Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 39

Memuat...

"Ketua, dalam wakt?

singkat semua anggota akan berkumpul di sini." "Terima kasih," sahut Yo Suan Hiang sambil manggutmanggut.

Berselang sesaat, mulailah para anggota itu berkumpul di ruang itu, dan setelah semuanya berkumpul, Yo Suan Hiang berkata.

"Bun Yang, semua anggota telah berkumpul di sini." Tio Bun Yang manggut-manggut, lalu berkata kepada monyet bulu putih.

"Kauw-heng, di antara para anggota itu terdapat orang jahat Engkau harus mencari orang jahat itu" Monyet bulu putih mengangguk, kemudian melesat ke arah para anggota Tiong Ngie Pay itu.

"Bun Yang, apakah kauw heng dapat diandalkan?" tanya Yo Suan Hiang sambil menatapnya S?mentara Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him saling memandang, kelihatannya mereka ragu sekali terhadap monyet bulu putih.

"Bibi Suan Hiang," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Tentunya Bibi tahu, kauW-heng memiliki naluri yang kuat sekali." "Benar," Yo Suan Hiang manggut~manggut.

"Mudah~mUdahan kauw ~eng dapat mengetahui mata-mata itu!" "Percayalah!

Kauw-heng memiliki kemampuan itu." Mendadak terjadi sedikit kekacauan pada para anggota Tiong Ngie Pay.

Ternyata monyet bulu putih itu menyeret dua orang ke hadapan Tio Bun Yang.

Kedua orang itU tidak bisa bergerak, karena jalan darah mereka telah tertotok oleh monyet bulu putih.

Setelah berada di hadapan Tio Bun Yang, monyet bulu putih bercuit-cuit sambil menggerak-gerakkan sepasang tangannya.

"Ngmmm!" Tio Bun Yang manggut-manggut setelah itu berkata kepada Yo Suan Hiang.

"Mereka berdua adalah matamata." "Oh?" Yo Suan Hiang mengerutkan kening.

"Kita tidak punya bukti, kalau langsung menghukumnya, tentunya para anggota lain akan merasa tidak puas." "Betul.

Tapi bukankah Bibi boleh bertanya kepada mereka?" sahut Tio Bun Yang tidak ragu terhadap monyet bulu putih itu.

"Kalian berdua!" bentak Yo Suan Hiang.

"Lebih baik kalian mengaku!" "Itu adalah monyet sialan, sembarangan menuduh kami!" sahut kedua orang itu.

Walau tidak bisa bergerak tapi mereka tetap bisa berbicara.

"Tiang Him!" tanya Yo Suan Hiang.

"Sudah berapa lama mereka berdua bergabung disini jadi anggota Tiong Ngie Pay?" "Baru satu bulan, Ketua." Cu Tiang Him memberitahukan.

"Mereka berdua berasal dan mana?" "Dari ibu kota." "Siapa yang mengajak mereka bergabung disini?" "Mereka datang sendiri." "Nama mereka?" "Lim Cih Song dan Lie Bok Weng." "Ngmmm!" Yo Suan Hiang manggut-manggut, kemudian memandang kedua orang itu.

"Jadi kalian masih tidak mau mengaku?" "Ketua," sahut Lim Cih Song.

"Kami berdua telah bersumpah setia terhadap Tiong Ngie Pay, bagaimana mungkin kami adalah mata-mata?" Yo Suan Hiang mengerutkan kening, dan memandang Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Bun Yang," ujarnya.

"Tiada bukti, maka tidak bisa menuduh mereka mata-mata." "Benar." Tio Bun Yang tersenyum.

"Tapi aku dapat membuat mereka mengaku." "Oh?" Yo Suan Hiang kurang percaya.

"Bagaimana caranya?" "Tentunya aku mempunyai cara untuk membuat mereka mengaku," Tio Bun Yang tersenyum lagi, kemudian menatap kedua orang itu dengan tajam, dan makin lama makin tajam.

Ternyata Tio Bun Yang mengerahkan ilmu Penakiuk Iblis.

Kedua orang itu terus memandang Tio Bun Yang.

Berselang sesaat mereka mulai terpengaruh, sehingga membuat pikiran mereka tak terkendalikan.

"Kalian berdua harus menjawab dengan jujur," ujar Tio Bun Yang dengan suara berwibawa.

"Ya." Kedua orang itu mengangguk.

"Sebetulnya siapa kalian berdua" Jawablah dengan jujur!" Tio Bun Yang terus menatap mereka.

