Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 50

Memuat...

"Kalau semuanya setuju, ibu pun tidak berkeberatan!" "Aku yakin semuanya setuju, terutama Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin," ujar Lie Ai ling dan melanjutkan.

"Sebab aku harus menemani Goat Nio ke Tionggoan mencari Kakak Bun Yang." "Betul, betul," sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikikan.

"Hi hi hi...!" "Isteriku setuju, aku pun setuju," sambung Knn Siauw Suseng.

"Pengemis bau!

Bagaimana engkau?" "Aku tidak berkeberatan," sahut Sam Gan Sin Kny, kemudian bertanya kepada Tio Tay Seng.

"Tio Tocu, bagaimana engkau?" "Terserah kepada kedua orang tuanya," sahut Tio Tay Seng.

"Kami berdua...," ujar Lie Man Chiu sambi memandang Lie Ai Ling dengan penuh kasih sayang.

"Tentunya juga tidak berkeberatan.

Tapi kami baru berkumpul, jadi tidak boleh cepat-cepat ke Tionggoan." "Terimakasih Ayah," ucap Lie Ai Ling dengari wajah berseri.

"Terimakasih Ibu!" --ooo0dw0ooo- Bagian ke dua puluh Gadis cantik suku Miauw Tio Bun Yang terus melanjutkan perjalanan bersama monyet bulu putih.

Ia berusaha keras untuk menguak misteri kematian Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin.

Hari ini ketika ia sampai di tempat sep mendadak ia mendengar suara ribut-ribut di depan.

Segeralah ia melesat ke arah asal datangnya suara itu kemudian meloncat ke atas sebuah pohon.

Dilihatnya seorang gadis cantik dikerumuni beberapa orang berpakaian hijau.

Gadis itu berpakaian aneh warna warni, sepasang tangan dan kakinya memakai gelang, dan telinganya memakai anting yang bergemerlapan.

Begitu melihat gadis tersebut, Tio Bun Yang tahu bahwa gadis itu bukan gadis Tionggoan.

Tampak gadis itu marahmarah sambil menuding orang-orang berpakaian hijau itu, bahkan membentak pula.

"Kalian jangan kurang ajar!

Kata ibuku, orang Tionggoan baik-baik, tidak tahunya begitu kurang Ajar!" "Kami memang orang baik-baik," sahut salah seorang berpakaian hijau.

"Kalau kami jahat, tentunya tidak akan mengajakmu bersenang-senang.

Ha ha ha...!" "Jangan kurang ajar!" bentak gadis itu lagi.

"Nona cantik, engkau dari mana?" tanya orang Itu sambil menatapnya dengan penuh nafsu birahi.

"Kalian tidak usah tahu aku datang dari mana!" sahut gadis itu dan mengancam.

"Kalau kalian berani kurang ajar terhadapku, aku pasti tidak memberi ampun kepada kalian!" "Ha ha ha!

Kami tidak minta ampun, melainkan ingin minta dirimu menemani kami!" Orang berpakaian hijau itu mendekatinya, lalu mendadak menjulurkan tangannya untuk meraba pipi gadis itu Gadis itu cepat-cepat berkelit, sekaligus menghunus pedangnya.

Ditatapnya mereka dengan tajam seraya berkata.

"Aku tidak menyangka orang Tionggoan sedemikian tak tahu diri!" "He he he!

Engkau menghunus pedang" Mau bertarung dengan kami" Lebih baik jangan, sebab kami tidak sampai hati melukaimu.

Alangkah baiknya engkau menemani kami tidur, pokoknya...." Sebelum orang berpakaian hijau itu usai berkata, gadis itu telah mengayunkan pedangnya.

Breeet!

Pakaian orang itu tersobek.

Untung ia cepat berkelit, kalau tidak ia pasti terluka.

"Serang dia!" seru orang berpakaian hijau itu.

Teman-temannya langsung menyerang gadis!

itu dengan pedang dan golok.

Gadis itu berkelit!

lalu balas menyerang.

