Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 51

Memuat...

Kini aku baru percaya." "Tidak semua orang Tionggoan baik, ada pula yang jahat," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh "Di daerahmu juga tentu ada orang jahat, bukan?" "Betul.

Maka ibu menyuruhku ke Tionggoar mencari Tio Cie Hiong.

Sudah hampir seminggj aku berada di Tionggoan, dan sudah bertanya d sana-sini, namun tiada seorang pun yang tahi tentang ayahmu." "Engkau bertanya kepada siapa?" "Pelayan kedai teh, pelayan toko dan pelayan rumah penginapan." "Tentu mereka tidak tahu, sebab mereka bukan kaum rimba persilatan," ujar Tio Bun Yang.

"Seharusnya engkau bertanya kepada kaum rimba persilatan." "Tadi aku bertemu orang-orang berpakaian hijau, dan aku bertanya kepada mereka.

Mereka bilang kenal Tio Cie Hiong, tapi...." Cing Cing mengerutkan kening.

"Kenapa?" "Mereka bersedia mengajakku menemui Tio Cie Hiong, tapi aku harus memenuhi syarat mereka." "Apa syarat mereka?" "Aku harus menemani mereka tidur." "Apa?" Tio Bun Yang tertegun.

"Mereka sungguh jahat, padahal belum tentu mereka kenal ayahku!" "Aku bilang mereka harus mengajakku menemui Tio Cie Hiong dulu, setelah itu...." "Engkau mau menemani mereka tidur?" "Cisss!

Kebagusan mereka!" Wajah Cing Cing langsung memerah.

"Siapa sudi menemani mereka tidur" Kalau menemanimu tidur, aku masih mau." "Eeeh" Engkau...." Wajah Tio Bun Yang memerah.

Ia sama sekali tidak menyangka gadis Miauw itu akan mengatakan begitu.

Sedangkan monyet bulu putih itu bercuit-cuit, seakan tertawa "Engkau harus tahu, bahwa dulu ada satu aturan di daerah kami." Cing Cing memberitahukan.

"Apabila gadis Miauw menyukai seseorang yang bukan suku Miauw, maka gadis Miauw itu boleh menemani orang itu tidur!" "Peraturan apa itu?" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Tapi kemudian peraturan itu dihapus oleh kakekku atas usul ibuku," Cing Cing memberi tahukan.

"Itu dikarenakan ibuku mendengar nasihat ayahmu, maka mengusul kepada kakekku!" "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut "Jadi peraturan itu sudah tidak berlaku lagi?" "Betul." "Tapi tadi kenapa engkau masih mengatakal begitu?" "Kalau cuma mengatakan, tidak apa-apa, kan" "Memang tidak apa-apa, tapi aku yang merafl tidak enak," ujar Tio Bun Yang.

"Oh ya, kenapa ibumu menyuruhmu ke Tionggoan mencari ayal ku?" "Sebab ibuku membutuhkan bantuan ayahmu," Cing Cing memberitahukan.

"Ayah dan ibu ditangkap orang, dan dikurung di suatu tempat.

Kata orang itu, apabila ada orang lain mampu mengalahkannya, dia akan membebaskan ayah dan ibuku." "Siapa orang itu?" "Sebetulnya dia teman ibuku, bahkan ia mencintai ibuku.

Tapi ibuku mencintai lelaki itu Oleh karena itu dia frustrasi sehingga meninggalkan daerah Miauw." Cing Cing memberitahukan.

"Beberapa bulan yang lalu, mendadak dia muncul.

Ayah dan ibuku tak mampu melawannya, akhirnya ayah dan ibuku ditangkap, dan dikurung di suatu tempat.

Karena itu, ibu menyuruhku ke Tionggoan mencari ayahmu." "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Oh ya, di mana kakek dan nenekmu?" "Sudah meninggal.

Kini orang itu mengangkat dirinya sebagai kepala suku di sana.

Karena dia berkepandaian tinggi sekali, maka tiada seorang pun yang berani menentangnya." "Dia juga orang Miauw?" "Ya, namanya Pahto," sahut Cing Cing dan mendesaknya.

"Ayoh, bawa aku pergi menemui ayahmu!" "Tempat tinggal ayahku jauh sekali." "Pokoknya engkau harus membawaku ke sana," desak Cing Cing lagi.

"Berapa jauh pun engkau harus membawaku ke sana." "Karena ibumu kenal ayahku, maka aku bersedia menolong ibumu," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Apa?" Cing Cing terbelalak.

"Engkau yang akan pergi menolong ibu dan ayahku?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Berapa usiamu sekarang?" tanya Cing Cing mendadak sambil menatapnya dalam-dalam.

"Tujuh belas." "Hi hi hi!" Cing Cing tertawa geli.

