Suara yang halus merdu penuh iba itu memanggilnya seperti berbisik. Han Han menoleh dan melihat Kim Cu telah berdiri di situ, membawa sebuah buntalan. Gadis yang cantik manis, rambutnya yang hitam halus itu terurai kusut, matanya masih basah bekas tangis, pakaiannya juga kusut, wajahnya agak pucat, pandang matanya penuh iba ditujukan kepada wajah Han Han, kemudian perlahan-lahan menurun, ke arah paha yang buntung.
"Kim Cu.... engkau.... datang ke sini....?"
Han Han menegur penuh kekhawatiran.
"Tentu Gurumu akan marah...."
Kim Cu berlutut dekat Han Han dan berkata,
"Jangan banyak bicara dulu, mari kau makanlah ini. Kubawakan makanan dan minuman, dan obat bubuk untuk menambah darah, obat untuk mengobati lukamu...."
Melihat gadis itu dengan jari-jari tangannya yang kecil-kecil meruncing membuka buntalan, mengeluarkan roti dan sedikit daging, sebotol minuman air hangat, menghidangkannya di depannya, Han Han mengikuti segala gerakannya dengan hati penuh keharuan.
"Han Han, makanlah dulu...."
Gadis itu mengangkat muka. Mereka berpandangan. Kim Cu terisak, menggigit bibir menahan tangis.
"Han Han.... kau.... kau menangis....?"
Ia melihat dua butir air mata turun perlahan dari kedua mata pemuda yang terbuka lebar.
"Kim Cu...."
Suara Han Han menggetar.
"Mengapa....?"
Kim Cu memandang, juga air matanya berderai,
"Kau hendak berkata apa....?"
"Mengapa engkau sebaik ini kepadaku....?"
Dengan air mata masih berderai Kim Cu memandang, bibirnya yang dirapatkan itu bergerak-gerak menggigil, seperti hendak menangis, akan tetapi ia lalu memaksa senyum, senyum yang malah menggurat perasaan hati Han Han.
"Makanlah dulu, Han Han. Engkau pucat sekali, matamu merah.... makanlah dulu, baru nanti kita bicara...."
Han Han mengangguk, lalu mengambil roti dan memakannya. Ia lapar sekali, dan roti itu terasa lezat, akan tetapi ia makan perlahan sambil kadang-kadang memandang wajah Kim Cu yang berlutut di situ, berusaha untuk menjenguk isi hati gadis itu. Kim Cu kadang-kadang memandang, akan tetapi kalau pandang mata mereka bertaut, ia lalu menundukkan mukanya dan merangkapkan sepuluh jari tangannya. Roti yang dibawa Kim Cu itu hampir habis.
"Engkau tidak makan? Marilah...."
Kim Cu menggeleng kepala perlahan.
"Makanlah, habiskan. Aku tidak lapar, engkau tentu lama tidak makan...."
Roti itu habis dan Han Han minum air hangat, menyapu bibirnya dengan ujung lengan baju.
"Kim Cu, banyak terima kasih kuucapkan padamu. Bukan hanya untuk roti dan minuman ini...."
"Sssttttt, nanti dulu. Minumlah obat ini. Obat ini manjur sekali, penambah darah dan peringan rasa nyeri, kemudian akan kugantikan obat ini pada lukamu."
Han Han minum obat bubuk itu dengan air hangat, kemudian ia melihat betapa Kim Cu membuka balut pahanya. Ia merasa nyeri ketika balut yang melekat dengan darah kering pada lukanya itu diambil. Akan tetapi ia tidak mengeluh. Hatinya penuh rasa haru dan terima kasih melihat betapa gadis itu membersihkan luka di pahanya tanpa rasa jijik sedikit pun, kemudian menaruhkan obat bubuk dan membalutnya kembali dengan kain bersih yang sengaja dibawanya untuk keperluan itu. Setelah selesai membalut luka itu, Han Han berkata,
"Kim Cu, percayalah, aku selama hidupku takkan dapat melupakan kebaikan hatimu, karena engkau telah menolong nyawaku, telah melepas budi kepadaku dan terutama sekali, engkau telah mengorbankan dirimu...."
"Jangan katakan itu, Han Han. Mana mungkin aku membiarkan dirimu dibunuh hanya karena kesalahanmu yang kecil itu? Engkau masih muda, engkau masih banyak harapan dalam hidup, mengapa harus dibunuh secara sia-sia?"
Han Han menarik napas panjang, lalu bangkit berdiri, bersandar pada batang pohon, tangan kiri menekan tongkat cabang pohon.
"Aaahhhhh, harapan apalagi yang ada padaku? Aku telah menjadi murid tapadaksa.... tiada gunanya...."
Kembali ada dua titik air mata meloncat keluar ke atas pipi Han Han. Kim Cu memandang penuh iba hati, kemudian ia mendekati Han Han, menggunakan ujung ikat pinggangnya dari sutera untuk menghapus air mata itu.
"Ah, Han Han, kasihan sekali kau...."
Sambil berkata demikian, Kim Cu memandang dengan mata basah. Han Han makin terharu, air matanya deras mengucur dan ia segera memeluk dan mendekap muka Kim Cu ke dadanya. Gadis itu terisak-isak dan Han Han menengadah ke angkasa, mengejap-ngejapkan mata untuk menahan membanjirnya air matanya. Sampai lama keduanya berdekapan, Kim Cu membasahi dada Han Han dengan air matanya, kedua lengannya melingkari pinggang Han Han, sedangkan pemuda itu mengusap-usap rambut yang hitam halus dan harum itu.
"Kim Cu...."
Han Han berbisik dekat telinga gadis itu.
"Benarkah dugaan gurumu bahwa engkau.... mencintaku?"
Gadis itu tidak menjawab, hanya gerakan mukanya yang mengangguk amat meyakinkan. Hati Han Han terasa perih dan dengan halus ia mendorong kedua pundak gadis itu sehingga menjauh. Gadis itu memandang kepadanya dan cinta kasihnya tersinar keluar dari pandang matanya. Han Han membuang muka, tubuhnya miring dan kini ia bersandar pada batang pohon dengan pundak kirinya, alisnya berkerut dan mukanya keruh.
"Kim Cu, ini tidak benar. Engkau tidak bisa mencintaku, tidak boleh. Aku kini telah menjadi seorang laki-laki yang buntung kakinya, murid laki-laki yang tidak berguna sama sekali. Engkau hanya akan menyesal kelak, dan akan malu berada di samping seorang pria yang menjijikkan...."
"Ohhh, Han Han, mengapa kau berkata demikian?"
Kim Cu mengusap air matanya dengan punggung tangan kemudian merangkapkan kedua tangannya dengan jari-jari saling cengkeram, suaranya sungguh-sungguh, menggetar dan penuh perasaan.