Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 131

Memuat...

"Huh, canggung benar."

Si Nenek mencela.

"Sudah berapa lama kakimu buntung?"

"Baru.... baru beberapa hari, locianpwe."

Nenek itu mengangguk-angguk. Kiranya pemuda ini malah masih menderita luka pada kakinya yang buntung"

Ia makin heran dan kagum betapa pemuda yang terluka hebat masih memiliki tenaga sedemikian kuatnya.

"Sekarang lekas ceritakan semua, bagaimana engkau tahu tentang beruang es dan kapan pernah bertemu denganku. Kalau ada yang kau sembunyikan, aku tidak akan mengampuni nyawamu lagi."

"Locianpwe, saya bernama Sie Han dan bukanlah seorang yang suka membohong atau menipu, apalagi lancang memasuki tempat kediaman orang-orang suci. Saya tiba di tempat ini tanpa saya sengaja, juga saya dahulu tiba di Pulau ES secara kebetulan, terbawa badai dalam perahu rusak. Sampai enam tahun lamanya, saya bersama Adik angkat saya berdiam di Pulau Es, melatih diri dengar ilmu yang terdapat di kitab-kitab milik penghuni istana di Pulau Es. Setelah beruang es mati tergigit ular merah beracun dan melihat betapa pulau itu sesungguhnya tedapat ular merah yang amat berbahaya, akhirnya saya dan Adik saya berhasil melarikan diri keluar dari pulau itu. Ketika tadi.... ataukah kemarin.... saya melihat locianpwe di pinggir sungai, segera saya mengenal locianpwe. Bukankah locianpwe ini adalah orang yang patungnya berada di Pulau Es? Saya ada melihat tiga buah patung di sana, patung seorang pria tampan gagah yang ada bekas tusukan pada dahinya, patung seorang wanita cantik yang pandang matanya menyeramkan, dan ke tiga adalah patung wanita cantik yang.... eh, seperti locianpwe...."

"Buntung kakinya?"

Nenek itu bertanya dan suaranya agak menggetar. Han Han mengangguk sambil menatap wajah nenek itu. Setelah kini sikap dingin nenek itu lenyap oleh perasaan terharu, tampaklah olehnya sifat lemah lembut seperti yang terdapat pada muka patung. Kiranya wanita yang pada dasarnya berwatak lembut ini sengaja menutup watak aselinya dengan muka dingin, dan hal ini hanya terjadi pada orang yang mengalami penderitaan batin yang amat hebat. Tiba-tiba nenek itu mengangkat muka dan ternyata ia telah dapat menguasai getaran perasaannya, matanya bersinar dingin kembali dan ia berkata,

"Benar, akulah patung wanita kaki buntung itu. Dan karena engkau telah mengetahui rahasia ini, telah pula menemukan tempat persembunyianku, lebih kuat lagi alasanku untuk membunuhmu. Bersiaplah, engkau untuk mati."

Wanita kaki buntung itu menggerakkan tangan hendak menyerang. Han Han maklum bahwa dia bukanlah lawan wanita ini, namun telah menjadi wataknya untuk tidak menyerah begitu saja kepada siapapun juga, apalagi kalau dia hendak dibunuh. Timbul rasa penasaran di hatinya dan biarpun tubuhnya lemah dan rasa nyeri di kakinya belum lenyap, ia bersikap nekat hendak melawan dan membela diri. Timbul pula rasa marah. Telah dengan susah payah ia membawa surat-surat peninggalan pria penghuni Pulau Es, dan sekarang secara kebetulan ia bertemu dengan seorang di antara tiga patung di Istana Pulau Es, akan tetapi tanpa dosa apa-apa ia akan dibunuh"

"Nanti dulu, Locianpwe."

Ia berseru, suaranya nyaring sekali karena ia mengerahkan khi-kang sehingga nenek itu terkejut dan menahan pukulannya.

"Saya tidak merasa mempunyai kesalahan apa-apa, mengapa locianpwe hendak membunuh saya? Bukankah perbuatan itu kejam dan ganas sekali? Kalau locianpwe memaksa diri hendak membunuh saya, sebagai seorang manusia terpaksa saya akan melawan locianpwe. Akan tetapi, karena saya pasti akan tewas di tangan locianpwe biarlah saya menyerahkan surat-surat peninggalan penghuni Pulau Es kepada locianpwe agar tugas saya ini ada yang melanjutkan. Apalagi karena locianpwe adalah seorang anggauta keluarga penghuni Pulau Es, tentu lebih tahu kepada siapa surat-surat itu harus diserahkan."

