Hening sejenak di situ. Keheningan yang mencekam perasaan. Semua murid ingin mendengarkan jawaban Han Han. Kim Cu yang makin pucat mukanya itu terdengar berkata, seperti orang mimpi, sehingga dapat diketahui bahwa dia bicara di luar kesadarannya, suara yang keluar dari hatinya yang terguncang, suara yang gemetar.
"Han Han.... kau bicaralah....."
Gadis itu terkejut sendiri mendengar suara hatinya keluar dari mulutnya, memecah kesunyian. Ketika ia sadar bahwa semua mata kini ditujukan kepadanya, wajahnya menjadi merah dan ia menundukkan mukanya. Han Han yang berada dalam keadaan samadhi itu seperti mimpi. Ia melihat bayangan ibunya. Ibunya menghampirinya, mengulurkan kedua tangan dengan pandang mata penuh kasih sayang. Tiba-tiba terdengar suara Toat-beng Ciu-sian-li tadi yang disusul suara Kim Cu.
Bayangan ibunya melangkah mundur, kemudian membalikkan tubuh dan berdiri membelakanginya seperti orang berduka, menundukkan muka. Karena Han Han ingin agar kematian segera menjemputnya, agar ia dapat mengikuti ibunya yang memiliki sinar mata demikian penuh kasih sayang, yang tak pernah ia temui dalam pandang mata siapa pun di dunia ini, melebihi kemesraan pandang mata Lulu, ia lalu menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Toat-beng Ciu-sian-li dan anjuran Kim Cu. Ia masih memejamkan matanya dan menujukan perhatiannya kepada tubuh ibunya yang berdiri membelakanginya dan pundak ibunya bergerak-gerak seperti orang menangis. Toat-beng Ciu-sian-li marah sekali. Pemuda itu sungguh menggemaskan. Menjawab dengan mulut pun tidak mau, hanya menggeleng kepala.
"Gu Lai Kwan, ambil golok."
Bentaknya. Gu Lai Kwan meloncat ke sudut di mana terdapat sebatang golok. Golok ini memang dipersiapkan di tempat itu bersama alat-alat lain untuk menghukum murid murtad. Semua orang murid di situ tahu belaka bahwa murid murid yang melarikan diri akan dihukum dengan pembuntungan kaki. Mereka memandang dan makin tegang ketika Gu Lai Kwan berdiri di dekat gurunya, mem bawa golok yang diminta.
"Lai Kwan, aku menunjuk engkau sebagai pelaksana hukuman. Kau pergunakan golok itu untuk memenggal leher Sie Han."
Suara nenek ini bagaikan halilintar menyambar, membuat wajah para murid menjadi pucat. Gu Lai Kwan sendiri yang tadinya berseri wajahnya karena dia diberi kehormatan sebagai pelaksana hukuman, terbelalak mendengar ucapan gurunya itu. Dia memang penasaran dan marah kepada Han Han. Akan tetapi tadinya dia tidak mengira bahwa dia akan diperintahkan memenggal leher Han Han.
"Le.... lehernya, subo....?"
Tanyanya, seolah-olah ia khawatir kalau ia salah mendengar perintah gurunya. Toat-beng Ciu-sian-li memandang muridnya ini dengan mata mendelik.
"Lehernya, kau dengar? Lehernya, Penggal lehernya. Bocah keparat ini harus mati."
Setelah berkata demikian, nenek itu mengangkat guci araknya dan minum arak menggelogok dengan mata mengerling ke arah dipan untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman dan menikmatinya sambil minum araknya. Gu Lai Kwan mengangkat golok itu ke atas mukanya sungguh-sungguh dan kini sinar matanya mengandung kekejaman. Ia hanya pelaksana dan ia harus mentaati perintah gurunya. Semua murid yang menyaksikan itu mengikuti setiap gerakan tangan Gu Lai Kwan yang mengangkat golok ke atas dengan hati berdebar-debar. Kemudian Lai Kwan mengerahkan tenaga pada lengannya, berseru keras,
"Haiiittttt."
Golok itu berubah menjadi sinar putih menyilaukan mata yang menyambar dari atas ke bawah, menuju leher Han Han yang rebah miring ke kanan membelakanginya.
"Ohhhhh, jangan....."
Jeritan ini keluar dari mulut Kin Cu dan gadis ini sudah menyambitkan sebuah senjata rahasia berbentuk bola baja berduri yang menyambar cepat sekali ke arah golok yang sedang melayang menuju ke leher Han Han.
