"Engkau...
eng-kau...." Putuslah nafas kepala regu Hiat Ih Hwe itu.
Tentunya sangat mengejutkan para anggota Hiat Ih Hwe yang sedang bertarung dengan Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling, sehingga mer?ka langsung berhenti.
"Hm!" dengus orang bertopeng.
"Kalian semua harus mampus!" Orang bertopeng langsung menyerang belasan anggota Hiat Ih Hwe itu.
Dalam sekejap mata robohlah belasan anggota Hiat Ih Hwe itu dengan mulut menyemburkan darah segar, dan tak lama kemudian nyawa mereka pun melayang.
"Terima kasih atas pertolongan Tuan!" ucap Siang Koan Goat Nio sambil memberi hormat.
Orang bertopeng manggut-manggut, lalu memandang Lie Ai Ling, yang sedang memandang mayat-mayat itu dengan mata terbelalak.
"Goat Nio!" serunya kemudian.
"Lima belas orang semuanya mati!" "Ai Ling, cepatlah engkau mengucapkan terima kasih kepada Tuan penolong ini!" ujar Siang Koan Goat Nio.
"Ya," Lie Ai Ling menghampiri orang bertopeng itu, lalu memberi hormat dan berkata.
"Terima kasih atas pertolongan Tuan !" "Siapa kalian?" tanya orang bertopeng.
"Namaku Lie Ai Ling, dan dia bernama Siang Koan Goat Nio," jawab Lie Ai Ling memberitahukan.
"Aku Hong Hoang Lihiap, dan dia Kim Siauw Siancu." "Hmm!" dengus orang bertopeng "Belum berpengalaman sudah berani berkelana!
Kalian berdua dari mana?" "Dan Pulau Hong Hoang To," sahut Lie Ai Ling sambil menatap orang bertopeng.
"Dia?" Orang bertopeng itu menunjuk Siang~oan Goat Nio.
"Dia bersamaku datang dari Pulau Hong Hoang To," Lie Ai Ling memberitahukan secara jujur.
Tapi dia bukan lahir di pulau itu, tapi kedua orang tuanya kenal baik dengan kakek dan pamanku." "Oooh!" Orang bertopeng manggut-manggUt."Kalian berdua masih kecil, lebih baik kembali ke Hong Hoang To.
Jangan berkelana di Tionggoan!" "Hi-hi!" Lie Ai Ling tertawa.
"Usia kami sudah enam belas, bukan anak kecil lagi.
Lagi pula kami tidak bisa kembali ke Pulau Hong Hoang To." "Kenapa?" "Aku datang di Tionggoan ini untuk mencari ayahku, sedangkan dia ingin mencari kakak Bun Yang?" "Siapa ayahmu?" "Lie Man Chiu," jawab Lie Ai Ling sambil menghela nafas panjang.
"Sudah tujuh tahun dia meninggalkanku dan ibuku Kasihan ibuku...." "Kenapa ibumu?" "Ibuku jadi kurus, tua dan rambutnya cepat memutih karena memikirkan ayahku.
Oh ya, apakah Tuan tahu di mana ayahku?" "Tidak tahu." "Aaaah!" keluh Lie Ai Ling.
"Entah di mana ayahku, aku sudah rindu sekali kepadanya walau dia begitu tega meninggalkan kami." "Aku menasehati kalian, lebih baik kalian segera kembali ke Puiau Hong Hoang To." "Eh...!" Lie Ai Ling terbelalak.
"Tuan punya hak apa menyuruh kami kembali ke Hong Hoang To?" "Aku memang punya hak," sahut orang bertopeng.
"Hi-hi!" Lie Ai Ling tertawa geli.
"K?mi tidak kenal Tuan, Tuan pun tidak kenal kami.
Kenapa Tuan mengatakan punya hak?" "Pokoknya kalian harus segera kembali ke Hong Hoang To!" "Maaf!" ucap Siang Koan Goat Nio yang terus diam dari tadi.
"Bolehkah kami tahu siapa Tuan?" "Aku adalah...
orang penebus dosa!" "Apa"!" Siang Koan Goat Nio dan Lie Ling terbelalak.
"Tuan orang penebus dosa?" "Betul!" "Tuan pernah melakukan dosa apa?" tanya Lie Ai Ling sambil menatapnya.
