Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 130

Memuat...

"Selamat jalan, selamat berpisah sampai jumpa kembali, Lulu."

Maka berpisahlah kakak dan adik angkat ini. Lulu berdiri memandang encinya yang berlari cepat ke selatan itu sambil tersenyum. Gadis yang amat baik budi, pikirnya, lagi pula gagah perkasa dan cantik jelita. Tepat menjadi isteri Han-ko. Akan tetapi di mana kakaknya? Teringat akan ini, cepat ia membalikkan tubuhnya dan lari ke utara, arah yang berlawanan dengan larinya Sin Lian. Ia harus dapat bertemu dengan kakaknya yang sudah lama dirindukannya itu. Telah lama kita meninggalkan Han Han.

Apakah yang telah terjadi dengan Han Han setelah dalam usahanya menyelamatkan Kim Cu dia sendiri terpelanting dan terjerumus ke dalam jurang yang seolah-olah tak berdasar saking curamnya? Benarkah kekhawatiran para nikouw, Kim Cu, dan para nelayan bahwa pemuda itu tentu tewas dan hancur sehingga mayatnya pun tak dapat ditemukan? Memang, kalau menurut pengertian dan perhitungan manusia, selamatnya Kim Cu setelah terjatuh dari tempat tinggi itu merupakan hal yang ajaib dan kiranya tidak mungkin ada orang lain yang sebaik itu nasibnya. Han Han pasti hancur lebur tubuhnya. Akan tetapi pengertian manusia sesungguhnya amat tidak berarti, amat kecil dan jauh daripada cukup untuk dapat menjangkau dan menjenguk untuk mengukur kekuasaan Tuhan yang terlampau besar untuk dapat dipertimbangkan dan diukur oleh pengertian manusia. Logika atau nalar manusia amatlah kecil.

Apalagi tentang hidup dan mati. Jika Tuhan menghendaki kematian seseorang, ke mana pun dia pergi, biarpun dia bersembunyi ke lubang semut, tidak urung maut akan datang menjemput. Jika menghendaki sebaliknya, biar selaksa macam malapetaka mengancam, dia akan lolos dari bencana. Demikianlah pula dengan Han Han. Agaknya Tuhan memang belum menghendaki pemuda ini tamat riwayat hidupnya, sungguhpun nyawanya sudah berada di ujung rambut, nyaris ia tewas. Ketika ia meluncur turun, lebih cepat daripada tubuh Kim Cu yang ringan, ia menimpa air lebih keras daripada gadis itu. Hal ini adalah karena selama melayang turun ini, pikiran Han Han penuh dengan kekhawatiran akan diri gadis itu. Dia selalu ingat akan menyelaniatkan Kim Cu, maka tubuhnya melakukan gerakan melawan sehingga tubuh itu terbanting keras ke permukaan air.

Hebat sekali akibatnya, membuat matanya gelap dan ia tenggelam dalam keadaan setengah pinpsan. Kebetulan sekali ia jatuh di bagian yang dalam dan airnya amat deras sehingga begitu ia jatuh dan tenggelam, tubuhnya disambar dan dihanyutkan air amat cepatnya. Dalam keadaan pening dan setengah pingsan itu, Han Han menggerakkan kaki tangannya, akan tetapi kakinya yang buntung terasa nyeri sekali, hampir tak tertahankan. Untung baginya bahwa dia memang telah memiliki sin-kang yang tinggi dan selama enam tahun menggembleng diri secara tekun sehingga ia telah memiliki kekuatan menahan napas. Ia membiarkan dirinya hanyut, menahan napas dan perlahan-lahan menggerakkan kedua lengan sehingga akhirnya ia dapat juga mengambang setelah terbawa hanyut amat jauh. Aliran sungai itu makin berbelak-belok dan arusnya kuat sekali.