"Tranggggg....."
Golok yang tadinya melayang turun ke arah leher Han Han itu terpukul senjata rahasia, menyeleweng ke kiri, menyambar kaki kiri Han Han.
"Crokkkkk."
"Ibuuuuu....."
Kaki kiri Han Han terbabat golok, buntung di atas lututnya dan darah mengucur deras, kaki yang buntung terlempar ke bawah dipan.
"Ibuuuuu...., Jangan tinggalkan anakmu, Ibu....."
Han Han menjerit, dengan mata masih terpejam karena ia melihat bayangan ibunya melangkah pergi, makin lama makin jauh dan makin kecil, sehingga akhirnya lenyap.
"Ibuuuuu....."
Sekali lagi Han Han menjerit dan ia roboh pingsan.
Ketika ia siuman kembali, ia melihat Kim Cu berlutut di dekat dipan dan gadis itu menotok punggung dan pangkal pahanya untuk menghentikan darah yang mengucur keluar dari pahanya yang buntung. Han Han merasa betapa kaki kirinya perih dan nyeri sekali, akan tetapi ia tidak mengeluh dan maklumlah ia bahwa dia tidak dibunuh, melainkan dibuntungi sebelah kaki kirinya. Ruangan itu sudah tidak terlalu penuh orang lagi. Semua murid Ma-bin Lo-mo telah disuruh pergi oleh Toat-beng Ciu-sian-li yang marah sekali menyaksikan betapa muridnya yang paling ia sayang, Kim Cu, telah melakukan hal yang amat memalukan dan memarahkan hatinya. Kini yang berada di situ hanya Toat-beng Ciu-sian-li dan tiga orang muridnya. Lai Kwan berdiri di sudut ruangan dengan kening berkerut, hatinya mendongkol terhadap Kim Cu yang telah membuat pelaksanaan tugasnya tidak sempurna. Juga ia mendongkol karena Kim Cu yang diam-diam dicintanya itu membela Han Han.
Phoa Ciok Lin berdiri di sudut lain, memandang ke arah Kim Cu dan gurunya berganti-ganti. Hatinya gelisah karena ia maklum bahwa sucinya itu tentu tidak akan dapat terbebas dari hukuman atas perbuatannya tadi. Nenek itu masih menenggak araknya, matanya mengeluarkan sinar berapi memandang Kim Cu yang agaknya tidak mempedulikan semua itu dan berusaha menghentikan darah yang mengucur dari paha Han Han. Suasana yang amat sunyi itu menimbulkan kegelisahan di hati Han Han. Pertama, dia tidak jadi mati. Kedua, kakinya buntung dan apa yang dapat ia lakukan dengan kaki yang hanya tinggal sebelah itu? Ketiga, ia amat cemas memikirkan nasib Kim Cu, gadis yang telah menolongnya dan di depan gurunya berani menolong menghentikan darahnya dan berusaha pula membebat luka di pahanya dengan robekan ujung baju.
"Kim Cu, mengapa engkau berani menangkis golok Lai Kwan? Mengapa engkau berani menggagalkan hukuman penggal kepala bocah itu?"
Tiba-tiba Nenek itu bertanya, suaranya dingin sekali, perlahan dan lambat, namun malah mendatangkan pengaruh yang menyeramkan, mengandung ancaman yang mengerikan. Han Han tersentak kaget, memandang Kim Cu. Hatinya penuh haru dan tak terasa lagi dua butir air mata menitik dari kedua matanya. Jadi gadis ini tidak hanya menolongnya setelah kakinya buntung, bahkan gadis ini telah menolong nyawanya, menangkis golok Lai Kwan yang tadinya hendak memenggal lehernya.
"Duhai.... Kim Cu, mengapa kau lakukan itu....?"
Ia berbisik lirih sambil memandang gadis itu dengan mata basah. Kim Cu mendengar bisikan ini dan menoleh, memandang kepadanya. Mata gadis ini pun basah air mata, dan sejenak mereka berpandangan. Han Han merasa seolah-olah ada sesuatu yang aneh sekali memancar keluar dari pandang mata gadis itu, yang membuat jantungnya seperti ditusuk, yang membuatnya terharu sekali.
"Kim Cu! Jawablah."
Toat-beng Ciu-sian-li membentak sambil menghentakkan kakinya ke atas lantai. Dia marah sekali sehingga bantingan kakinya pada lantai membuat ruangan itu tergetar. Setelah melepaskan pandang matanya dari wajah Han Han, Kim Cu bangkit berdiri dan berkata.
