Tio Bun Yang bersiul panjang.
Badannya bergerak laksana kilat kemudian hilang dan pandangan para Hiat Ih Hwe.
"Eeeh?" mereka tercengang.
"Kemana dia?" "Aku berada di belakang kalian!" sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum, sekaligus mengeluarkan suling pualamnya.
Betapa terkejutnya para Hiat Ih Hwe itu.
Namun walau terkejut, mereka tetap menyerangnya.
Di saat bersamaan, Tio Bun Yang menggerakkan suling pualamnya.
Tampak suling pualam itu berkelebat ke sana ke mari secepat kilat, dan seketika terdengar suara jeritan.
Para anggota Hiat Ih Hwe itu telah terkapar dengan mulut mengeluarkan darah segar.
Ternyata Tio Bun Yang menggunakan ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Khi (Ilmu Suling Kumala Pemusnah Kepandaian), mengeluarkan jurus San Pang Te Liak (Gunung Runtuh Bumi Retak).
"Aduuuh!
Aduuuh...!" Para anggota Hiat Ih Hwe itu merintih-rintih.
"Hm!" dengus Tio Bun Yang.
"Aku tidak akan membunuh kalian, hanya memusnahkan kepandaian kalian saja.
Ayoh, cepatlah kalian enyah dari sini!" Para anggota Hiat Ih Hwe itu berjalan pergi dengan sempoyongan.
Di saat bersamaan, Tan Tayjin turun dan kereta, kemudian memberi hormat kepada Tio Bun Yang.
"Terima kasih, siauw-hiap!" ucapnya.
"Tidak usah mengucapkan terima kasih, Paman." Tio Bun Yang tersenyum.
Senyumannya itu membuat Tan Giok Lan yang baru turun dan kereta menjadi terpukau.
"Mari kuperkenalkan!" ujar Tan Tayjin sambil menunjuk Tan Giok Lan.
"Dia adalah putriku bernama Tan Giok Lan, yang di dalam kereta adalah isteriku." "Nona Giok Lan!" Tio Bun Yang segera memberi hormat.
"Siauw-hiap." Tan Giok Lan balas memberi hormat dengan wajah kemerah-merahan.
"Jangan memanggilku nona, panggil saja namaku!" -oo0dw0oo- Jilid 4 "Ha ha-ha!" Tan Tayjin tertawa "Oh ya, bolehkah kami tahu nama Siauw-hiap?" "Namaku Tio Bun Yang." "Ternyata Tio siauw hiap!" Tan Tayjin manggut-manggut.
"Engkau masih muda, tapi sudah berkepandaian tinggi.
Sungguh mengagumkan!" "Maaf, Paman!" Tio Bun Yang memandangnya seraya bertanya.
"Sebetulnya siapa Paman, kenapa pihak Hiat Ih Hwe ingin membunuh Paman?" "Namaku Tan Thiam Song, mantan pembesar di kota Keng Ciu." Tan Thiam Song memberitahukan sambil menghela nafas panjang dan melanjutkan.
"K?rena itu, pihak Hiat Ih Hwe berusaha membunuhku." "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggUt.
"Ternyata Paman mantan pembesar yang jujur, adil dan bijaksana!" "Aaaah!" Tan Thiam Song menghela nafas lagi.
"Aku telah mengundurkan diri dan jabatan, tapi Lu Thay Kam masih tidak mau melepaskan diriku." "Sekarang Paman mau ke mana?" "Mau pulang ke kampung." "Kira-kira kapan akan sampai di sana?" "Mungkin sore ini.
Oh ya, Tio siauw-hiap mau kemana?" "Aku sedang mengembara, jadi tiada arah yang tetap," jawab Tio Bun Yang sambil tersenyum.
"Kalau begitu...." Tan Thiam Song menatapnya.
"Bagaimana kalau Tio siauw-hiap ikut kekampungku?" Tio Bun Yang berpikir sejenak, lalu mengangguk.
"Baiklah." "Terima kasih, Tio siauw-hiap!" ucap Tan Thiam Song.
Yang paling gembira adalah Tan Giok Lan.
Wajahnya tampak berseri-seri.
