Ternyata Kam Hay Thian menggunakan Ilmu Pedang Pak Kek Kiam Hoat, dan mengeluarkan pirus Thian Gwa Kiam In (Bayangan Pedang Di luar Langit) menyerang para anggota Hiat Ih Hwe itu.
Setelah berhasil membunuh lima orang Hiat Ih Hwe, Kam Hay Thian juga menyerang lagi laksana kilat dengan jurus yang sama.
Terdengar lagi suara jejerkan yang menyayat hati, lima orang Hiat Ih Hwe roboh mandi darah dan mati seketika pula.
Menyaksikan kejadian itu, sisa-sisa anggota Hiat Ih Hwe berusaha melarikan diri.
Kam Hay Thian tertawa dingin sekaligus menyerang mereka dengan jurus Hoan Thian Liak Te (Membalikkan Langit Meretakkan Bumi).
"Aaaakh!
Aaaakh!
Aaaakh...." Sisa-sisa ang-gota Hiat Ih Hwe menjerit, lalu roboh tak bernyawa lagi.
Kam Hay Thian memandang mayat-mayat itu sambil tertawa dingin kemudian dengan tenang menyarungkan pedangnya.
Sementara para anggota Tiong Ngie Pay berdiri mematung di tempat.
Mereka sangat kagum dan kaget akan kesadisannya.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah ada salah seorang dari mereka yang membuka mulut.
"Terimakasih, siauw hiap!" "Tidak usah berterimakasih, aku memang ada dendam dengan Hiat Ih Hwe.
Kebetulan melihat mereka bertarung dengan kalian, maka aku membunuh mereka," sahut Kam Hay Thian.
"Siauw hiap, bagaimana kalau engkau ikut kami menemui ketua?" tanya salah seorang anggota Tiong Ngie Pay.
"Kalian dari perkumpulan apa?" tanya Kami Hay Thian.
"Tiong Ngie Pay." "Oooh!" Kam Hay Thian manggut-manggut.
"Baiklah.
Aku akan menemui ketua kalian." "Terimakasih, siauw hiap!" ucap para anggota Tiong Ngie Pay girang, lalu berangkat ke markas mereka bersama Kam Hay Thian.
Yo Suan Hiang, Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him menyambut kedatangan Kam Hay Thian dengan penuh kegembiraan, apa lagi setelah mengetahui pemuda itu telah membantu para anggotanya.
"Terimakasih, siauw hiap!" ucap Yo Suan Hiang.
"Aku adalah Chu Ok Hiap." Kam Hay Thian memberitahukan.
"Maka jangan memanggilku siauw hiap!" "Chu Ok Hiap!" Yo Suan Hiang tersenyum iainah.
"Bolehkah kami tahu namamu?" "Namaku Kam Hay Thian." "Siapa kedua orang tuamu?" "Ayahku bernama Kam Pek Kian, tapi sudah almarhum karena dibunuh penjahat," Kam Hay Thian memberitahukan.
"Ibuku bernama Lie Siu Su-n." "Lie Siu Sien..." gumam Yo Suan Hiang sambil berpikir keras.
"Rasanya aku pernah mendengar nama tersebut." "Tidak mungkin," Kam Hay Thian menggelengkan kepala.
"Sebab ibuku bukan wanita rimba persilatan." "Tapi aku memang pernah mendengar nama tersebut...." Yo Suan Hiang terus berpikir, kemudian mendadak berseru girang.
"Aku sudah ingat!
Aku sudah ingat!
Ternyata aku pernah mendengar nama ibumu dari Tio Cie Hiong!" "Apa"!" Kam Hay Thian tertegun.
"Paman Cie Hiong?" "Benar," Yo Suan Hiang mengangguk.
"Dia pernah menceritakan tentang ibumu kepada kami." "Aku mengembara justru ingin mencari Paman Cie Hiong," Kam Hay Thian memberitahukan.
"Oh?" Yo Suan Hiang menatapnya sambil bertanya.
"Kenapa engkau mau mencarinya?" "Kata ibuku, kepandaian Paman Cie Hiong tinggi sekali.
Kalau aku ingin menuntut balas kematian ayahku, harus berguru kepada Paman Cie Hiong." "Ooooh!" Yo Suan Hiang manggut-manggut "Tapi kepandaianmu sekarang sudah tinggi, di mana engkau belajar?" "Tanpa sengaja aku memasuki sebuah goa.
tutur Kam Hay Thian dan menambahkan.
"Tujuh tahun kemudian, barulah aku menguasai ilmu-ilmu itu." "Hay Thian!" Yo Suan Hiang terbelalak.