"Subo, teecu menangkis golok Gu-suheng karena teecu menjaga nama baik subo, dan nama kehormatan Perguruan In-kok-san. Semenjak dahulu, peraturan di In-kok-san amatlah adil, hukuman dijatuhkan sesuai dengan dosanya. Han Han memang bersalah, kesalahannya adalah melarikan diri dari In-kok-san. Dan semenjak dahulu, hukuman bagi murid yang melarikan diri adalah kakinya dibuntungkan. Akan tetapi subo hendak memenggal lehernya, maka terpaksa teecu turun tangan dan sekarang Han Han sudah buntung kaki kirinya, berarti bahwa Thian menyetujui pendapat teecu."
Nenek itu mengerutkan kening.
"Hemmm.... engkau pandai bicara"
Akan tetapi mengapa engkau menolongnya dan mengobatinya pula?"
"Subo, betapapun juga, Han Han adalah bekas suteku, bagaimana teecu dapat membiarkan dia menderita seperti ini? Teecu.... merasa kasihan...."
"Heh, bocah tak bermalu. Apa kau kira mudah saja membohongi aku? Apa kau kira mataku buta tak dapat melihat bahwa engkau mencinta pemuda ini?"
Wajah, Lai Kwan merah, matanya beringas. Juga wajah Kim Cu menjadi merah sekali, ia menundukkan mukanya. Han Han memandang bengong, mengeluh dan bangkit duduk.
"Toat-beng Ciu-sian-li, harap jangan menyalahkan Kim Cu. Kalau engkau masih penasaran, bunuhlah aku, masih belum terlambat."
"Han Han."
Kim Cu menjerit, membalikkan tubuh dan memandangnya.
"Tidak boleh begitu. Murid yang sudah dihukum, tidak akan dihukum lagi."
"Keparat! Engkau sudah bukan muridku lagi. Dengan kaki buntung, hendak kulihat apakah engkau akan bisa hidup lagi, dan kalau pun hidup, engkau akan bisa berbuat apa? Engkau telah menjadi seorang buntung, seorang penderita cacat yang tidak berguna lagi. Ha-ha-ha, Pergilah. Kim Cu, engkau masuk kamarmu dan sebelum kusuruh keluar, engkau tidak boleh meninggalkan kamarmu."
Kim Cu memandang Han Han sejenak lalu membalikkan tubuh lari dari ruangan itu dengan isak tertahan. Han Han menghela napas, lalu bangkit berdiri dengan sebelah kaki. Seluruh tubuhnya menggigil oleh rasa nyeri yang kiut-miut rasanya, membuat ia pucat sekali menahan rasa nyeri. Seluruh tubuhnya seperti ditusuk-tusuk dan kepalanya pening, pandang matanya berkunang. Terpaksa ia memejamkan mata untuk menghilangkan bintang-bintang yang menari-nari di depan matanya, ratusan bintang. Namun, ketika ia memejamkan mata, bintang-bintang itu makin bersinar dan makin cepat bergerak-gerak di depan matanya.
"Ha-ha-ha. Inikah pemuda yang telah mewarisi ilmu dari Pulau Es? Ha-ha-ha, Si Buntung yang tiada guna, lihat betapa lemahnya."
Mendengar suara ejekan dan ketawa yang amat menusuk perasaan itu, bangkitlah amarah di hati Han Han. Ia segera mengerahkan tenaganya dan hawa yang hangat mengalir di tubuhnya.
Akan tetapi aneh sekali, dahulu kalau dia sudah marah dan mengerahkan sin-kang, selalu timbul sifat beringas dan buas yang membuat ia ingin melihat darah mengalir di tubuh lawan, ingin melihat lawan tergolek tak bernyawa di depan kakinya. Kini perasaan itu tidak ada, perasaan yang dahulu menyiksa hatinya setelah ia melihat akibat daripada kebuasannya. Kini ia merasa tenang dan setelah ia mengerahkan tenaga, kepeningan kepalanya berkurang. Ia membuka mata, lalu melangkah. Ia lupa bahwa kakinya tinggal sebuah, maka ia tersuruk ke depan dan roboh menelungkup. Gu Lai Kwan hanya memandang dengan muka keruh. Ia membenci Han Han setelah mendengar pernyataan gurunya bahwa Kim Cu mencinta pemuda yang kini buntung kakinya itu. Adapun Phoa Ciok Lin memandang dengan mata tajam, tidak ada perasaan apa-apa terbayang di wajahnya.
