Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 49

Memuat...

Sementara Lie Ai Ling terus menerus menghibur Tio Hong Hoa, karena Tio Hong Hoa menangis dengan air mata berderai-derai, berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya.

"Ibu, maafkanlah ayah!" ujar Lie Ai Ling dan menambahkan.

"Kini ayah telah sadar." "Dia kejam!

Dia tak punya perasaan.

Dia..." Ucapan Tio Hong Hoa terputus, karena pintu kamarnya terbuka.

Lie Man Chiu berjalan ke dalam sambil memandangnya.

Ketika melihat Tio Hong Hoa begitu kurus dan rambutnya mulai memutih, melelehlah air matanya.

Begitu melihat ayahnya memasuki kamar itu, Lie Ai Ling segera meninggalkan kamar itu menuju ruangan depan.

Sementara Lie Man Chiu mendekati Tio Hong Hoa dengan air mata berlinang-linang.

Tio Hong Hoa menundukkan kepala sambil menangis ter isak-isak dengan air mata berderai-derai.

"Adik Hong Hoa, isteriku..." panggil Lie Mal Chiu dengan suara serak.

"Mau apa engkau pulang" Ayoh, cepat pergi!" hentak Tio Hong Hoa.

"Isteriku...." Lie Man Chiu duduk di sisinya.

"Aku mohon ampun padamu, aku memang bersalah...." "Engkau kejam, dan tak punya perasaan!" Tio liong Hoa menudingnya.

"Aku bukan isterimu!" "Adik Hong Hoa!" Lie Man Chiu memandangnya dengan air mata bercucuran.

"Aku memang kejam dan tak punya perasaan, tapi kini ?ku telah sadar.

Adik Hong Hoa, engkau adalah isteriku yang tercinta." "Hmm!" dengus Tio Hong Hoa.

"Tujuh tahun lebih aku hidup menderita bersama Ai Ling, sebaliknya engkau...." "Aaaah...!" Lie Man Chiu menghela nafas panjang, kemudian mendadak menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tio Hong Hoa.

"Adik Hong Hoa, aku mohon ampun!" Tio Hong Hoa diam saja.

"Adik Hong Hoa, berilah aku kesempatan untuk memperbaiki diri, agar dapat menebus dosaku!" Tio Hong Hoa tetap diam, bahkan membuang muka.

"Adik Hong Hoa, engkau tidak sudi meng-ampuniku?" Lie Man Chiu menatapnya putus asa.

"Baiklah!

Aku akan mati di hadapanmu untuk menebus dosaku." Lie Man Chiu menghunus pedangnya, namun mendadak Tio Hong Hoa memeluknya erat-erat.

"Kakak Chiu...." "Adik Hong Hoa!" Lie Man Chiu membelainya.

"Engkau sudi mengampuniku?" Tio Hong Hoa mengangguk dengan air mata berderai, lalu mendekap di dada Lie Man Chiu sambil menangis tersedusedu.

"Isteriku," ujar Lie Man Chiu lembut.

"Jangan menangis lagi!

Mulai sekarang kita tidak akar berpisah, aku akan selalu mendampingimu dengar penuh cinta kasih...." "Kakak Chiu...." Perlahan-lahan Tio Hong, Hoa mendongakkan kepalanya memandang suaminya, kemudian tersenyum.

"Isteriku!" Lie Man Chiu mengangkatnya ke tempat tidur.

Mereka berdua duduk di pinggir tempat tidur untuk mencurahkan rasa rindunya Sementara itu, Lie Ai Ling sudah sampai di ruang depan.

Sam Gan Sin Kay yang tak sabaran itu langsung bertanya.

"Bagaimana" Beres?" "Apanya yang beres?" Lie Ai Ling balik bertanya dengan heran.

"Apakah ayah dan ibumu sudah berpeluk pelukan?" Sam Gan Sin Kay menatapnya sambil tersenyum.

"Entahlah," sahut Lie Ai Ling sambil dudu "Aku tidak melihatnya, karena begitu ayahku masuk, aku langsung keluar." "Engkau sungguh bodoh." Sam Gan Sin Kay menggelenggelengkan kepala.

"Seharusnya engkau tetap di situ menyaksikannya." "Itu urusan orang tua, mana boleh aku menyaksikannya?" sahut Lie Ai Ling.