"Kami berdua memang dan ibu kota, kami berdua adalah anggota Hiat Ih Hwe, yang mengutus kami ke mari adalah Gak Cong Heng, kepala para anggota Hiat Ih Hwe." "Kenapa Gak Cong Heng mengutus kalian kemari?" "Untuk membunuh para anggota Tiong Ngie Pay secara diam-diam, agar para anggota Tiong Ngie Pay saling mencurigai dan terpecah belah." "Kalian menjawab dengan jujur?" "Kami menjawab dengan Jujur," sahut Lim Cih Song dan menambahkan, "Semua anggota Hiat Ih Hwe pasti mempunyai sebuah tanda merah dilengan" "Pelihatkan tanda itu!" "Ya," Lim Cih Song dan Lie Bok Weng mengangguk, lalu menyingkap lengan baju masing-masing memperlihatkan tanda merah.

"Terima kasih, karena kalian berdua telah menjawab dengan jujur, "Tio Bun Yang tersenyum sambil menarik nafas dalam-dalam membuyarkan ilmu Penakiuk Iblis Seketika Lim Cih Song dan Lie Bok Weng tersentak sadar, lalu memandang Yo Suan Hiang seraya berkata "Ketua, kami adalah anggota Tiong Ngie Pay yang setia, harap Ketua melepaskan kami." "Benarkah kahan berdua sangat setia terhadap Tiong Ngie Pay7" tanya Yo Suan Hiang dingin "Benar," Lim Cih Song dan Lie Bok Weng mengangguk "Ehmm!" dengus Yo Suan Hiang, "Aku sudah tahu, kalian berdua adalah anggota Hiat Ih Hwe!" "Bukan, bukan..." Wajah mereka berdua tampak berubah.

"Masih tidak mau mengaku?" bentak Yo Suan Hiang "Bukankah Gak Cong Heng yang mengutus kalian kemari?" "Bu...

bukan." "Kalian masih tidak mau mengaku?" Yo Suan Hiang tampak gusar sekali.

"Lebih baik kalian mengaku saja.

Mungkin aku akan mengampuni nyawa kalian!" "Ketua, kami memang bukan anggota Hiat Ih Hwe." "Oh?" Yo Suan hang tertawa dingin.

"Bukankah di lengan kalian terdapat sebuah tanda merah" Nah, tanda apa itu?" "Itu...

itu adalah...." kedua orang itu tergagap.

"Ketua," ujar Tan Ju Liang.

"Kalau mereka masih tidak mau mengaku, lebih baik kita siksa saja" "Ketua," sambung Lim Cin An.

"Mereka memang harus disiksa." "Bagaimana cara menyiksa mereka?" tanya Yo Suan Hiang.

"Lengan dan kaki mereka harus dipotong," sahut Lim Cin An dan menambahkan.

"Sepasang mata mereka pun harus dicungkil keluar" "Kalian berani?" bentak Lim Cih Song tanpa sadar.

"Ketua kami pasti ke mari membasmi kalian!" "Nah, engkau sudah mengaku kan?" ujar Yo Suan Hiang sambil tersenyum.

"Haaah..."!

Betapa terkejutnya Lim Cih Song, ia menghela nafas panjang seraya berkata.

"Tidak salah, kami memang anggota Hiat Ih Hwe yang diutus kemari.

Kami berdua telah berada ditangan kalian, silakan menghukum kami!" "Bagus!"~ Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Paman Lim, harus dengan cara apa menghukum mereka" "Sesuai dengan peraturan yang berlaku di sini, maka mereka harus dihukum dengan cara mengutungkan sebelah lengan mereka," jawab Lim Cin An memberitahukan sungguhsungguh.

"Laksanakan!" Yo Suan Hiang memberi perintah.

"Ya, Ketua," sahut Lim Cin An sambil mengangguk.

"Tunggu!" ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Tidak perlu dengan cara itu, biar aku yang menghukum mereka." "Silakan!" sahut Yo Suan Hiang.

"Kauw-heng," ujar Tio Bun Yang.

"Musnahkan kepandaian mereka!" Monyet bulu putih mengangguk, lalu bergerak cepat memusnahkan kepandaian kedua orang itu.

"Aaakh!

Aaaaakh..." jerit mereka dengan mulut mengeluarkan darah.

"Kauw-heng, bebaskan totokan mereka!" ujar Tio Bun Yang lagi.

Monyet bulu putih menurut dan langsung membebaskan jalan darah mereka yang tertotok itu, lalu meloncat ke atas bahu Tio Bun Yang.

"Giok Siauw Sin Hiap!" bentak Lim Cih Song penuh dendam.

"Tunggu pembalasan dari ketua kami!" "Oh?" Tio Bun Yang tersenyum.

"Jadi kalian masih ingin kembali ke markas Hiat Ih Hwe?" "Ya," Lim Cih Song dan Lie Bok Weng mengangguk.

"Menurutku...." Tio Bun Yang menatap mereka sambil melanjutkan.

