cadarnya agar semua orang melihat betapa cantiknya calon mantuku!"

Jantung Keng Han berdebar tegang mendengar ucapan ibunya itu. Akan tetapi dia teringat bahwa Cu In hanya mau memperlihatkan mukanya kepada ibunya saja, tidak kepada orang lain.

"Ibu, Cu In sudah bersumpah bahwa ia baru akan membuka cadarnya di hari pernikahannya."

"Hemmm, sumpah yang aneh sekali. Bagaimana aku dapat menyetujui pilihanmu itu sebelum aku melihat wajah calon mantuku? Ia harus membuka cadarnya agar aku dapat melihat mukanya, Keng Han."

Kata Silani dengan tegas.

"Akan tetapi Ibu harus berjanji dulu padaku bahwa betapapun jelek wajah Cu In, aku telah mencintanya dan ingin ia menjadi isteriku, Ibu."

Ibunya memandang wajah puteranya penuh selidik.

"Cinta benarkah engkau kepadanya, anakku?"

"Aku mencintanya dengan jiwa ragaku. Bagiku, wajah tidak banyak artinya. Aku mencinta pribadinya, pembawaannya, sikap dan budinya Ibu. Banyak sudah aku bertemu wanita yang wajahnya cantik, akan tetapi aku tidak tertarik kepada mereka."

"Hemmm, dan bagaimana dengan gadis itu? Apakah dia juga mencintamu sebesar cintamu kepadanya?"

"Menurut pengakuannya begitu, Ibu. Dan juga sudah terbukti dari sepak terjangnya ketika menolongku. Aku percaya sepenuhnya kepadanya!"

"Hemmm, cinta memang dapat memabukkan manusia, anakku. Baiklah, aku tidak akan terpengaruh oleh baik buruknya muka calon mantuku. Aku sudah merasa puas asal diperbolehkan melihatnya sendiri dengan mataku.

"Kalau begitu, biar kupanggil ia menghadap Ibu!"

Kata Keng Han yang segera keluar dari kamar ibunya dan mencari Cu In di dalam kamar yang disediakan untuk gadis itu. Dia mengetuk pintu. Cu In membukanya dari dalam.

"Cu In, apa yang kukhawatirkan telah terjadi."

Katanya dengan gelisah.

"Apakah itu, Han-ko?"

"Ibu ingin bicara denganmu, ingin bertemu dan ingin melihat wajahmu, In-moi!"

Tadinya Keng Han menduga bahwa kekasihnya tentu akan menjadi gugup dan gelisah pula. Akan tetapi dia kecelik. Cu In sama sekali tidak nampak gugup atau gelisah, bahkan sepasang matanya berseri-seri.

"Kalau memang itu yang ia kehendaki, aku harus menghadapnya sekarang juga, Han-ko."

Katanya sambil bangkit berdiri. Keng Han memegang pundaknya.

"Tapi kau.... kau harus siap kalau ibuku terkejut, bahkan menolakmu. Jangan sampai perasaanmu tertusuk, In-moi."

"Aku tahu, Han-ko. Dan kurasa ibumu tidak akan begitu. Aku percaya sepenuhnya bahwa ia adalah seorang ibu bijaksana. Nah, biar aku menghadapnya, akan tetapi engkau tidak perlu ikut, Han-ko. Aku ingin berdua saja dengan ibumu."

Keng Han maklum. Gadis kekasihnya ini tidak ingin melihat perasaannya terpukul. Maka dia mengangguk dan menunjukkan di mana kamar ibunya. Akan tetapi dia tidak pergi meninggalkan begitu saja. Dia tetap melihat dari situ, siap untuk menghibur kekasihnya kalau nanti keluar sambil menangis. Dengan langkah yang tegap Cu In menghampiri Silani dan mengetuk pintunya.

"Siapa?"

Terdengar wanita itu bertanya dari dalam.

"Saya, Bibi. Saya Cu In, ingin menghadap dan bicara dengan Bibi."

"Ahhh, engkau Cu In, pintunya tidak terkunci, buka saja dan masuklah."

Cu In mendorong pintu kamar dan masuk. Jantung Keng Han berdebar tegang melihat gadis itu memasuki kamar ibunya. Dia memandang pintu kamar itu penuh perhatian, seolah pandang matanya ingin menembus pintu dan melihat apa yang terjadi di dalam. Dia mengira bahwa tak lama kemudian akan mendengar teriakan ibunya, disusul keluarnya Cu In sambil menangis. Akan tetapi tidak terjadi hal seperti yang dia khawatirkan itu. Setelah menanti sampai lama sekali, akhirnya daun pintu terbuka dan Keng Han sudah siap menyambut dan menghibur kekasihnya yang keluar sambil menangis. Akan tetapi kembali dia kecelik. Gadis itu keluar tidak menangis, bahkan matanya bersinar-sinar, diikuti ibunya yang juga tersenyum-senyum. Keng Han menyongsong mereka dan bertanya kepada ibunya.

Post a Comment