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

"Pengemis bau, engkau memang sudah pikun." "Kalau mereka berdua sudah berpeluk-pelukan, kita pun ikut gembira," ujar Sam Gan Sin Kay sambil tertawa terbahakbahak.

"Artinya mereka sudah akur...." "Dasar pengemis bau!" tegur Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring.

"Mereka berdua adalah suami isteri, tentunya akan akur kembali." "Betul, betul!

Ha ha ha...!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Oh ya!" Kou Hun Bijin menatap putrinya seraya bertanya.

"Apakah engkau sudah bertemu Bun Yang?" Siang Koan Goat Nio menggelengkan kepala.

"Apa?" Kou Hun Bijin terbelalak.

"Engkau belum bertemu Bun Yang kok sudah pulang?" "Ibu, aku...." Siang Koan Goat Nio melirik Lie Ai Ling.

"Dia menemani kami pulang," ujar Lie Ai Ling cepat.

"Yah, ampun!" Kou Hun Bijin menepuk keningnya sendiri.

"Tujuanmu ke Tionggoan bukankah demi mencari Bun Yang" Kenapa engkau malah menemani mereka pulang" Dasar anak bodoh!" "Ibu...." Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.

"Kami terlambat sampai di markas pusat Kay Pang.

Kalau tidak terlambat, kami pasti bertemu Kakak Bun Yang." Lie Ai Ling memberitahukan!

"Jadi...." Wajah Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im langsung berseri.

"Bun Yang sudah ke markas pusat Kay Pang?" "Ya," Lie Ai Ling mengangguk.

"Kata Kakek Lim, kepandaian Kakak Bun Yang sudah tinggi sekali." Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im kelihatan gembira sekali.

Sementara Kou Hun Bijin terus memandang putrinya, lama sekali barulah membuka mulut.

"Kenapa kalian terlambat sampai di markas pusat Kay Pang?" "Ketika kami sampai di kota Keng Ciu, kami menolong seorang pembesar yang baik hati...," jawab Siang Koan Goat Nio dan menutur tentang pengalaman itu.

"Ternyata begitu!" Kou Hun Bijin manggut-manggut.

"Berarti..." ujar Tio Cie Hiong setelah berpikir sejenak.

"Man Chiu mempunyai hubungan dengan pihak Hiat Ih Hwe!" "Benar," Tio Tay Seng mengangguk.

"Biar nanti dia yang menceritakannya, sebab kita harus tahu itu." "Heran?" gumam Sam Gan Sin Kay mendadak.

"Kenapa mereka berdua begitu lama di dalam kamar" Janganjangan...." "Jangan-jangan kenapa?" tanya Lie Ai Ling tercengang.

"Tidak mungkin ayah dan ibu akan ribut." "Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Janganjangan ayah dan ibumu sedang...." "Pengemis bau!" tegur Kim Siauw Suseng.

"Jangan omong sembarangan di depan anak-anak!

Dasar...." "Maksudku jangan-jangan mereka berdua sudah akur dan asyik," sahut Sam Gan Sin Kay dan tertawa lagi.

"Itu yang kuharapkan," ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.

"Jadi kita pun harus ikut gembira." "Betul, betul." Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.

"Memang itu yang kita harapkan.

Ha ha ha...!" "Kakek," ujar Lie Ai Ling sambil memandang lio Tay Seng.

"Aku dan Goat Nio masih mau ke l'ionggoan." "Maksudmu pergi mengembara?" tanya Tio lay Seng.

"Ya," Lie Ai Ling mengangguk.

"Sebab Goat Nio belum bertemu Kakak Bun Yang." "Tapi...." Tio Tay Seng mengerutkan kening.

"Itu akan dibicarakan nanti saja.

Tergantung pada keputusan kedua orang tuamu." "Ayah yang menjanjikan begitu," Lie Ai Ling memberitahukan.

"Oh?" Tio Tay Seng menatapnya.

"Jadi ayahmu memperbolehkanmu pergi ke Tionggoan lagi?" "Ayah yang menjanjikan itu," sahut Lie Ai Ling.

"Kalau Goat Nio belum bertemu Bun Yang, aku tetap penasaran," sela Kou Hun Bijin.

"Oleh karena itu, aku mengijinkan Goat Nio ke Tionggoan mencari Bun Yang." "Ibu...." Wajah Siang Koan Goat Nio memerah.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa.

