"Tuan muda dan Nona mau pesan makanan atau minuman?" tanya pelayan itu dengan hormat.
"Tolong ambilkan teh!" sahut Toan Beng Kiat.
"Ya." Pelayan itu melangkah pergi.
Sedangkan Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan melangkah memasuki kamar itu, lalu duduk berhadapan.
"Heran!" ujar Lam Kiong Soat Lan sambil mengerutkan kening.
"Kenapa prajurit kerajaan memukuli dan menyiksa para penduduk kota?" "Soan Lan!" Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kepala.
"Lebih baik jangan banyak m usan!" "Tapi sungguh kasihan para penduduk kota Itu." Lam Kiong Soat Lan menghela nafas panjang.
"Sudahlah!" Toan Beng Kiat menatapnya.
"Kita masih harus ke markas pusat Kay Pang, jangan menimbulkan urusan yang tak diinginkan!" Lam Kiong Soat Lan diam.
Tak lama muncullah pelayan membawakan satu teko teh dan sebuah cangkir.
"Tuan muda!" Pelayan itu memberitahukan degan wajah berseri.
"Ini teh wangi." "Terimakasih!" ucap Toan Beng Kiat sekaligus memberikan persen kepada pelayan itu.
"Terimakasih, Tuan Muda!" Pelayan itu girang bukan main.
"Terimakasih...." "Pelayan!" panggil Lam Kiong Soat Lan mendadak.
"Bolehkah aku bertanya satu hal kepadamu?" "Silakan, Nona!" Pelayan itu mengangguk.
"Nona mau bertanya tentang apa?" "Kenapa prajurit-prajurit kerajaan memukuli dan menyiksa para penduduk kota itu?" tanya Lam Kiong Soat Lan.
"Itu...." Pelayan tersebut menghela nafas panjang sekaligus memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Setelah Tan Tayjin mengundurkan diri dari jabatannya di kota ini, beliau diganti oleh seorang pembesar yang bertindak sewenang-wenang.
Pajak penduduk di kota ini dinaikkan, dan siapa yang tidak membayar pajak pasti dipukul dan disiksa." "Oooh!" Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut.
"Ternyata begitu!" "Nona masih mau bertanya apa?" Lam Kiong Soat Lan menggelengkan kepala.
Maka pelayan itu lalu meninggalkan kamar ter sebut.
"Beng Kiat," bisik Lam Kiong Soat Lan.
"Kita harus pergi menghajar pembesar itu." "Soat Lan...." Toan Beng Kiat menggeleng polengkan kepala.
"Itu urusan kerajaan, kita jangan turut campur." "Tapi prajurit-prajurit itu sungguh keterlaluan, begitu pula pembesar itu.
Maka...
malam ini kita harus pergi menghajar pembesar itu." "Soat Lan...." Toan Beng Kiat berpikir lama sekali, akhirnya mengangguk.
"Terimakasih, Beng Kiat!" ucap Lam Kiong Soat Lan dengan wajah berseri.
"Tapi ingat!
Engkau tidak boleh melukai sia-papun," pesan Toan Beng Kiat sambil menatapnya.
"Cukup menakuti pembesar itu saja." "Ya." Lam Kiong Soat Lan mengangguk.
--ooo0dw0ooo-- Setelah larut malam, tampak dua sosok bayangan berkelebat di wuwungan rumah pembesar kota itu, kemudian meloncat turun sekaligus mendekati sebuah jendela.
Dua sosok bayangan itu ternyata Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.
Mereka berdua mengintip ke dalam jendela, yang kebetulan kamar pembesar itu.
Tampak pembesar itu sedang duduk bersama seorang wanita berusia empat puluhan.
Wajah mereka kelihatan muram.
"Walau ditambah dengan harta kekayaan kita, masih tidak bisa mencukupi target yang ditentu kan Lu Thay Kam.
Ini sungguh celaka...." "Lalu harus bagaimana?" tanya wanita ituf berkeluh.
"Aaaah...!" Pembesar itu menghela nafas pan jang.
"Lu Thay Kam pasti menghukum kita." Di saat bersamaan, daun jendela itu terbuka kemudian tampak dua sosok bayangan melesat kel dalam, yang tidak lain Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.
"Perampok!" jerit wanita itu.
"Kami bukan perampok!" sahut Lam Kion Soat Lan sambil menatap pembesar itu dengan tajam.