"Kenapa engkau tertawa geli?" tanya Tio Bun Yang.

"Engkau masih sedemikian muda, bagaimana mungkin dapat melawan Pahto yang berkepandaian tinggi itu" Sudahlah!

Cepat bawa aku pergi menemui ayahmu saja!" "Engkau harus percaya, aku dapat melawan Pahto itu.

Kalau tidak, bagaimana mungkin aku berani ke sana menolong ibumu?" "Itu...." Cing Cing berpikir lama sekali, kemudian mengangguk dan berkata.

"Baiklah.

Tapi kalau engkau celaka, jangan mempersalahkan aku, ya?" "Aku pasti tidak akan mempersalahkanmu." Tio Bun Yang tersenyum.

"Wuah!" Cing Cing menatapnya.

"Bukan main senyumanmu!" "Kenapa?" Tio Bun Yang tercengang.

"Sungguh mempesona, sehingga membuatku nyaris memelukmu lagi," sahut Cing Cing sambil tertawa.

"Engkau...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

Ia sangat menyukai kepolosal gadis itu.

"Oh ya, berapa usiamu?" "Hampir enam belas," sahut Cing Cing.

"Aku lebih kecil, maka harus memanggilmu Kakak Bun Yang, dan engkau harus memanggilku Adik Cini Cing, bukan?" "Betul!" Tio Bun Yang mengangguk.

"Kakak Bun Yang, mari kita berangkat!" ajak Cing Cing.

"Daerah Miauw itu sangat jauh, lebih baik kita menunggang kuda," usul Tio Bun Yang.

"Bagaimana?" "Baik." Cing Cing mengangguk.

"Di depan sana ada penjual kuda, mari kita ke sana!" Tio Bun Yang tersenyum, dan mereka lalu ke tempat penjual kuda itu.

Tio Bun Yang membeli dua ekor kuda, setelah itu berangkatlah mereka menuju ke daerah Miauw.

Dalam perjalanan tak henti-hentinya Cing Cing tertawa riang gembira, sedangkan monyet bulu putih pun bercuit-cuit.

Belasan hari kemudian, mereka sudah memasuki daerah Miauw.

Mendadak muncul beberapa orang Miauw bersenjata tombak menghadang mereka.

Betapa gusarnya Cing Cing dan langsung membentak-bentak dengan bahasa Miauw.

Setelah itu, ia pun memandang Tio Bun Yang.

"Ada apa?" tanya Tio Bun Yang.

"Ada perintah dari Pahto, siapa yang ingin menemuinya harus melewati tiga rintangan," Cing Cing memberitahukan.

"Rintangan apa?" tanya Tio Bun Yang.

"Kesatu Barisan Ular, kedua Telaga Beracun dan ketiga Lembah Beracun." Cing Cing memberitahukan dengan wajah muram.

"Ketiga rintangan itu tidak gampang dilewati, lebih baik engkau pulang saja." "Biar aku coba melewati ketiga rintangan itu," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Jangan cari mati, sebab sudah banyak oranaL mati di situ," Cing Cing menggeleng-gclengkarl kepala.

"Lebih baik engkau pulang dan suruh ayahmu kemari!" "Yakinlah!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku pasti bisa melewati ketiga rintangan itu." "Oh?" Cing Cing menatapnya seraya berkata "Baik, aku percaya kepadamu.

Kalau engkau mati di sana, aku pasti berkabung lima tahun." "Aku tidak akan mati di sana," Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Beritahukan, aku harus menuju ke mana?" Cing Cing segera berbicara kepada orang orang Miauw itu.

Mereka kelihatan terkejut dai memandang Tio Bun Yang.

"Kakak Bun Yang, ikutlah mereka!" ujari Cing Cing dan menambahkan.

"Engkau begil baik, kalau engkau mati, aku pasti berkabung untukmu." "Cing Cing!" Tio Bun Yang tertawa.

"Percayalah!

Aku tidak akan mati di tempat itu." "Kakak Bun Yang!" Cing Cing menatapnya dalam-dalam.

"Semoga engkau berhasil melewati ketiga rintangan itu!" Tio Bun Yang mengangguk, lalu mengikuti orang-orang Miauw itu.

Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di sebuah rimba.

Orang-orang Miauw itu menunjuk ke arah rimba itu, Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Kauw heng, kita akan memasuki rimba itu." Monyet bulu putih itu bercuit sambil mengangkat dada, pertanda ia tidak takut sama sekali.

"Bagus!" Tio Bun Yang tersenyum.

Mulailah ia melangkah memasuki rimba itu, jikan tetapi, tiada keanehan apa pun di dalam rimba tersebut.