"Bijin, kenapa engkau yang penasaran sih?" "Tentu." Kou Hun Bijin mengangguk.

"Goat Nio adalah putriku, tentunya aku berharap dia mempunyai suami yang baik." "Oooh!" Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.

"Tidak salah, Bun Yang memang merupakan calon suami yang baik.

Aku berani menjamin." "Kuingat selalu ucapanmu itu," sahut Kou Hun Bijin.

"Apabila ternyata tidak, pipimu pasti bengkak kutampar." "Celaka!" keluh Sam Gan Sin Kay.

"Gara-gara banyak mulut jadi masalah!" "Makanya lain kali jangan banyak mulut," ujar Kim Siauw Suseng sambil tertawa gelak.

Bersamaan itu, muncullah Lie Man Chiu dengan wajah berseri, begitu pula Tio Hong Hoa yang di sampingnya.

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

"Kayak pengantin saja!

Sudah beres kalian?" "Beres," sahut Lie Man Chiu sambil tersenyum, dan kemudian mendekati Tio Cie Hiong sekaligus menjura.

"Cie Hiong, aku minta maaf!" "Lho" Kenapa engkau minta maaf kepadaku?" tanya Tio Cie Hiong dengan rasa heran.

"Karena...." Lie Man Chiu menghela nafas panjang dan melanjutkan.

"Tujuh tahun yang lalu, aku merasa dengki dan iri kepadamu, sehingga membuatku berambisi." "Kenapa begitu?" "Engkau selalu dipuji, disanjung dan dihormati pula.

Oleh karena itu, aku dengki dan iri kepadamu." "Engkau...." Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Oleh karena itu, maka aku berambisi mengangkat namaku untuk menyaingimu.

Akhirnya aku meninggalkan anak isteri...." ujar Lie Man Chiu sambil menghela nafas panjang.

"Sepasang kakiku membawa diriku sampai di ibu kota.

Di sana aku bertemu Lu Thay Kam, kemudian aku mengabdi kepadanya." "Ternyata begitu!" Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Apakah Lu Thay Kam ketua Hiat Ih Hwe?" "Betul," Lie Man Chiu mengangguk.

"Dia mengajarku ilmu Ie Hoa Ciap Bok, lalu mengangkatku sebagai wakilnya, merangkap sebagai kepala pengawal di tempat tinggalnya." "Tentunya engkau hidup senang di situ," ujar Tio Tay Seng dengan wajah tak sedap dipandangi "Memang begitulah," Lie Man Chiu mengaku "Tapi selama tujuh tahun, aku tidak pernah tidur bersama dayang yang mana pun." "Tak terduga sama sekali, engkau masih dapat mengekang hawa nafsu!" ujar Sam Gan Sin Ka dan menambahkan.

"Pantas tadi begitu lama di dalam kamar!" "Kakek pengemis...." Wajah Lie Man Chiu memerah.

"Lalu bagaimana engkau bisa sadar dari kesalahanmu itu?" tanya Kou Hun Bijin mendada "Aku melihat seekor anak burung...." Lie Ma Chiu memberitahukan.

"Karena itu hatiku tersentuh dan seketika teringat pula kepada Hong Hoa dan putriku di pulau ini." "Syukurlah!" Kim Siauw Suseng manggu manggut.

"Lalu apa rencanamu sekarang?" "Tidak akan meninggalkan pulau ini lagi, lama-lamanya mendampingi Hong Hoa untuk lewati hari-hari yang indah dan bahagia," ja Lie Man Chiu sungguh-sungguh.

"Bagus, bagus!" ujar Sam Gan Sin Kay sambil tertawa.

"Ha ha ha...!" "Oh ya!" Tio Tay Seng teringat sesuatu.

"Betulkah engkau telah berjanji pada Ai Ling, bahwa engkau memperbolehkannya ke Tionggoan lagi?" "Betul," Lie Man Chiu mengangguk.

"Aku memang pernah menjanjikan itu." "Ayah tidak boleh ingkar janji lho!" ujar Lie Ai Ling cepat.

"Tentu." Lie Man Chiu tersenyum.

"Tapi itu pun tergantung pada ibumu." "Ibu tidak berkeberatan, kan?" tanya Lie Ai Ling sambil tersenyum.

"Akan dirundingkan lagi mengenai itu," sahut lio Hong Hoa dan menambahkan.

Post a Comment