Ingat, selamanya kita tetap sahabat!" "Lu Kong Kong...." Mendadak Lie Man Chiu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Lu Thay Kam.
"Man Chiu, engkau boleh pergi sekarang untuk menemui anak isteri mu.
Mudah-mudahan anak isterimu akan memaafkanmu!" ujar Lu Thay Kam dan menambahkan.
"Aku pun mempercayaimu tidak akan membocorkan tentang San San yang pergi merantau itu." "Jangan khawatir Lu Kong Kong!" "Baiklah.
Engkau boleh pergi sekarang, semoga kita akan berjumpa lagi!" usai berkata begitu, Lu Thay Kam meninggalkan ruang khusus itu.
Lama sekali Lie Man Chiu berlutut di situ, kini ia kebingungan dan tidak habis berpikir!
Sebetulnya Lu Thay Kam jahat atau baik" Yang jelas ia telah berhutang budi kepadanya.
---ooo0dw0ooo--Di ruang depan markas pusat Kay Pang, tampak Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong, Siangi Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling sedang duduk.
Kening Lie Ai Ling terus berkerut-kerut.
"Sudah hampir sepuluh hari kami tinggal di sini, tapi Orang Penebus Dosa itu tetap tidak muncul.
Lebih baik kami pergi saja," ujar Lie Ai Ling.
"Ai Ling!" Lim Peng Hang tersenyum.
"Ber-j sabarlah beberapa hari lagi!
Kalau Orang Penebus Dosa itu masih tidak muncul, barulah kalian pergi." "Mungkinkah Orang Penebus Dosa itu bukan Lie Man Chiu?" tanya Gouw Han Tiong dengan kening berkerut.
"Kalau dia tetap tidak muncul, berarti bukan Lie Man Chiu," sahut Lim Peng Hang.
"Aku ingin cepat-cepat pergi mencari Kakak Bun Yang," ujar Lie Ai Ling.
"Kenapa engkau yang kalut?" tanya Gouw Han Tiong sambil tersenyum.
"Aku kalut karena Goat Nio," sahut Lie Ai Ling.
"Kenapa karena aku?" Wajah Siang Koan Goat Nio kemerah-merahan.
"Jangan bawa-bawa diriku lho!" "Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa.
"Memangnya aku tidak tahu" Setiap malam engkau duduk melamun di dalam kamar, tentunya memikirkan Kakak Bun Yang." "Bertemu juga belum, kenapa aku harus memikirkannya?" sahut Siang Koan Goat Nio dengan wajah memerah.
"Engkau...." Ucapan Lie Ai Ling terhenti mendadak, karena di saat bersamaan tampak sesosok bayangan berkelebat memasuki ruangan itu.
"Siapa?" bentak Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong serentak.
Orang yang berkelebat ke dalam itu memakai topeng.
Begitu melihat orang bertopeng itu, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling langsung berseru.
"Orang Penebus Desa!" "Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Silakan duduk, Orang Penebus Dosa!
Kami memang sedang menunggu kedatanganmu." Orang Penebus Dosa diam saja, tapi terus memandang Lie Ai Ling, kemudian dengan perlahan-lahan melepaskan topengnya.
Orang itu ternyata benar Lie Man Chiu.
"Ha ha ha!" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tertawa.
"Dugaan kami tidak meleset, engkau memang Lie Man Chiu!" "Paman Lim, Paman Gouw!" panggil Lie Man Chiu sambil memberi hormat.
"Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gelak.
"Engkau bersembunyi di mana selama tujuh tahun ini?" "Aku...." Lie Man Chiu menggeleng-gelengkan kepala, kemudian memandang Lie Ai Ling seraya berkata.
"Ai Ling, engkau sudah besar...." "Diam!" bentak Lie Ai Ling mendadak dengan air mata berderai-derai.
"Engkau sungguh kejam, jahat dan tak punya perasaan!" "Ayah terima semua cacianmu, Nak," ujar Lie Man Chiu dengan mata basah.
"Ayah terima semua cacianmu." "Engkau begitu tega meninggalkan kami!
Karena itu, ibu sering sakit!" Lie Ai Ling menangis terisak-isak sambil menuding Lie Man Chiu.
"Eng kau bukan ayahku!
Cepat pergi!
Pergiiii!" "Nak!" Air mata Lie Man Chiu meleleh "Maafkanlah ayah, kini ayah telah sadar." "Ayah...." Panggil Lie Ai Ling, sekaligus meri dekap di dada Lie Man Chiu.
