Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 48

Memuat...

"Kami adalah anggota Seng Hwee Kauw (Agama Api Suci)!" sahut orang yang merupakan pala.

"Kalian berdua pasti bernama Toan Be Kiat dan Lam Kiong Soat Lan, bukan?" "Kok kalian tahu nama kami?" Toan Beng Kiat tertegun.

"Tentu tahu!" Orang berpakaian hijau itu tertawa.

"Karena kami ditugaskan untuk membunuh kalian!" "Oh?" Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat lian mengerutkan kening, kemudian mereka pun menghunus pedang masing-masing.

"Wuah!

Mau melawan ya?" "Hm!" dengus Toan Beng Kiat.

"Kalian kira pampang membunuh kami" Sebaliknya malah kalian yang akan mati di ujung pedang kami!" "Mari kita serang mereka!" seru orang berpakaian hijau itu.

Tampak beberapa bilah pedang mengarah ke Tuan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan Segera berkelit, kemudian balas menyerang menggunakan Thian Liong Kiam Hoat (Ilmu Pedang Naga Kahyangan).

Terjadilah pertarungan sengit.

Belasan jurus kemudian, Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat lian terpaksa mengeluarkan jurus-jurus andalan.

Toan Beng Kiat mengeluarkan jurus Thian Liong Jip Hai (Naga Kahyangan Masuk Ke Laut), sedangkan Lam Kiong Soat Lan mengeluarkan jurus Thian Liong Cioh Cu (Naga Kahyangan Merebut Mutiara) "Aaakh!

Aaaakh!

Aaaakh...!" Terdengarlah suara jeritan.

Para anggota Seng Hwee Kauw itu terhuyung-huyung.

Mereka telah terluka dan darah mereka pun terus mengucur.

"Hm!" dengus Toan Beng Kiat.

"Cepatlah kalian enyah!

Kalau tidak, kalian pasti mati di ujung pedang kami!" Para anggota Seng Hwee Kauw saling memandang, lalu meninggalkan tempat itu.

Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan memandang punggung mereka sambil menggelengTiraikasih gelengkan kepala.

Kemudian Toan Beng Kiat berkata dengan kening berkerut-kerut.

"Aku tidak menyangka kalau mereka tahu nama kita." "Heran!" gumam Lam Kiong Soat Lan.

"Dari mana mereka tahu nama kita" Padahal kita baru menginjak Tionggoan ini." "Menurutku, Seng Hwee Kauw pasti mempunyai dendam dengan orang tua kita.

Sebali mereka muncul untuk membunuh kita." "Tapi sejak kita memasuki daerah Tionggoan, sama sekali tidak pernah mendengar tentang perkumpulan itu.

Namun justru muncul mendadak untuk membunuh kita." "Soat Lan, kita harus segera berangkat ke markas pusat Kay Pang untuk memberitahukan kepada kakekku tentang kejadian ini," ujar Toan Beng Kiat.

"Mungkin Seng Hwee Kauw yang membunuh kakek tuaku dan nenekmu." "Agama Api Suci...." gumam Lam Kiong Soat Lan.

"Agama Api....

Api....

Benar, mungkin pihak Seng Hwee Kauw yang membunuh nenekku dan kakek tuamu." "Ayoh, mari kita berangkat!" ajak Toan Beng Kiat.

Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

Mereka berdua segera meninggalkan tempat itu menuju markas pusat Kay Pang.

Dalam perjalanan, Toan Heng Kiat terus berpikir dengan kening berkerut-kerut.

"Beng Kiat, kenapa engkau?" tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Kenapa dari tadi keningmu berkerut-kerut?" "Aku sedang memikirkan Seng Hwee Kauw itu." sahut Toan Beng Kiat.

"Padahal kita baru memasuki daerah Tionggoan, bagaimana mereka bisa tahu nama kita" Bukankah itu sangat mengherankan?" "Benar," Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut.

"Bahkan mereka berniat membunuh kita." "Aku yakin, Seng Hwee Kauw yang membunuh kakek tuaku dan nenekmu," ujar Toan Heng Kiat dan menambahkan.

"Sebab mereka juga mau membunuh kita." "Mungkin tidak salah dugaanmu." Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut lagi.