"Kalian berdua mau apa ke mari?" tanya pem besar itu dengan kening berkerut.
"Mau menghajarmu!" sahut Lam Kiong Soa Lan.
"Karena para anak buahmu memukuli da menyiksa para penduduk kota ini!" "Oh, itu!" Pembesar tersebut manggut-manggut.
"Kalau begitu, kalian berdua sama sekali tid tahu tentang masalah ini." "Masalah apa?" Lam Kiong Soat Lan melot "Lu Thay Kam mengangkatku menjadi pembesar di kota ini, namun mengharuskan aku menaikkan pajak di kota ini pula.
Aku terpaksa harus mentaatinya, sebab kalau tidak aku pasti hukum." "Hm!" dengus Lam Kiong Soat Lan.
"Kalau begitu, engkau yang menyuruh prajurit-prajurit itu memukuli dan menyiksa para penduduk kota ini?" "Memang!" Pembesar itu mengangguk.
"Tapi hanya terhadap orang kaya yang tidak mau membayar pajak!" "Nona...." ujar wanita itu sambil menghela nafas.
"Tahukah engkau, kami bersedia mengorbankan harta benda kami demi mencukupi target yang ditentukan Lu Thay Kam!
Karena kami sama sekali tidak memungut pajak dari penduduk miskin." "Betulkah begitu?" tanya Lam Kiong Soat Lan kurang percaya.
"Betul." Pembesar itu mengangguk, kemudian menunjuk sebuah kotak yang ada di atas meja.
"Kotak itu berisi perhiasan isteriku.
Barang-ba-iang itu bukan hasil korupsi, melainkan pemberian orang tuanya ketika kami menikah." "Oh?" Lam Kiong Soat Lan melirik Toan Beng kiat.
"Kalau begitu, Paman bukan pembesar jahat," ujar Toan Beng Kiat.
"Maaf, kami telah salah menilai!" "Tidak apa-apa." Pembesar itu tersenyum.
"Aku ini asal dari rakyat, sudah barang tentu harus membela rakyat.
Tapi nyawa kami terancam...." "Kenapa terancam?" tanya Lam Kiong Soat Lan.
"Kalau kami berani melanggar perintah Lu Thay Kam, maka kami pasti dibunuh." Pembesar itu memberitahukan.
"Oooh!" Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut.
"Maaf, Paman!" tanya Toan Beng Kiat.
"Betulkah di kota ini terdapat orang kaya yang tak maui membayar pajak?" "Betul." Pembesar itu mengangguk.
"Mereka pura-pura tidak mempunyai uang, dan mengemu-kakan berbagai alasan untuk menolak kenaikan pajak." "Paman tahu siapa mereka?" tanya Toan Bengl Kiat lagi.
"Mereka adalah hartawan Liauw, hartawan Lim dan hartawan Phang," jawab pembesar itu.
"Paman tahu di mana rumah mereka?" "Tahu." Pembesar itu memberitahukan.
"Kalau begitu, kami mohon pamit, sebentar akan kembali ke mari lagi," ujar Toan Beng Kiai sambil memberi isyarat kepada Lam Kiong Soal Lan.
Gadis itu mengangguk, dan mereka berdul lalu melesat pergi.
"Mereka mau ke mana?" Tanya wanita itu.
"Tentu ke rumah para hartawan itu," sahul pembesar itu sambil tersenyum.
"Para hartawa!
itu memang harus dihajar biar kapok!
Kalau tidak, mereka sama sekali tidak mau membayar pajak!" "Tapi...." Wanita itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Kita tidak bisa bertahan lama, sebab...." "Aku tahu, tapi apa boleh buat" Padahal aku ingin mengundurkan diri, namun tiada alasan." "Ada." Wanita itu tersenyum.
"Berpura-pura snkit, kemudian mohon pengunduran diri." "Ide yang bagus!" Pembesar itu tertawa.
"Lebih baik kita hidup tenang di kampung." "Betul...." Mendadak Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan melesat ke dalam, dan tangan gadis itu membawa sebuah bungkusan.
"Benar apa yang dikatakan Paman," ujar Toan beng Kiat.
"Para hartawan itu bersenang-senang dengan beberapa wanita cantik.
Kami mengancam mereka sehingga mereka mengeluarkan harta benda masing-masing.