"Nak!
Ooooh, anakku!" Lie Man Chiu memj belainya dengan penuh kasih sayang dan terisak isak.
"Engkau sudi memaafkan ayah?" "Ng!" Lie Ai Ling mengangguk.
"Ayah kasihan ibu." "Ayah tahu...." Lie Man Chiu terus membelainya.
"Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gelak.
"Semua yang buruk telah berlalu, habis gelap terbitlah terang!
Man Chiu, sudah waktunya engkau kembali ke Pulau Hong Hoang To." "Ya, Paman Lim." Lie Man Chiu manggut-manggut.
"Selamat Paman Man Chiu!" ucap Siang Koan Goat Nio mendadak sambil tersenyum.
"Tidak lama lagi Paman Man Chiu akan berkumpul kembali dengan isteri." "Terimakasih!" sahut Lie Man Chiu.
"Oh ya, engkau putri Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Hijin?" "Ya," Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Terimakasih atas kesediaanmu mendampingi Ai Ling mencariku!" ucap Lie Man Chiu.
"Ayah!" Lie Ai Ling mulai tersenyum.
"Sesungguhnya dia ingin mencari Kakak Bun Yang." "Oh" Dia sudah kenal Bun Yang?" "Belum, tapi...." "Ai Ling!" Wajah Siang Koan Goat Nio kemerah-merahan.
"Jangan mulai menggoda aku!" "Hi hi!" Lie Ai Ling tertawa, padahal barusan ia menangis dengan air mata berderai-derai, namun kini sudah bisa tertawa!
"Man Chiu!" Gouw Han Tiong menatapnya, "'selama ini engkau berada di mana?" "Paman Gouw!" Lie Man Chiu menghela nafas panjang.
"Semua itu telah berlalu, jadi tidak usah diceritakan lagi." Gouw Han Tiong manggut-manggut, kemudian memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Man Chiu, ayahku dan Lam Kiong hujin mati dibunuh orang." "Apa"!" Lie Man Chiu terkejut bukan main.
"Kapan terjadi?" "Dua tahun yang lalu," jawab Gouw Han Tiong.
"Ayahku dan Lam Kiong hujin terkena semacam pukulan yang menghanguskan badan mereka." "Oh?" Lie Man Chiu terbelalak.
"Ilmu pukulan apa itu?" "Kami tidak mengetahuinya," sahut Gouw Han Tiong dan menambahkan.
"Bahkan hingga saat ini kami juga tidak tahu siapa pelakunya." "Heran!" gumam Lie Man Chiu.
"Ilmu pukulan apa itu?" "Ilmu pukulan yang mengandung api," ujar Lim Pang Heng.
"Itu merupakan ilmu pukulan yang sangat dahsyat." "Aaakh...!" Lie Man Chiu menghela nafas panjang.
"Terus terang, aku sudah jenuh akan rimba persilatan." "Ayah," tanya Lie Ai Ling mendadak.
"Kapan ayah akan pulang ke Pulau Hong Hoang To?" "Besok," jawab Lie Man Chiu dan melanjutn kan.
"Kalian berdua juga harus ikut aku pulang." "Tidak mau ah!" sahut Lie Ai Ling cepat.
"Aku masih ingin mengembara, lagi pula kami belum bertemu Kakak Bun Yang." "Begini," ujar Lie Man Chiu lembut.
"Kita pulang dulu, setelah itu barulah kalian mengembara lagi." "Tapi...." Lie Ai Ling tampak ragu, kemudian memandang Siang Koan Goat Nio seakan minta pendapatnya.
"Itu baik juga.
Kita berdua memang harus pulang bersama Paman Man Chiu, agar tidak mencemaskan ibumu," ujar Siang Koan Goat Nio.
"Kalau begitu, bukankah engkau tidak bertemu Kakak Bun Yang?" Lie Ai Ling mengerutkan kening.
"Bukankah kita masih akan mengembara" Berarti masih banyak kesempatan, bukan?" Siang Koan Goat Nio tersenyum.
"Baru asyik mengembara, sudah harus pulang!" Lie Ai Ling menghela nafas panjang.
"Nak!" Lie Man Chiu tersenyum lembut.
"Selelah pulang, kalian masih boleh pergi mengembara." "Baiklah," Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Oh ya!" Siang Koan Goat Nio menatap Lie Man Chiu.
"Kenapa Paman membunuh para anggotata Hiat Ih Hwe itu?" "Untuk menutup mulut mereka," sahut Lie Man Chiu tanpa berpikir.
