"Karena aku telah menemukan seorang gadis yang betul-betul mencintanya dengan seluruh jiwa raganya, yang betul-betul cantik jelita, betul-betul gagah perkasa, dan betul-betul berbudi mulia sehingga cocok sekali untuk menjadi teman hidup Han-koko selamanya."
Kembali wajah cantik itu kehilangan sinarnya dan suara Sin Lian agak menggetar ketika bertanya,
"Siapa.... siapa dia, Adikku?"
Lulu menengadah, seolah-olah hendak minta nasehat dari awan dan perlahan-lahan ia menjawab,
"Gadis itu, yang kuanggap paling cocok untuk menjadi jodoh Han-koko, dikatakan dekat amatlah jauhnya karena dia sendiri tidak tahu bahwa dialah pilihanku, dikatakan jauh amatlah dekatnya karena saat ini ia duduk di depanku...."
"Aduuuhhhhh.... Aduuuhhhhh.... tobaaat, Enci....."
Lulu menjerit dan meronta-ronta sehingga cubitan pada pahanya terlepas dan ia meloncat dan lari menjauhkan diri dari Sin Lian yang mukanya menjadi merah seperti udang direbus.
"Wah, engkau terlalu. Enci Lian, Mencubit paha orang sampai lecet. Awas kau, kelak kulaporkan kepada Han-koko, biar kau dicubit sampai habis. Hi-hik."
"Lulu....."
Suara Sin Lian terdengar marah.
"Engkau yang terlalu, Engkau sudah melampaui batas mempermainkan aku. Apakah engkau sengaja hendak menghina Encimu?"
Melihat Sin Lian marah, Lulu menghampiri dan merangkulnya, mencium pipinya dan merebahkan muka di dada yang membusung itu.
"Enci Lian, Enciku yang baik, masa engkau tega marah-marah kepada Adikmu? Aku saying kepadamu, Enci, dan biarpun aku tadi main-main, akan tetapi main-main karena ada dasarnya. Main-main yang bisa menjadi sungguhan. Atau.... engkau hendak menyangkal dan membohongi hati sendiri bahwa.... bahwa engkau mencinta Han-koko?"
Terdengar isak tertahan di dada Sin Lian. Ia balas memeluk adiknya dan tidak menjawab. Ketika Lulu mengangkat muka memandang dan melihat Sin Lian menitikkan dua butir air mata, Lulu bertanya lirih.
"Salahkah dugaanku, Enci? Kelirukah aku bahwa engkau mencinta Han-ko?"
Sin Lian menggigit bibir, mengejapkan mata, kemudian.... mengangguk. Lulu tersenyum gembira lalu berloncatan menari-nari mengelilingi Sin Lian.
"Bagus.... bagus...."
Wah, aku girang sekali"
Engkau Enciku menjadi Sosoku (Kakak Iparku) sama saja"
Wah, aku bahagia sekali, Enci.... eh, calon Soso yang baik."
Lulu merangkul dan menciumi kedua pipi Sin Lian. Mau tidak mau Sin Lian tertawa juga, mengusap air matanya dan memegang kedua pundak Lulu.
"Lulu, adikku yang nakal. Hanya kepadamulah aku sudi membuka rahasia hatiku ini. Bahkan di depan Ayahku sekalipun aku tidak akan suka mengaku. Akan tetapi, hendaknya engkau menutup mulut dan memegang rahasia ini, Adikku. Biarpun aku mencinta orang, harus diselidiki lebih dahulu apakah orang itu akan membalas cintaku. Dan.... dan.... dia masih belum diketahui berada di mana. Karena itu, kuminta, mulai detik ini, jangan kau bicara lagi tentang dia."
"Tak mungkin aku tidak boleh bicara tentang dia, hanya aku tidak akan menyinggung perasaanmu, Enci Lian. Dan aku berjanji kelak akan mengusahakan dia membalas cinta kasihmu."
"Sudahlah, lebih baik mari kita berlatih lagi. Kemajuanmu sudah hebat dan beberapa bulan lagi saja aku takkan kuat menandingimu."