Maklum Tio Bun Yang merupakan pemuda yang sangat tampan, gadis mana yang tidak akan tertarik padanya" Mereka melanjutkan perjalanan bersama, namun Tio Bun Yang berlari cepat di sisi kereta kuda itu.
Ia tidak mau duduk di dalam kereta karena merasa tidak enak.
Kusir kereta itu kagum sekali, kemudian mendadak ia mencambuk kudanya agar berlari lebih cepat.
Kuda tersebut meringkik lalu berlari kencang sekali.
Kusir itu tertawa dalam hati karena yakin bahwa Tio Bun Yang pasti ketinggalan.
Ia menoleh ke belakang, dan seketika juga terbelalak, karena Tio Bun Yang masih tetap berlari cepat laksana kilat di sisi kereta itu Bukan main kagumnya kusir tersebut.
Sementara Tan Thiam Song sekeluarga yang duduk di dalam kereta, juga mengintip keluar.
Mereka tahu kusir itu mencambuk kudanya agar berlari lebih kencang, namun Tio Bun Yang tetap berlari di sisi kereta, maka mereka semakin kagum.
"Bukan main!" Tan Thiam Song menggeleng-gelengkan kepala.
"Kepandaian pemuda itu masih jauh di atas kepandaian kedua gadis yang pernah menyelamatkan nyawaku!" "Ayah, dia masih begitu muda, tapi kenapa kepandaiannya sudah begitu tinggi?" tanya Tan Giok Lan.
"Ayah mana tahu" Lebih baik nanti engkau bertanya kepadanya," sahut Tan Thiam Song sambil tersenyum.
"Pemuda itu...~" ujar Nyonya Tan dengan suara rendah.
"Sungguh tampan sekali, bahkan juga sopan, ramah dan halus gerak geriknya." "Benar," Tan Thiam Song mengangguk.
"Sulit ketemu pemuda lain yang seperti dia." "Rasanya senang sekali...." ujar Nyonya Tan sambil melirik putrinya.
"Apabila Giok Lan menjadi jodohnya." "Ibu...." Wajah Tan Giok Lan langsung memerah, namun bergirang dalam hati, karena ibunya mengatakan begitu.
"Memang!" Tan Thiam Song manggut-manggut.
"Tapi kelihatannya dia lebih muda dan Giok Lan." "Tidak jadi masalah," sahut Nyonya Tan.
"Kita tidak bisa memaksa, bagaimana jodoh putri kita saja," ujar Tan Thiam Song sungguh-sungguh.
"Mudah-mudahan dia tertarik kepada putri kita!" kata Nyonya Tan sambil mengintip ke luar.
Dilihatnya Tio Bun Yang berlari di sisi kereta sambil tersenyum-senyum, sama sekali tidak kelihatan lelah.
"Bukan main!" -oo0dw0oo- Ketika hari mulai sore, sampailah mereka dikampung yang dituju.
Kereta kuda itu berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar tapi sederhana, dan Tio Bun Yang juga berhenti.
Tan Thiam Song turun, disusul oleh Nyonya Tan dan putrinya.
Pada saat bersamaan, tampak beberapa orang berhambur ke luar dari rumah itu.
"Tuan besar, Nyonya besar dan Nona sudah pulang!" seru mereka gembira.
"Paman," ujar Tio Bun Yang.
"Kini Paman telah sampai di rumah, maka aku mau mohon pamit." "Biar bagaimana pun Tio siauw-hiap harus mampir dulu!" sahut Tan Thiam Song memaksa.
Tio Bun Yang berpikir sejenak lalu mengangguk.
"Baiklah." "Ha ha-ha!" Tan Thiam Song tertawa gembira.
Tan Giok Lan menarik nafas lega, sedangkan Nyonya Tan tersenyumsenyum sambil melirik putrinya.
Tan Thiam Song mengajak Tio Bun Yang kedalam, kemudian mereka duduk di ruang depan dan para pelayan segera menyuguhkan minuman.
"Silakan minum, Tio siauw-hiap!" ucap Tan Thiam Song.
"Terima kasih?" sahut Tio Bun Yang lalu menghirup teh yang masih hangat Sementara entah sudah berapa kali Tan Giok Lan meliriknya, tapi Tio Bun Yang tidak tahu sama sekali, membuat gadis itu agak kecewa.
