Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 44

Memuat...

"Aku berhasil menyelamatkan nyawa seorang pembesar yang baik hati." "Syukurlah!" ucap Lim Peng Hang sambil tertawa.

"Aku yakin Hong Hoang Lihiap dan Kim Siauw Siancu pasti mulai terkenal dalam rimba persilatan." "Tapi...." Gouw Han Tiong mengbela nafas panjang.

"Tentunya juga akan menjadi masalah bagi mereka berdua." "Betul," Lie Ai Ling mengangguk.

"Dua hari yang lalu, kami dihadang belasan anggota Hiat Ih Hwe lagi." "Lalu bagaimana?" tanya Lim Peng Hang.

"Mereka ingin membunuh kami, maka kami terpaksa melawan." Lie Ai Ling memberitahukan.

namun kami berdua kurang berpengalaman dalam hal bertarung." "Kalian berdua kalah?" tanya Gouw Han Tiong dengan kening berkerut.

"Kalah sih tidak, hanya berada di bawah angin." Lie Ai Lang tersenyum dan melanjutkan "Oleh karena itu, kami terpaksa harus menggunakan Cit Loan Kiam Hoat, tapi . . . " "Kenapa?" Lim Peng Hang menatapnya.

"Di saat kami baru mau menggunakan ilmu pedang tersebut, mendadak muncul seseorang bertopeng membantu kami" "Kemudian bagaimana?" tanya Gouw Han Tiong dengan rasa tertarik "Dengan tangan kosong dia membunuh kepala regu anggota Hiat Ih Hwe, lalu membunuh para anak buahnya "Oh?" Lim Peng Hang mengerutkan kening, "Dia membunuh mereka hanya dengan tangan kosong?" "Betul" Lie Ai Ling mengangguk.

"Kalau begitu, sungguh tinggi kepandaiannya," ujar Lim Peng Hang dan bertanya, "Kalian tahu siapa orang bertopeng itu?" "Aku bertanya padanya, dia menyebut dirinya Orang Penebus Dosa." Lie Ai Ling memberitahukan.

"Apa?" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tertegun "Orang Penebus Dosa?" Lie Ai Ling mengangguk "Kakek Lim dan Kakek Gouw tahu siapa Orang Penebus dosa itu?" "Kami tidak tahu" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong menggelengkan kepala dan bergumam.

"Heran" Siapa orang itu?" "Menurut terkaanku..." sela Siang Koan Goat Nio.

"Orang Penebus Dosa itu adalah Paman Man Chiu.

"Apa?" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong terbelalak.

"MenurutmU dia Lie Man Chiu?" "Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Apa alasanmu menerka begitu?" tanya Lim Peng Hang.

"Sebab ketika aku mengucapkan terima kasih kepadanya, dia diam saja tapi malah terus memandang Ai Ling." Siang Koan Goat Nio memberitahukan.

"Lagi pula dia terus-menerUs mendesak kami pulang ke Pulau Hong Hoang To." "Oh?" Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Betulkah dia Lie Man Chiu?" tanya Gouw Han Tiong seakan bergumam.

"Tapi kenapa harus memakai topengT" "Mungkin dia tidak menghendaki Ai Ling dan aku mengenalinYa, mungkin juga tidak menghendaki para anggota Hiat Ih Hwe mengenalinya," jawab Siang Koan Goat Nio dan menambahkan.

"Dia pun tampak begitu menaruh perhatian kepada ibu Ai Ling.

Itulah yang membuatku menerka dirinya adalah Paman Man Chiu." "Orang Penebus Dosa.

Orang Penebus Dosa..." gumam Lim Peng Hang.

"Berarti dia pernah berbuat dosa, kini dia menebus dosanya." "Paman Man Chiu meningalkan anak isteri, bukankah itu merupakan suatu dosa?" ujar Siang Koan Goat Nio.

"Benar." Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Kalau begitu, memang ada kemungkinan dia Lie Man Chiu!" "Selama tujuh tahun ini, kita sama sekali tidak mendengar kabar beritanya.

Jangan-jangan dia..." ujar Gouw Han Tiong setelah berpikir sejenak.

"Dia mengabdi kepada Lu Thay Kam, maka dia merahasiakan identitas dirinya!" "Masuk akal," Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Lain kali kalau bertemu dia, aku pasti membuka topengnya," ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.

"Agar bisa tahu jelas siapa dia." "Kepandaiannya begitu tinggi, bagaimana mungkin engkau dapat membuka topengnya?" Lim Peng Hang tersenyum.

"Memang." Lie Ai Ling mengangguk.

"Namun aku mempunyal akal." "Oh, ya?" Lim Peng Hang tersenyum lagi.

"Dia menyebut dirinya Orang Penebus Dosa, pertanda dia sangat menyesali perbuatannya dulu, dan berarti kini dia telah sadar.