"Sungguh beruntung engkau, sebab kitab-kitab pusaka itu milik Bu Lim Sam Mo.
Goa itu bekas markas Bu Tek Pay.
Oh ya, apakah kau bawa kedua kitab pusaka itu?" "Tidak.
Kedua kitab itu telah kubakar." "Bagus!
Kedua kitab itu memang harus dibakar.
Kalau tidak, tentu akan menimbulkan ben-i ana," ujar Yo Suan Hiang dan bertanya.
"Kenapa ayahmu dibunuh penjahat?" "Dikarenakan sebuah kitab pusaka, yaitu kitab Song Hwee Cin Keng." Kam Hay Thian memberitahukan.
"Pada waktu itu aku masih kecil...." "Kitab Seng Hwee Cin Keng?" Yo Suan Hiang mengerutkan kening.
"Apakah itu kitab pelajaran ilmu silat tingkat tinggi?" "Betul," Kam Hay Thian mengangguk.
"Maka kini aku sedang mencari penjahat itu." "Oh ya, sejak kapan engkau meninggalkan rumah?" tanya Yo Suan Hiang.
"Sejak aku berusia sebelas tahun, dan kini usiaku sudah delapan belas tahun," jawab Kam Hay Thian.
"Hay Thian, kenapa engkau begitu mendendam kepada Hiat Ih Hwe?" tanya Yo Suan Hiang mendadak.
"Karena mereka membunuh guru silat Lie dan putrinya...." tutur Kam Hay Thian melanjutkan.
"Karena itu, aku bersumpah di hadapan meja abu guru silat Lie dan putrinya, bahwa aku akan membunuh semua anggota Hiat Ih Hwe." "Jadi guru silat Lie dan putrinya dibunuh karena tanpa sengaja guru silat Lie menolong beberapa anggotaku?" tanya Yo Suan Hiang de ngan wajah murung.
"Ya," Kam Hay Thian mengangguk.
"Aaaakh...!" keluh Yo Suan Hiang.
"Sungguh diluar dugaan!" "Hmm!" dengus Kam Hay Thian dingin dan penuh dendam.
"Pokoknya aku harus membunuh semua anggota Hiat Ih Hwe!" "Hay Thian!" Yo Suan Hiang menatapnya.
"Apakah kini engkau masih ingin mencari Tio Cie Hiong?" "Bagaimana menurut Bibi?" tanya Kam Hay Thian.
"Menurutku sudah tidak perlu," jawab Yo Suan Hiang.
"Sebab kepandaianmu sudah begitu tinggi." "Tapi aku belajar tanpa petunjuk orang!
mungkin ada sedikit kesalahan," ujar Kam Hai Thian.
"Maka kepandaianku belum mencapai tingkat atas, karena itu aku harus minta petunjuk kepada Paman Cie Hiong." "Tempat tinggal Cie Hiong jauh sekali, yaitu di Pulau Hong Hoang To," Yo Suan Hiang memberitahukan.
"Jadi...
oh ya!
Cie Hiong mempunyai seorang putra bernama Tio Bun Yang, yang berkepandaian sangat tinggi.
Aku telah menyaksikan kepandaiannya.
Dia pernah ke mari tapi kini ?iitah berada di mana.
Aku yakin engkau akan bertemu dia kelak, jadi engkau boleh minta petunjuk kepadanya." "Benarkah kepandaiannya sudah tinggi sekali?" "Benar," Yo Suan Hiang mengangguk.
"Mungkin telah menyamai kepandaian ayahnya." "Kalau begitu, aku harus minta petunjuk kepadanya." "Itu memang baik sekali," Yo Suan Hiang manggutmanggut.
"Oh ya, Hay Thian.
Maukah engkau bergabung dengan kami?" "Aku bersedia bergabung, namun tidak mau terikat," sahut Kam Hay Thian terus terang.
"Kareena aku masih harus pergi mencari pembunuh ayahku, bahkan juga harus mencari Bun Yang." "Itu tidak menjadi masalah," Yo Suan Hiang teisenyum.
"Jadi sementara ini engkau boleh tinggal di sini, dan kapan pun engkau mau pergi, kami tidak akan menahanmu." "Baiklah!
Terimakasih!" ucap Kam Hay Thian.
Di ruang khusus dalam istana bagian barat tempat tinggal Lu Thay Kam, tampak Lu Thay Kam sedang duduk dengan wajah serius.
Lie Man Chiu duduk di sebelahnya, namun tampak mela mun.
"Man Chiu!" Lu Thay Kam menatapnya.