Han Han kembali mendengar suara ketawa Toat-beng Ciu-sian-li. Ia mengerahkan tenaga dan bangkit lagi dengan kedua tangannya menekan lantai, lalu berdiri dan dengan hati-hati ia berloncatan dengan sebelah kaki menuju ke pintu, terus keluar dari rumah Perguruan In-kok-san itu. Akan tetapi dalam keadaan menderita nyeri yang hebat itu, ia tidak melihat jurusan dan kiranya ia keluar dari pintu belakang memasuki taman In-kok-san. Ia berloncatan terus dengan sebelah kakinya. Hari sudah lewat senja. Taman itu mulai gelap. Akan tetapi Han Han berloncatan terus, kalau hendak roboh ia menangkap batang pohon, mengaso sebentar untuk melenyapkan rasa berdenyut-denyut di kaki yang naik ke dada dan kepala.
Dipatahkannya sebuah cabang pohon yang rendah, dibuangnya ranting dan daun, dan cabang itu ia pergunakan sebagai tongkat. Ia berloncatan, lambat sekali, terus ke depan. Akhirnya ia roboh juga, setengah pingsan setengah tidur di bawah pohon di luar taman dalam sebuah hutan siong, menggeletak terlentang dan tongkatnya melintang di atas dadanya. Menjelang subuh, ia terbangun oleh suara kokok ayam hutan. Dilihatnya, cuaca masih amat gelap, hawanya dingin bukan main. Rasa nyeri pada kakinya sudah banyak berkurang, dapat ditahankan, akan tetapi perutnya terasa perih sekali karena lapar. Sudah empat hari empat malam dia tidak makan, semenjak ditangkap Toat-beng Ciu-sian-li.
Dan kehilangan darah membuat tubuhnya lemas. Ia bangkit duduk, bersandar batang pohon, menengadah memandang langit yang hitam penuh bintang. Amat indah pemandangan di angkasa itu. Adakah ibunya di sana, di antara bintang-bintang itu? Alangkah akan senangnya dapat berada di sana di samping ibunya. Jauh daripada penderitaan hidup. Mati sudah pasti tidak seburuk hidup kalau menderita begini. Yang jelas, tidak akan ia rasakan lagi nyeri-nyeri di tubuh, lapar di perut dan kepusingan karena segala kegagalan yang dialaminya. Kini ia menjadi seorang tapadaksa, murid buntung yang tentu tidak akan ada gunanya, seperti yang dikatakan Toat-beng Ciu-sianli. Apalagi hendak membalas dendam orang tuanya, melangkah pun harus berloncatan dibantu tongkat, itu pun tidak tegak.
Tugasnya belum selesai sama sekali. Ia meraba dadanya. Kantung berisi surat-surat peninggalan penghuni Pulau Es masih disimpannya. Surat-surat itu belum dapat ia sampaikan kepada orang yang berhak menerimanya. Kewajiban ini belum dilaksanakan. Kemudian membalas dendam keluarganya juga sama sekali tidak dapat dilaksanakannya. Seorang di antara tujuh perwira musuhnya telah menjadi cihu-nya. Biarpun kini ia menduga bahwa cihu-nya bersekongkol dengan tokoh-tokoh istana itu, menyerahkannya kepada Toat-beng Ciu-sian-li, tetap saja ia tidak mungkin akan dapat membunuh orang yang dicinta cicinya. Dan enam orang perwira lain pun tak mungkin dapat dibalas setelah ia kini menjadi buntung. Di waktu ia belum buntung pun ia tidak mampu membalas. Musuh-musuhnya itu dilindungi orang-orang sakti. Masih ada tugas lagi yang makin sulit dilaksanakan, yaitu mencari Lulu.
Ia mengingat-ingat jalan hidupnya. Teringat ia akan wejangan kakek di Siauw-lim-si. Perbuatan berguna apakah yang telah ia lakukan? Tidak ada. Bahkan ia hanya menjadi sebab timbulnya hal-hal yang menyedihkan, yang mengorbankan nyawa orang. Yang terakhir ini pun ia telah menyebabkan celakanya Kim Cu. Ah, kasihan gadis itu, entah bagaimana nasibnya nanti. Dan gadis itu mencintanya? Tidak mungkin. Mana ada gadis yang mencinta seorang sial seperti dia, apalagi kini dia hanya seorang pemuda buntung. Buntung kakinya. Tiba-tiba ia teringat lagi akan wejangan dan nasihat kankek di kuil Siauw-lim-si. Dia dinasihatkan untuk membuntungi kaki kirinya di samping harus belajar mengalah kepada orang lain. Membuntungi kaki kiri? Han Han tersenyum duka dan memandang kaki kirinya yang sudah tidak ada.