Nah, bungkusan ini berisi harta benda mereka, kini kuserahkan kepada Paman." "Terimakasih, siauw hiap!" ucap pembesar itu dan menambahkan.
"Secara tidak langsung kalian pun telah menolong rakyat miskin." "Maksud Paman?" tanya Toan Beng Kiat.
"Maksudku rakyat miskin tidak usah membayar pajak dengan adanya harta benda para d u tawan ini." Pembesar tersebut memberitahukan.
"Paman," ujar Lam Kiong Soat Lan sungguh-auij'guh.
"Menurutku, lebih baik Paman mengundurkan diri saja." "Kami memang telah memikirkan hal itu, tapi...." Pembesar itu mengerutkan kening.
"Kalau yang menggantikan aku adalah pembesar korup, celakalah penduduk miskin di kota ini." "Maaf!" ucap Toan Beng Kiat.
"Kami tidak bisa terusmenerus menolong Paman, sebab kami masih harus melanjutkan perjalanan." "Aku tahu itu...." Pembesar tersebut manggut-manggut.
"Oh ya!
Bolehkah aku tahu nama kali an?" "Namaku Beng Kiat, nama adikku Soat Lan,' sahut Toan Beng Kiat, kemudian menarik Lan Kiong Soat Lan, sekaligus diajaknya melesat pergi Pembesar itu dan isterinya termangu-mangu Mereka saling memandang lalu menghela nafi panjang.
"Sungguh hebat kepandaian mereka!" ujar pembesar itu.
"Kalau mereka bersedia mengabdi kepada kerajaan, mungkin Dinasti Beng masih dapat dipertahankan." "Aaaah!" Wanita itu menghela nafas panjang lagi.
"Kelihatannya tidak lama lagi Dinasti Ben akan runtuh." Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan terus melanjutkan perjalanan ke markas pusat Kay Pang.
Dalam perjalanan mereka terus menerus membicarakan tentang itu.
"Beng Kiat, kalau begitu, yang jahat adalah Lu Thay Kam." "Benar," Toan Beng Kiat mengangguk.
"Tapi itu urusan kerajaan, kita tidak perlu turut campur." "Aku tidak menyangka pembesar itu begitu baik.
Untung kita tidak sembarangan turun tangan melukainya!" "Makanya lain kali kalau mau bertindak, harus berpikir dulu." "Ya." Lam Kiong Soat Lan mengangguk.
"Sejak kita memasuki Tionggoan, sudah banyak yang kita dengar tentang Hiat Ih Hwe dan Tiong Ngie Pay.
Hiat Ih Hwe selalu membunuh para pembesar dan jenderal setia, sedangkan Tiong Ngie Pay malah selalu menentang Hiat Ih Hwe, sehingga kedua perkumpulan itu sering saling bunuh membunuh." "Itu urusan Hiat Ih Hwe dan Tiong Ngie Pay, kita boleh dengar tapi jangan turut campur.
Eng-k .m harus ingat itu!" pesan Toan Beng Kiat.
"Beng Kiat!" Lam Kiong Soat Lan mengerutkan kening.
"Kenapa engkau kelihatan begitu ikut akan urusan sih?" "Bukannya takut, melainkan tugas kita jauh lebih berat," sahut Toan Beng Kiat.
"Apakah engkau lupa, bahwa kita masih harus mencari jejak pembunuh Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin?" "Bagaimana aku lupa?" ujar Lam Kiong Soal Lan.
"Lam Kiong hujin adalah nenekku, sedang kan Tui Hun Lojin adalah kakek tuamu." "Oleh karena itu, kita jangan menimbulka urusan lain di rimba persilatan!
Itu akan me repotkan kita." "Ya, aku menurut." "Nah, harus begitu." Toan Beng Kiat tcr senyum.
Mendadak muncul beberapa orang ber pakaian hijau, yang kemudian memandang Toa Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan sambil tc tawa-tawa.
"Ha ha ha!
Kita ditugaskan untuk membun mereka, ternyata mereka masih sedemikian muda ujar salah seorang berpakaian hijau.
"Kita janga membunuh gadis itu, lebih baik bersenang-scna dulu dengannya.
Bagaimana?" "Setuju!" sahut yang lain sambil tertawa geli "Kita harus bergilir!" "Siapa kalian?" bentak Lam Kiong Soat gusar, karena mereka mengeluarkan kata-ka kotor.