"Tio siauw-hiap...." "Paman," potong Tio Bun Yang.
"Jangan memanggilku siauw-hiap, lebih baik panggil namaku saja." "Baiklah." Tan Thiam Song manggut-manggut sambil tersenyum.
"Oh ya, engkau berasal dari mana?" "Pulau Hong Hoang To." Tio Bun Yang memberitahukan.
"Pulau Hong Hoang To?" Tan Thiam Song saling memandang dengan isteri dan putrinya.
"Rasanya aku pernah dengar nama pulau itu." "Oh?" Tio Bun Yang tercengang.
"Aku ingat, Ayah," ujar Tan Giok Lan.
"Bukankah kedua gadis itu datang dan pulau Hong Hoang To?" "Maksudmu Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling?" tanya Tan Thiam Song.
"Benar," Tan Giok Lan mengangguk.
"Lie Ai Ling" Lie Ai Ling...?" gumam Tio Bun Yang dengan kening berkerut-kerut.
"Bun Yang!" Tan Thiam Song menatapnya seraya bertanya.
"Apakah engkau kenal mereka?" "Aku kenal Lie Ai Ling." Tio Bun Yang memberitahukan "Dia adikku." "Adikmu?" Tan Thiam Song terbelalak.
"Tentunya bukan adik kandung kan?" "Benar.
Tapi kami boleh dikatakan kakak beradik kandung." Tio Bun Yang tersenyum.
"Dia putri bibiku." "Oooh!" Tan Thiam Song manggut-manggUt "Putri adik atau kakak ayahmu?" "Kakak ayahku," jawab Tio Bun Yang dan bertanya.
"Di mana Paman bertemu mereka?" "Di kota Keng Ciu." Tan Thiam Song memberitahukan.
"Pada hari itu aku sedang merayakan ulang tahunku...." "Jadi mereka berdua yang menyelamatkan Paman?" tanya Tio Bun Yang girang.
"Betul" Tan Thiam Song rnengangguk.
"Oh ya!" Mendadak Nyonya Tan menatapnya.
"Engkau kenal Siang Koan Goat Nio itu?" "Aku tidak kenal." Tio Bun Yang menggelengkan kepala.
"Julukannya adalah Kim Siauw Siancu" Tan Thiam Song memberitahukan.
"Engkau kenal, kan?" "Kim Siauw Siancu?" Tio Bun Yang menggelengkan kepala lagi "Aku memang tidak kenal" "Dia bersama Lie Ai Ling, kenapa engkau tidak kenal?" Tan Thiam Song heran.
"Justru membingungkan," sahut Tio Bun Yang.
"Karena aku tidak menyangka adik Ai Ling datang di Tionggoan, bahkan bersama gadis lain yang bernama Siang Koan Goat Nio." "Tio siauw-hiap." Tan Giok Lan memandangnya.
"Engkau dan Lie Ai Ling dibesarkan di Pulau Hong Hoang To?" "Betul," Tio Bun Yang mengangguk.
"Oh ya, jangan memanggilku Tio siauw-hiap, panggil saja namaku!" "Baiklah." Tan Giok Lan tersenyum.
"Bun Yang!" Tan Thiam Song memandangnya sambil tertawa-tawa.
"Berapa usiamu sekarang?" "Tujuh belas." "Usia putriku sudah...
dua puluh.
Engkau memanggil dia kakak, dia memanggilmu adik.
Bagaimana?" "Bun Yang!" Tan Thiam Song menatapnya.
"Engkau masih muda, tapi kepandaianmu sudah begitu tinggi.
Karena itu, aku ingin mengajukan sebuah permintaan, tapi entah dikabulkan atau tidak?" "Permintaan apa?" tanya Tio Bun Yang.
"Permintaanku...
yakni mengajar putriku ilmu silat," Tan Thiam Song memberitahukan.
"Haah?" Mulut Tio Bun Yang ternganga lebar.
Ia tidak menyangka kalau Tan Thiam Song akan mengajukan permintaan tersebut.
"Adik Bun Yang...." tanya Tan Giok Lan.