"Kalau begitu, Paman pasti mempunyai hubungan dengan Hiat Ih Hwe, bukan?" Siang Koan Goat Nio menatapnya lagi.
"Yaaah!" Lie Man Chiu menggeleng-gelengkan kepala.
"Semua itu telah berlalu, tidak perlu diungkit kembali." Siang Koan Goat Nio diam.
Sedangkan Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong saling memandang, kemudian mereka berdua pun manggut-manggut.
"Man Chiu," tanya Lim Peng Hang.
"Jadi engkau akan berangkat besok?" "Ya," Lie Man Chiu mengangguk.
"Tolong sampaikan salamku kepada semua orang yang di sana!" pesan Lim Peng Hang.
"Pasti kusampaikan," ujar Lie Man Chiu.
"Terimakasih, Man Chiu!" ucap Lim Peng Hang sambil tersenyum.
"Sama-sama," Lie Man Chiu juga tersenyum "Man Chiu!" Mendadak Lim Peng Hang me natapnya dalamdalam seraya bertanya.
"Kenapa tujuh tahun yang lalu, engkau mempunyai pikiran untuk mengangkat nama di rimba persilatan?" "Aaaah!" Lie Man Chiu menghela nafas.
"Itu dikarenakan dengki, sehingga timbul pula suat ambisi." "Oh?" Lim Peng Hang heran.
"Engkau dengki karena apa?" "Karena Tio Cie Hiong," jawab Lie Man Chiu terus terang.
"Dia dipuji dan disanjung, bahkan tujuh partai besar dan kaum rimba persilatan lannya mengakuinya sebagai Bu Lim Beng Cu.
Itu membuatku jadi dengki." "Ayah," tegur Lie Ai Ling.
"Paman Cie Hiong begitu baik dan menghargai Ayah, sebaliknya Ayah malah merasa dengki kepadanya.
Kalau kita sudah sampai di Pulau Hong Hoang To, Ayah harus minta maaf kepadanya!" "Tentu," Lie Man Chiu mengangguk.
"Bahkan aku pun harus mohon ampun kepada kakek dan ibumu." "Bagus!" Lie Ai Ling tertawa gembira.
"Kini Ayah telah sadar akan kesalahan itu, karena itu aku merasa bahagia sekali." "Nak...." Lie Man Chiu tersenyum.
"Syukurlah!" ucap Lim Peng Hang.
"Man Chiu, aku ucapkan selamat padamu, semoga tidak lama lagi engkau dapat berkumpul kembali bersama liong Hoa!" "Man Chiu!" Gouw Han Tiong tersenyum.
"Aku pun mengucapkan selamat padamu!" "Terimakasih Paman Lim!
Terimakasih Paman Gouw!" ucap Lie Man Chiu terharu sekali.
"Terimakasih!" ---ooo0dw0ooo--Bagian ke sembilan belas Kemunculan para anggota Seng Hwee Kauw ( Agama Api Suci) Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan yang mulai mengembara itu telah tiba di kota Keng Ciu.
Mereka berdua mengembara bukan demi mengangkat nama maupun mencari pengalaman, melainkan berusaha mencari jejak pembunuh Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin.
Ketika tiba di kota itu, mereka terbelalak, karena melihat begitu banyak prajurit kerajaan memukuli dan menyiksa para penduduk.
"Beng Kiat," bisik Lam Kiong Soat Lan.
"Bagaimana kalau kita menolong mereka?" Toan Beng Kiat menggelengkan kepala.
"Jangan mencampuri urusan kerajaan!" "Tapi...." "Hari sudah senja, lebih baik kita mencari rumah penginapan," potong Toan Beng Kiat.
Lam Kiong Soat Lan terpaksa menurut.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di sebuah rumah penginapan yang cukup mewah.
Pelayan segera menghampiri mereka sambil tersenyum senyum, kemudian bertanya ramah.
"Tuan muda dan Nona membutuhkan kamar?" "Ada kamar besar?" tanya Toan Beng Kiat.
"Ada," sahut pelayan itu.
"Mari ikut aku!" Pelayan itu mengajak mereka ke dalam, lalu berhenti di depan sebuah kamar yang cukup besar.
"Bagaimana kamar ini?" tanya pelayan sambil membuka pintu kamar itu.
Toan Beng Kiat melongok ke dalam, kemudian manggutmanggut.
"Kamar ini saja," ujarnya.