Tubuh Han Han terbanting-banting batu karang menonjol sehingga pakaiannya robek-robek, berikut kulit tubuhnya. Kakinya terasa makin nyeri, sampai menusuk ke jantung, membuat napasnya terengah dan pandang matanya gelap. Kalau saja Tuhan tidak menolongnya, tentu Han Han tewas dalam keadaan seperti itu. Sungguh amat kebetulan bahwa pada saat itu ia tidak sadarkan diri, pingsan benar-benar, tangannya meraih dan kebetulan lengannya dapat merangkul sebatang pohon yang hanyut. Kedua tangannya mencengkeram ranting-ranting dan daun, dan pingsanlah dia setengah bergantung pada cabang pohon, dibawa hanyut arus air yang makin kuat. Han Han sama sekali tidak tahu karena dia tidak sadar ketika cabang pohon itu dihanyutkan air yang makin kuat arusnya dan tiba di tempat yang sempit dan menurun.

Kalau saja ia tidak memeluk kuat-kuat cabang itu di waktu hampir pingsan sehingga tubuhnya kini terbelit-belit ranting, tentu ia sudah terlepas dan tewas ditelan air. Arus air makin kuat dan tibalah di sebuah tikungan. Cabang pohon itu terhalang batu dan karena cepatnya cabang itu dihanyutkan, ketika menghantam batu karang terdorong minggir, ditangkap pusaran air dan dihanyutkan ke pinggir di mana air terpecah memasuki sebuah terowongan. Kiranya sungai di bagian ini mempunyai banyak cabang-cabang, yaitu lubang-lubang di antara batu gunung yang merupakan gua-gua atau terowongan. Cabang pohon yang membawa tubuh Han Han hanyut memasuki terowongan yang amat panjang dan gelap. Lebih dari dua kilometer panjang terowongan ini, di mana air yang masih deras mengalir di bawah gunung karang.

Sampai setengah hari lamanya Han Han dibawa hanyut air sungai. Ketika siuman dari pingsannya, ia telah menggeletak di antara batu-batu kali yang halus dan berwarna hitam. Cabang pohon tadi hanyut oleh air terdampar ke pinggir dan terjepit di antara batu-batu. Untung bagi Han Han bahwa ia rebah terlentang sehingga hanya tubuhnya saja terendam air dangkal, mukanya terapung di permukaan air. Ia membuka mata, mengeluh perlahan karena merasa betapa seluruh tubuhnya nyeri. Akan tetapi pikirannya masih sadar dan segera ia dapat mengingat kembali keadaannya. Tahulah dia bahwa secara gaib sekali Tuhan telah menolongnya sehingga dia tidak tewas ketika terjatuh dari atas tebing yang curam itu. Sejenak ia teringat akan nasib Kim Cu dan cepat ia menggerakkan tubuh, menekankan kedua tangan pada batu hitam.

"Kim Cu...."

Ia berseru perlahan. Matanya memandang ke arah air sungai yang masih deras mengalir di tengah, mencari-cari penuh harapan. Kalau dia selamat, kemungkinan besar Kim Cu selamat pula.

"Kim Cu....."

Makin keras ia memanggil.

"Aku selamat, tentu engkau pun selamat....."

"Orang muda yang lancang. Boleh jadi engkau bebas dari cengkeraman air, akan tetapi jangan harap dapat terbebas dari tanganku."

Han Han yang kuat menahan dinginnya air karena sin-kangnya, kini menggigil mendengar suara itu. Suara yang merdu dan halus sekali, akan tetapi mengandung hawa dingin yang membeku. Cepat ia memutar tubuh, berpegang kepada batu dan melihat seorang nenek berdiri tidak jauh di depannya dan ia bengong. Nenek itu hanya berkaki satu. Namun, biar kakinya hanya tinggal satu, nenek itu dapat berdiri tegak di atas batu. Kaki tunggalnya itu berada di tengah-tengah bawah tubuhnya, sukar dikatakan kaki kanan ataukah kaki kiri.