"Ke napa engkau melamun" Apa yang terganjel dala hatimu?" "Tidak." Lie Man Chiu menggelengkan kq pala.
"Tentunya engkau tahu, banyak anggota kit, yang musnah kepandaiannya, bahkan juga hanya' yang mati," ujar Lu Thay Kam dengan kenin berkerut.
"Bagaimana engkau mengurusi itu?" "Yang memusnahkan kepandaian anggota kita adalah Giok Siauw Sin Hiap, yang membunuh anggota kita adalah orang bertopeng dan Chu O Hiap," jawab Lie Man Chiu memberitahukan.
"Kalau begitu...." Lu Thay Kam menatapnya lagi.
"Sudah waktunya engkau turun tangan" "Ya, Lu Kong Kong." "Yaaah!" Mendadak Lu Thay Kam menghe nafas panjang.
"Entah kini San San merantai sampai di mana" Aku...
aku rindu sekali kepadanya." "Lu Kong Kong rindu kepadanya?" "Ya," Lu Thay Kam mengangguk.
Tentu engkau tahu, dia bukan anak kandungku.
Aku telah dikebiri jadi Thay Kam, bagaimana mungkin bisa punya anak?" "Dia putri angkat Lu Kong Kong, namun Lu Kong Kong kelihatan begitu sayang kepadanya." "Benar," Lu Thay Kam manggut-manggut.
"Aku memang sayang sekali kepadanya." "Lu Kong Kong...." Lie Man Chiu menundukkan kepala.
"Engkau ingin mengatakan apa, katakanlah!" Lu Kong Kong tersenyum.
"Jangan ragu, sudah lujuh tahun lebih engkau mengabdi kepadaku." "Lu Kong Kong...." Lie Man Chiu menghela nafas panjang.
"Belum lama ini aku selalu teringat kepada anak isteriku." "Oh?" Lu Kong Kong menatapnya.
"Kalau begitu, lebih baik kau ajak mereka tinggal di sini suja." "Terimakasih atas maksud baik Lu Kong Kong!" ucap Lie Man Chiu.
"Terus terang, aku...." "Engkau ingin mengundurkan diri, bukan?" "Betul," Lie Man Chiu mengangguk.
"Sebab |ku sudah rindu sekali kepada anak isteriku." "Aku maklum," Lu Thay Kam manggut-mang-|ut.
"Namun aku masih sangat membutuhkan bantuanmu." "Lu Kong Kong...." "Jadi engkau ingin pergi menengok anak isteri-mu?" "Ya." "Tidak mau kembali ke sini lagi?" "Ya." "Man Chiu...." Lu Thay Kam menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa engkau mau melepaskan kehidupanmu yang serba mewah di sini?" "Lu Kong Kong, kini aku baru sadar bahwa anak isteriku melebihi segala apa pun.
Oleh karena itu aku ingin hidup tenang, damai dan bahagia bersama anak isteriku." "Man Chiu...." Lu Thay Kam menghela nafas.
"Tentunya aku tidak akan menghadangmu, namun alangkah baiknya engkau kembali ke sini lagi." "Lu Kong Kong, aku tidak berani berjanji tentang itu," ujar Lie Man Chiu sungguh-sungguh.
"Kalau begitu...
baiklah.
Kapan engkau akan pergi?" tanya Lu Thay Kam dengan wajah muram.
"Sekarang," jawab Lie Man Chiu.
"Sekarang?" Lu Thay Kam terbelalak.
"Kenapa begitu cepat?" "Lu Kong Kong, aku sudah rindu sekali kepada anak isteriku, sudah tujuh tahun lebih aku berpisah dengan mereka." "Yaah!" Lu Thay Kam menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau begitu, aku harus memberimu sedikit hadiah ...." "Terimakasih!
Itu tidak usah, Lu Kong Kong,' potong Lie Man Chiu cepat.
"Lu Kong Kong tida| melarangku pergi, aku sudah berterimakasih sekali pada Lu Kong Kong." "Terus terang," ujar Lu Kong Kong sungguh-sungguh.
"Kalau aku tidak mempunyai anak angkat, mungkin aku tidak akan memahami perasaanmu.
Sebaliknya aku malah akan mencap dirimu sebagai pengkhianat.
Tapi...
aku mempunyai anak, yaitu San San yang sangat kusayangi." "Lu Kong Kong.." Lie Man Chiu tersentak.
"Jangan cemas!" Lu Thay Kam tersenyum.
"Aku yakin engkau pasti tahu, betapa jahatnya aku karena selalu membunuh pembesar dan jenderal yang setia.
Tapi di antara kita terdapat rasa persahabatan yang dalam sekali.