"Lebih baik kalian jangan kembali ke sana." "Kenapa?" "Mungkin ketua Hiat Ih Hwe akan membunuh kalian." "Itu...." Lim Cih Song dan Lie Bok Weng saling memandang dengan wajah muram.

Kini kepandaian mereka telah musnah, berarti sudah tiada gunanya bagi Hiat Ih Hwe, maka kemungkinan besar ketua Hiat Ih Hwe akan membunuh mereka.

"Lebih baik kalian hidup tenang di tempat yang sepi, jangan kembali ke markas Hiat Ih Hwe." "Baiklah.

Kami akan ke tempat yang sepi," ujar Lim Cih Song.

"Terima kasih atas kemurahan hatimu tidak membunuh kami!" "Kalian berdua boleh pergi sekarang," ujar Tio Bun Yang sambil mengibaskan tangannya, agar mereka segera pergi.

Kedua orang tersebut segera meninggalkan ruang itu.

Seketika Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him memandang Tio Bun Yang dengan kagum.

"Giok Siauw Sin Hiap, apakah tadi engkau menggunakan ilmu hipnotis atau semacam ilmu sihir?" tanya Tan Ju Liang.

"Bukan," Tio Bun Yang memberitahukan.

"Itu adalah Ilmu Penakluk Iblis, yang justru merupakan ilmu penangkal bagi ilmu hipnotis atau ilmu sihir lainnya." "Oooh!" Tan Ju Liang manggut-manggut.

"Giok Siauw Sin Hiap, engkau memang hebat sekali!" "Tidak juga," Tio Bun Yang merendah.

"Bun Yang, ayahmu yang mengajar ilmu itu kepadamu?" tanya Yo Suan Hiang sambil memandangnya.

"Ya," Tio Bun Yang mengangguk dan menambahkan.

"Bahkan aku juga sudah mahir ilmu pengobatan.

"Bukan main!" Yo Suan Hiang menghela nafas panjang.

"Padahal usiamu baru tujuh belas, namun kepandaianmu itu sudah begitu tinggi dan mahir ilmu pengobatan pula." "Kalau mau belajar dengan sungguh-sungguh, tentu akan mencapai kesuksesan," ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Tapi harus mempunyai bakat juga," sahut Yo Suan Hiang dan tertawa.

"Ketua," ujar Tan Ju Liang mendadak.

"Kita harus mengadakan pesta untuk menjamu Giok Siauw Sin Hiap." "Benar," Yo Suan Hang manggut-manggut "Kita memang harus mengadakan pesta" "Bibi Suan Hiang," potong Tio Bun Yang cepat.

"Itu tidak perlu, cukup kita bersulang bersama saja." "Bun Yang..." "Bibi Suan Hiang!" Bun Yang tersenyum, "Jangan menghambur-hamburkan uang, karena Tiong Ngie Pay sangat membutuhkan biaya" "Baiklah," Yo Suan Hiang mengangguk "Mari kita bersulang bersama saja!" Cu Tiang Him segera menyuruh beberapa orang menyuguhkan arak wangi Mereka lalu bersulang bersama, dan monyet bulu putih juga ikut minum.

Beberapa hari kemudian, barulah Tio Bun Yang meninggalkan markas Tiong Ngie Pay.

Ia melanjutkan perjalanannya tanpa arah, namun mempunyai tujuan tertentu yakni mencari jejak pembunuh Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin -oo0dw0oo- Tio Bun Yang terus melanjutkan perjalanan.

Dua hari kemudian ketika ta melewati jalan yang sepi, mendadak ia melihat beberapa orang berpakaian merah sedang mengurung sebuah kereta kuda.

segeralah Ia melesat ke sana, ternyata mereka adalah para anggota Hiat Ih Hwe, yang sedang berusaha membunuh orang yang ada di dalam kereta itu.

"Berhenti!" bentak Tio Bun Yang.

"Haah...?" Terkejutlah para anggota Hiat Ih Hwe itu.

"Giok Siauw Sin Hiap...." "Cepatlah kalian enyah!" bentak Tio Bun Yang lagi.

"Giok Siauw Sin Hiap!" Salah seorang dan mereka menatapnya.

"Kenapa engkau selalu menentang kami?" "Aku tidak menentang kalian, melainkan menentang kejahatan!" sahut Tio Bun Yang.

"Ayoh, cepatlah kalian enyah dan sini!" "Hm!" dengus orang itu lalu berseru.

"Mari kita serang dia!" Para anggota Hiat Ih Hwe itu langsung menyerang Tio Bun Yang, sementara orang yang didalam kereta memberanikan diri mengintip keluar.

Siapa yang berada di dalam kereta itu" Ternyata Tan Tayjin bersama isteri dan putrinya.

Post a Comment