Tio Bun Yang terbelalak ketika melihat gerakan pedang gadis itu, karena gerakan pedang itu ternyata Tui Hun Kiam Hoat (Ilmu Pedang!

Pengejar Roh).

Sayang sekali, gadis itu belum berpengalaman maka belasan jurus kemudian sudah berada dibawah angin.

"Ha ha ha!" Orang-orang berpakaian hijau tertawa terkekeh.

"Sudahlah!

Lebih baik engkau menyerah saja!

Kami merasa tidak tega melukai mu!" "Berhenti!" Terdengar suara bentakan da mendadak melayang turun seseorang, yang tidak lain Tio Bun Yang bersama monyet bulu puti yang duduk di bahunya.

Orang-orang berpakaian hijau terperanjat.

Mereka langsung berhenti menyerang gadis itu, kemudian memandang Tio Bun Yang dengan kening berkerut.

"Siapa engkau?" "Siapa kalian?" "Kami anggota Seng Hwee Kauw, maka engkau jangan coba-coba mencampuri urusan kami kalau ingin selamat!" "Seng Hwee Kauw?" Tio Bun Yang berpikir, karena tidak pernah mendengar nama perkumpulan itu.

"Cepatlah engkau enyah, jangan cari mati di sini!" Ujar salah seorang berpakaian hijau itu.

"Seharusnya kalian yang enyah dari sini, bukan aku!" sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Oh?" Orang berpakaian hijau itu tertawa.

"Siapa engkau" Kenapa berani omong besar di hadapan kami?" "Aku adalah Giok Siauw Sin Hiap!" sahut Tio Kun Yang sambil memperlihatkan suling pualamnya.

"Haaah?" Orang-orang berpakaian hijau tampak terkejut, kemudian mendadak menyerangnya.

"Kalian memang cari penyakit!" ujar Tio Bun Yang sambil berkelit.

Kemudian ia balas menyerang menggunakan Giok Siauw Bit Ciat Kang khi (Ilmu Suling Kumala Pemusnah Kepandaian), dan mengeluarkan jurus Cian In Giok Siauw (Ribuan Bayangan Suling Kumala).

"Aaaakh!

Aaaakh!

Aaaaakh...!" Terdengar, suara jeritan yang saling menyusul.

Orang-orang' berpakaian hijau itu roboh dengan mulut mengeluarkan darah.

Ternyata salah satu urat penting mereka telah putus, dan kepandaian mereka musnah seketika.

Hanya dengan satu jurus Tio Bun Yang berhasil memusnahkan kepandaian mereka, itu karena kepandaian mereka masih rendah.

"Cepatlah kalian pergi!" bentak Tio Bun Yang.

Orang-orang berpakaian hijau itu berusaha bangkit untuk berdiri, lalu berjalan pergi dengari sempoyongan.

"Hi hi hi!" Gadis itu tertawa geli.

"Nona!" ujar Tio Bun Yang.

"Sudah amari sekarang, engkau boleh meninggalkan tempat ini." Gadis itu terbelalak.

"Kenapa engkau mengusirku?" "Aku tidak mengusirmu, melainkan...." Mendadak Tio Bun Yang teringat sesuatu.

"Oh ya, siapa yang mengajarmu ilmu pedang Tui Hun Kiam Hoat?" "Kok engkau tahu?" tanya gadis itu dengan rasa heran.

"Aku melihat gerakan pedangmu tadi," Tio Bun Yang memberitahukan.

"Maka aku tahu." "Oooh!" Gadis itu manggut-manggut.

"Ibu yang mengajarku." "Siapa ibumu?" "Jangan terus bertanya, aku sudah capek berdiri!" tandas gadis itu.

"Lebih baik kita mengobrol di bawah pohon saja." "Baik." Tio Bun Yang mengangguk sambil tersenyum.

Mereka berdua lalu duduk di bawah sebuah pohon.

Gadis itu terus menatapnya sehingga membuat Tio Bun Yang terheran-heran.

"Kenapa engkau terus memandangku?" "Engkau sungguh tampan," sahut gadis itu.