"Bolehkah Tuan membenitahukan kepada kami?" "Tidak boleh!" Orang Penebus Dosa itu menglengka?
kepala, kemudian bertanya sungguh-sungguh.
"Jadi kalian tidak mau kembali ke Pulau Hong Hoang To?" "Tidak salah," sahut Lie Ai Ling.
"Sebab aku harus mencari ayahku, kasihan ibu...." "Kalau begitu, ke mana tujuan kalian sekarang?" tanya Orang Penebus Dosa itu dengan penuh perhatian.
"Kami mau ke markas pusat Kay Pang." Lie Ai Ling memberitahukan.
"Oooh!" Orang Penebus Dosa itu manggut-manggut.
"Kalian berdUa harus berhati-hati, sampai jumpa!" "Orang Penebus Dosa itu melesat pergi, Siang~oan Goat Nio dan Lie Ai Ling termangu-mangu ditempat.
"Goat Nio!
Sebetulnya siapa orang itu?" "Entahlah," Siang Koan Goat Nio menggeleng kepala.
"Tapi...." "Ada apa?" "Kelihatannya dia sangat memperhatikanmu," Siang Koan Goat Nio memberitahukan.
"Baik maupun nada suaranya?" "Goat Nio!" Lie Ai Ling tertawa.
"Kini engkau yang mengada-ada, itu bagaimana mungkin?" "Aku yakin tidak salah pandanganku." "Sudahlah!
Mari kita meneruskan perjala?an!" ajak Lie Ai Ling.
"Tempat ini jadi seram karena begitu banyak mayat" "Baik!
Mari kita pergi!" Siang Koan Goat Nio mengangguk.
Mereka berdua meneruskan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang.
Dalam perjalanan, tak henti-hentinya Lie Ai Ling membicarakan Orang Penebus Dosa itu.
"Heran!" Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa dia menyebut dirinya Orang Penebus Dosa?" "Mungkin dia pernah melakukan suatu perbuatan yang berdosa," sahut Siang Koan Goat Nio.
"Betul," Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Kalau tidak, bagaimana mungkin dia menyebut dirinya Orang Penebus Dosa" Ya, kan?" "Ya," Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Kepandaiannya sangat tinggi, dalam waktu sekejap dia mampu membunuh para anggota Hiat Ih Hwe hanya dengan tangan kosong." "Ngmm!" Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Kalau Orang Penebus Dosa itu tidak muncul, entah apa jadinya karena kita menggunakan Cit Loan Kiam Hoat!" "Para anggota Hiat Ih Hwe itu pasti terkapar semua," sahut Siang Koan Goat Nio.
"Oh ya, aku justru masih merasa heran." "Heran kenapa?" "Kenapa Orang Penebus Dosa itu harus memakai topeng?" "Benar.
Kenapa ya?" "Kalau dia tidak kenal kita, dia pasti kenal anggota Hiat Ih Hwe itu.
Karena itu, dia harus pakai topeng agar dirinya tidak dikenali." "Masuk akal," Lie Ai Ling mengangguk.
"Tapi siapa dia?" "Mungkinkah...," sahut Slang Koan Goat Nio dengan kening berkerut.
"Dia ayahmu?" "Apa"!" Lie Ai Ling tertegun.
"Bagaimana mungkin" Sebab suaranya begitu parau, tidak mirip suara ayahku." "Dia sengaja membuat suaranya menjadi parau, lagi pula...," lanjut Siang Koan Goat Nio.
"Ketika aku berbicara kepadanya, dia malah terus memandangmu.
Itu sungguh mencurigakan." "Kenapa tadi engkau tidak bertanya kepadanya?" tegur Lie Ai Ling.
Siang Koan Goat Nio tersenyum.
"Percuma," katanya.
"Kenapa percuma?" "Dia pasti tidak akan mengaku." "Goat Nio aku tidak yakin kalau dia ayahku." "Al Ling, aku percaya dia pasti akan muncul lagi." "Kalau dia muncul lagi, aku pasti menyambar topengnya," ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.
"Aku ingin tahu, betulkah dia ayahku?" "Aku pasti membantumu," Siang Koan Goat Nio tersenyum.
"Terima kasih!" ucap Lie Ai Ling sambil tersenyum pula.