Kini hanya tampak sepotong kaki celana menutupi pahanya yang buntung. Tidak susah ia buntungkan, kini sudah ada yang membuntungi kakinya. Agaknya kakek tua di kuil itu sudah tahu bahwa kakinya akan buntung maka menasihatinya agar membuntungi kakinya sendiri, daripada dibuntungi orang lain. Ia tersenyum pahit. Nasihat yang tidak lucu. Dia belum ditakdirkan mati, masih diharuskan hidup oleh Yang Maha Kuasa. Baik, dia akan hidup, dan apa pun jadinya, akan ia hadapi, sungguhpun dia tidak mungkin dapat mengharapkan untuk melaksanakan tugasnya yang pertawa, yaitu membalas dendam. Timbul rasa rindunya kepada Lulu, adiknya. Kalau saja Lulu berada di sampingnya, tentu akan dapat menghiburnya. Akan tetapi wahai.... alangkah akan hancur hati adiknya itu kalau melihat kakinya buntung.
Berpikir demikian, timbul pula rasa iba terhadap dirinya sendiri dan tak kuasa bertahan lagi Han Han mengucurkan air mata. Sampai lama ia menangis seperti ini. Tiba-tiba ia tersentak kaget ketika teringat betapa ia telah menangis mengguguk. Selamanya belum pernah ia berhal seperti ini. Mengapa ia sampai menangis seperti ini? Ke mana kekerasan hatinya? Ia meloncat bangun, lupa akan buntungnya dan ia jatuh lagi, mengeluh. Ia merasa seolah-olah telah menjadi seorang manusia lain sekali. Dan ia menjadi gelisah. Ia termenung, air mata masih membasahi pipinya, matanya masih merah bekas banyak menangis. Berjam-jam ia termenung, pikirannya kosong, hanyut terbawa pergi melayang-layang bersama embun pagi yang mulai terusir sinar matahari pagi. Telinganya tidak mendengar kicau burung yang riang gembira menyambut pagi.
Matanya tidak menyaksikan keindahan sinar surya yang cemerlang menembus celah-celah daun, menciptakan mutiara-mutiara dari titik-titik embun yang bergantungan pada daun pohon. Sambaran seekor burung yang mungkin mengira pemuda ini hanya sebatang tonggak, hampir hinggap di atas rambutnya, menyadarkan Han Han. Ia bergerak dan berdongak. Matanya tertawan oleh berkilaunya setetes air embun yang disinari matahari pagi, menjadi sebutir mutiara yang bercahaya. Ia terpesona. Sesaat ia lupa akar nyeri tubuhnya, lupa akan lapar perutnya. Pandang matanya lekat pada sebutir air yang berubah menjadi mutiara itu, lekat dan seolah-olah ia pun bergantung pada ujung daun itu, bergantung dengan butiran air embun berkilauan, jauh dari derita, jauh dari kepahitan, hanya aman damai dan bahagia. Tiba-tiba butiran mutiara itu runtuh dan lenyap, sebutir pecah menimpa bumi, lenyap tak berbekas.
Ujung daun itu kosong, tidak ada apa-apa lagi, tidak ada mutiara-mutiara berkilau. Han Han tersentak kaget, penuh kecewa. Hemmm, seperti itulah hidup. Hanya setetes air yang berkilauan untuk beberapa lama saja. Kemudian apabila saatnya tiba, akan gugur dan lenyap tanpa meninggalkan bekas"
Ia menghela napas panjang. Dia adalah ibarat mutiara air embun yang gugur sebelum waktunya. Lenyap sudah kilauannya, lenyap kebahagiaannya sebelum mati. Seperti air embun berkilau tiba-tiba kehilangan cahayanya karena matahari tertutup mendung. Hanya tinggal air yang bergantung di daun pohon, tidak ada indahnya, tidak ada cahayanya, hanya menanti saat gugur ke bumi. Seperti dia"
Hidup tiada guna, buntung, sukar bergerak, hanya menanti datangnya maut menjemput.
"Han Han....."