"Oleh karena itu, kita harus memburu waktu agar cepat sampai di markas pusat Kay Pang." "Maka...," tegas Toan Beng Kiat.

"Jangan menimbulkan masalah lain dalam perjalanan, sebabl itu akan menghambat waktu kita." "Ya." Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

--ooo0dw0ooo-- Beberapa hari kemudian, sampailah mereka di markas pusat Kay Pang, yang tentunya sangat menggirangkan Gouw Han Tiong dan Lim Peng Hang.

"Kakek!" panggil Toan Beng Kiat.

"Kakek Lim!" Lam Kiong Soat Lan juga memanggil mereka dengan hormat.

Gouw Han Tiong dan Lim Peng Hang tertawa gembira.

"Beng Kiat!" Gouw Han Tiong terus menatapnya dengan penuh perhatian.

"Ternyata engkau sudah besar!" "Tentu." Toan Beng Kiat tersenyum.

"Kini usiaku sudah enam belas, sudah hampir dewasa.' "Betul, betul!

Ha ha ha!" Gouw Han Tionj tertawa.

"Ayoh, kalian duduklah!" Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan duduk, sedangkan Gouw Han Tiong masih tetap memandang Toan Beng Kiat sambil tertawa gem bira.

"Kalian berdua adalah murid Tayli Lo Ceng, tentunya sudah berkepandaian tinggi, bukan?" tanya Gouw Han Tiong.

"Entahlah," Toan Beng Kiat menggelengkan kepala.

"Kami tidak mengetahuinya." "Apa yang kalian pelajari dari Tayli Lo Ceng?" tanya Lim Peng Hang sambil tersenyum.

"Beberapa macam ilmu pukulan dan ilmu pedang." Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Setelah itu, barulah guru mengajar kami Kim Kong Sin Kang dan Kim Kong Ciang Hoat." "Oh?" Gouw Han Tiong terbelalak.

"Apakah itu merupakan ilmu simpanan Tayli Lo Ceng?" "Betul," Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

"Guru juga memberitahukan, bahwa ilmu tersebut tidak diajarkan kepada Paman Man Chiu!" "Kenapa?" tanya Gouw Han Tiong dengan rasa heran.

"Kata guru, Paman Man Chiu terlampau berambisi dan...

dan...." Wajah Lam Kiong Soat Lan kemerah-merahan, kemudian memandang Toan Beng Kiat seraya bertanya.

"Engkau ingat?" "Aku pun sudah lupa," sahut Toan Beng Kiat.

"Ha ha ha!" Gouw Han Tiong dan Lim Peng Hang tertawa.

"Itu tidak apa-apa.

Lupa yah sudahlah!" "Guru mengingatkan kami, kalau tidak terpaksa jangan mengeluarkan ilmu tersebut." Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Sebab ilmu pukulan tersebut sangat hebat dan lihay." "Oooh!" Gouw Han Tiong manggut-manggut.

"Oh ya!" ujar Lim Peng Hang memberitahukan.

"Kalian terlambat datang.

Beberapa hari lalu Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio berada di sini.

Lie Ai Ling adalah putri Lie Man Chiu, sedangkan Siang Koan Goat Nio adalah putri Kim Siauw Suseng." "Oh?" Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kepala.

"Sayang sekali!

Kalau kami tidak terlambat kemari, pasti bertemu mereka!" "Benar," Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Oh ya, bagaimana pengalaman kalian dalam perjalanan ke mari?" "Cukup menegangkan," jawab Toan Beng Kiat dan menutur tentang kejadian yang mereka alami.

"Apa"!" Kening Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong berkerut-kerut ketika mendengar tentang Seng Hwee Kauw.

"Jadi kini di rimba persilatan telah muncul Seng Hwee Kauw?" "Ya," Toan Beng Kiat mengangguk.

"Menurut kami, kemungkinan besar kakek tua dan Lan Kiong hujin dibunuh pihak Seng Hwee Kauw." "Oh?" Gouw Han Tiong tersentak dan ber gumam.

"Seng Hwee (Api Suci)...." "Itu memang mungkin," sela Lim Peng Hang "Sebab Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin mat hangus, mungkin terkena Seng Hwee?" "Mungkin tapi belum pasti," sahut Gouw Hai Tiong, kemudian memandang Toan Beng Kiat M-raya berkata.