Sambil berkata dengan nada keras, Han Han mengeluarkan kantung yang berisi surat-surat yang ia temukan dalam laci meja di kamar pria penghuni Istana Pulau Es, kemudian dilemparkannya kantung itu kepada Si Nenek yang cepat menyambar dengan tangannya.

"Plakkk...., Aihhhhh....."

Tubuh nenek itu tiba-tiba lenyap dan Han Han memandang dengan mata terbelalak. Tadi ketika melontarkan kantung surat-surat itu ia sengaja mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya. Nenek itu menerima lontaran kantung dengan mudah dan tubuh Si Nenek seperti sehelai daun kering tertiup angin badai, melayang terbang keluar pintu dan beberapa detik kemudian sudah meluncur lagi memasuki pondok, berdiri di atas kaki tunggalnya dan memandangnya dengan terbelalak.

Mereka sama-sama terheran karena peristiwa ini menunjukkan bahwa Si Nenek mengagumi kehebatan tenaga sin-kang Han Han, sebaliknya selama hidupnya baru sekali ini Han Han menyaksikan gin-kang yang sedemikian tingginya sehingga gerakan nenek itu seperti orang menghilang saja. Akan tetapi betapa herannya hati Han Han ketika melihat nenek itu berdiri dengan muka pucat memandang surat-surat dalam kantung yang telah dibukanya, bibir nenek itu gemetar, air mata mengalir turun dari kedua matanya, tangannya dengan jari-jari menggigil mengambil surat satu demi satu, lalu tiba-tiba ia menciumi surat-surat itu, mendekap di dadanya dan terdengar jeritnya lirih.

"Aduh.... Suheng Han Ki Koko.... (Kanda Han Ki)....."

Nenek itu menekuk lutut kaki tunggalnya dan mendeprok lalu menangis tersedu-sedu, amat mengenaskan. Han Han melongo, apalagi dalam tangisnya, nenek itu berkali-kali menyebut nama Han-koko, mengingatkan ia akan suara tangisan dan panggilan adiknya, Lulu.

"Kakanda Han.... kalau memang mencinta mengapa tidak dari dahulu berterus terang....? Kalau benar engkau mencinta aku seorang.... ah, kalau aku tahu.... masa aku akan mengalah begitu saja, membiarkan suci membuntungi kakiku....? Aduh, Han-koko.... Han-suheng.... betapa kejamnya engkau....."

Han Han tetap berdiri seperti patung memandang nenek itu, jantungnya berdebar penuh ketegangan, juga penuh keharuan. Nenek itu seperti seorang anak kecil, menangis terisak-isak dan bicara sendiri seperti orang gila.

Satu demi satu surat yang ditulis dengan huruf-huruf indah itu dibacanya, dan tiap kali membaca sebuah surat ia menangis makin sedih. Akhirnya semua surat habis dibaca nenek itu, surat-surat itu berserakan di atas tanah lantai pondok dan Han Han melihat betapa air mata nenek itu membuat beberapa huruf hitam menjadi luntur dan kotor. Nenek itu sendiri masih terisak-isak, seolah-olah dia telah lupa kepada Han Han dan tenggelam dalam kedukaan yang amat hebat. Wajah yang kurus itu sepucat mayat, kosong tak ada gairah hidup. Sepuluh jari tangannya mencengkeram dan membuka, seperti orang sekarat, tanda bahwa jantungnya seperti diremas-remas oleh penderitaan batin. Han Han merasa kasihan sekali. Setelah menanti lebih dari dua jam dan nenek itu masih saja belum dapat menguasai kesedihannya, ia lalu menjatuhkan diri berlutut lagi sambil berkata.

"Locianpwe, ampunkanlah saya kalau penyerahan surat-surat itu mendukakan hati locianpwe.... kalau saya tahu.... ah, lebih baik saya buang saja surat-surat itu. Saya tidak ingin melihat locianpwe berduka seperti ini...."