Berselang sesaat, mereka sudah sampai di sebidang tanah kosong yang luas sekali, tapi tiada pohon atau rumput-rumput sedikitpun.

Mendadak terdengar suara suling yang bernada aneh, dan tak lama kemudian terdengar pula luara mendesis-desis.

"Kauw heng, suara apa itu?" Monyet bulu putih itu menggerakkan tangannya memberitahukan, Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Ternyata suara desis ular...." Belum usai ucapannya, sudah tampak ribuan ular berbisa merayap ke arahnya, yang ternyata barisan ular.

Tio Bun Yang mengerutkan kening, lalu bersama monyet putih membunuh ular-ular beracun itu.

Namun sungguh mengherankan!

Begitu suara suling itu berubah, ribuan ular berbisa itu segen berpencar mengurung Tio Bun Yang.

Monyel bulu putih itu bercuit-cuit, sedangkan Tio Bui Yang terus mendengarkan nada suara suling itu dengan penuh perhatian.

Sementara ribuan ular beracun itu sudah sel makin mendekat.

Di saat itulah Tio Bun Yang tersenyum sambil duduk bersila, kemudian mengeluarkan suling pualamnya, sekaligus meniupnya!

Ternyata ia meniru nada suara suling itu Suara suling pualamnya sangat nyaring, sehingga suara suling itu tertindih.

Ribuan ular berbisa itu tampak kebingungan Ular-ular itu mendongakkan kepala, kemudial merayap pergi.

Setelah ribuan ular berbisa itu tak kelihatan barulah Tio Bun Yang berhenti meniup sulinj pualamnya.

Dalam waktu bersamaan, muncullai seorang lelaki berusia lima puluhan sambil tertav gelak.

"Sungguh hebat engkau, anak muda!" uji lelaki itu dengan bahasa Han.

"Aku tidak nr" nyangka engkau begitu mahir meniup suling, ba kan mampu meniru nada suara sulingku.

Ha ha...!" "Paman bisa berbahasa Han?" tanya Tio Bun Yang heran.

"Tentu." Lelaki itu tertawa lagi sambil menatapnya.

"Engkau siapa" Kenapa ingin menemui Pahto?" "Namaku Tio Bun Yang, Paman," sahutnya jujur.

"Aku ke mari karena ingin menolong ibu dan ayah Cing Cing." "Oh?" Wajah lelaki itu tampak berseri.

"Kalau begitu, engkau pasti putera Tio Cie Hiong." "Betul," Tio Bun Yang mengangguk.

"Paman kenal ayahku?" "Ha ha ha!" Lelaki itu tertawa gelak.

"Tentu kenal, sebab ayahmu pernah menyelamatkan ibu Cing Cing." "Oh?" Giranglah Tio Bun Yang.

"Paman, sekarang aku harus menuju ke mana?" "Lurus ke depan, lalu belok ke kiri." Lelaki liu memberitahukan.

"Di situ terdapat sebuah sungai beracun, dan engkau harus menyeberanginya.

Tapi harus berhati-hati, sebab air telaga itu beracun.

Kalau engkau kecipratan air telaga itu, mati keracunan." "Terimakasih, Paman!" ucap Tio Bun Yang, lalu melangkah pergi menuju tempat itu.

Tak seberapa lama kemudian, ia melihat sebuah telaga yang airnya sangat bening.

Namun di sisi telaga itu tampak banyak tulang belulang binatang.

Mungkin binatang-binatang itu minum di telaga tersebut, akhirnya mati keracunan di situ.

Tio Bun Yang berdiri di pinggir telaga beracun itu, dan monyet bulu putih tetap duduk di atas bahunya.

Dari tempat ia berdiri ke seberang sana, jaraknya kira-kira lima puluh depa lebih.

"Kauw heng!

Cara bagaimana kita menyeberang ke sana?" tanya Tio Bun Yang.

Monyet bulu putih itu bercuit-cuit sambil menggerakgerakkan sepasang tangannya.

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut sambil tersenyum.

"Jadi kita berjungkir ke depan sesuai dengan apa yang pernah ayah ajarkan kepadaku?" Monyet bulu putih itu mengangguk, kemudian menarik nafas seakan memberi petunjuk kepada nya.

"Aku mengerti," ujar Tio Bun Yang.

"Meloncat ke depan lalu menarik nafas dalam-dalar agar badan melambung ke atas, lalu melesat kedepan lagi.

Begitu kan?" Monyet itu mengangguk, kemudian bercuit cuit.

"Engkau akan menyeberang duluan memt petunjuk kepadaku?" Monyet bulu putih manggut-manggut.

Mendadak ia melesat ke depan belasan depa, setel itu menarik nafas dalam-dalam, kemudian badannya melambung ke atas sekaligus berjungkir kedepan.

Post a Comment