"Sungguh sayang sekali kalian terlambat sampai di sini, karena Lie Man Chiu, Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio telah berangkat ke Hong Hoang To beberapa hari yang lalu.

Seandainya kalian tidak terlambat, mereka akan membawa berita ini ke pulau itu." "Apa" Paman Man Chiu...." Toan Beng Kiat terbelalak.

"Dia telah sadar, maka ikut putrinya dan Siang Koan Goat Nio pulang ke Pulau Hong Hoang To." Gouw Han Tiong memberitahukan, lalu menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Rimba persilatan akan banjir ilarah lagi, karena kemunculan Seng Hwee Kauw!" "Kakek," ujar Toan Beng Kiat.

"Kami akan tinggal di sini beberapa hari, setelah itu kami akan pergi menyelidiki Seng Hwee Kauw." "Itu...." Gouw Han Tiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Itu sungguh berbahaya, lebih baik Kalian jangan menyelidikinya." "Kakek!" Toan Beng Kiat tersenyum.

"Guru kami menitip sepucuk surat untuk orang tua kami," katanya.

"Oh" Bagaimana isi surat itu?" tanya Gouw Han Tiong.

"Surat itu berbunyi...." Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Maka kami diperbolehkan pergi ke Tionggoan." "Oooh!" Gouw Han Tiong manggut-manggut "Kalau begitu, kalian tinggal di sini beberapa hari barulah pergi menyelidiki Seng Hwee Kauw itu!

"Ya, Kakek," Toan Beng Kiat mengangguk.

"Kalian berdua harus ingat," pesan Lim Pen Hang.

"Kalau ada apa-apa, kalian berdua haru segera kemari." "Ya," Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soi Lan mengangguk.

Mereka berdua tinggal di markas pusat Kay Pang beberapa hari, setelah itu, barulah mereld pergi menyelidiki Seng Hwee Kauw.

Lie Man Chiu, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling telah tiba di Pulau Hong Hoang To.

Tampak Lie Man Chiu berlutut di hadapan Lie Tay Seng, sedangkan Tio Tay Seng menatapnya dengan dingin sekali.

"Engkau masih punya muka kemari?" bentak Tio Tay Seng gusar.

"Engkau bukan manusia melainkan binatang yang tak kenal budi!" "Mantu mohon ampun, mantu memang telah bersalah...," ujar Lie Man Chiu terisak-isak.

"Hmm!" dengus Tio Tay Seng.

"Lebih baik engkau segera meninggalkan pulau ini, aku tidak sudi menerimamu lagi!" "Tio Tocu," ujar Sam Gan Sin Kay sambil menggelenggelengkan kepala.

"Kini dia telah menyadari semua kesalahannya, bahkan sudah pulung dan mau insyaf pula.

Maka dia harus di-ampuni agar bisa berkumpul kembali bersama isterinya, berilah dia kesempatan untuk bertobat!" "Tidak bisa!" Tio Tay Seng menggelengkan kepala.

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

"Sudahlah, jangan terus berpura-pura marah.

Aku tahu engkau bergirang dalam hati karena dia telah pulang bersama putrinya dan putriku." "Bijin...." Tio Tay Seng mengerutkan kening.

"Ha ha ha!" Kim Siauw Suseng tertawa gelak.

"Tio Tocu, semua itu telah berlalu.

Aku yakin mulai sekarang putrimu pasti hidup tenang dan bahagia." "Paman!" Tio Cie Hiong tersenyum.

"Jangan membuat Kakak Hong Hoa bertambah menderita.

Kini Man Chiu telah pulang, maka Kakak Hong Moa harus hidup bahagia." "Heran?" gumam Tio Tay Seng.

"Kenapa kalian semua membela Man Chiu yang telah melakukan kesalahan?" "Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring, "Tio Tocu, kami tidak membelanya, melainkan membela putrimu yang telah menderita tujuh tahun lebih." "Aaaah...!" Tio Tay Seng menghela nafas.

"Man Chiu, cepatlah engkau ke kamar menemui Hong Hoa!" "Ya." Lie Man Chiu mengangguk dan girang bukan main, karena ucapan itu pertanda Tio Taji Seng telah mengampuninya.

Maka segeralah ia ke dalam menuju kamar Tio Hong Hoa.

Post a Comment