Berdiri tegak tak bergerak seperti sebuah arca, tangan kiri memegang tongkat sehingga lengan bajunya tersingkap dan tampak sebuah tangan yang kecil dan berkulit halus putih. Wajah yang keriputan kurus itu masih membayangkan kecantikan masa muda dan tubuhnya masih kecil ramping. Akan tetapi pandang mata nenek itu membuat Han Han mengkirik. Pandang mata yang dingin sekali. Setelah kini ia membalikkan tubuh memandang ke darat, tampak olehnya jauh di belakang wanita tua itu sebuah pondok butut. Penglihatan mata Han Han amat tajam. Dia dapat mengenal orang pandai, akan tetapi pada saat itu ia bengong dan memeras otak untuk mengingat-ingat karena ia merasa yakin bahwa ia pernah bertemu dengan wanita ini"

Akan tetapi mendengar ucapan wanita tua itu, ia terkejut dan berkata.

"Maaf, locianpwe. Mengapa locianpwe mengatakan saya lancang?"

"Hemmm, aku sudah bersumpah untuk membunuh setiap orang yang berani mendatangi tempat pertapaanku ini dan engkau telah lancang berani datang ke sini."

"Tapi.... saya.... tidak sengaja datang ke tempat ini."

Han Han memprotes.

"Tidak peduli. Engkau telah mengotori tempat ini dan engkau harus mati."

Tiba-tiba, sukar diketahui oleh Han Han bagaimana wanita itu bergerak, tahu-tahu tubuh wanita itu telah menyambar ke arahnya dan tongkat di tangan kiri itu menyambar ke arah kepalanya. Han Han masih berdiri di dalam air, sebatas paha. Melihat sambaran yang dahsyat luar biasa ini, Han Han cepat melempar tubuh ke belakang.

"Byurrr....."

Ia terluput dari maut, akan tetapi ia gelagapan dan cepat memegang batu karang, bangun berdiri lagi. Wanita itu telah berdiri di atas batu seperti tadi, pandang matanya yang dingin bersinar marah, keningnya yang tipis berkerut.

"Hemmm, agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian? Bagus, coba kau hadapi pukulan ini."

Sebelum Han Han dapat mencegah atau membantah, Nenek itu telah mendorong dengan tangan kanannya ke depan. Serangkum hawa yang amat dingin menyambar ke arah Han Han. Cepat pemuda itu membuang diri ke kanan.

"Pyarrrrr."

Batu hitam besar yang berada di sebelah kiri pemuda itu pecah berantakan terkena hawa pukulan yang amat dahsyat itu.

"Locianpwe, tahan....."

Han Han berseru, akan tetapi pukulan ke dua sudah datang pula, lebih hebat dari tadi. Han Han kembali mengelak ke kiri.

"Byurrrr."

Han Han menengok dengan kaget menyaksikan betapa hawa pukulan itu membuat air di belakangnya menjadi bongkahan-bongkahan salju membeku"

Maklumlah ia bahwa nenek itu memiliki Im-kang yang amat dahsyat dan kini teringatlah ia di mana ia telah "bertemu"

Dengan nenek itu.

"Locianpwe....."

Nenek itu sudah memukul lagi, tidak ada kesempatan lagi bagi Han Han untuk mengelak. Terpaksa ia menggerakkan tangan menangkis dengan cara mendorongkan tangan kanan ke depan sambil mengerahkan tenaga sin-kang. Gerakan ini tentu saja meniru gerakan yang pernah dia pelajari dari kitab-kitab Ma-bin Lo-mo, yaitu Swat-im Sin-ciang.

"Desssss...., Aihhhhh....."

Tubuh nerek itu bergoyang-goyang dan ia mengeluarkan seruan kaget, sedangkan tubuh Han Han terbanting ke belakang, mulutnya mengeluarkan darah segar. Keadaan pemuda ini masih belum pulih, belum sembuh benar dari penderitaan luka di kaki yang dibuntung, apalagi baru saja dia dipermainkan arus air sehingga dia amat lelah dan tenaga yang ia keluarkan tadi hanyalah sisa tenaga yang tinggal separuh. Pertemuan tenaga Im-kang dahsyat itu membuat Han Han terluka di sebelah dalam tubuhnya dan ia terhuyung, memegang batu dan jatuh di atas batu hitam.