Nenek itu menoleh dan memandang Han Han seperti orang bingung, seperti heran mengapa ada seorang pemuda di situ. Akan tetapi ia segera teringat kembali dan kini pandang matanya menyapu surat-surat yang berserakan di atas lantai.

"Mengapa aku tidak berduka? Delapan puluh tahun lamanya aku berada di sini, menyiksa diri dan hati, menanam kebencian yang menjangkau langit, menyimpan sakit hati sedalam laut dan kini, surat-surat itu membuka rahasia, menyatakan bahwa semua penderitaanku selama puluhan tahun ini sesungguhnya sia-sia belaka, hanya muncul sebagai akibat salah faham. Dia mencintaku seorang...., Ha-ha-heh-heh-hi-hik. Ingin aku melihat wajah Maya Suci kalau dia membaca surat ini. Sebuah saja. Hi-hi-hik."

Nenek itu kini tertawa-tawa dan Han Han merasa amat terharu, seperti ditusuk jantungnya karena nenek itu tertawa seperti setan menangis"

"Ahhhhh"

Apa artinya semua ini?"

Tiba-tiba Si Nenek mencelat dan seketika Han Han bingung karena kembali nenek itu lenyap dari pandang matanya. Ketika ia mencari-cari dengan pandang matanya, bayangan putih berkelebat seperti kilat menyambar dan tahu-tahu nenek itu sudah berada kembali di tempat itu, tangannya memegang obor dan dibakarnyalah semua surat-surat yang berserakan di atas lantai. Ia kini tersenyum-senyum, tertawa-tawa melihat api yang membakar surat-surat itu menyala-nyala di sekelilingnya, kemudian ia melempar obor itu keluar pondok dan berkata.

"Han-koko, biarlah rahasia ini tetap tersimpan dalam hati kita. Biarlah kelak kita bicarakan cinta kasih antara kita kalau kita saling berjumpa di akhirat."

Dalam ucapan ini terkandung kasih sayang yang amat besar, suara nenek itu terdengar merdu dan penuh getaran kasih, membuat Han Han menjadi makin terharu hatinya. Setelah surat-surat yang terbakar itu habis menjadi abu, nenek itu mengibaskan tangannya dan abu surat itu melayang keluar pondok, sehingga lantal itu kini bersih, sedikit pun tidak ada bekas-bekas surat yang dibakar. Nenek itu lalu memandang Han Han yang masih berlutut, suaranya kembali terdengar dingin.

"Siapa tadi namamu?"

Han Han masih merasa tegang dan heran mendengar betapa nenek itu menyebut nama si penulis surat sebagai "Kanda Han", nama yang sama benar dengan namanya sungguhpun kemudian sebutan-sebutan lain membuat ia tahu bahwa laki-laki penulis surat itu tentulah suheng dari nenek ini yang bernama Han Ki. Maka ia lalu menjawab.

"Nama saya Sie Han, locianpwe."

"Hemmm, benar namamu itu yang tadi mendatangkan rasa benci di hatiku dan membuat aku ingin membunuhmu. Akan tetapi sekarang tidak lagi, aku tidak membenci nama Han. Tidak. Eh, orang muda, sungguh keadaanmu mengherankan hatiku. Engkau sudah menemukan Pulau Es, mempelajari ilmu di sana sehingga tenaga sin-kangmu luar biasa sekali. Kemudian engkau membawa surat-surat itu yang memang ditujukan kepadaku dan.... dan kakimu juga buntung. Siapa yang membuntungi kakimu?"

"Yang membuntungi adalah Toat-beng Ciu-sian-li...."

"Wah-wah, Bu Ci Goat perempuan tak tahu malu itu? Hemmm, mengapa?"

Karena maklum bahwa wanita tua yang menjadi seorang di antara penghuni Pulau Es ini adalah seorang yang amat sakti, maka Han Han tidak berani berbohong.

"Dahulu, di waktu masih kecil, saya pernah menjadi muridnya dan karena saya tidak senang, melarikan diri darinya, setelah berjumpa kembali saya lalu dihukum potong kaki."

"Bu Ci Goat sungguh tak tahu diri, Tidakkah dia tahu bahwa engkau telah menjadi ahli waris Pulau Es?"

Post a Comment