"Goat Nio, engkau baik sekali terhadapku.
Aku pasti memberitahukan kepada Kakak Bun Yang." -oo0dw0oo- Dua hari kemudian, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling telah tiba di markas pusat Kay Pang.
Kedatangan dua gadis itu membuat Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong gembira sekali.
Lim Peng Hang langsung menyuruh mereka duduk, kemudian menyuruh salah seorang anggota menyuguhkan minuman.
"Ha-ha-ha!" Lim Peng Hang tertawa gelak,"Tak kusangka kalian sudah mulai mengembara!" "Kakek Lim, aku mengembara karena ingin ingin mencari ayah!" Lie Ai Ling memberitahukan.
"Oh?" Lim Peng Hang tersenyum.
"Lalu apa tujuan Goat Nio mengembara?" "Mencari pengalaman," sahut Siang Koan Goat Nio.
"Kakek Lim!" Lie Ai Ling tersenyum.
"Sesungguhnya dia mengembara dengan tujuan...." "Al Ling!" Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening.
"Apa tujuannya" Benitahukanlah!" desak Lim Peng Hang.
"Tujuannya adalah mencari Kakak Bun Yang?" Lie Ai LAng memberitahukan.
Seketika itu juga wajah Siang Koan Goat Nio kemerahmerahan, dan langsung menunduk dalam-dalam.
"Oh, ya?" Lim Peng Hang menatap Siang Koan Goat Nio yang menundukkan kepalanya, kemudian tertawa terbahakbahak.
"Ha ha ha . . . .!" "Mereka berdua memang merupakan pas?ngan yang serasi," sela Gouw Han Tiong mendadak dan tertawa gelak pula.
"Betul," Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Kakak Bun Yang dan Goat Nio sungguh merupakan pasangan yang serasi.
Kakak Bun Yang tampan, Goat Nio cantik." "Ai Ling...." Wajah Siang Koan Goat Nio makin memerah.
"Oh ya, Kakek Lim!" tanya Lie Ai Ling.
"Apakah Kakak Bun Yang sudah ke mari?" "Sudah!" Lim Peng Hang mengangguk.
"Oh?" Lie Ai Ling nampak gembira.
"Di mana" Cepatlah panggil dia ke mari, aku mau kenalkannya pada Goat Nio." "Sayang sekali!" Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.
"Lho" Kenapa?" Lie Ai Ling terbelalak.
"Dia sudah meninggaikan markas ini," Lim Peng Hang membentahukan "Dia pergi menyelidiki pembunuh Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin" "Yaaah!" Lie Ai Ling menghela nafas panjang.
"Kami terlambat sampai di disini Kalau tidak terlambat, pasti bertemu Kakak Bun Yang!" "Tadak apa-apa" Lim Peng Hang tersenyum, "Masih banyak waktu dan kesempatan bagi Goat Nio bertemu Bun Yang" "Betul," Lie Ai Ling tertawa kecil seraya berkata "Takkan lari jodoh dikejar" "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio betul-betul kewalahan digoda Lie Ai Ling terus-menerus.
"Jangan terus menggodaku!" "Goat Nio!" Lie Ai Ling tersenyum.
"Aku tidak menggodamu, melainkan berkata sesungguhnya." Wajah Siang Koan Goat Nio kemerah-merahan.
"Engkau terus mengatakan begitu, bagaimana kalau dia telah bertemu gadis lain yang cantik jelita" Ya, kan?" "Tidak mungkin," sahut Lie Ai Ling "Sebab Kakak Bun Yang tidak gampang jatuh hati terhadap gadis yang mana pun, percayalah" Aku yakin, begitu dia melihatmu pasti jatuh hati kepadamu." "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara Lam Peng Hang dan Gouw Han Tiong hanya saling memandang, berselang sesaat barulah ketua Kay Pang itu membuka mulut.
"Oh ya!
Bagaimana pengalaman kalian dalam perjalanan menuju ke mari?" "Wuah, bukan main!" sahut Lie Ai Ling.
"Apa yang bukan main?" tanya Gouw Han Tiong sambil tertawa.
"Bolehkah engkau menjelaskan tentang "Bukan main" itu?" "Ketika kami sampai di kota Keng Ciu...," tutur Lie Ai Ling sambil tersenyum-senyum.