Kedua orang dara jelita itu lalu berlatih silat dengan tekun. Sampai setahun lebih Lulu berada di lembah Huang-ho, berlatih silat di bawah bimbingan ayah dan enci angkatnya sehingga dia memperoleh kemajuan hebat. Kemudian timbul lagi rasa rindu dan khawatirnya terhadap Han Han, maka ia minta diri dari ayah angkatnya untuk pergi mencari kakaknya. Lauw-pangcu sebetulnya tidak rela melihat puteri angkatnya yang amat dikasihinya itu pergi, akan tetapi karena maklum bahwa hati Lulu tidak akan bahagia sebelum dapat menemukan kembali Han Han terpaksa ia berkata.
"Aku merasa menyesal sekali bahwa usahaku menyebar anak buahku untuk mencari Kakak angkatmu itu selama ini sama sekali tidak ada hasilnya, Lulu. Tidak ada seorang pun di dunia kang-ouw mendengar atau melihat adanya Han Han. Oleh karena itu, sungguhpun hatiku tidak akan tenteram melihat engkau pergi sendiri, namun aku tidak dapat mencegahmu. Engkau hati-hatilah di dalam perjalanan, Lulu, karena sungguhpun sekarang tingkat kepandaianmu sudah melampaui aku, namun di dunia ini banyak sekali terdapat orang sakti yang menyeleweng daripada kebenaran."
"Jangan khawatir, Ayah. Kalau aku telah bertemu dengan Han-ko, aku akan mengajak dia datang ke sini, terutama sekali untuk bertemu dengan Lian-ci...."
Lulu melirik ke arah Sin Lian dengan pandang mata dan senyum menggoda. Wajah Sin Lian berubah merah sungguhpun hatinya merasa senang mendengar janji Lulu. Cepat-cepat ia bekata,
"Lulu-moi, kita dapat melakukan perjalanan bersama. Aku pun hendak pergi mencari lima orang suhuku dan mengajak mereka mencari Puteri Nirahai yang menurut dugaanmu menjadi biang keladi semua permusuhan antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, dan yang tentu mengetahui siapa sebenarnya yang membunuh Liok-suhu dan Chit-suhu."
Demikianlah, dua orang dara jelita itu pergi dari lembah Huang-ho yang tersembunyi, meninggalkan Lauw-pangcu yang bersunyi diri dan yang telah mengundurkan diri dari perjuangan,
Bahkan yang mulai menjauhkan diri dari urusan duniawi karena merasa sudah terlalu tua ditambah kesadaran bahwa ikut sertanya dalam perang sama sekali tidak akan mengubah keadaan menjadi baik, bahkan sebaliknya. Ia kini tekun bersamadhi semenjak kedua orang puterinya pergi, bahkan menyerahkan urusan Pek-lian Kai-pang kepada para pembantunya. Adapun Sin Lian dan Lulu tidak lama melakukan perjalanan bersama. Sepekan kemudian mereka terpaksa harus berpisah karena Lulu hendak mencari kakaknya di kota raja, sedangkan Sin Lian hendak pergi ke Siauw-lim-si lebih dulu untuk mendengar apakah lima orang suhunya telah kembali ke sana. Kedua orang gadis remaja ini saling berangkulan ketika hendak berpisah dan berjanji akan segera saling bertemu kembali di lembah Huang-ho.
"Jangan lupa, Adikku. Bulan tiga tahun depan, jadi kurang enam tujuh bulan lagi adalah ulang tahun ke tujuh puluh dari Ayah kita, tepatnya jatuh pada pertengahan bulan. Aku bermaksud mengadakan sedikit pesta ulang tahun, dan engkau harus membantu dan hadir,"
Demikian pesan Sin Lian.
"Baik, Enci Lian. Aku pasti akan bersama kakakku."
Sin Lian merasa betapa jantungnya berdebar dan pipinya panas, kemudian ia merangkul sekali lagi dan mencium pipi adik angkatnya, lalu berkata,