"Monyet yang duduk di bahumu juga indah sekali bulunya." "Engkau...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

Sedangkan monyet bulu putih itu bercuit-cuit seakan merasa gembira sekali karena dipuji.

"Oh ya!

Aku lupa menjawab pertanyaanmu tadi." Gadis itu tersenyum.

"Ibuku adalah putri kepala suku Miauw." "Kalau begitu...

engkau gadis Miauw?" "Betul." "Kok engkau begitu lancar berbahasa Han?" "Sejak kecil aku sudah belajar bahasa Han." Gadis Miauw itu memberitahukan.

"Ibu yang mengajarku." "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Oh ya, siapa yang mengajar ibumu ilmu pedang itu?" "Orang Han." "Kapan?" "Sudah lama sekali, mungkin dua puluhan tahun yang lalu.

Aku datang di Tionggoan justru mau cari orang Han itu, ibu yang menyuruhku mencarinya." "Bolehkah aku tahu nama orang Han itu?" "Namanya Tio Cie Hiong." "Apa"!" Tio Bun Yang terbelalak.

"Engkau mau mencarinya?" "Ya." Gadis Miauw itu mengangguk.

"Engkau tahu Tio Cie Hiong berada di mana?" "Tahu." Tio Bun Yang mengangguk.

"Tio Cie Hiong adalah ayahku." "Apa"!" Kini giliran gadis Miauw itu yana terbelalak.

"Engkau...

engkau puteranya?" "Betul." "Syukurlah!" ucap gadis Miauw itu dan men dadak memeluknya erat-erat.

"Aku gembira sekali bertemu denganmu.

Cepatlah ajak aku pergi me nemui ayahmu!" "Eh" Nona...." Wajah Tio Bun Yang langsung memerah karena dipeluk.

Namun sebaliknya monyet bulu putih itu malah membelainya.

"Kenapa?" Gadis Miauw itu melepaskan pelukannya, kemudian memandang Tio Bun Yan dengan mata berbinarbinar.

"Barusan engka membelaiku?" "Bukan," Tio Bun Yang memberitahukan.

"Yang membelaimu barusan kauw heng." "Kauw heng" Monyet bulu putih ini?" Gadis Miauw itu menatap monyet bulu putih dengan mata terbelalak.

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk dan tersenyum.

"Dia sayang kepadamu, maka membelaimu." "Oooh!" Gadis Miauw itu tertawa geli.

"Terimakasih, kauw heng!" Monyet bulu putih itu bercuit dan manggut-manggut.

"Kenapa dia?" tanya gadis itu.

"Dia menerima ucapan terimakasihmu." "Eh?" Gadis Miauw itu melongo.

"Kauw heng mengerti bahasa manusia?" "Mengerti." Tio Bun Yang mengangguk dan memberitahukan.

"Usianya sudah tiga ratus tahun lebih lho!" "Apa"!" Mulut gadis Miauw itu ternganga lebar.

"Usianya sudah tiga ratus lebih" Engkau tidak membohongiku?" "Untuk apa aku membohongimu?" Tio Bun Yang tersenyum.

"Itu memang benar." Monyet bulu putih itu segera bercuit, kemudian manggutmanggut.

"Dia bilang apa?" "Dia bilang aku tidak bohong." "Oooh!" Gadis Miauw itu tertawa geli.

"Kalau begitu, engkau pun mengerti bahasa monyet?" "Kira-kira begitulah." Tio Bun Yang mengangguk.

"Sebab sejak aku lahir, dia pun bantu meng-urusiku." "Bukan main!" Gadis Miauw itu tertawa lagi.

"Sungguh luar biasa!" "Oh ya, aku belum tahu namamu.

Kenapa engkau tidak memberitahukan?" tanya Tio Bun Yang mendadak.

"Namaku Cing Cing," sahut gadis Miauw itu.

"Engkau tidak bertanya, bagaimana mungkin akui memberitahukan." "Engkau telah memberitahukan namamu, maka aku pun harus memberitahukan namaku." "Oooh, begitu!" Cing Cing menatapnya.

"Kata ibuku, orang Tionggoan baik-baik.

Post a Comment