Aku yakin dia pasti akan muncul lagi menemuimu." "Goat Nio juga bilang demikian," ujar Lie Ai Ling.

"Oh ya?" Gouw Han Tiong menatapnya.

"Dia bertanya kalian mau ke mana?" "Ya." Lie Ai Ling mengangguk.

"Engkau memberitahukan?" "Ya" "Bagus!" Gouw Han Tiong tersenyum "Kalau begitu, kalian tinggal di sini dulu Karena aku yakin dia pasti akan ke mari.

"Oh?" Lie Ai Ling kurang yakin "Kalau Orang Penebus Dosa itu tidak kemari, bukankah kami menunggu dengan sia~sia?" "Percayalah~" ujar Gouw Han Tiong "Kalau benar dia Lie Man Chiu, pasti kemari menemuimu." "Tapi kami tidak bisa lama-lama di sini" "Kenapa?" "Kami masih ingin mengembara, lagi pula Goat Nio ingin pergi mencari Kakak Bun Yang, aku harus menemaninya" "Cukup sepuluh hari kalian tinggal di sini, dalam sepuluh hari ini kalau Orang Penebus Dosa itu tidak keman, berarti dia bukan Lie Man Chiu," ujar Gouw Han Tiong "Baiklah," Lie Ai Ling mengangguk, kemudian bertanya kepada Siang Koan Goat Nio.

"Bagaimana" Engkau tidak berkeberatan, bukan?" "Aku memang tidak berkeberatan, tapi apakah tidak akan merepotkan Kakek Lim dan Kakek Gouw?" sahut Siang Koan Goat Nio.

"Tentu tidak." Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tertawa.

"Kalau begitu, kami mengucapkan terima kasih!" ucap Siang Koan Goat Nio.

"Oh ya!

Putra Gouw Sian Eng dan putri Lam Kiong Bie Liong sudah menjadi murid Tayli Lo Ceng," Gouw Han Tiong memberitahukan dengan wajah berseri-seri.

"Mereka berada di Gunung Thay San." "Oh?" Lie Ai Ling tersenyum.

"Kalau begitu, mereka pasti akan memiliki kepandaian tinggi." "Mudah-mudahan!" ucap Gouw Han Tiong sambil tertawa.

"Kalian pasti bertemu mereka kelak." "Sungguh menggembirakan bisa bertemu mereka!" ujar Lie Ai Ling tersenyum dan menambahkan.

"Mudah-mudahan Goat Nio bisa bertemu Kakak Bun Yang secepatnya!

Katau tidak...." "Ai Ling, jangan menggoda aku lagi!" tegur Siang Koan Goat Nio dengan wajah sedikit cemberut.

"Hi-hi-hi!" Lie Ai Ling tertawa geli.

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong saling memandang, kemudian mereka berdua pun tertawa, sehingga membuat wajah Siang Koan Goat Nio kemerah-merahan.

-oo0dw0oo- Bagian ke delapan belas Dendam membara Kam Hay Thian terus melanjutkan perjalanannya.

Hari ini panasnya sungguh luar biasa, sehingga pakaiannya menjadi basah oleh keringat, akhirnya ia berteduh di bawah sebuah pohon.

"Kapan aku akan berhasil mencari pembunuh ayahku?" gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Mendadak ia mendengar suara 'Kraak'.

Kam Hay Thian terkejut bukan main, karena suara itu berasal dari cincin giok di jari manisnya.

Ternyata cincin giok itu telah retak, kemudian pecah.

"Haaah?" Wajahnya langsung memucat, sebab menurut kepercayaan, apabila giok yang dipakai itu pecah, pertanda akan terjadi sesuatu atau telah terjadi sesuatu atas diri pemiliknya.

Cincin giok itu pemberian Lie Beng Cu, putri guru silat di kota Leng An.

"Cincin giok ini telah pecah, apakah telah terjadi sesuatu atas diri Beng Cu?" gumamnya dengan wajah pucat pias.

"Aku harus segera be-iangkat ke kota Leng An." Kam Hay Thian segera berangkat ke kota h-iscbut, dan dua hari kemudian ia telah tiba dan l.mpsung menuju rumah guru silat Lie.

Seorang pembantu tua menyambutnya, dan ketika melihat Kam Hay Thian, terbelalaklah pembantu tua itu.

"Engkau...

engkau Kam Hay Thian?" "Betul, Paman," sahut Kam Hay Thian sambil mengangguk.

"Di mana guru silat Lie dan Bcng Cu?" "Mereka...." Pembantu tua itu terisak-isak.

"Mari ke dalam!" Kam Hay Thian tersentak ketika melihat pembantu tua itu terisak-isak.