"Keparat! Engkau pandai Swat-im Sin-ciang? Ada hubungan apa engkau dengan Si Setan Muka Kuda Siangkoan Lee?"

Akan teitapi pertanyaan yang terdengar merdu dan terlalu dingin itu seperti tidak terdengar oleh Han Han yang kepalanya terasa pening.

"Locianpwe.... saya pernah bertemu dengan locianpwe.... di Istana Pulau Es...."

Terdengar wanita tua itu mengeluarkan suara melengking dan tahu-tahu tubuhnya telah berada di atas batu depan Han Han, tongkatnya sudah diangkat ke atas, siap ditusukkan ke ubun-ubuh kepala Han Han.

"Apa kau bilang....? Pulau Es....? Orang muda, sekarang ada tiga alasan bagiku untuk membunuhmu. Pertama, engkau lancang masuk ke sini, kedua, engkau ada hubungan dengan Siangkoan Lee dan Swat-im Sin-ciang, ke tiga, engkau tahu akan Pulau Es....."

Tongkat diangkat ke atas, ujungnya hendak ditusukkan ke kepala Han Han. Pemuda ini melihat datangnya bahaya maut, akan tetapi kepalanya terlalu pening dan pikirannya tidak karuan. Entah bagaimana, ia merasa pasti akan mati dan ia terbayang akan beruang es yang mati di Pulau Es, maka bibirnya mengeluh,

"Beruang Es itu telah mati.... mati digigit ular merah...."

Dan dia pun roboh pingsan, terkulai lemas.

"Beruang.... beruang es....? Mati....?"

Tongkat yang sudah siap menghabiskan nyawa Han Han itu perlahan-lahan turun. Nenek itu tertegun dan termenung memandang tubuh Han Han yang terkulai, kemudian tongkatnya bergerak, mencokel tubuh Han Han dan sekali digerakkan tubuh Han Han terlontar ke atas, disambut dengan lengan kanan, dikempit kemudian nenek itu meloncat-loncat dengan satu kakinya, cepat bukan main dari batu ke batu, menuju ke pondok kecil.

"Luar biasa...., Kakinya juga buntung sebelah....."

Gumamnya ketika tadi melihat betapa kaki pemuda itu juga buntung sebelah. Keadaan pemuda itu menarik perhatiannya, begitu tertarik sehingga ia tidak ingin lagi membunuhnya. Pertama, pemuda ini, yang keadaannya sudah lemah, sanggup menangkis pukulan Im-kangnya. Hal ini saja sudah mengejutkannya karena tadi ia merasa betapa tangkisan itu amat kuatnya. Si Muka Kuda sendiri belum tentu dapat bertahan dan menangkis sekuat itu. Ke dua, pemuda itu mengatakan pernah bertemu dengannya.

Ketiga, pemuda itu menyebut-nyebut beruang es yang mati digigit ular merah, hal ini menguatkan bukti bahwa pemuda ini berar-benar pernah berada di Pulau Es. Dan kini ke empat, kenyataan bahwa pemuda ini seorang yang berkaki satu menambah keinginan tahunya. Ketika Han Han membuka matanya, pertama yang terasa olehnya adalah rasa pahit di mulut dan bau harum di hidung. Ia mengecap mulutnya dan tahulah ia bahwa dia telah dicekoki Obat selagi pingsan dan teringatlah ia akan semua pengalamannya tadi. Cepat ia bangkit duduk di atas pembaringan itu dan melihat nenek tadi sedang duduk di atas kursi di sudut bilik, memandangnya penuh perhatian. Melihat nenek itu, Han Han maklum bahwa biarpun tadi ia diserang sampai roboh pingsan, namun akhirnya nenek itu telah menolongnya. Ia lalu meloncat turun dari atas pembaringan, lupa akan kakinya yang buntung sehingga akibatnya ia roboh terguling.

"Aduhhh....."

Kakinya terasa nyeri sekali, namun ia memaksa diri merangkak dan berlutut dengan sebelah kaki di depan nenek itu.

Post a Comment