Ia yakin telah terjadi sesuatu atas diri guru silat Lie atau Lie Beng Cu.

Kemudian ia mengikuti pembantu tua itu ke dalam.

"Mereka...." Pembantu tua menunjuk sebuah meja abu, yang dialasnya terdapat dua buah papan nisan bertuliskan nama guru silat Lie dan nama Lie Beng Cu.

"Haaah...?" Kam Hay Thian langsung berlutut dengan air mata berderai.

"Paman...

Beng Cu...." Pembantu tua itu juga menangis terisak-isak dengan air mata bercucuran, sedangkan wajah Kam Hay Thian telah berubah kehijau-hijauan.

"Paman tua, bagaimana mereka mati?" tanya Kam Hay Thian dengan suara bergemetar.

"Dua hari yang lalu...." Pembantu tua itu memberitahukan.

"Mendadak muncul belasan anggota Hiat Ih Hwe, Guru silat Lie dan Nona Beng Cu mati dibunuh oleh para anggota Hiat Ih Hwe itu." "Kenapa para anggota Hiat Ih Hwe mcm-l bunuh Paman dan Beng Cu?" "Sebulan yang lalu, tanpa sengaja guru silat Lie menolong beberapa orang Tiong Ngie Pay, yang dilukai pihak Hiat Ih Hwe.

Karena itu, pihak Hiat Ih Hwe kemari membunuh guru silat Lie dan Nona Beng Cu," tutur pembantu tua itu dan menambahkan.

"Sebelum menghembuskan nafas penghabisan, Nona Beng Cu masih menyebut namamu." "Beng Cu...." Kam Hay Thian menangis ge-i ung-gerungan, kemudian bersumpah di hadapan meja abu itu.

"Aku bersumpah, mulai hari ini aku .ikan membunuh para anggota Hiat Ih Hwe!

Paman Lie, Beng Cu!

Kalian tenanglah!

Aku pasti membalaskan dendam kalian, aku pasti akan membunuh para anggota Hiat Ih Hwe!" "Terimakasih, Hay Thian!" ucap pembantu tua dengan air mata berlinang dan memberitahukan.

"Sungguh kasihan guru silat Lie dan Nona Beng Cu!

Walau sudah sekarat, tapi Nona Beng Cu masih menyebut namamu." Kam Hay Thian telah meninggalkan kota Ieng An dengan membawa dendam yang mem-l'aia.

Karena guru silat Lie dan Lie Beng Cu yang begitu baik hati itu telah mati dibunuh oleh para anggota Hiat Ih Hwe, maka ia bersumpah akan membunuh para anggota perkumpulan itu.

Ketika ia memasuki sebuah rimba, mendadak mendengar suara pertarungan.

Segeralah ia melesat ke tempat itu, kemudian dilihatnya beberapa orang sedang bertarung matimatian melawan belasan orang berpakaian merah.

Begitu melihat orang-orang berpakaian merah, seketika juga darahnya mendidih.

"Berhenti!" bentaknya dengan suara mengguntur.

Orang-orang yang sedang bertarung itu terkejut bukan main, dan langsung berhenti bertarung.

Kam Hay Thian menghampiri orang-orang berpakaian merah selangkah demi selangkah dengan wajah kehijauhijauan.

"Siapa engkau?" bentak salah seorang berpakaian merah, yang rupanya kepala regu para anggota Hiat Ih Hwe itu.

"Siapa kalian?" Kam Hay Thian balik bertanya dengan dingin.

"Kami para anggota Hiat Ih Hwe!" sahut oranj" berpakaian merah itu sambil tertawa dingin.

"Siapa engkau" Sungguh besar nyalimu mencampur urusan kami!" "Bagus, bagus!

Aku adalah Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat)!" sahut Kam Ha Thian dengan wajah semakin menghijau, dan pei lahan-lahan ia menghunus pedangnya.

"Ajal kalian lelah tiba hari ini!" "Hm!" dengus orang berpakaian merah itu dan berseru.

"Serang dia!" Para anggota Hiat Ih Hwe langsung menye-langnya dengan senjata tajam.

Kam Hay Thian tertawa dingin sambil menggerakkan pedangnya.

Seketika pedang itu mengeluarkan hawa dingin, yang tentunya sangat mengejutkan para penyeang itu.

Orang-orang yang bertarung tadi ternyata anggota Tiong Ngie Pay.

Mereka tampak mencemaskan Kam Hay Thian.

Trang!

Trang!

Trang...!

Terdengar suara benturan senjata, yang disusul oleh suara jejerkan yang menyayat hati.

"Aaaakh!

Aaaaakh!

Aaaaaakh...!" Tampak lima orang berpakaian merah telah roboh dengan dada berlubang, yang mengucurkan darah segar, dan nyawa mereka pun melayang seketika.

Post a Comment